Simulasi RP

Discussion in 'RP Story Locker' started by darkro90, 7 July 2012.

  1. darkro90

    darkro90 The Perfect and Elegant Maid

    353
    29
    68
    [​IMG]

    Perhatian:
    1. Membaca selalu rules dan pengenalan roleplaying dapat membantu kamu dalam ber-roleplaying.
    2. Semua diskusi, argumen dan debat tentang jalan cerita ataupun cara roleplay dapat dilakukan di sini.
    3. Kamu harus mendapatkan ijin ataupun situasi yang mengharuskan jika kamu ingin menggerakan karakter player lain.
    4. Player wajib menggunakan Timestamp (atau penunjuk waktu) di setiap awal dan akhir post mereka. Contoh:
    5. Denah lokasi tempat RP dapat dilihat disini.
    Yang terpenting, bersenang-senanglah!


    20.00 Malam, Di depan pintu rumah lokasi kejadian.

    Membuang-buang waktu saja.
    Nave, yang sudah lama berdiri menunggu di depan pintu masuk rumah besar lokasi pembunuhan tersebut, mulai jengkel dan kesal karena dia belum diperbolehkan masuk oleh petugas keamanan rumah tersebut.
    "Mohon tunggu sebentar lagi, tuan sedang menertibkan keadaan didalam rumah."
    Kalau begitu mengapa kalian tidak membantu dia dalam "menertibkan" keadaan tersebut? orang ini..
    "Ya ya... aku akan tunggu sebentar lagi."
    Nave mulai memainkan dan memilin-milinkan poni rambutnya yang berwarna hitam mengkilat, dan membenarkan dasi berwarna hitamnya yang berada diantara setelah jas berwarna biru dan kemeja putih. Memang sudah lama dia mengidamkan panggilan untuk memecahkan sebuah kasus, tetapi disuruh menunggu diluar rumah selama setengah jam, menurut dia, sudah sungguh keterlaluan. Dia baru sadar bahwa ada beberapa detektif lain seperti dia menunggu juga di depan rumah tersebut. Dengan santai, dia menghampiri salah satu detektif tersebut yang sedang duduk di air pancuran yang tidak berfungsi lagi.
    "Cuaca yang bagus, ya."

    20.04 Malam, Di depan pintu rumah lokasi kejadian.

    OOC: Untuk pembuatan karakter dilakukan spontan saja, karena berhubung ini cuma simulasi dan tidak terlalu rigid/serius. Tetapi jika ingin membuat detail karakter terlebih dahulu juga tidak apa.
     
  2. Sheratan

    Sheratan Parental Advisory Staff Member Uploader Donatur Event Winner VN Development Team Masa Latihan

    3.728
    738
    248
    19.45. Rumah Sheratan.

    Kriiinng~
    Sebuah SMS masuk, menggangguku yang sedang asyik menonton anime "Angel Beats!" kuambil HP yang tergeletak dengan manis disamping layar komputer, melihat dari siapa pesan itu berasal.

    Private Number

    "Cih." kataku sambil meletakkan kembali HP itu ketempatnya semula.

    Ingin aku mengabaikan SMS itu, melanjutkan menonton. Tapi entah kenapa tiba-tiba ada suatu medan kuat, yang seakan-akan menarikku agar membaca isi pesan tersebut. Kuambil kembali HP itu, kubuka pesannya, sebuah pesan yang akan menyibukkanku selama beberapa hari kedepan.

    "Berhenti dari menonton anime sekarang. Matikan komputermu. Pergilah ke sebuah rumah yang alamatnya berada di bawah pesan ini. Sebuah kasus besar menunggumu."

    Senyum pendek menghiasi wajahku.

    Kuambil kunci motorku. Segera, aku berjalan dengan cepat ke garasi, mengeluarkan motor tua peninggalan ayahku, dan memacunya dengan cepat ke sebuah alamat...

    20.02 Malam, Di depan pintu rumah lokasi kejadian.

    Petugas keamanan menutup jalan. Aku tidak bisa kemana-mana. Kuparkir motorku begitu saja tanpa ada rasa ragu. Lagipula siapa yang ingin mengambil motor tua itu?

    Kulanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Melewati beberapa petugas keamanan yang menatapku dengan tajam dan wartawan yang sedang berkumpul mencari berita. Sadar kalau aku tidak akan bisa masuk ke rumah itu, aku duduk di sebuah pancuran air yang sudah tidak berfungsi. Menunggu kesempatan yang tepat.

    Seorang pria muda mendekatiku.

    "Cuaca yang bagus, ya." sapanya.

    "Sangat bagus. Langit cerah tak berawan, bintang bertaburan. Momen yang tepat untuk sebuah pembunuhan." jawabku rendah.

    OOC: Boleh gak gitu? Gw nubi nih awakwkawkawak
     
  3. Arte

    Arte Staff Member

    644
    450
    168
    19.20 Malam.

    "Haah...Haaah...Sial..!"
    Joe berlari dan berusaha kabur dari kejaran sesosok misterius, layaknya tokoh film action ia berbelok dengan cepat di sebuah pertigaan dan memasuki rumah kosong dengan cara memanjat pagarnya. Sang sosok misterius berjubah itu terus mengejarnya tanpa henti dan melihat Joe kini tengah berusaha memanjat pagar.

    *BRUKKKK!*
    Joe terjatuh dari atas pagar dan ia bangkit tanpa memperdulikan rasa sakit di bahunya, ia berlari menuju jendela rumah kosong tersebut. Untungnya, jendela rumah tersebut tidak terkunci dan ukurannya cukup untuk dilewati oleh Joe. Namun sialnya, ternyata gerbang rumah tersebut tidak terkunci dan sosok misterius itu masuk dengan mudahnya.

    19.37 Malam. Di dalam rumah kosong.

    Joe berusaha menyembunyikan nafasnya, ia bersembunyi tepat dibawah meja. Di dalam kegelapan, Joe mendengar suara derap langkah pengejarnya itu yang perlahan makin mendekati posisi ia berada. Ia panik dan segera membuka Blackberry miliknya dan mengetik sebuah pesan yang tersimpan didalam memo.

    Saat Joe berusaha meminta pertolongan, tiba-tiba saja ia salah menekan tombol hotkey untuk menyetel Music dan terdengar lah lagu Secret Base ~Kimi ga kureta mono dari kolong meja yang menyebabkan sang sosok misterius itu menyadari keberadaan Joe. Joe berusaha kabur dari sang pengejarnya, namun ia berhasil ditangkap dengan mudah olehnya. Sosok misterius itu kini mencekik Joe sehingga ia lemas tak bertenaga dan melepaskan Blackberry dari genggamannya.

    Sosok misterius itu melempar Joe hingga terjatuh dan menabrak kulkas, ia mengambil sebuah pistol .44 Magnum dan ditodongkannya kepada Joe.

    *DOR!* *DOR!*
    Dua buah peluru ditembakkan tepat ke arah kepala Joe hingga ia tewas seketika. Lalu sosok misterius itu mengambil Blackberry milik Joe dan ia mengirimkan pesan kepada seseorang, setelah mengirimkan SMS ia melempar Blackberry itu ke arah Joe.

    19:46 Malam. Di depan rumah kosong.

    Sosok misterius itu pergi berjalan menjauh dari rumah tersebut, sembari ia melepas sarung tangannya ia menghilang dalam kegelapan malam...

    OOC: boleh kan ngikut beta test? Kalo nggak silahkan di-delete saja postingannya :teh:
     
  4. seis_fleur

    seis_fleur nomor absen 12 Staff Member

    2.118
    705
    258
    20.00, Malam, di depan rumah lokasi kejadian
    Ruel mulai menaikkan resleting jaket kulitnya dan memasukkan kedua tangannya ke kantong celananya karena udara sudah semakin dingin. Ruel sudah dibuat bosan selama setengah jam, jadi penurunan suhu jadi seperti angin segar yang menghembuskan sedikit kebosanannya. Sementara salah satu detektif didekatnya sudah sempat terlihat kesal.

    "Mohon tunggu sebentar lagi, tuan sedang menertibkan keadaan didalam rumah.". Begitulah alasan yang diucapkan petugas ke detektif yang sudah terlihat tidak sabar menunggu.

    Menertibkan keadaan didalam? Bagaimana kalau ada barang bukti atau petunjuk yang hilang karenanya?
    Seharusnya jika mau kasus ini mau cepat diselesaikan, kami disuruh masuk.
    Sudah susah-susah mengumpulkan detektif-detektif begini, malah belum diijinkan masuk.
    Bagaimana kalau ada yang tidak sabaran dan langsung pulang begitu saja?
    ....Mencurigakan, atau aku yang tidak mengerti pikiran orang kaya?


    Ruel berusaha berpikir untuk mengusir kebosanannya. Sejujurnya saja, dia tidak begitu tertarik dengan kasus yang dialami orang kaya begini, baginya merepotkan. Tapi keadaannya yang sekarang mengharuskan dia untuk mendapat uang yang banyak.

    Di tengah kebosanannya, terpikirlah suatu ide. Dia melihat sekeliling. Dilihat dari jumlah detektif yang menunggu, tidak cukup untuk membuat petugas lengah. Petugas pasti bisa tahu jika ada gerak-gerik yang mencurigakan. Ruel pun menghampiri petugas.
    Oo suram sekali petugas ini. Tipikal orang yang ingin mendapat gaji yang sebesar-besarnya tapi ingin bekerja minim, sampai membuang nilai etika (?) seperti ini. Apa dia tidak peduli dengan perasaan tukang kebun? :v Yasudahlah, toh lebih memudahkanku.
    Ruel mencari sudut kebun dimana yang lain tidak dapat melihatnya, berpura-pura mencari tempat untuk buang air kecil, padahal, tentu saja mencari celah menyelinap ke dalam.
    20.05, kebun di bagian kiri rumah

    yang saya tangkep mereka di halaman krn ada air mancur. jadi udah masuk lewat gerbang tapi ga boleh masuk ke dalem rumahnya alias depan pintu. Jadi da kebun/halaman yg luas yah biasa lah kaya. Bener kan? '_'
     
  5. Ayano

    Ayano Staff Member Uploader

    [align=justify]19.55 Malam, Kamar paling utara di lantai dua rumah lokasi kejadian.

    “Keluarkan aku dari sini! Aku mau pulang ke Asrama!!!”

    Hening. Nggak ada jawaban.

    Rouva tahu betul kalau bodyguard-bodyguard itu pastilah capek meladeni rengekan-rengekannya. Tanpa perlu digubris-pun, mereka yakin betul bila sang nona besar akan langsung terdiam kalau sudah capek mengeluarkan semua uneg-unegnya. Dan benar saja, gadis berambut brunette itu kontan terdiam, menghempaskan tubuhnya di atas kasur sambil mendengus kesal.

