[Simulasi RP] A! Dormitory!

Discussion in 'RP Playground' started by Ayano, 16 November 2013.

  1. Ayano

    Ayano Staff Member Uploader

    RP-ARENA A! Dormitory project

    Di sini pemain hanya di tuntut untuk bisa berkenalan minimal 4 pemain lain :"D

    Diskusi: (silahkan pertanyaan, saran bagaimana melanjutkan cerita, dll di post di trit diskusi)
    Pemain: this
     
    Last edited by a moderator: 5 December 2013
    Kannazuki_SOLA and igorkun like this.
  2. mimong

    mimong Member

    473
    140
    123
    -== Ciel Mythevine ==-
    - 7th August 2013 -
    ((Kamar Ciel - 04.13 A.M))

    "Tororong tong tong Torotororong Tororong tong tong torotororong Tororong tong tong Torotororong!—"

    Tiba-tiba terdengar lagu jingle yang biasa dibunyikan gerobak keliling yang menjajakan es krim. Ini masih sangat pagi, kenapa sudah ada gerobak es krim yang lewat?

    "Tororong tong to—pip!"

    Kemudian jingle tersebut berhenti, ditandai dengan sebuah nada monoton yang singkat. Jemari yang mungil itu menekan handphone-nya, memencet tombol turn off. Oh, rupanya itu adalah nada alarm dari sebuah handphone. Si pemilik handphone dengan nada alarm jingle es krim itu akhirnya menyembulkan kepalanya, memperlihatkan surai keemasannya yang berantakan. Perlahan ia membuka kelopak matanya, memperlihatkan sepasang manik biru gelap yang masih mengantuk dan tidak fokus.

    Dia bergumam, "...hari ini alarm-nya es krim... Aku ingin es krim vanila..."

    Namanya Ciel Mythevine. Sekarang sedang ngidam yang namanya es krim vanila.

    ***​
    (( Ruang Tata Boga - 05.02 A.M))

    Pagi-pagi sebelum kelas dimulai, ia selalu menyempatkan diri untuk pergi ke ruang tata boga di A!Dorm. Sekedar membuat bekal handmade-nya sendiri untuk makan siang. Sebagai seorang anggota klub PKK, ia bisa meminta ijin untuk memakai ruang tata boga, bahkan di saat subuh begini.

    Sambil memeluk boneka tangannya yang selalu ia bawa kemana-mana, ia membuka pintu ruang tata boga di lantai satu Gedung B. Hal pertama yang ia lakukan adalah langsung membuka kulkas yang ada di sudut ruangan, lalu ia dapat melihat sekotak es krim vanila yang ada di freezer.

    Ooh~ surga dunia~

    Si bocah laki-laki mengeluarkan kotak itu dengan mata berbinar-binar. Oh, oh, es krim yang ia beli kemarin masih utuh, ia bisa makan dengan puas sekarang! Tak peduli ini masih pagi, makanan kesukaannya ada di depannya sekarang, siap masuk ke mulutnya yang selalu ingin merasakan hal yang manis.

    Ia berjalan ke arah dapur untuk mengambil sebuah sendok kecil untuk membantunya menghabiskan es krim itu. Namun tiba-tiba perasaannya mendadak berubah aneh.

    ...Aku akan terus menunggu....
    sampai kau bisa menemukanku.....

    Ciel refleks melihat keluar jendelaia bisa melihat kebun belakang sekolah dari sini. Dedaunan pohon maple yang menghiasi kebun itu bergoyang-goyang dengan riak, angin pagi ini cukup kencang....

    Membuat perasaannya menjadi aneh tak menentu.
     
    Last edited: 17 November 2013
  3. 4_ka_[5h1]+ya+

    4_ka_[5h1]+ya+ Staff Member

    612
    88
    103
    --=Handa Rin=--

    "sampai akhir, kita bersama....."
    "kakak... kau berubah"
    "Gila! hal ini jelas diluar kemanusiaan!!"
    "selamat tinggal.. dan terima kasih...."

    pukul 4.15

    Handa mengerjapkan matanya, mengambil beker miliknya yang bahkan belum berbunyi, ia ingin tertidur lagi, tapi matanya benar benar tak bisa terpejam, mimpinya yang barusan menganggu, sangat menganggu, ia membuka pintu lemari geser tempat ia tidur, lemari geser seperti tempat doraemon tidur, yah di situlah rin handa tertidur, baginya ruangan ini sudah seperti rumah keduanya, ia beranjak keluar.

    "Graaak...!"
    di bukanya pintu jendela,
    dan di lihatnya tanggalan.. occult klub...

    entah,siapa yang mendirikan klub ini, handa hanya ingat dia merasa pernah mengenalnya.
    yah, bisa di bilang dia amnesia, dia tak ingat beberapa kejadian yang di alaminya, yang dia ingat kepala sekolah, akan berupaya sebaik mungkin untuk mengembangkan klub ini.

    tapi, tetap kepingan ingatanya yang hilang menganggunya, ia mengambil beberapa arsip dokumen occult klub lama, sebagai wartawan ia tahu persis letak-letak dokumen occult klub, dan membacanya di atas kasurnya yang di lemari, berharap, ia menemukan sesuatu atas ingatanya yang hilang.
     
  4. Ayano

    Ayano Staff Member Uploader

    [Eglantine Cloris]
    _____
    Kebun Belakang Sekolah, Pukul 5 Pagi.

    Eglantine Cloris mengerjap-ngerjapkan matanya, sesekali dia menguap. Masih setengah mengantuk, dicobanya untuk menyortir keadaan sekeliling.