    Seandainya saja aku nggak memutuskan untuk berlibur di tempat paman… Seandainya aku nggak mengikuti pesta (konyol) ini… Seandainya saja aku masih di Asrama… Rouva berdecak untuk kesekian kalinya. Ternyata teguran guru ketika aku tertidur di kelas sejuta kali lebih mending, daripada harus terkungkung di ruangan kotak seperti ini. Atau mungkin otak-ku harus digeser sedikit? Soalnya aku yakin betul, nggak bakal ada seorang siswi-pun (Yeah, mungkin ada, tapi hanya dari golongan siswi-berotak-encer-yang-menjadi-kesayangan-guru) yang bakal kangen dengan Asrama penuh aturan super ketat itu.

    Mata biru Rouva memandang ke sekelililing ruangan. Tempatnya berada sekarang, hanyalah sebuah kamar berukuran 3X3 dengan sebuah kasur, sebuah meja tulis, sebuah jam dinding, dan sebuah jendela yang langsung menghadap kebun di bagian kiri rumah. Nggak ada yang istimewa dari kamar itu karena Rouva terlalu hapal―bukan sekedar hapal biasa, layaknya orang kebanyakan―dengan semua letak setiap benda di ruangan itu, terlebih kamar itulah yang sering menjadi tempat persembunyiannya sewaktu kecil ―tempat perlarian dari pelayan yang suka memaksanya menghabiskan wortel dan sebangsanya ketika acara makan keluarga dimulai.

    Dicobanya untuk memejamkan mata. Rasanya seperti setahun, walau kira-kira baru setengah jam berlalu sejak kejadian itu. Kejadian yang terlalu jelas untuk terekam di memori otaknya. Kalau saat itu dia bisa muntah, pastilah Rouva sudah muntah, dan sekarang gadis itu sudah benar-benar capek. Walaupun keinginannya untuk pulang ke Asrama sudah nggak bisa terbendung lagi, Rouva lebih sangat ingin berganti baju casual karena―selain nggak menyukai gaun yang dipakainya―gaun berwarna madu bertali sepagheti dengan rok merekah sebatas lutut itu sudah membuat badannya merinding kedinginan. Oh paman, ini sudah malam, nggak bisakah memberiku kesempatan untuk berganti baju sebentar saja?

    Kenapa aku nggak menjadi anak penurut yang bersikap sok manis saja? Kenapa aku malah nekat mengikuti paman dan beberapa bodyguard-nya untuk mengecek teriakan dari kamar paling selatan di lantai ini? Kenapa semua kejadian itu masih terekam jelas di otak-ku? Meja yang terbalik… Kulkas yang tertembus peluru dan terhempas hingga membuat isinya berhamburan… Tumpahan mayonaise yang menggenangi lantai dan sudut-sudut dinding… yang bercampur dengan dar…

    "Huek~!"

    Sontak Rouva menutup mulutnya. Bergegas dia beranjak dari kasur, menyambangi kusen jendela, membuka jendela, dan segera menghirup napas dalam-dalam. Perutnya bergolak hebat ketika dia hendak mengucapkat kata ‘darah’. Sungguh suatu hal yang merepotkan karena ingatan fotografis Rouva membuat gadis itu dapat mengingat hal apapun―dengan sangat jelas―dalam sekali pandang.

    Setelah pikirannya tenang, dicobanya mencari kesibukan lain. Tapi tentu saja, nggak ada pilihan lain selain duduk diam dan mencoba bersikap manis layaknya nona besar pada umumnya. Sayang, hal itu nggak berlaku bagi Rouva yang cenderung ingin bertindak sesuai kemauannya.

    “Seandainya juga aku bisa secepatnya keluar dari sini…” Dari jendela di kamar itu, Rouva bisa memandang kebun depan yang sangat luas dan bisa melihat keramaian orang dari arah depan rumah. “Paman memang nggak akan tinggal diam karena kejadian tadi... Tapi, apakah paman nggak khawatir kalau mengurungku di kamar seperti ini malah berbahaya? Bisa saja kan, kalau si pelaku masuk ke kamar ini, dengan melewati jende―” Rouva terenyak, menatap kebun luas dihadapannya. “Kenapa dari tadi aku nggak berpikir sampai kesitu?” Seutas senyum tersungging di bibirnya. Rouva mendongakkan kepala, melihat keadaan di luar jendela.

    “Oh great! Ternyata nggak ada salahnya paman membiarkan bougenvil tumbuh merambat diseluruh area luar dinding batu rumah ini. Bogenvil akan merambat liar begitu saja, tanpa perlu susah payah merawatnya. Lain kali, akan kupuji paman.” Si rambut brunette itu memperhatikan lebih seksama pepohonan dan semak-semak kebun di bawahnya. “Nggak terlalu tinggi juga, aku bisa berpegangan pada bougenvil dan dinding batu rumah ini…”

    Tanpa pikir panjang dan tanpa memperdulikan kalau saat ini dia masih memakai gaun, dengan bertelanjang kaki, Rouva merayap turun ke bawah. Pelan-pelan kakinya berpijak pada celah-celah batu yang ditumbuhi sedikit lumut, nggak diperdulikannya juga duri-duri di rambatan bougenvil, yang jelas dia sudah memastikan betul jika dia terjatuh, badannya akan mendarat di semak-semak belukar. Tapi sayang, lumut di bebatuan membuat dinding batu terasa lebih licin dan…

    “Oh celaka! Aku nggak siap untuk ini…” Rouva terpleset, pegangannya terlepas.

    GRUSAKKK!!

    Gadis itu terhempas keras ke area semak-semak dibarengi bunyi jatuh yang cukup keras. Setidaknya dia masih selamat untuk satu hal. Dengan keadaan area depan rumah yang masih cukup ramai dan kebun depan seluas itu, nggak akan ada yang menyadari kalau seorang nona besar yang mencoba kabur, baru saja terjatuh dari lantai dua.

    20.05 Malam, kebun di bagian kiri rumah.

    “Aku selamat?” Rouva mengerjap-ngerjapkan matanya seraya melihat ke sekeliling.

    Senang campur bingung. Dia sudah berada di area kebun milik pamannya, dan berarti… pelariannya berhasil! Tapi rasanya ada yang aneh… Gadis itu nggak merasakan sakit apapun! Memang pinggang-nya lumayan kesemutan, tapi Rouva bersyukur karena dia terjatuh dalam posisi terduduk menabrak semak-semak, daripada terjatuh langsung dengan kepala terlebih dahulu menubruk semak-semak, sakitnya bisa dua kali lipat. Walau begitu tetap saja, dia merasakan sesuatu yang ganjil, dan jawaban itu langsung dia temukan begitu mendapati tempat pendaratannya. Nggak hanya mendarat di semak-semak, Rouva juga dengan sukses menimpa badan seseorang, dan gadis itu sekarang menduduki perutnya!

    Rouva meneguk ludah. Pantas saja dia nggak merasa kesakitan karena terjatuh. Seketika wajahnya memucat. Bisa dilihatnya sosok itu, seorang pemuda. Rouva ingin kabur, tapi tiba-tiba badannya terasa kaku. Hanya satu hal yang saat ini menggangu pikirannya, Bagaimana kalau si pelaku adalah pemuda ini? Oh, tidak…[/align]

    OOC: Gomen jadi panjang gini... Kalau dibuat jadi gini, bolehkah?
     
  6. fleurishana

    fleurishana Staff Member

    1.530
    466
    253
    [align=justify]19.40 Jalan menuju lokasi kejadian.


    Tap .. Tap .. Tap


    "Ingat, besok sekolah. Jangan keasyikan kau kelas 3!"
    "Humph" aku tersenyum.
    "Kalau aku ga sempet ke sekolah besok, bilang saja aku sakit dan tolong kumpulkan tugas-tugasku. Semua sudah selesai dan kusimpan di atas meja kamar kost-anku"
    "Sakit? Lagi? Sampai kapan kamu mau pura-pura sakit, udah, berhenti main detekt--"
    "Hey, ini menyenangkan! Lagipula orang-orang sudah mulai mempercayaiku, jika tidak mana mungkin aku mendapatkan tawaran ini" aku menyela.
    "Iya kau diakui tapi bukan sebagai dirimu. Kau berpura-pura menjadi orang lain, memecahkan kasus, dan berharap bertemu deng---"
    "Cukup" ku potong lagi ucapan temanku yang bawel ini.
    "Tugasmu cukup mengatakan besok, a-ku-sa-kit daaan ga-le-bih dari itu. Oke, aku mau 'main' dulu bye milady ~" ucapku menutup pembicaraan dan menekan tombol berwarna merah.


    Bosan. Menjadi pelajar biasa itu membosankan. Tidak ada yang menarik. Pergi pagi-pagi ke sekolah, belajar hal yang sebenarnya bisa dipelajari sendiri, bercakap-cakap hal yang tidak penting, pulang dengan membawa tugas-tugas yang bisa diselesaikan dengan mudah. Sungguh, tidak menarik.

    Kini, aku berada di dunia yang dimasuki oleh "orang itu". Orang yang meninggalkan segala miliknya -termasuk yang ia cintai- demi dunia ini. Huh... ironi ..
    Namun memang, "dunia ini" lebih menarik dibandingkan "dunia sekolah" yang rutinitasnya itu-itu saja. Tapi ...sampai meninggalkan segalanya?

    ....

    ".. Cih.. Aku benci orang itu"


    Kuhentikan langkah kakiku saat kulihat gerbang hitam tinggi menjulang terbuka lebar dan didalamnya terdapat orang-orang sedang berkumpul. Ku lepaskan headset yang daritadi setia menemaniku dan ku langkahkan kakiku menuju kerumbunan orang itu.


    20.02. Di Depan rumah lokasi kejadian

    "Hump. Sepertinya belum boleh masuk. Ada bagusnya juga aku baru datang tadi."

    Aku memasang kembali headsetku sembari mengambil langkah untuk berjalan-jalan di sekitar rumah daripada terus duduk manis dan menunggu.

    Tanaman yang tidak terawat, air mancur yang tidak jalan, rumah sebesar ini apa tidak memiliki pembantu? Pikirku sambil melewati dua orang yang sedang membicarakan cuaca malam ini di dekat air mancur tersebut.

    "Sangat bagus. Langit cerah tak berawan, bintang bertaburan. Momen yang tepat untuk sebuah pembunuhan." ucap salah satu orang itu.
    "Humph benar juga" bisikku sambil mengadah ke atas melihat bintang-bintang yang bertaburan.

    Aku terus melangkah melihat sekitar dan tanpa disadari berada di sudut kebun yang agak lebih sepi dibanding sudut lainnya.

    BRUUK!!

    "Suara apa itu?" ucapku spontan berlari menuju sumber suara namun tetap waspada.
    Aku bersembunyi di balik pohon dan menengok ke sumber suara itu. "Eh? Perempuan ?"

    20.05. Kebun di bagian kiri rumah[/align]


    OOC : aku juga nangkepnya sama kayak mbakem , para detektif itu depan rumah tapi udah ada di halamannya~
     
  7. darkro90

    darkro90 The Perfect and Elegant Maid

    353
    29
    68
    20.05 Malam, Di depan pintu rumah lokasi kejadian.
    Hee, insting dia tajam juga. Sepertinya aku akan mendapatkan rival.
    "Tepat sekali. Sepertinya untuk kali ini, tidak mungkin hanya uang yang terlibat."
    Pria di depan Nave hanya menganggukan kepala. Nave sudah banyak mempelajari contoh kasus seperti yang sedang terjadi sekarang, dan 5 dari 3 pelaku kasus tersebut mengakui bahwa motif mereka tidak hanya menyangkut uang. Yang dia takutkan, adalah terjadinya satu kasus unik dimana pelakunya melakukan aksi mereka tersebut hanya untuk...

    Kesenangan.

    Nave yang sudah bosan menunggu di depan pintu, akhirnya menyerah ke rasa penasarannya dan pergi meninggalkan pria tersebut untuk menyusuri lingkungan diluar rumah itu.

    Siapa tahu, aku akan langsung bertemu dengan pelakunya.

    "Uh.. aku akan berkeliling sebentar, apakah kamu mau-"

    GRUSAKKK!!


    Suara apa itu?!

    Nave, yang menyadari bahwa sumber suara tersebut berasal dari kebun di samping kiri rumah tersebut, langsung berlari ke arah sana.

    Apakah terjadi pembunuhan lagi?! tidak... ini terdengar seperti suara orang jatuh... kalau begitu- tch, gawat!

    Berlari menyusuri kebun, Nave akhirnya menemukkan lokasi tersebut. Tetapi, bukannya pemandangan berdarah yang dia duga, dia malah menemukkan seorang gadis yang memakai gaun berada di atas seorang laki-laki.

    ...He? serius? melakukannya di saat-saat seperti ini, dan tempat seperti ini? generasiku sepertinya memang su- hmm? apa ini?


    Diantara semak-semak tempat dia bersembunyi melihat sepasang muda-mudi tersebut, ada sesuatu yang mengkilap. Setelah mengambilnya, Nave mendapati bahwa benda mengkilat itu adalah sebuah cincin dengan batu merah diatasnya. Hmm, Batu Ruby asli, sepertinya. Tapi sebelum ini, aku harus menanyakan mereka soal suara itu dan... aksi mereka disini. Ugh, pasti akan aneh situasinya.

    Nave langsung berdiri setelah mengantongi cincin tersebut dan menghampiri dua orang tersebut.

    "...Bukannya kalian bisa melakukannya di lain waktu? dan mungkin, di tempat yang lebih aman?"

    20.08 Malam, kebun di bagian kiri rumah.


    Maap2 soal barusan, storynya jadi bener2 derail gara2 saya kira charanya mbak seis itu cewe >_>. sudah saya betulkan agar storynya bisa harmonis lagi.
     
  8. seis_fleur

    seis_fleur nomor absen 12 Staff Member

    2.118
    705
    258
    20.05 Kebun bagian kiri rumah

    Ruel berjalan hati-hati agar tidak menimbulkan suara, siapa tau ada penjaga yang mengelilingi rumah. Ia juga mencari pintu atau jendela yang bisa aman dipakai untuk menyelinap. Sampailah Ruel di bagian kebun dimana bunga Bougenvil bermekaran dan merambat di dinding rumah.

    Hee.. ada juga bougenvil ya. Ini kan bunga kesukaan ib---

    Tiba-tiba bougenvil yang baru saja ingin dipegangnya itu bergerak. Ruel agak kaget dan spontan melihat keatas. Sebelum ia dapat melihat ke atas...

    BRUUK!!

    Sesuatu yang berat, jatuh dari atas dan perut Ruel lah yang jadi korbannya. Rasa sakit melanda perut Ruel, dia jadi teringat akan kecelakaan lalu-lintas yang menimpanya 5 tahun lalu. Sebenarnya luka nya sudah sembuh total, tetapi Ruel yang masih ingat betul rasa sakit saat kecelakaan itu membuat perutnya menjadi sakit, walau bukan secara fisik.

    Uuugh.. kenapa harus perut... Eh tunggu, yang lebih penting, apa yang menimpaku?

    Bersamaan dengan Ruel berusaha membuka matanya, terlihat seorang gadis memakai gaun manis berada diatasnya dan seseorang lagi di dekat mereka yang kemudian berkata,
    "...Bukannya kalian bisa melakukannya di lain waktu? dan mungkin, di tempat yang lebih aman?"
    Orang itu adalah detektif yang marah-marah pertama kali. Dan..saat Ruel mulai pulih dan otaknya mulai mencerna kata-kata sang detektif dan gadis diatasnya sekarang....

    *blush*
    I-ini tidak seperti ya-
    "I-ini tidak seperti yang kau kira!" respon cepat gadis itu.
    pfft. haha, pikiranku dan cewek ini sama.
    Ruel pun merasa aneh dan dalam sekejab melupakan rasa sakitnya.

    ~~
    ampe sini aja deh, sisanya dilanjutkan mbak kajik aja =)b
     
  9. Ayano

    Ayano Staff Member Uploader

    [align=justify]20.08 Malam, kebun di bagian kiri rumah.

    "...Bukannya kalian bisa melakukannya di lain waktu? dan mungkin, di tempat yang lebih aman?"

    Okay, suara itu menyadarkanku kalau pemuda penyelamat―yang nggak sengaja kududuki karena aku terpeleset ketika hendak kabur―ini bukanlah orang jahat. Oh, aku ralat, untuk sementara dia nggak bisa dianggap orang jahat! Tapi, tunggu…
    Siapa orang yang baru datang ini? Kenapa dia tiba-tiba saja datang, menggurui kami, dan langsung menuduh kami yang berbuat bukan-bukan?


    “I-ini tidak seperti yang kau kira!“ Rouva mendelik kesal pada si pemilik suara yang sok tahu itu, dan didapatinya seorang pemuda dengan setelan jas biru berdiri disamping dia dan si pemuda penyelamat nyawanya. Apa dia salah satu detektif sewaan paman? Ck― benar-benar menyebalkan!

    Lalu Rouva kembali menatap prihatin si pemuda yang tadi tertimpa badannya. “Maaf―” ujar Rouva lirih, dan disambut dengan cengiran oleh si penyelamat nyawanya dengan wajah memerah. Dan Rouva yakinkan betul kalau wajah si pemuda penyelamatnya tersipu merah begitu, bukan karena sungguh-sungguh memerah, tapi akibat lampu penerangan kebun yang kurang maksimal.

    Setelah si pemuda itu meyakinkan Rouva kalau dia memang baik-baik saja, gadis berambut ikal brunette itu cepat-cepat berdiri ketika pemuda penyelamat nyawa-nya terlihat meringis sambil memegangi perutnya, dan tanpa pikir panjang, dibantunya si penyelamat untuk berdiri. Sedikit perasaan bersalah menyentil Rouva, hatinya miris melihat si penyelamatnya masih tampak kesakitan. Tapi sudahlah… pikir Rouva. Kalau dia memang merasa baik-baik saja, aku nggak perlu terus-terusan merasa bersalah. Kejadian jatuh itupun nggak aku sengaja… Lagipula, misiku untuk kabur dari rumah paman belum sampai di garis finish.

    Rouva menyingkirkan helai demi helai daun dari rambut ikal panjangnya, menepuk nepuk rok sebatas lutut-nya yang berdebu seraya menatap ke arah kakinya. Well― Ini masih malam hari dan kebun ini minus lampu penerangan, semoga mereka nggak menyadari kalau aku sedang bertelanjang kaki. Setelah selesai merapikan diri ditatapnya sinis si pemuda berjas biru yang sok tahu tadi.

    “Sekarang Anda sudah tahu kalau kan, kalau kami tidak melakukan perbuatan aneh seperti yang Anda pikirkan.” Rouva menoleh pada si pemuda penyelamatnya. “Pemuda ini hanya menolong saya karena saya terjatuh,” Yeah, Rouva sudah mencoba jujur walau dengan sedikit berbohong. Dan sayang, karena insting detektifnya berjalan, si pemuda berjas biru itu masih curiga padanya. Dalam diam pemuda berjas biru tadi masih menatap Rouva, hingga membuat gadis berambut brunette itu jengah dan ingin segera kabur dari tempat itu.

    “Masih ada urusan denganku?”

    Hening. Nggak ada yang menyahuti pertanyaan Rouva. Keheningan yang mencekam karena mereka bertiga saling nggak mengeluarkan suara, sepatah katapun. Dan Rouva―lagi-lagi―harus memastikan kalau pilihannya untuk kabur nggak akan menjadi bumerang baginya.

    “Oh baiklah kalau begitu, saya permisi du―” Ketika Rouva bergegas hendak angkat kaki, si pemuda berjas biru menghadangnya, dan langkah gadis itu benar-benar tertahan karena si pemuda yang menyelamatkan nyawanya, ikut menahan tangan kirinya. Bingung campur ketakutan membuat kaki Rouva menjadi kaku di tempat, dan hal itu sama sekali nggak dia sukai.

    Bagaimana kalau mereka berdua bukan detektif, tapi merekalah pelakunya? Tidak mungkin! Ja― Jangan sampai mereka tahu kalau aku ini seorang Adelig... Rouva Adelig. Paman nggak akan menyukai hal ini, Paman akan memarahiku habis-habisan bila mendapatiku mencoba kabur dari rumah... Aku tahu, Paman terlalu protektif padaku karena akulah ponakan Paman satu-satunya... Aku tahu, Paman memasukanku ke Asrama Putri supaya beliau bisa mengawasiku 24 jam... Aku tahu, kenapa Paman sampai memasukanku ke Asrama Putri Supay― Kata-kata itu membuat lidah Rouva kelu. ...Supaya kejadian pencu... li... kan sewaktu masih SD itu nggak terja... di lagi padaku... Dan gadis itu mencoba memberanikan diri, diaturnya napas perlahan.