    “Hmm— Semak-semak… Kenapa aku bisa tidur di semak-semak? Dan kenapa isi tasku berhamburan?” dengan malas, gadis berambut silver itu mengambil selebaran yang tergeletak di sisinya. Barisan kalimat tercetak rapi di sana—sungguh resmi sekali untuk ajakan masuk ke sebuah klub. Eglantine ingat, Rouva Adelig, teman sekamarnya—sampai sekarang Eglantine juga tak mengerti, entah kenapa dia bisa berteman dekat dengan gadis seperti Rouva yang notabene seorang putri konglomerat—yang memberikan selebaran itu padanya. Dari awal, Eglantine kurang tertarik, tapi Rouva memaksanya untuk bergabung dengan klub itu, terutama untuk…

    Yeah, selain sang paman alias Mr. Steven Cloris, KepSek Akira High. Rouva-lah orang kedua yang mengetahui Psychic Surgery, ESP yang dimiliki Eglantine.

    Ngomong-ngomong soal ESP…

    Sontak Eglantine terbangun dari posisi tidurnya. Celaka! Kenapa dia bisa lupa, dan baru mengingatnya sekarang? Tujuannya berada di kebun sekolah saat ini kan untuk…

    Bergegas dia bereskan buku-bukunya yang berhamburan dan menjejalkannya ke dalam tas—temasuk menjejalkan selebaran tadi. Kepalanya menyembul dari balik semak-semak, si iris biru menatap sekeliling—was-was jika ada yang datang.

    Sejak dia masuk di Akira High di tahun pertama, sampai sekarang—baru memasuki tahun ajaran baru di kelas 2 SMA. Eglantine mempunyai kebiasaan yang cukup absurd. Gadis itu sadar betul akan ESPnya—yang terbilang langka—dan terus-terusan menguji sampai sejauh mana batas kemampuannya. Tapi seperti biasa juga, usahanya masih nihil. Hanya satu yang sudah terjawab, Eglantine memiliki kemampuan menyembuhkan luka fisik ditubuhnya, termasuk meluruskan sendi-sendinya yang bergeser, dan sekarang lututnya sudah bisa digerakkan dengan normal seperti sediakala.

    Baru saja—walau dia tak mengingat waktunya dengan tepat—untuk kesekian kalinya, Eglantine melakukan percobaan—sebelum kelas dimulai—setiap paginya : ‘menguji kemampuan Psychic Surgery-nya’ dengan ritual lompat dari atas pohon. Gadis itu sukses terjerembab ke rimbunan semak-semak, pingsan, dan tertidur. Namun, jelas saja Luka-luka kecil dari goresan semak-semak sontak menghilang. Tak ada rasa perih karena goresan termasuk darah langsung menghilang begitu luka-luka di tubuhnya tertutup dengan sempurna, termasuk sendi lututnya yang sudah bisa digerakkan dengan normal. Jadi itulah alasan kenapa di pagi itu Eglantine tertidur di rimbunan semak-semak.

    “Sepertinya aman—” Eglantine keluar dari semak-semak, disampirkan tas ranselnya di bahu, mengendap-ngendap dan…

    Sayangnya Eglantine salah perhitungan. Gadis itu baru tersadar, entah dari mana datangnya terdengar suara langkah kaki mendekatinya. Apakah ada seseorang mengetahui gerak-geriknya? Eglantine tidak ingin balik badan, apalagi sekedar mengintip sosok entah siapapun itu. Di satu sisi, Eglantine tahu betul kalau kebiasaannya tergolong aneh. Ini masih subuh, siswi mana yang kerajinan masuk sekolah sebelum waktunya dan menghabiskan waktunya di kebun, lalu terjun dari pohon setiap pagi?

    Eglantine memang masih dalam posisi meresapi asal suara—langkah kaki yang berderap-derap kasar, suara itu makin mendekat. Dan dalam beberapa menit saja—jika Eglantine terus mematung seperti itu, bisa jadi kalau postur tubuhnya bakal terlihat jelas, walaupun cahaya di pagi itu masih cukup gelap.

    Wajah Eglantine pias. Jadi… Kabur sekarang atau…

    Oke, kabur sekarang!

    Eglantine langsung ambil langkah seribu, baru juga niat kabur, gadis itu terjerembab ke tanah. Ada luka gores di lutut kirinya, darah menyembul dari luka gores itu. Satu kelemahan ESP Eglantine, dia dapat menyembuhkan luka, tapi bila terluka, luka itu juga tetap terasa perih.

    Suara langkah kaki tadi menghilang, tapi gadis itu sontak terkesiap begitu mendengar gesekan rumput yang terinjak dari belakang punggungnya.

    Apakah ada seseorang tepat di belakangku? Duh, kenapa aku harus jatuh, siapa juga yang naruh cangkul sembarangan di sini?

    Sekuat tenaga, Eglantine mencoba bangun, gadis itu langsung lari tunggang langgang. Lukanya? Eglantine tidak perduli dengan luka yang didapatnya barusan, karena pastinya luka itu akan sembuh dengan sendirinya—secara cepat. Permohonannya hanya satu. Semoga tidak ada yang melihat aksi gilanya di pagi itu.
    _____
    Koridor di samping Kebun Belakang Sekolah, Pukul 5.10 Pagi.

    “Hosh— Hosh— Sudah sejauh mana aku berlari? Menyebalkan, ini bukan pelajaran olahraga, tapi tenagaku hampir habis— Hosh—”

    Buk!

    Eglantine menjatuhkan tas ransel sekenanya, lalu menyandarkan punggungnya di dinding bangunan yang terletak di samping kebun belakang sekolah. Iris birunya menerawang ke atas, ke sekeliling, lantas menatap area kebun belakang sekolah—tepat dihadapannya. Entah, baru kali ini Eglantine setakut itu, takut bila seseorang memergokinya—memergoki aksi nekatnya melompat dari atas pohon. Tapi kenapa? Biasanya juga, kebun belakang sekolah masih sepi di jam-jam segini—tak ada yang perlu ditakutkan oleh Eglantine. Apa iya pihak sekolah memperketat penjagaannya?

    Dedaunan maple di sekelilingnya terus bergerak-gerak. Semak-semak ikut menimbulkan bunyi gemerisik. Entah hanya perasaanya atau apa, angin di pagi itu sepertinya cukup kencang, agak aneh—entahlah.

    “Semoga, nggak ada seorangpun yang mengikutiku. Semoga—“

    Helaian rambut keperakan Eglantine bergoyang tertiup angin. Setengah terjaga, sayup-sayup gadis itu tertidur.
     
  5. Yatohime

    Yatohime Financial Affairs Chief Staff Member Uploader

    214
    73
    93
    Pukul 06.00

    Sheena baru saja bersiap - siap untuk berangkat ke sekolah dan tiba - tiba dia teringat selebaran kertas yang terpampang
    di mading Sekolah.
    Sheena pun berkata dalam hati
    " Apakah aku harus ikut turut serta dalam Occult Club ini?? Masih belum ada yang tahu dengan kekuatan Dowsing ku ini "
    " Memang dulu aku hanya bisa menemukan sebatas benda , namun sekarang pun aku bisa menemukan data yang terdapat di sebuah komputer maupun orang yang bersembunyi di sekitar ku "
    " Namun untuk menemukan orang masih belum bisa sepenuhnya"
    " Ah ya sudahlah , kita lihat saja nanti "
    " Masih banyak tugasku dalam kegiatan OSIS , apalagi dalam pengawasan tiap tiap klub nya juga"

    Sheena yang termenung tidak sadar bahwa jam sudah menunjukan 06.15 dan dia pun segera berangkat ke sekolah

    Dalam perjalanan

    " Ya nanti mungkin aku bisa berkunjung ke Occult klub untuk melihat - lihat , tapi tidak memungkinkan untukku bergabung "
     
    Last edited: 17 November 2013
  6. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    [​IMG]
    entah kenapa pengen bgt pake ini
    ____________________________________________________________________________________________________________
    Asrama SMA, Kamar Mei, 05.30
    Mei membuka matanya. ia terdiam sejenak untuk mengembalikan kesadarannya yang memudar setelah tidur. ia memandang langitnya-langit kamarnya yang gelap dan berwarna kebiruan akibat bias cahaya pagi yang menembus kaca jendela kamarnya. ia membangkitkan tubuhnya, menoleh ke kanan, dan mendapati teman sekamarnya masih tertidur pulas pada kasur di sudut lain ruangan. ia turun dari kasurnya dan membuka satu-satunya jendela di kamar itu. walaupun cahaya matahari belum terik, namun hal ini akan membuat kamarnya sedikit tidak pengap. ia mencuci wajahnya di wastafel beberapa kali lalu ia amati dirinya di depan cermin. tepatnya pada mata kanannya yang berwarna hijau. sebenarnya tidak ada yang salah, kecuali mata hijau tersebut memiliki warna yang berbeda dengan mata kirinya yang berwarna merah. selain itu mata hijau ini memiliki rahasia tersendiri di baliknya. teman sekamarnya dan beberapa orang yang ia kenal mengetahui rahasia tentang matanya itu. ia menjelaskan pada mereka bahwa ia hanya mengidap heterochromia biasa. walaupun sebenarnya mereka tidak keberatan jika ia membuka saja matanya, tetapi ia tetap merasa bahwa matanya aneh dan selalu menutupinya dengan penutup mata kemanapun ia pergi. sebenarnya itu bukan satu-satunya alasan. ia memiliki alasan tersendiri untuk terus menutup mata tersebut.

    Mei menanggalkan piama yang ia kenakan. ia pun juga melepas celananya. dan yang tampak sekarang hanyalah bra dan celana dalam berwarna putih les biru muda, menutupi bagian-bagian tertentu dari tubuhnya namun menampakkan perut, tangan, dan kakinya yang kurus. baju dan celana tidurnya ia lipat diatas kasur lalu ia masukkan ke dalam lemari. sambil memasukkan piyama ke dalam lemari, ia pun mengambil seragam sekolahnya. pertama ia kenakan rok biru yang panjangnya sampai di atas lutut, kemudian memakai kemeja seragam sekolah. sekali lagi ia menuju wastafel namun untuk menyikat giginya. selesai menyikat gigi, ia menuju meja belajarnya. sambil memasukan beberapa buku yang ia perlukan, ia juga melihat ke arah jam kecil di mejanya itu. waktu telah menunjukkan pukul 5 lewat 40 menit. ia memakai kaos kaki hitam panjang dan sepatu hitam lalu pergi keluar kamar.

    Asrama SMA, Koridor, 05.40
     
  7. Shirayukin

    Shirayukin (o・∇・o) Staff Member

    1.211
    467
    271
    Pukul 6.15
    Halaman depan sekolah


    Angin pagi hari masih menyelimuti halaman depan Akira High, namum murid-murid sekolak tersebut sudah berseliweran di depan sekolah. Suasana pagi yang identik dengan hening terpecahkan oleh suara langkah kaki dan percakapan para murid.

    Galleta yang seperti biasa tidak semangat sekola juga sedang berjalan menuju SMP-nya seperti murid-murid yang lain. Di pikirannya terlintas suara wali kelasnya kemarin yang mengharuskannya memilih klub hingga siang hari ini. Nilai Galleta bisa dibilang pas-pasan, sikapnya yang ketus terhadap orang lain juga membuat hasil rapotnya memburuk dengan nilai kelakuan yang cukup buruk. Menurut perkataan wali kelasnya, keaktifan di suatu kegiatan sekolah bisa meningkatkan nila rapotnya dan Galleta terpaksa mengikuti setidaknya satu klub.

    " Hah, merepotkan saja. Tapi kalau aku nggak cepat-cepat milih bisa-bisa aku terpaksa masuk klub olahraga semacam tennis atau renang," kata batin Galleta.