    “Sebenarnya, apa mau kalian?”

    20.25 Malam, kebun di bagian kiri rumah.[/align]
    OOC: Next, bisa dilanjutin sama karakter Nave atau Ruel~
     
  10. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    19.30 PM, Kamar Deji

    berada di dalam mansion yang megah, di dalam kamarnya, seorang anak berambut pendek berwarna hitam dengan bola mata yang hitam pula bernama Deji sedang menyusun puzzle. terlihat bentuk monalisa yang digambarkan puzzle itu sudah hampir jadi, dengan ukuran sekitar 1,5 x 1 meter dan terdiri dari 800-1000 keping potongan. ukuran yang sangat besar untuk sebuah puzzle. bahkan lebih besar dari Deji sendiri. Bukan hal yang biasa bagi anak berusia 10 tahun mencoba menyelesaikan puzzle yang bahkan lebih lebar dari dirinya sendiri. tapi seperti yang diduga dari penerus detektif D atau yang disebut Daybreaks. seluruh bawahan Daybreaks bahkan dirinya sendiri mengakui potensial yang dimiliki Deji selaku anaknya sendiri. namun Daybreaks telah meninggal setahun yang lalu dan hal tersebut tidak diketahui siapapun selain orang-orang dalam. bagi dunia sosok Daybreaks adalah Deji itu sendiri. namun karena patokan usianya yang terlalu kecil, ia lebih sering memecahkan kasus dibalik layar atau tanpa berada di lokasi langsung

    tok..tok..tok

    Pintu kamar Deji diketuk. walaupun dengan kamar yang luasnya hampir seperti lapangan basket, tetapi suara ketukan kecil dari pintu kamar tersebut masih dapat terdengar bahkan hingga sudut kamar sekalipun jika tidak ada suara berisik dari dalam. ia tidak menghiraukan ketukan tersebut dan masih sibuk dengan kasus puzzle di depannya. 3 detik kemudian pintu terbuka dari luar. masuklah seorang pria cukup tua berambut putih yang disisir kebelakang, mengenakan pakaian ala butler dan sarung tangan serta sepatu pantofel, dan juga memakai kacamata bening persegi panjang yang tipis. ia tahu bahwa Deji pasti tidak akan menghiraukan seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. tetapi atas rasa penghormatan ia mengetuk terlebih dahulu walaupun akhirnya langsung masuk setelah menunggu 3 detik. ia berjalan mendekati Deji dan mengamati apa yang sedang Deji lakukan.

    "Seharian ini kau sibuk dengan puzzle itu ya, tuan muda? sepertinya sebentar lagi akan selesai"
    "ya, sudah selesai 765 keping dari 970 keping. yaitu sekitar 78,86% terpasang dan yang tersisa adalah sekitar 21,14%. tapi asal kau tau saja, aku sudah menyelesaikannya sore tadi. hanya saja waktunya terlalu panjang jadi aku berniat mengulanginya lagi"

    Deji berbicara tanpa melihat lawan bicaranya. bukannya tidak mau tetapi pandangannya sekarang terfokus pada puzzle di depannya. ia memutar-mutar biji puzzle di tangan kirinya.

    "Pasti anda merasa bosan ya"

    Deji terhenyak. ia merebahkan seluruh tubuhnya ke lantai kemudian berputar-putar

    "Bosaaaaaaa~nnn...."
    "Tadi ada panggilan kasus dari seseorang"
    "benarkah? siapa?" Deji berhenti berguling dengan posisi tengkurap menghadap ke arah butlernya
    "yang menghubungi saya adalah seorang bawahan dari penjabat. Ia mengatakan bahwa baru saja terjadi pembunuhan di tempat tuannya. dan juga ia mengatakan akan menjelaskan lebih detail mengenai kasus ini jika berada langsung di TKP"
    "Ada informasi lain?"
    "hmm... apa, ya? oh, iya ada satu kalimat terakhir yang saya rasa terdengar aneh yang diucapkan oleh orang tersebut. ia bilang 'kami berharap dapat mengandalkan kemampuan kalian para detektif untuk menangani kasus ini'. bagaimana menurut tuan?"
    "begitu rupanya" Deji tersenyum santai
    "jika tuan berniat menangani kasus ini maka saya akan segera menuju ke lokasi yang diberitahu orang tersebut"
    "Tidak, Oscar. kali ini aku juga akan ikut bersamamu"
    "apa anda yakin tuan? baiklah kalau begitu. sekarang juga akan saya siapkan mobil"
    "Berapa lama menuju kesana menggunakan mobil?"
    "tempatnya cukup jauh. saya rasa bisa memakan waktu 30 menit sampai 1 jam"
    "kalau begitu kita pakai helikopter"
    "baiklah. tetapi tuan pakailah jaket yang hangat karena malam ini cukup dingin"
    "aku mengerti"

    singkat cerita Deji dan Oscar pergi menggunakan helikopter. di tengah perjalanan mereka berdua sempat berbincang-bincang. tentunya Oscar juga penasaran apa penyebab Deji yang biasanya hanya berdiam diri di dalam mansion dengan hanya sambil menerima masukan informasi atau bukti-bukti gambar lapangan yang diberikan Oscar, malah mau pergi ke tempat kejadian langsung.

    "tumben sekali tuan ingin pergi dan melihat langsung"
    "akan ku jelaskan..."

    Oscar sedikit tertegun

    "dari informasi yang kau berikan sebelumnya aku telah berhasil menarik beberapa kesimpulan"
    "apa itu, tuan muda?"
    "pertama, kita bukanlah satu-satunya orang yang diundang ke dalam kasus ini. beberapa atau mungkin banyak detektif juga turut di undang oleh penjabat tersebut. alasan aku berkata begini adalah karena, ketika kau bilang "kalian para detektif". itu artinya bukan hanya satu tapi banyak"
    "mengapa bisa seperti itu?"
    "atas hal tersebut aku menarik 2 kesimpulan. pertama karena kasus ini sangat sulit bahkan untuk ditangani seorang detektif. kedua bisa jadi karena orang tersebut ingin kasus ini segera diselesaikan. selain itu ada lagi..."

    Deji memberi jeda pada kalimatnya

    "ketika juga kau bilang bahwa klien kita adalah seorang penjabat, maka aku bisa menarik kesimpulan bahwa orang ini akan sebisa mungkin agar informasi pembunuhan ini tidak bocor ke media publik, karena hal itu akan menurunkan namanya. inilah alasannya mengapa aku menyarankan kita menggunakan helikopter. coba lihat di bawah sana"

    Oscar melihat keluar tepat di sekitar bawahnya. walaupun agak gelap karena sudah malam, ia bisa melihat sebuah jalan menuju rumah penjabat tersebut di blokade agar tidak ada sembarangan kendaraan yang keluar masuk

    "jalannya di kunci?" Oscar tertegun
    "itu agar orang2 tidak dapat keluar pergi seenaknya. tetapi ketika kulihat ada beberapa kendaraan terparkir disekitar tempat itu, berarti orang yang bersangkutan akan pergi berjalan kaki sampai tempat tujuan. itu artinya tujuan kita sudah dekat"

    Oscar tidak berkata apa-apa lagi. ia hanya melihati Deji yang sedang melamun melihat ke jendela helikopter

    "oh, iya ada 1 lagi, tuan. anda belum menjawab mengapa anda memilih untuk langsung pergi ke lokasi. apa anda hanya ingin menghilangkan kebosanan tuan?"
    "bisa dibilang seperti itu. tapi ada alasan yang lebih utama. yaitu karena aku tau akan ada banyak detektif disini, maka ini adalah kesempatanku untuk bersaing dan menunjukan bahwa ayahlah yang terhebat. aku tidak bisa mengharapkan informasi bolak-balik yang memakan waktu seperti biasa. untuk kali ini aku akan menyerahkan seluruh kemampuanku dalam kasus ini"
    "aku rasa itu tidak benar, tuan. menurut saya kaulah detektif terhebat. kau bisa mengetahui semuanya dengan kesimpulan-kesimpulan barusan. bahkan tuan Daybreaks pun mengakui anda"
    "Oscar,, apa kau tau yang selalu dikatakan ayah? 'ketika kau memikirkan penyelesaian dari sebuah kasus, jangan hanya memikirkan mengenai kemungkinan. tapi pikirkan juga mengenai ketidakmungkinan'. sebenarnya ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi kedepannya nanti, tetapi hanya 1 yang bisa terjadi. aku tidak mengetahui apapun, tetapi aku hanya bisa membacanya"

    mereka telah sampai. helikopter mendarat sekitar 100 meter di lapangan terbuka di depan rumah penjabat tersebut.

    "Oscar, ada sesuatu yang ingin kukatakan"
    "Apa itu, tuan muda?"
    "begini..."

    pemandangan turunnya helikopter itu menarik beberapa perhatian pasang mata. walaupun sebenarnya kebanyakan dari mereka melihat secara wajar-wajar saja. Deji dan Oscar turun dari helikopter dan berjalan menuju rumah penjabat. Deji memakai jaket hitam, celana putih panjang, sepatu hitam les putih, ransel hitam, dan yang paling mencolok adalah topi berbentuk telinga kucing berwarna hitam. Sedangkan Oscar menggunakan pakaian ala butler umumnya.
    Deji berdiri di sebelah kanan belakang Oscar sedangakan Oscar berbicara pada salah satu bodyguard di depan pintu

    "selamat malam. perkenalkan saya adalah Oscar, asisten dari tuan D. jika berkenan, izinkan saya untuk masuk dan melihat situasi di dalam"
    "tuan meminta saya untuk tetap menjaga pintu ini agar tidak ada yang masuk ataupun keluar selagi ia menenangkan keadaan di dalam"
    "kalau boleh tau berapa lama telah berlalu ketika kejadian itu hingga sekarang?"
    "kalau tidak salah sekitar 15 menit atau setengah jam yang lalu"
    "begitu ya"

    Deji menarik baju belakang Oscar 2 kali dengan pelan. Tanpa melirik ke Deji, ia langsung berbicara

    "baiklah, saya akan menunggu sebentar lagi"
    "saya harap anda tetap berada di dalam lingkungan rumah"

    Deji dan Oscar beranjak pergi dari hadapan sang bodyguard. mereka berdiri di depan garasi dimana tidak banyak orang yang berada disana.

    "jadi bagaimana, tuan?"
    "apa boleh buat. kita tunggu saja sampai muncul kesempatan. tetapi aku menemukan kesimpulan baru"
    "Apa itu?"
    "pembunuhan itu terjadi di dalam rumah ini. dan pelaku pembunuhan itu juga masih ada di dalam rumah"
    "jadi menurut anda dia tidak melarikan diri dari dalam sana?"
    "bukan begitu. maksudku pelakunya adalah pasti orang dalam. mungkin orang yang di undang dalam pesta ini. dan syukurlah karena kerumunan detektif disekitar kita ini, dia tidak bisa kabur. berarti hanya menunggu waktu sampai dirinya tertangkap"
    "kalau begitu bagus, bukan?"
    "tidak. kalau begini detektif amatiran sekalipun akan dengan mudah segera menemukannya. kita harus bertindak cepat"

    20.23 PM, Halaman rumah, depan garasi
     
  11. darkro90

    darkro90 The Perfect and Elegant Maid

    353
    29
    68
    20.12 Malam, kebun di bagian kiri rumah.

    “Pemuda ini hanya menolong saya karena saya terjatuh,”
    Hmph, jadi kamu bilang bahwa kamu terjatuh dan pemuda ini secara tidak sengaja berada di bawah mu? setidaknya, itu terdengar konsisten. Tetapi... ada yang aneh. Dari mana dia jatuh, dan kenapa?
    Nave mencoba menganalisis gadis tersebut dengan melihat keadaannya. Dia tetapi langsung yakin, dalam skenario terburuk, bahwa gadis ini bukan pelaku dari kejadian yang sedang berlangsung. Jika dia memang pembunuhnya, dia pasti langsung melanjutkan pelariannya tanpa menghiraukan lagi keadaan pemuda yang dia timpa barusan.

    Jika dia bukan pembunuhnya, mengapa dia sangat terburu-buru ingin meninggalkan tempat ini? oh, bodohnya aku. Pastinya untuk menghindari pembunuh tersebut. Tapi... apa rasa ganjil ini..

    “Masih ada urusan denganku?”

    Gadis itu berkata lagi. Sepertinya dia tidak terlalu nyaman dengan tatapan Nave yang terus menerus melekat kepadanya.

    Mau kemana lagi dia? sepertinya dia tidak tahu bahwa semua jalan keluar di tutup oleh para bodyguard tidak berotak itu...

    Dan juga, apakah aman bagi dia untuk berjalan-jalan di kebun gelap seperti ini sendirian? dengan pembunuh yang masih berkeliaran di sekitar sini?


    “Oh baiklah kalau begitu, saya permisi du―”

    Nave langsung menghadang gadis itu sebelum dia sempat berjalan. Pemuda yang baru saja ditimpa oleh gadis itu juga langsung menahan tangan kirinya, dengan tidak ada niatan untuk melepasnya.

    Sepertinya pemuda ini juga berpikiran sama dengan ku... ini akan membuat segalanya lebih mudah.

    Gadis tersebut kontan ketakutan dan bingung dikarenakan tindakan dua lelaki itu. Sepertinya, gadis itu mempunyai beberapa rahasia yang dia tidak ingin ada yang tahu, dan juga mungkin mencurigai bahwa Nave dan pemuda tersebut adalah pelaku dari kejadian yang membuat mereka semua berada disini.

    “Sebenarnya, apa mau kalian?”

    Sepertinya dia mendapatkan ide yang salah tentang perbuatanku ini.


    "Kamu mau kemana? menurutku, bukan tindakan yang tepat untuk berkeliaran di kebun gelap seperti ini dengan pembunuh yang masih berkeliaran di sekitar sini.

    ...Dan lagipula, semua akses keluar dari sini sudah ditutup."

    Nave, yang asalnya menghadang gadis itu, berjalan 1 langkah menjauhi gadis itu dan mengarahkan tangan kirinya ke sebuah jalan setapak yang gelap dan dikerumini oleh semak-semak, dan tersenyum sinis.

    "Jika kamu tidak percaya dengan ku, silahkan saja. Aku tak akan memaksamu untuk tinggal disini. Lagipula, aku hanya mencoba untuk membantu."

    20.28 Malam, kebun di bagian kiri rumah.

    Monggo mbak seis ato mbak ayano mau melanjutkan~

    Sebenarnya saya mau bikin ilustrasi iseng2 buat lengkapin post saya yang ini, tapi berhubung waktu tidak cukup + saya gagal dalam menggambar, untuk post yang lain saja deh :suram:
     
  12. seis_fleur

    seis_fleur nomor absen 12 Staff Member

    2.118
    705
    258
    20.12 Malam, kebun di bagian kiri rumah.
    Sang gadis yang menimpa Ruel cepat-cepat berdiri, saat dia minta maaf, Ruel hanya bisa membalas dengan senyuman dengan muka masih agak memerah. Sementara sakit di perutnya melanda kembali, Ruel agak meringis dan memegangi perutnya, dan si gadis dengan sigap membantunya berdiri.

    Gadis ini....

    Ruel berusaha melupakan rasa sakitnya dengan berpikir. Pikirannya menjadi fokus dan tidak memperdulikan keadaan sekitar. Sementara si gadis dan detektif lain sedang berbicara- atau lebih tepatnya berdebat, pikiran Ruel sudah tertuju pada sebenarnya siapa gadis ini. Ruel melihat keadaan sekitar. Bagi Ruel, melihat adalah kebenaran, dan sesuatu yang tidak ia lihat bisa mengandung kebohongan. Walau ada trik atau sesuatu hal yang dapat menipu mata dan membuat kita melihat kebohongan, tetap saja yang terlihat pasti mengandung kebenaran dan kunci untuk menyelesaikan kebohongan itu sendiri.

    Ruel melihat ke atas dimana gadis itu jatuh, walau agak gelap, masih bisa terlihat sebuah jendela lantai 2 yang terbuka, dinding rumah yang agak berlumut dan bunga bougenville yang merambat. Ruel mulai melihat keadaan gadis itu dengan cermat. Rambut ikal, gaun yang terlihat mahal berwarna madu, dan.. tidak memakai alas kaki.

    Dilihat dari gaunnya, betapa terawat rambut ikal dan wajahnya, jelas dia bukan warga biasa. Pesta ini dibuka untuk umum, tapi aku tidak yakin banyak pejabat di pesta ini selain si pejabat yang menggelar pesta. Antar pejabat mungkin terlihat bersahabat tapi sebenernya mereka hanyalah rival, apalagi kalau tujuan pesta ini memang hanya untuk mencari muka di kalangan masyarakat. Atau, pejabat yang lain tidak mau disatukan di satu pesta dengan masyarakat umum. Bukan pejabat lain, tapi bukan warga biasa. Ah, satu peran lagi yang mungkin, kalau memang mencari muka...
    keluarga si pejabat.


    Dia melarikan diri dari pesta. Karena apa? Pelaku? Dikejar pelaku? Bukan. Kalau begitu pasti dia tidak memperdulikanku juga detektif ini dan langsung melarikan diri. Lagipula di dalam dan di kebun ini seharusnya sama bahayanya, karena mungkin pelaku juga memikirkan cara kabur yang sama. Dan jika pelaku dia benar-benar bodoh tidak memakai alas kaki dan masih memakai gaun berwarna cerah, akan ada saksi mata yang melihat penampilannya yang mencolok itu. Melarikan dirinya juga bodoh sih, tidak ada persiapan apapun dan terlalu berisik. Rasanya tidak mungkin dia pelakunya.

    Hmm, mungkin berarti alasannya melarikan diri tidak ada hubungannya dengan kasus. Bosan? Huh, aku memang benar-benar tidak mengerti pikiran orang kaya.


    Setelah Ruel 'kembali' dari pikirannya,
    “Oh baiklah kalau begitu, saya permisi du―”
    Si gadis beranjak pergi. Refleks, Ruel menahan tangan kirinya. Si detektif juga menghadang si gadis untuk pergi. Sementara si gadis dan detektif berdebat lagi, Ruel hanya bisa terdiam. Ruel pikir si detektif lebih mahir untuk bernegosiasi dengan si gadis.

    "Jika kamu tidak percaya dengan ku, silahkan saja. Aku tak akan memaksamu untuk tinggal disini. Lagipula, aku hanya mencoba untuk membantu." kata si detektif.
    "Apanya yang membantu? Dari tadi kalian hanya menghalangiku... dan hei, bisa tolong lepaskan tanganku?" terlihat si gadis tidak mendengarkan omongan si detektif dan mulai mengomentari tangannya yang masih dipegang Ruel. Ruel masih belum mau melepas tangannya. Dirasakannya, tangan gadis itu dingin dan sedikit gemetar, sepertinya dia ketakutan walau bersikap tegar. Ruel berpikir, kata-kata apa yang tepat untuk membuat gadis ini percaya, bahwa mereka bukan pelaku tapi detektif. Dan saat menyadarinya, kata-kata itu sebenarnya lebih mudah dari yang Ruel bayangkan.

    "Bisa tolong bawa kami kedalam?"
    "Hee?"
    "Kami bukan pelaku, hanya detektif yang menunggu. Kalau kami pelaku yang ingin melarikan diri, tidak mungkin kami meminta untuk masuk kedalam kan?

    20.30 Malam, kebun di bagian kiri rumah.

    ga nyangka bakal sepanjang ini :lol:
     
  13. darkro90

    darkro90 The Perfect and Elegant Maid

    353
    29
    68
    20.05 Malam, Di depan pintu rumah lokasi kejadian.
    Setelah detektif tersebut menyerah untuk mencoba masuk, Draug mengeluarkan napas lega. Pasti akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan oleh dia jika detektif tersebut masuk tanpa seijin bos dia.

    GRUSAKKK!!

    "Suara apa itu?"
    Tanya bodyguard yang berada disamping Draug.
    "Tidak tahu. Sepertinya berasal dari kebun kiri sana. Kau tunggu sini, biar aku yang mengecek."
    Detektif yang tadi marah-marah ingin masuk segera berlari ke arah kebun tersebut. Draug juga mengikuti tetapi dengan langkah yang tidak terlalu terburu-buru.

    Ah, pasti tidak akan terjadi pembunuhan yang lain lagi.


    ------

    Draug mengamati mereka yang sepertinya sedang berdebat tentang sesuatu. Ada seorang gadis dan dua pemuda disana, salah satu pemuda tersebut adalah detektif tadi yang mencoba masuk. Draug memutuskan untuk melihat dan mengikuti mereka saja tanpa melakukan apa-apa karena dia takut menambah masalah yang sudah ada. Tiba-tiba, ada seseorang yang menepuk pundak dia dari belakang.

    "Hey."