    Pikirannya tidak bisa lepas dari ucapan gurunya, membuatnya tidak fokus dengan apa yang ada di depannya.

    BRUK!

    Galetta terjatuh. Dengan cepat ia kembali berdiri, merapikan lipatan-lipatan di roknya sambil membersikan debu yang mungkin menempel di pakaiannya. Dilihatnya siapa yang berani-beraninya menabraknya-- atau lebih tepatnya, apa yang telah dia tabrak: mading sekolah. Di situ terpampang dengan jelas selebaran Occult Club yang sedang mencari anggota.

    "Occult... club? Meneliti fenomena gaib? Pffft, esper saja sudah mulai langka, siapa juga yang percaya kalau makhluk halus juga ada?" ucap Galleta dalam hati.

    Tiba-tiba senyum menghiasi wajahnya saat satu hal yang ia pikir jenius melintas di pikirannya, "Tapi ini bisa jadi kesempatan bagus. Aku yakin tidak akan banyak murid yang datang, jadi aku bisa ikut tanpa khawatir harus berkomunikasi banyak. Ya, sudah kuputuskan!"
     
    Last edited: 18 November 2013
  8. s4skiazh

    s4skiazh kembali! Staff Member

    231
    180
    136
    7 Agustus, Apartment Lusuh di Persimpangan Jalan (04:47)

    Pria muda tersebut duduk termenung di atas ranjangnya. Sorot matanya yang sayu tertuju pada kucing berbulu belang yang lahap menyantap makanan dari tuannya – ikan sarden dengan potongan paprika merah-hijau. Di samping mangkuk makanannya, terhidang semangkuk susu segar yang mulai mendingin. Beberapa kucing lain di ruang tersebut juga melakukan hal serupa – menikmati makanan ‘mewah’ dari tuannya. Sedangkan tuannya, setiap pagi hanya menyantap makanan olahan dari sayur. Tidak pernah ia merasakan gurihnya daging, meski hanya segigit.

    Kicauan burung yang hinggap di dahan pepohonan, samar-samar mulai terdengar. Sinar mentari pagi menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi – menerangi sebagian sudut ruangan. Kuro, pria bertubuh jakung – pemilik kucing-kucing di ruang itu – beranjak dari duduknya, membuka satu-satunya jendela di ruang tersebut. Angin pagi bertiup lembut, menerpa sebagian tubuhnya yang tidak sepenuhnya terbalut piyama.Cahaya keemasan menghangatkan kulit pucatnya, mencairkan hati bekunya yang dimakan dinginnya malam. Ia menghirup napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan-lahan.

    Dari kamar no.5 lantai kedua apartment usang tersebut – dai balik kacamatanya – terlihat jelas berbagai mahluk ‘penghuni’ pepohonan lebat juga jalanan yang belum terlalu ramai. Tampak benang-benang silver panjang berayun pelan senada dengan embusan angin. Kemudian beruang merah muda dengan banyak jahitan di sana-sini keluar dari tempat yang sama. Tangannya bergerak ke atas dan ke bawah dengan bantuan jemari-jemari mungil .

    “Selamat pagi, Kuro-nii-chan! Ohayou!

    ‘Boneka’ berambut silver tersebut menampakkan sebagian dirinya. Orang yang disapanya barusan membelasnya dengan senyuman hangat.

    “Selamat pagi, Rika!”

    Gadis kecil itu kemudia tersenyum lebar, lalu berkata, “Nii-chan~ pagi ini tolong bawakan Riri puding vanilla, ya! “. Kuro mengangguk pelan. “Yey! Rika tunggu, di sini. Rika mandi dulu, Kuro-nii! Jaa nee~ Daah~!”. Telapak mungilnya sempat melambai dan mata biru lautnya tersenyum sesaat sebelum dia kembali masuk, membiarkan jendela kamarnya tetap terbuka.

    Kuro kembali mengamati kucing-kucingnya. Mereka mengeong, meberikan isyarat kepada tuannya. Terimakasih banyak atas makanannya. Sambil tersenyum simpul, ia membereskan mangkuk-mangkuk hewan kesayanganya. Sebelum beranjak ke dapur, kucing belang yang sedari tadi ia amati menghampirinya – memandang – lalu menundukkan kepala di hadapan tuannya. Jemari panjang nan kurus segera meraihnya, membelai kucing bertubuh mini itu. Mata mereka saling bertemu – memandang satu sama lain dengan pandangan pilu.

    ***
     
  9. mimong

    mimong Member

    473
    140
    123
    -== Ciel Mythevine ==-
    (( Ruang Tata Boga - 05.05 A.M))

    Ciel terdiam sejenak, menatap jendela itu cukup lama. Namun fokusnya teralih pada secarik kertas yang terbawa angin dan masuk ke dalam ruangan melalui celah ventilasi yang terbuka. Kertas itu mendarat pada salah satu meja di dekat Ciel.

    Sebuah kertas selebaran. Ciel meraih kertas itu dan membaca tulisan yang tertera di atasnya,

    "Klub Occult, huh?"

    Ciel mulai berpikir keras. Klub ini bertujuan untuk membahas/meneliti fenomena gaib. Itu artinya....
    Ia bisa menemukan 'dia'?
    Hal itu bisa terjadi, dan klub occult membuka peluangnya semakin besar.

    Ciel melihat keterangan tambahan yang ada dalam kertas itu. Terdapat denah tempat klub occult berada. Oh bagus sekali, Ciel tidak akan tersesat.

    "Tidak ada salahnya untuk mengintip ke ruang sekretariatnya, kan? Hitung-hitung untuk menghafal letaknya..."
    Ciel menyendok eskrim dan melahapnya, lalu segera beranjak keluar ruangan untuk mencari ruang sekretariat klub occult.

    Ah, dia lupa bikin bekal.