    20.30 Malam, kebun di bagian kiri rumah.

    Ini bukan karakter saya yo, hanya salah satu NPC yang saya gerakkan untuk melengkapi event. Orang yang menepuk pundak dia adalah bodyguard yang sebelumnya, berarti sekarang saatnya untuk Sherly menyusup masuk :ok:
     
  14. Ayano

    Ayano Staff Member Uploader

    [align=justify]20.12 Malam, kebun di bagian kiri rumah.

    "Kamu mau kemana? menurutku, bukan tindakan yang tepat untuk berkeliaran di kebun gelap seperti ini dengan pembunuh yang masih berkeliaran di sekitar sini... Dan lagipula, semua akses keluar dari sini sudah ditutup," lanjut si pemuda berjas biru.

    Aku mau kemana, itu juga bukan urusanmu! Rouva mendelik kesal. Sepertinya gadis itu sudah melupakan kakinya yang masih kaku, badannya yang gemetar, dan telapak tangannya yang berkeringat dingin.

    Pemuda berjas biru yang asalnya menghadang Rouva berjalan 1 langkah menjauhi gadis itu dan mengarahkan tangan kirinya ke sebuah jalan setapak yang gelap dan dikerumini oleh semak-semak, dan tersenyum sinis.

    Oke, kedua orang ini mulai menyebalkan! Rouva mengedarkan pandangan kearah halaman depan. Memang terlalu beresiko untuk kabur sekarang, terlalu banyak bodyguard dan polisi yang berjaga. Bila Rouva terlihat oleh mereka, pastilah dia akan dikembalikan ke kamar menyebalkan itu lagi, dan mau tidak mau Rouva harus bersikap manis layaknya nona besar yang tidak boleh ikut campur walaupun kasus sekelas ini sedang terjadi di kediaman pamannya sendiri. Seketika itu juga Rouva memahami satu hal…

    Itulah kenapa, aku sampai dikunci di kamar sempit itu… Paman memang nggak akan suka kalau aku ikut menjadi saksi dalam penyelidikan ini… Pertama karena ingatan fotografisku, polisi pasti akan memintaku dan melibatkanku dalam penyelidikan sampai kasus ini selesai… Dan jika aku sampai ikut dalam penyelidikan, paman sudah memastikan kalau kasus penculikan itu bisa terulang padaku, keselamatanku-lah taruhannya… Oh, aku benar-benar rindu Asrama…

    "Jika kamu tidak percaya dengan ku, silahkan saja. Aku tak akan memaksamu untuk tinggal disini. Lagipula, aku hanya mencoba untuk membantu," si pemuda berjas biru itu menambahkan.

    "Apanya yang membantu? Dari tadi kalian hanya menghalangiku... dan hei…" Rouva berdecak, menatap pemuda jaket hitam―si penyelamat nyawa―yang sendari tadi terus mencekal tangannya. Lantas gadis itu menghela napas pelan. "Bisa tolong lepaskan tangan saya?" Rouva mulai malas mendengarkan omongan pemuda berjas biru dan mulai mengomentari tangannya yang masih dipegang si pemuda berjaket hitam. Sayangnya, si pemuda berjaket hitam masih belum mau melepas tangannya.

    Pemuda berjaket hitam itu menatap Rouva lekat-lekat seraya berkata, "Bisa tolong bawa kami kedalam?"

    "Hee?" Apa aku nggak salah dengar? Rouva balas menatap pemuda itu dengan heran. Apa dia sadar betul dengan ucapannya? Dia sama sekali nggak mengenalku dan begitu saja, tanpa curiga dia meminta bantuanku?

    "Kami bukan pelaku, hanya detektif yang menunggu. Kalau kami pelaku yang ingin melarikan diri, tidak mungkin kami meminta untuk masuk kedalam kan?" Genggaman pada tangan Rouva makin erat, dan sepasang mata itu nggak melepaskan tatapannya dari Rouva barang sedetikpun.

    Gadis itu kembali memahami satu hal. Terang saja pemuda itu meminta bantuannya, pemuda itu (pastilah) dengan jelas melihat perbuatan konyolnya beberapa menit lalu. Apalagi kalau bukan kabur dari lantai dua? Dan selain orang dalam atau si pemilik rumah, nggak akan ada orang yang nekat lompat dari lantai dua kecuali orang itu tahu betul seluk beluk luar dan bagian dalam rumah. Rouva mencoba menerima argumennya sendiri.

    "Baiklah kalau itu yang kalian mau."

    Dengan sedikit rasa percaya pada kedua orang dihadapannya, Rouva mencoba memberanikan diri. Sebenarnya yang membuat dia menjadi jengah adalah karena kedua orang dihadapannya adalah laki-laki. Bukan kenapa-napa, tapi masalahnya Rouva sama sekali nggak bisa membaca pola pikir mereka karena selama kurang lebih enam tahun―sejak kasus penculikan terjadi―, kehidupan Rouva hanya berkutat pada Asrama Puteri yang terang saja minus laki-laki. Dan laki-laki yang dikenalnya (kalau bisa dianggap seperti itu) hanyalah Ayah, Kakak laki-laki, Paman, seorang sepupu―anak paman dan itupun masih SD, butler keluarga Adelig, bodyguard pamannya, dan guru sekolahnya.

    "Saya akan membawa kalian masuk ke dalam melalui..." Sepasang mata Rouva menelanjangi keadaan sekitar. Gadis itu seperti sedang mencari sesuatu diantara lebatnya semak-semak. "Tapi sebelum itu, bolehkan saya mengetahui nama kalian?" Gadis itu terbiasa menggunakan bahasa baku dengan orang yang belum dikenalnya. Rouva menghela napas, mencoba mengusir hawa dingin yang makin menyelimuti badannya. "Dan satu lagi, bolehkah saya memin... Hatshi― dari kalian?"

    Walau omongan itu terputus karena suara bersin Rouva, si pemuda berjaket hitam―yang menolong Rouva―sadar betul kalau gadis itu kedinginan. Sontak dilepasnya genggamannya pada tangan Rouva, dan disodorkannya jaket hitamnya pada gadis itu. "Yah― bertelanjang kaki masih lebih mending daripada mengigil kedinginan." Pemuda itu menggaruk-garuk dagunya yang nggak gatal sambil nyengir lebar.

    "Thanks―" Oke, pemuda ini sadar betul kalau penampilanku aneh, memakai gaun tanpa alas kaki. Dan dengan ini, Rouva berhutang dua kali pada pemuda itu. Rouva bergegas memakai jaketnya, seketika aroma jeruk dari jaket itu menyerbak disekelilingnya. Lho, pemuda ini baunya jeruk?

    "Namaku Ruel," kata si pemuda penyelamatnya. "Lalu dia…" Ruel menoleh pada si pemuda berjas biru yang sedang memasang kembali jas birunya.

    "Kurasa, dua jaket nggak dibutuhkan." Disahutinya Ruel sambil merapikan kembali jas dan dasinya. Rupanya pemuda itu juga sadar betul kalau Rouva memerlukan jaket. "Namaku Nave, dan seperti..." Nave milirik Ruel sekilas. "Dan seperti Ruel, aku juga detektif yang diundang Tuan Adelig, maksudku Tuan Peter Adelig untuk mengusut kasus ini. Tapi sayangnya, kami belum boleh diijinkan masuk," sambung Nave sambil mengedikkan bahu.

    "Lalu kau sendiri, siapa namamu?" ujar Ruel dan Nave bersamaan.

    Dua orang ini refleksnya sama, dan sepertinya mereka memang orang baik. Rouva terkekeh sambil berjongkok membelakangi keduanya, gadis itu mencoba mencari sesuatu diantara lebatnya semak-semak dan rumput jepang. Sepertinya aku menemukannya! Batin Rouva sumringah sambil mencoba meraba-raba rumput jepang, dan nggak lama, sebuah pintu kayu kotak terbuka dihadapan mereka. Walau sudah sangat lama Rouva nggak bermain-main diseisi penjuru rumah dan halaman milik pamannya, tapi dia yakin betul kalau dia masih menguasai seluk beluk rumah tersebut termasuk lorong rahasia!

    Rouva mencoba menengok ke dalam. Lorong dengan dinding batu itu nggak berubah sama sekali. Lembab, sempit dan minus penerangan. "Apa diantara kalian ada yang memiliki senter atau pematik api?"

    Secara bersamaan kedua pemuda dihadapannya mengeluarkan pematik api, dan lagi-lagi Rouva terkekeh.

    20.35 Malam, lorong rahasia, di dalam kebun bagian kiri rumah.

    "Baiklah, saya akan memandu kalian sampai ke dalam rumah. Lorong ini akan tembus dan berujung sampai ke bawah tempat tidur maid keluarga ini, dan berhati-hatilah dengan langkah kalian," Rouva berjalan lebih dulu menuruni tangga batu yang cukup curam dengan kedua pemuda itu mengikuti di belakangnya. Mata Rouva menyisir ke sekeliling. Nggak ada debu sebutirpun. Sesuai yang diminta paman, berarti Francis dan Sam rajin membersihkannya.

    "Ah iya," Rouva menghentikan langkahnya, yang kontan membuat langkah mereka bertiga berhenti. "Nama saya Adelig―"

    Walau omongan itu terputus, Ruel dan Nave mulai menyadari siapa sebenarnya gadis ini.

    "Rouva Adelig. Saya keponakan dari paman Paman Peter, sesorang yang telah mengundang kalian untuk mengusut kasus ini."

    OOC: Dan, RP untuk karakterku juga makin tambah panjang =)
    Ini aku tambahin sedikit dialog Ruel sama Nave, gpp kah?
    [/align]
     
  15. Sheratan

    Sheratan Parental Advisory Staff Member Uploader Donatur Event Winner VN Development Team Masa Latihan

    3.728
    738
    248
    20.05 Malam, Di depan pintu rumah lokasi kejadian.

    "Tepat sekali. Sepertinya untuk kali ini, tidak mungkin hanya uang yang terlibat."
    Aku hanya mengangguk mendengar kata-kata pria itu. Ya ya ya apa katamu saja., pikirku. Aku tidak tertarik berdebat mengenai hal yang belum jelas duduk perkaranya. Itu hanya menganggu penyelidikanku saja.

    Pria itu berjalan meninggalkanku menuju kebun di bagian kiri rumah dan menghilang ditengah kegelapan malam. Kuambil ponselku, bermaksud mendengarkan lagu untuk mengusir kebosanan dan dinginnya malam saat samar-samar kudengar bunyi suara jatuh. Benda berat yang jatuh, kurasa.

    Mungkin ia terpeleset..., pikirku merujuk pada pria tadi.

    Kulihat para penjaga berjalan mengecek sumber suara. Ah, kesempatan bagiku untuk bisa menyusup. Kumasukkan kembali ponsel ke celanaku, mengendap-endap dengan cepat dan tenang mendekati pintu depan. Mencoba membukanya.

    Terbuka.

    Aku adalah pria paling beruntung malam ini., pikirku kembali.

    Tanpa pikir panjang, aku segera masuk kedalam.

    20:06 Malam. Didalam ruang utama, tempat pesta.

    OOC: Tadinya gw mau ketemu Deji tapi timestamp Deji 20:23, kejauhan dari timestamp gw. :D
     
  16. darkro90

    darkro90 The Perfect and Elegant Maid

    353
    29
    68
    20.35 Malam, lorong rahasia, di dalam kebun bagian kiri rumah.

    "Rouva Adelig. Saya keponakan dari paman Paman Peter, sesorang yang telah mengundang kalian untuk mengusut kasus ini."

    Rouva Adelig? kayaknya aku pernah dengar nama itu...

    Dengan samar-samar, Nave mencoba untuk mengingat-ingat sesuatu yang menganggu dia, tetapi hal itu tetap saja tidak bisa diingatnya.

    "Sepertinya, ada banyak pintu-pintu menuju ruangan lain ya."

    Di dalam perjalanan, Nave melihat beberapa pintu di kedua sisi lorong tersebut. Dia mencoba membuka pintu tersebut, tetapi gagal karena terkunci.

    Hmm, aku penasaran dengan apa yang ada di balik pintu tersebut. Dan bisa saja pelaku pembunuhan ini bersembunyi di salah satu ruangan yang terkunci ini.

    Setelah mencoba untuk mendobrak pintu tersebut, Nave akhirnya menyerah dan melanjutkan perjalanannya.

    "Hey, Rouva... apakah kamu tahu apa yang ada di balik ruangan itu? yang tadi terkunci rapat."

    20.40 Malam, lorong rahasia, di dalam kebun bagian kiri rumah.

    -----------

    20.30 Malam, kebun di bagian kiri rumah.

    Draug langsung melihat kebelakang, dan menemukan temannya yang ikutan bersembunyi di belakang semak-semak.

    "Apa?"

    "Aku pikir kau akan butuh bantuan."

    "Sayangnya tidak. Sekarang siapa yang jaga pintu?"

    "Kalau tidak salah ada si- oh sial."

    "Biar ku tebak, tidak ada yang menjaga pintu. Dasar pintar... ayo kita balik ke sana."

    "Terus, bagaimana dengan mereka?"

    "Ah, masa bodoh dengan mereka. Aku hanya dibayar untuk menjaga pintu depan, kau juga sebaiknya ikuti aku saja."

    Setelah mereka tiba di pintu depan rumah tersebut, mereka langsung balik ke posisi awal mereka di depan pintu dan melanjutkan penjagaan mereka.

    "Menurutmu, saat kita berada di kebun tadi, apakah ada yang menyusup masuk?"

    Draug menjawab dengan enteng.

    "Seperti yang kubilang, kita hanya dibayar untuk menjaga pintu depan kok. Tidak masalah jika ada sesuatu yang terjadi saat kita berada di kebun. Toh, bukan salah kita juga."

    20.35 Malam, Di depan pintu rumah lokasi kejadian.


    Lanjutkan saja ceritanya sampai ke ruangan maid nya mbak kajik, btw post RP saya yang berwarna biru itu sudut pandang bodyguard tadi yang ada di post saya sebelumnya.
     
  17. Ayano

    Ayano Staff Member Uploader

    [align=justify]20.36 Malam, lorong rahasia, di dalam kebun bagian kiri rumah.

    Sudah kuduga, mereka akan memasang ekspresi keheranan. Rouva tersenyum tipis.

    Kalau mereka mau memutar memori sekali lagi, pastilah akan menemukan jawabannya. Aku yang saat itu masih kecil dan terlalu polos untuk tahu, diculik setelah mengikuti olimpiade renang antarsekolah! Dan menurut polisi, penyebab penculikan itu karena status Paman Peter. Sayangnya, aku sama sekali nggak bisa mengingat para penculik itu karena selama aku diculik, mereka menutup kedua mataku―dan belakangan, aku dapati informasi dari polisi kalau para penculik itu menutup mataku karena mengetahui kemampuan ingatan fotografisku. Tapi aku masih bersyukur, karena penculik-penculik itu memperlakukanku dengan baik-baik. Bayangkan saja, mereka kerap mengajakku jalan-jalan ke taman hiburan (dengan mata masih tertutup), mengajakku ke toko mainan, dan membelikanku boneka-boneka yang aku mau. Nggak jarang pula (atau hanya perasaanku?) tiap jam makan selalu tersuguh hidangan sehat dan seseorang untuk menyuapi alias membantuku makan. Err― Agak aneh memang. Dan berita soal penculikan itu tersebar di seluruh media nasional, baik televisi maupun surat kabar. Sudah enam tahun, untungnya kejadian itu sudah (cukup) lama dilupakan (kecuali untuk keluargaku). Dan aku― Akupun nggak ingin mengingat-ingat kejadian itu lagi! Cukup!

    Rouva bergegas mengajak kedua pemuda itu untuk kembali menyusuri lorong. Gadis itu nggak ingin siapapun mengingat masa lalunya yang cukup suram.

    "Sepertinya, ada banyak pintu-pintu menuju ruangan lain ya." Nave memecah keheningan. Rouva melihat Nave menghentikan langkah, pemuda itu menjauh dari sisi Rouva dan Ruel. Lantas Nave menyambangi dan melihat beberapa pintu di kedua sisi lorong tersebut, mencoba membuka, dan mendobrak pintu. Sayangnya, nihil. Pintu itu tetap terkunci. Nave akhirnya menyerah, dilanjutkannya perjalanannya, dan ditegurnya Rouva. "Hey, Rouva... apakah kamu tahu apa yang ada di balik ruangan itu? yang tadi terkunci rapat."

    Rouva langsung menghentikan langkahnya, gadis itu menarik lengan baju Ruel ketika pemuda berbau jeruk itu (seperti hanya) terfokus untuk menemui jalan tembus dari lorong. Bertiga dengan Ruel dan Nave, Rouva mendekati sisi kanan pintu yang membuat Nave penasaran. Sisi kanan dan kiri lorong sama-sama memiliki tiga pintu, dengan total keseluruhan enam pintu.

    "Dari sini―" Rouva mengetuk pintu kayu oak besar dihadapannya. "Pintu ini menghubungkan ke kamar butler― Lalu sepertinya, dua pintu yang lain menghubungkan ke ruang pesta dan bagian selatan rumah ini," lanjutnya tak pasti. Rouva sendiri tahu hal ini karena Samantha―maid keluarga Adelig-lah yang memberitahunya.

    Rouva melihat sekilas dua pemuda di sebelahnya, masing-masing berkutat (menyelidiki dan penasaran) pada pintu dihadapan mereka.

    Kalau nggak salah.... Gadis itu mencoba mengingat sesuatu. Sam pernah bilang kalau kunci di lorong-lorong ini nggak terlihat―. Rouva mulai meraba dinding yang terbuat dari batu-batu besar di antara pintu-pintu sambil terus berfikir.

    KRIEETTTT―

    Tanpa dia sadari, tangannya menekan batu, dan batu itu terdorong masuk hingga membuat ketiga pintu terbuka. Rouva terpaku, kemudian dia balik menatap kedua pemuda dihadapannya yang sama-sama (masih) diliputi keheranan.

    "Jadi.... Kita punya tiga pilihan..." ujar Rouva ragu-ragu. Gadis itu meneguk ludahnya sambil menatap hening warna gelap dibalik pintu dihadapannya, dan dia nggak menyukai hal itu. "Pertama, kita lanjutkan perjalanan kita sampai di ujung lorong. Kedua, memilih salah satu pintu dari ketiga pintu, dan kita masuki bersamaan. Atau... yang terburuk... lebih baik kita bertiga memasuki masing masing pintu dan... berpencar?"

    20.45 Malam, lorong rahasia, di dalam kebun bagian kiri rumah.[/align]
     
  18. seis_fleur

    seis_fleur nomor absen 12 Staff Member

    2.118
    705
    258
    20.35 Malam, lorong rahasia, di dalam kebun bagian kiri rumah.

    "Rouva Adelig. Saya keponakan dari paman Paman Peter, sesorang yang telah mengundang kalian untuk mengusut kasus ini."

    Rouva.... nama yang bagus. Kalau tidak salah aku pernah membacanya di perpustakaan kakek Grig, "Rouva" dalam bahasa Finlandia bisa berarti "nona", "ratu", atau semacamnya. Huff, aku jadi ingat betapa banyaknya buku yang aku baca disaat dimana aku tidak sekolah karena kecelakaan itu dan lalu kematian ayah membuat ibu jadi sangat repot... ah sudahlah. Aku tidak bisa konsentrasi kalau mengingatnya. Tetapi selain dari buku, rasanya aku pernah mendengarnya. Hmm, sulit mengingat hal-hal yang sudah lama.

    Mereka bertigapun menyusuri lorong gelap dengan tuntunan Rouva yang sepertinya telah tahu baik seluk-beluk lorong rahasia ini. Karena sempit dan gelap, Ruel berjalan dengan memegang dinding lorong.
    Lorong ini sempit dan gelap tetapi bersih sekali, tidak ada debu. Seperti sengaja dibersihkan. Tetapi karena gadis pejabat itu-- Rouva, menuntun kami untuk menyelinap diam-diam, pasti dia berpikir lorong ini sedang tidak dipakai. Tidak dipakai tetapi dibersihkan. Untuk apa?

    Pikiran Ruel buyar saat Rouva menarik lengan Ruel. Rouva menjelaskan masing-masing pintu di depan mereka bertiga, tetapi dengan nada yang menunjukkan keraguan. Rouva berpikir sejanak lalu mencoba meraba dinding dan... KRIEETTTT― ketiga pintupun terbuka.

    "Jadi.... Kita punya tiga pilihan...Pertama, kita lanjutkan perjalanan kita sampai di ujung lorong. Kedua, memilih salah satu pintu dari ketiga pintu, dan kita masuki bersamaan. Atau... yang terburuk... lebih baik kita bertiga memasuki masing masing pintu dan... berpencar?"

    Ruel berpikir sebentar.