    ***

    (( Depan Ruang Sekret Occult Club - 06.00 A.M))
    Sudah pegang denah, masih kesasar pula. Butuh waktu satu jam bagi Ciel untuk menemukan ruang sekret klub Occult. Manusia buta arah memang menyusahkan, dia tak bisa membaca arah utara dan selatan pada denah yang ia pegang dengan benar. Bagus, Ciel. Tapi toh sudah ketemu.

    Ciel ingin masuk ke dalam, namun ia dapat merasakan ada sesuatu—seseorang di dalam. Atau mungkin kemampuan ESP-nya yang dapat berkomunikasi dengan arwah sedang mempermainkannya kali ini. Ciel merasakan sesuatu yang ada di ruangan ini memiliki aura yang bercampur—ada aura makhluk yang hidup, namun bercampur dengan hal lain 'yang tidak hidup'.

    Atau mungkin semua ruang klub Occult di dunia punya aura seperti ini?

    Dan ia hanya mengintip dari kaca jendela. Bisa ia lihat ruangannya cukup berantakan—dengan arsip dan dokumen yang sedikit tercecer. Lalu ada sebuah lemari yang terbuka, ada seseorang di dalamnya.
     
  10. seis_fleur

    seis_fleur nomor absen 12 Staff Member

    2.118
    705
    258
    [Thask]
    7 Agustus
    Kebun Belakang Sekolah, Pukul 5 Pagi.

    "Akhirnya shift malamku selesai juga." kata pemuda berumur 21 tahun yang berpakaian tukang kebun sambil merenggangkan tubuhnya.

    Aku, Thask, mahasiswa yang menjadi tukang kebun di sekolah lamanya untuk membayar uang kuliah. Hal paling aneh yang pernah terjadi dalam hidupku adalah mempunyai kekuatan ESP yang biasa disebut transvection, yang membuatku bisa terbang melayang sesuka hatiku. Ah, mungkin adanya shift malam tukang kebun juga aneh, tapi bahasan untuk itu nanti saja. Sekarang-- mungkin hal itu tidak begitu aneh dibanding murid yang senang sekali menginap di kebun, suka jatuh dari pohon, dan mencuri alat tukang kebun. Kenapa ada masalah begini padahal aku baru saja kerja di sini selama 2 bulan?

    Dari kejauhan Thask melihat semak-semak yang bergerak-gerak. Thask pun menghela napas sambil menghampiri semak tersebut... tiba-tiba seorang gadis SMA Akira High berlari kabur dari semak-semak -walau sempat terjatuh-

    Rasanya dia mati-matian biar tidak ketahuan -walau dari dulu aku juga sudah tahu- coba kuamati dengan transvection saja.


    Thask pun terbang sambil mengikuti gadis itu-- srak!. Sebuah selebaran terbang ke muka Thask. Selebaran Occult Club.
    "Hoo- paman itu cepat juga bertindak." kata Thask sambil tersenyum melihat selebaran itu, walaupun ia kehilangan jejak gadis tadi.

    "Mungkin akan kucoba intip klub itu nanti."
     
  11. 4_ka_[5h1]+ya+

    4_ka_[5h1]+ya+ Staff Member

    612
    88
    103
    ~-Handa Rin-~

    05.45

    lembar demi lembar sudah di baca dengan seksama, ratusan lembar sudah di capai, namun nihil, hanya rekap kasus yang tak ada kaitanya dengan dirinya yang ada, ah, masih banyak tumpukan dokumen yang belum ia baca. handa keluar dari kasur lemarinya, sekali lagi, memandang jendela, menerawang ruang klub

    ada sesuatu di ruang klub ini, sesuatu yg sangat penting untuk dirinya,

    "Sial!"
    Umpat handa karna tak bisa mengingat hal yg penting, apa yang kepala sekolah sembunyikan? kenapa ingatanya harus di hapus?

    Occult club, yah hanya ini satu satunya petunjuk untuknya agar bisa mendekati kepala sekolah, dan mencari ingatanya, dan hanya ini yang dia berikan untukku.

    sekejap, handa merasakan ada sosok yang menghadap pintu ruang klub sekre ini.

    ia membiarkanya, karna klub ini memang banyak peminatnya, tapi biasanya mereka berubah pikiran setelah sampai depan pintu.

    1 menit

    2 menit

    ini, terlalu lama unuk berpikir, karna penasaran akhirnya handa membuka pintu sekre. di lihatnya anak kecil? membawa boneka berdiri di depanya. sontak memasang senyum bisnis.

    "selamat pagi, ingin bergabung dengan klub?"
    tanya handa pada anak itu.
     
  12. Ayano

    Ayano Staff Member Uploader

    [Eglantine Cloris]
    _____
    Koridor di samping Kebun Belakang Sekolah, Pukul 5.25 Pagi.


    Jedug!
    "Aduh."
    Eglantine terbangun begitu sadar kalau dahinya terantuk ubin semen koridor.
    "Kenapa aku malah ketiduran lagi, di tempat yang nggak semestinya?" Gadis itu mengusap-usap bejol di dahinya sambil memeriksa ransel—sekedar memeriksa kalau-kalau ada barang miliknya yang tercecer di kebun. "Uhm, buku paket ada... Alat tulis, lengkap... Hape... Lalu notes ID siswa ad— Eh, loh?" Dibongkarnya kembali isi tasnya sampai isinya kosong, namun nihil, notes ID siswa miliknya nggak ada di situ.
    Eglantine membereskan buku-buku, peralatan tulis, dan barang yang dibawanya ke dalam tas.
    "Masak sih? Nggak mungkin kan kalau itu notes sepenting itu ketinggalan di kebun?"
    Hening.
    Hening.
    Hening...
    "Arrggghh—!! Nggak ada pilihan lain!" dengan berat hati kembali dia sambangi kebun sambil berharap kalau feeling-nya tepat—nggak ada seorang pun berada di kebun itu selain dirinya.

    _____
    Kebun Belakang Sekolah, Pukul 5.30 Pagi.

    Gadis rambut keperakan itu depresi. Notes itu nggak ada di balik semak-semak, rumput, bahkan di sekitar peralatan berkebun. Kalau benda itu nggak ditemukan, mau nggak mau Eglantine harus berhadapan dengan guru BK. Benar-benar apes. Masalahnya, notes itu satu-satunya buku identitas bagisetiap siswa Akira—sama seperti kartu pelajar, hanya saja bentuknya notes, dan bila notes ID itu hilang... Eglantine sendiri nggak dapat membayangkan apa yang terjadi.
    "Aku belum mencari sampai di atas pohon, tapi mungkin saja sewaktu aku lompat tadi..." iris birunya menyisir area pepohonan. "Ah! Ketemu! Tapi kenapa bisa nyempil di atas pohon begitu, mana tinggi bener—"
    Mau nggak mau, Eglantine harus memanjat. Dan sampailah dia di atas pohon.
    "Yeah! Aku mendapatkamu not—"
    Pluk!
    Sebuah sentilan membuat notes itu sukses terjatuh ke tanah, masuk ke dalam semak-semak—dari ketinggian hampir lima meter.
    "..."
    Eglantine duduk pasrah di atas dahan pohon. Buat apa dia capek-capek naik ke pohon untuk mengambil notesnya, padahal notes itu jatuh begitu saja dalam sekali sentil?
    Gadis itu kesal luar biasa.
    "Kau yang menjatuhkannya! Kau harus tanggung jawab!" Eglantine langsung tersadar akan sosok pemuda berambut hitam dihadapannya. "T- tapi bagaimana kau bisa naik ke sini? Aku nggak melihatmu sewaktu aku memanjat pohon tadi— Ah lupakan! Ambilkan notesku! Kau nggak tau betapa susahnya mencari sebuah notes mini dirimbunan semak-semak?!"
    Baru juga Eglantine berniat menerkam—atau lebih tepatnya, mencekiknya—tapi usahanya lagi-lagi nihil, pemuda itu sukses menghidarinya, dan sekarang mereka sudah mengambang di udara.
    Apa? Dia bisa mengambang? Dia dapat terbang? Tapi masalahnya aku... Aku kan nggak bisa terbang.
    "Ghaaaaa—" Eglantine terpekik—gadis itu meluncur di udara dengan rambut berkibar-kibar.
    Dia nggak mempermasalahkan soal adegan melompatnya kali ini. Eglantine tahu betul, luka-lukanya pasti sembuh. Tapi haruskah dia jatuh dalam keadaan pingsan sekali lagi? Terlebih kali ini, demi apa harus ada orang lain—selain Rouva dan pamannya—yang melihat kejadian ini dan mengetahui soal ESP-nya?
     
    Last edited: 3 December 2013
  13. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    [​IMG]
    Perjalanan dari asrama putri ke sekolah, halaman sekolah, 05.50
    Setelah membeli 3 bungkus roti tawar dari kantin, Mei berjalan menuju gedung sekolah. ia membeli roti untuk sarapan dan makan siangnya. mengetahui ia tidak selalu dikirimi uang oleh ibunya dan ia bukan anak yang suka mengemis pada orang tua, maka ia harus berhemat. lagipula sebuah roti sudah cukup untuknya makan sehari-harinya. 1 untuk sarapan, 1 untuk makan siang, dan 1 untuk berjaga-jaga. ia memasukan roti2 itu di tas selempangnya.

    tiba-tiba suasana menjadi sunyi dan semakin redup. langit biru berubah warna menjadi ungu. lalu kemudian gedung-gedung dan lingkungan sekolah seolah-olah termakan oleh semacam asap berwarna ungu. kemudian sekejap lingkungan sekolah berubah menjadi kegelapan. ia pun merasakan getaran seperti gempa bumi dan membuatnya terjatuh di tanah.

    "Apa yang terjadi?!" ucap Mei yang terkejut.

    "Kau tidak apa-apa?"

    "Eh?!"

    Lingkungan sekolah kembali seperti semula. rupanya hanya halusinasi. tetapi kenapa bisa terjadi seperti itu? ia merasakan sedikit rasa sakit pada mata kirinya. apakah ini... pertanda akan terjadi sebuah malapetaka?

    Dan dihadapannya, ia melihat seseorang menjulurkan tangan padanya.
    halaman sekolah, 06.00
     
    Last edited: 24 November 2013
  14. s4skiazh

    s4skiazh kembali! Staff Member

    231
    180
    136
    Pukul 05:15 , Apartment Lusuh di Persimpangan Jalan

    Setelah mengganti piyamanya dengan kemeja putih yang dipadu dengan dasi bergaris hitam-putih dan celana panjang hitamnya, ia menuju rak buku yang tertata rapi. Diambilnya tas ransel yang biasa ia gunakan, memasukkan beberapa cup pudding beserta es krim dingin yang baru saja ia buat tadi malam. Tak lupa dimasukkannya lipatan jas hitam yang sewaktu-waktu perlu ia kenakan dan beberapa carik surat tanpa identitas dengan alamat tujuan dan pesan yang berbeda – serta tak lupa sketchbook ukuran A5-nya yang sudah hampir penuh.

    Selesai mengemasi barang-barangnya, pria muda tersebut keluar dari kamar apartment-nya – membiarkan pintu kamarnya terbuka untuk para kucing agar dapat keluar-masuk dengan leluasa. Sebelum pergi menuju lantai di bawahnya, ia meletakkan semacam bingkisan yang dibalut rapi dengan kain bewarna hijau muda dengan motif rekahan bunga merah jambu di helaiannya – di dalamnya telah tertata berbagai hidangan utama dan penutuh berupa semangkuk pudding vanilla yang disiram vla manis yang kental dan menggugah selera – melalui celah yang memang dimaksudkan sebagai tempat masuknya paket kiriman – dan mungkin juga kiriman bekal makan siang. Ditekannya bel kamar apartment yang ditinggali gadis berambut silver tersebut – member isyarat pesananmu telah datang.