    "Menurutku berpencar adalah ide yang buruk. Kami berdua tidak tahu seluk-beluk rumah bisa susah jika tersasar di bagian selatan rumah atau kamar butler. Dan kau, Rouva, tidak mungkin membiarkanmu sendiri dimana pembunuh juga kemungkinan bersembunyi disini.
    Dan karena Rouva juga tahu masing-masing tujuan ketiga pintu ini, tidak ada gunanya mengecek ujung lorong.
    Hmm, aku memilih kamar butler. Karena 2 pintu lagi tidak meyakinkan ke selatan rumah atau ruang pesta, tidak ada waktu untuk bolak-balik kalau kita tersasar ke selatan rumah."

    "Cuman pikirnku sih, bagaimana menurut kalian?"

    20.47 Malam, lorong rahasia, di dalam kebun bagian kiri rumah.
     
  19. fleurishana

    fleurishana Staff Member

    1.530
    466
    253
    [align=justify]20.25. Di antara semak-semak kebun bagian kiri rumah.

    Dua pria berjas dan satu gadis memakai gaun tidak beralas kaki. Dua pria itu mungkin para detektif swasta yang juga dipanggil untuk menyelesaikan kasus ini. Namun yang lebih membuatku penasaran.... gadis itu.

    Aku menoleh ke atas, terlihat jendela yang terbuka dan rambatan bunga Bougenvile lalu kembali menatap gadis itu.

    Kemungkinan besar gadis itu...hem.. dia memegang "kunci" yang cukup kuat.

    Tiba-tiba terlihat seseorang bertubuh besar sepertinya bodyguard datang menuju tempat dimana dua pria berjas dan gadis itu berada. Aku pun mengatur posisi agar tidak terlihat olehnya juga tidak diketahui oleh dua pria berjas dan gadis itu.

    Cih.. Kenapa bodyguard itu bisa sampai disini dan ... kenapa aku bersembunyi juga. Sial, kalau ketahuan nanti bisa dikira aku pelaku atau orang yang mencurigakan...

    Seseorang bertubuh besar itu mengamati dua pria berjas dan gadis itu -dari jarak yang lebih jauh dibanding keberadaanku- sama halnya denganku yang tetap mencoba mendengar apa yang mereka bicarakan sambil terus berwaspada.


    "Bisa tolong bawa kami kedalam?" ucap salah satu dari dua pria berjas itu pada si gadis. Meski suara mereka tidak begitu besar, tapi aku masih bisa mendengarnya.

    Bagus!


    "Hey."

    Suara itu agak mengagetkanku yang sedang konsentrasi dengan pembicaraan dua pria berjas dan si gadis. Kulihat ada bodyguard lain yang membawa bodyguard yang datang terlebih dahulu kembali ke tempatnya semula.

    fiuh.. okeh.. Datang hal bagus lainnya.

    Aku pun memperbaiki posisiku -yang sebelumnya sangat tidak nyaman karena ada si bodyguard- dan kembali berkonsentrasi pada dua pria berjas dan si gadis.


    20.30. Di antara semak-semak kebun bagian kiri rumah.

    "Namaku Ruel"
    "Namaku Nave"

    Ruel dan Nave, huh? Sepertinya aku memang pernah mendengar sedikit tentang mereka, ya, hanya sedikit.


    Si gadis berjongkok dan seperti mencoba mencari sesuatu diantara lebatnya semak-semak dan rumput jepang. Dan tiba-tiba saja, sebuah pintu kayu kotak terbuka.

    Hem? Terlihat samar-samar tapi sepertinya itu.. lorong? Ya, aku sudah memperkirakan ini. Tidak heran rumah sebesar ini dan merupakan rumah seorang pejabat memiliki jalan-jalan rahasia. Namun tidak kusangka bisa menemukannya secepat ini -meski bukan aku sendiri yang menemukannya- tapi itu berarti... gadis itu adalah salah satu keluarga Adelig. Tapi kenapa dia mesti "terjatuh" atau tepatnya "menjatuhkan diri" dari jendela itu?

    Lalu secara bersamaan kedua pria berjas mengeluarkan pematik api dan sepertinya mereka bertiga sedang bersiap-siap untuk memasuki lorong itu.

    Okay, soal si gadis pikirkan nanti..

    Aku pun mengeluarkan sebuah "pulpen" dan kuputar-putarkan dengan tanganku sambil menunggu mereka masuk terlebih dahulu.

    Si gadis itu masuk ke lorong terlebih dahulu diikuti oleh kedua pria berjas di belakangnya yang membuatku berhenti memutar-mutarkan "pulpen" yang ada di tanganku.

    Oke. Giliranku.

    Setelah kuperhitungkan jarak waktu yang cukup, aku pun berdiri dan berhenti menatap jam tangan yang berada di tangan kananku, kuregangkan tubuhku, lalu berjalan menuju lorong itu dengan tangan di dalam saku jaket seperti biasa.
    Ku keluarkan lagi tanganku yang memegang "pulpen" lalu menekan bagian atasnya sehingga bersinarlah ia melebihi sinar cahaya senter.

    "Tidak kukira masih bekerja padahal sudah lama tidak kupakai. Tapi ini terlalu terang." ucapku sambil menurunkan daya lampu itu.

    "Aaaah" ucapku sambil -lagi lagi- meregangkan tubuhku.

    "Baiklah, saatnya masuk."

    20.43. Lorong rahasia, di dalam kebun bagian kiri rumah.[/align]
     
  20. darkro90

    darkro90 The Perfect and Elegant Maid

    353
    29
    68
    20.45 Malam, lorong rahasia, di dalam kebun bagian kiri rumah.

    "Jadi.... Kita punya tiga pilihan...Pertama, kita lanjutkan perjalanan kita sampai di ujung lorong. Kedua, memilih salah satu pintu dari ketiga pintu, dan kita masuki bersamaan. Atau... yang terburuk... lebih baik kita bertiga memasuki masing masing pintu dan... berpencar?"

    Berpencar? dengan pelaku yang berkeliaran, dan tujuan yang tidak jelas? ide yang buruk.

    Ruel yang dari tadi diam, mulai berbicara dan mengutarakan idenya.

    "Menurutku berpencar adalah ide yang buruk. Kami berdua tidak tahu seluk-beluk rumah bisa susah jika tersasar di bagian selatan rumah atau kamar butler. Dan kau, Rouva, tidak mungkin membiarkanmu sendiri dimana pembunuh juga kemungkinan bersembunyi disini.
    Dan karena Rouva juga tahu masing-masing tujuan ketiga pintu ini, tidak ada gunanya mengecek ujung lorong.
    Hmm, aku memilih kamar butler. Karena 2 pintu lagi tidak meyakinkan ke selatan rumah atau ruang pesta, tidak ada waktu untuk bolak-balik kalau kita tersasar ke selatan rumah."

    "Cuman pikirsnku sih, bagaimana menurut kalian?"

    Well said.

    Nave menghelakan napas, dan memain-mainkan rambut poninya sebelum ikut mengutarakan opininya.

    "Seperti apa yang Ruel bilang, berpencar adalah ide buruk selama pembunuh itu masih berkeliaran di sekitar sini. Selama hanya pintu ini yang bisa dipastikan ke arah mana akhirnya, aku pikir pergi ke arah sini hanyalah opsi kita saat ini."

    Nave berkata sambil memegang pintu kayu besar yang tadi diketuk oleh Rouva.

    Tetapi... aku punya perasaan buruk tentang ini.

    Nave menyinari ruangan tersebut dan mendapati sebuah lorong lagi yang sedikit lebih panjang.

    Gah, lorong lagi? sepertinya ini bukan hari keberuntunganku.

    Nave mulai berjalan ke dalam lorong tersebut, tetapi setelah dia berjalan tiga langkah, dia langsung berhenti dan melihat ke belakang, sebelum berjalan lagi.

    "Sampai kapan kalian akan berdiri disana terus? sang pembunuh tak akan menunggu kita, lho."

    Kedua orang di belakang Nave langsung mengikutinya dan mereka berjalan menyusuri lorong tersebut.

    --------

    Setelah berjalan selama sekitar lima menit, Nave yang sedang berjalan melihat setitik cahaya yang ganjil diantara cahaya lighter dia dan Ruel.

    Hmm, aneh... harusnya hanya ada dua titik cahaya disini- Oh celaka!

    Nave mulai menyadari bahwa mereka tidak sendirian di lorong itu, dan langsung berhenti berjalan.

    "Ada apa?" Tanya Ruel keheranan.

    "Matikan lightermu." Nave jawab setengah berbisik.

    "Eh?"

    "Sekarang!" Nave berbisik lagi dengan nada yang sedikit mendesak.

    Ruel langsung mematikan lighternya, dan Nave melakukan hal yang sama. Dengan cepat, Nave melihat ke belakang dan menyadari ada setitik terang dibelakang mereka.

    Sudah ku kira, ada orang lain dibelakang sana. Si pembunuh kah? yang pasti, hal yang terbaik untuk ini adalah...


    Nave, dengan sedikit berbisik, memberi instruksi kepada Ruel dan Rouva.

    "Dengar, kita tidak sendiri disini. Kalian diam dulu disini, jangan membuat suara apapun. Ruel, jika aku tidak kembali dalam dua menit, nyalakan kembali lightermu, larilah menuju akhir lorong dan panggil bantuan kesini."

    "A-apakah si pembunuh...?" Tanya Rouva dengan sedikit nervous kepada Nave.

    "Mungkin. Karena itu, aku akan mengecek ke belakang sana. Ingat, dua menit!"

    Nave, tanpa mendengar persetujuan atau omongan dari kedua orang tersebut, langsung berlari ke arah orang yang mengikuti mereka dengan harapan membekuk dia. Orang tersebut, memegang sesuatu yang seperti senter kecil, terlihat kaget melihat Nave yang berlari ke arah dia.

    Aku tidak bisa ambil resiko dengan membabi buta berlari ke arah dia. Oh, sepertinya aku sudah melakukannya. Mentackle sambil memegang kedua tangan sepertinya adalah sebuah startegi yang bagus.

    "BERHENTI!" Teriak Nave.

    Tanpa melihat muka ataupun badan orang tersebut, Nave dengan sekuat tenaga mentackle orang tersebut sampai jatuh ke lantai. Orang tersebut sedikit meronta saat Nave menahannya di lantai dengan memegang dua lengannya di lantai. Dengan tangan kanan memegangi tangan kedua orang tersebut, Nave mengambil lighternya di saku jas kirinya dengan tangan kirinya, menyalakannya dan menerangi ke muka orang tersebut. Nave sedikit kaget saat melihat muka orang tersebut.

    "...Siapa kau? dan mengapa kau mengikuti kami?"

    20.52 Malam, lorong rahasia, di dalam kebun bagian kiri rumah.

    Halo han :keren:

    berhubung nama dan gender nya masih ambigu saya post dengan "orang tersebut" saja yah.
     

Share This Page