    Lalu ia melanjutkan langkahnya – meninggalkan bangunan usang tersebut, melewati perempatan yang belum begitu ramai dilalui kendaaan – menuju suatu tempat dimana remaja sekolah menengah atas, baik pertama maupun atas, menuntut ilmu.

    A! High, sekolah berasrama dengan sebagian bangunan tuanya yang masih berdiri kokoh, dengan fasilitas yang cukup memadai dan penataan ruang yang apik. Sekolah favorit yang terkenal akan berbagai prestasi yang telah diraih, tenaga professional, dan para siswa berkualitas, memang tidak lagi asing di telinga para penduduk.

    Di balik itu semua, A! High pun memiliki ceritanya sendiri. Misteri yang mungkin pernah dibicarakan atau beredar di seluruh penjuru sekolah. Hal-hal gaib yang tak lagi jarang menampakkan diri mereka, mengizinkan satu-dua-atau segelintir orang menyaksikan kehadiran mereka.

    Tiba-tiba suatu hal yang tak jauh dari sisi lain A! High terbesit di benaknya.

    Occult Club,huh …

    ***

    Pukul 05:57 , Halaman A! High

    Tidak biasanya ia datang sesiang ini. Jika saja dia tidak membantu suatu hal yang terpisah dari rombongannya, menuju suatu tempat janggal berau mistis yang tidak ia datangi seawall ini lalu mengejar Pak Pos yang hampir saja meninggalkan kota tanpa carikan-carikan surat yang telah ia siapkan sedari awal. Namun rupanya tersebut bukan merupakan masalah baginya. Dengan santai ia melangkah sambil menikmati sejuknya udara pagi. Sesekali ia melambaikan tangannya kepada orang-orang yang disekelilingnya sambil tersenyum.

    Tiba-tiba angin bertiup cukup kencang, suasana perlahan mulai sunyi dan redup. Dari balik lensa kacamata yang ia kenakan, terlihat kabut ungu yang perlahan mulai memenuhi atmosfer A! High, menghalangi pancaran sinar mentari dan birunya langit. Hal yang ia rasa hadir terlalu cepat. Kehadiran ‘mereka’ terasa makin menguat dan membrutal. Sepertinya ‘mereka’ ingin menyampaikan suatu hal dengan kemunculannya. Ia mencoba untuk berkomunikasi dengan hal gaib tersebut namun usahanya nihil, rupanya ‘mereka’ tidak bermaksud untuk membagi informasi apapun kepadanya. Satu hal yang ia yakini, hal cukup besar akan terjadi, baik cepat maupun lambat.

    Duak!

    Terdengar suara benturan yang tak berlangsung lama. Di balik kabut tebal, ia melihat sosok yang terjatuh. Sontak, ia menghampirinya dan segera menjulurkan tangannya.

    “Apa yang terjadi?” ucap sosok itu terkejut.

    “Kau tidak apa-apa-”

    Keadaan sekolah seketika kembali seperti semula. Kabut ungu tebal berangsur-angsur menghilang entah kemana. Terlihat jelas sosok yang duduk di hadapannya. Seragam A! High, penutup mata yang ia kenakan serta rambut hitam sebahunya, tak salah lagi – sosok yang tak lagi asing baginya…

    “. . . , Misaki Mei?”

    Pukul 06:01 , Halaman A! High
     
  15. seis_fleur

    seis_fleur nomor absen 12 Staff Member

    2.118
    705
    258
    [Thask]
    Kebun Belakang Sekolah, Pukul 5.10 Pagi.
    "Hmm berarti aku tidak usah pulang dulu dan harus tidur dulu sebentar.. ah, notes ID Siswa?" Thask mulai turun dari terbangnya dan melihat notes ID --yang sepertinya punya murid yang tadi-- di dekat semak-semak. Thask pun membuka notes itu dan mengetahui identitas murid tadi.

    Eglan-- ah namanya susah, menyebalkan. Yah paling tidak tahu nama dan kelasnya sudah cukup. Sekarang, aku harus mencari tempat untuk tidur. Shift-ku sudah selesai dan aku dilarang berada di sekolah ini begitu shift-ku selesai. Itu hal aneh pada pekerjaanku #2. Hmm di atas pohon bisa juga, sekalian kupegang saja dulu notes ini, biar saja dia mencari-carinya nanti.

    Thask lalu tidur di pohon yang cukup tinggi dan di dahan pohon yang agak tertutup dedaunan lebat. Tetapi saat tidur notes yang dia pegang terjatuh dan menyangkut di dahan yang lebih rendah.

    Kebun Belakang Sekolah, Pukul 5.30 Pagi.
    "Ah! Ketemu! Tapi kenapa bisa nyempil di atas pohon begitu, mana tinggi bener—". Thask pun terbangun mendengar suara pemilik notes itu.
    Argh tidurku terganggu.
    Thask yang kesal menyentil notes itu saat dia hampir mendapatkannya. Alhasil Eglantine itu pun kesal dan mengomel, tapi Thask tidak begitu mendengarkan omelannya. Tiba-tiba Eglantine menerkam ke arah Thask, Thask menghindar dan-- mereka sama-sama mengambang di udara. Perbedaannya, Thask tidak akan jatuh dan Eglantine mulai tertarik gaya gravitasi.

    Thask menangkap Eglantine dan menurunkannya pelan-pelan.
    "Walaupun kau bisa menyembuhkan lukamu sendiri, bukan berarti kau bisa terluka seenaknya." ucap Thask, yang sebenarnya tadi sempat melihat luka di lutut Eglantine saat jatuh tadi sudah sembuh dengan sempurna.
     
  16. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    [​IMG]
    halaman sekolah, 06.01
    "..., Misaki Mei?"

    Mei yang meletakan telapak tangan kirinya di mata kirinya perlahan menengok ke arah wajah seseorang yang menjulurkan tangan padanya. ternyata ia adalah pak guru Kuro. tubuhnya tinggi dan badannya cukup kurus untuk seorang laki-laki. walaupun Mei dan pak Kuro sebenarnya tidak begitu akrab, tetapi Mei merasa ada sesuatu yang 'berbeda' dari pak Kuro. dan dia juga merasa bahwa pak Kuro sepertinya merasakan sesuatu yang 'berbeda' dari dirinya.

    "Pak guru?" Mei menerima uluran tangan darinya.

    "Apa yang terjadi, Misaki?"

    "Tidak ada." Mei membersihkan roknya yang kotor dan memperbaiki posisi tali tas di bahunya. "Saya hanya merasa sedikit pusing lalu tergelincir."

    "Apakah kamu merasakan..." Pak Kuro memberi jeda pada kalimatnya.

    "Merasakan?"

    "Ah, tidak. maksudku apa kamu merasa tidak enak badan? jika kau merasa sakit sebaiknya beristirahat saja di asrama atau uks."

    "Sekarang saya tidak apa-apa. tapi saya akan lakukan jika memang saya merasa sakit."

    3 detik berlalu dan mereka hanya diam.

    "Kalau begitu saya permisi dulu."

    "Mau kemana, Misaki?" Pak Kuro bertanya karena melihat Mei berjalan bukan menuju gedung sekolah.

    "Saya ada urusan sebentar."

    "Oh, baiklah."

    Pak Kuro dan Mei berpisah. setelah berjalan tidak terlalu jauh, Mei memegang penutup matanya dan menukarnya ke kanan. sekarang yang tampak hanyalah mata Mei yang berwarna hijau. ia melihat sekitar dan pandangannya berubah. Semua warna dominan warna hijau gelap. jika ia melihat benda seperti rumah, benda itu akan nampak apa adanya. tetapi jika ia melihat makhluk hidup seperti pohon, maka ada semacam asap putih yang mengelilingi pohon tersebut. begitulah cara ia membedakan makhluk hidup dan mati.

    "Sebenarnya benda apa itu tadi?" Mei bergumam pada dirinya sendiri.

    Mei melihat ke arah semua sudut. lalu ia pun melihat Pak Kuro yang berjalan menuju gedung sekolah. jaraknya mereka cukup jauh untuk dilihat dengan mata manusia normal tetapi Mei masih bisa melihatnya. di tubuh pak Kuro juga keluar aura putih seperti manusia biasa pada umumnya. namun di belakang pak Kuro Mei juga melihat makhluk kecil berkaki empat yang mengikuti pak Kuro dan ia juga mengeluarkan aura putih. rasa tadi ia tidak melihat makhluk itu bersamanya.
    halaman sekolah, 06.05
     
  17. Ayano

    Ayano Staff Member Uploader

    [Eglantine Cloris]
    _____
    Kebun Belakang Sekolah, Pukul 5.33 Pagi.

    Aku... Jatuh...
    Pikiran Eglantine memang seperti itu, tapi kenyataannya beda. Matanya terpejam, dan gadis itu yakin kalau dia hanya berdelusi kalau dirinya mendarat di kasur yang empuk. Tapi, iyakah?
    Eglantine mencoba membuka mata—menatap ke bawah. Lho, kenapa dia bisa melayang di atas tanah dengan teratur—nggak seperti biasanya, yang jatuh secara serampangan di semak-semak?
    Dan didapatinya, sosok pemuda berambut hitam tadi menopang tubuh Eglantine dan menurunkan gadis itu pelan-pelan.
    Kaki Eglantine menapak tanah, bisa dia rasakan dinginnya rumput berembun di antara tumitnya—sekalipun dia memakai sepatu.
    "Walaupun kau bisa menyembuhkan lukamu sendiri, bukan berarti kau bisa terluka seenaknya," pemuda itu angkat bicara.
    Si gadis berambut silver mengernyitkan dahi. Eh, tunggu... Apa yang barusan... Wajah Eglantine pias. Apa yang barusan dia katakan?
    Menyembukan luka sendiri?
    Terluka seenaknya?

    "..." Gadis itu mengambil jarak—mundur, ucapannya terbata-bata. "K- kau! Kenapa bisa tahu kalau aku bisa menyembuhkan lu—" Eglantine sontak membekap mulutnya. Kacau! Kacau! Kenapa dia sampai kelepasan bicara—dan membenarkan kata-kata pemuda itu?!
    Jadi selama ini feeling-nya tepat? Ada orang yang mengetahui rahasianya selain Rouva dan sang paman. Tapi... bukankah jika pemuda itu juga...
    Bisa terbang? Dia juga punya ESP!
    Tunggu—
    Kalau Eglantine mengetahuinya, bukannya mereka sama-sama impas? Masing-masing saling mengetahui rahasia ESP satu sama lain. Tapi bisakah Eglantine percaya begitu saja pada orang asing? Lagipula siapa dia, tukang kebun sekolah? Atau siswa Akira High? Kenapa Eglantine belum pernah melihatnya?
    Argggghh—! Kenapa aku malah bermonolog sendiri sih?
    Pemuda itu mendekat, dia berdiri dihadapan Eglantine sambil menunjukkan sesuatu.
    "Ah itu— Notesku! Kembalikan!"
    Syut—
    Usaha Eglantine nihil. Baru juga dia mau menyambar notes itu, si pemuda sudah mengangkat notes malang itu tinggi-tinggi, dan sayangnya Eglantine kalah tinggi.
    Nyebelin banget—
    Mungkin Eglantine harus memperbaiki kelakuannya? Bukankah dia juga belum berterimakasih?
    "Ehm, terimakasih sebelumnya— Tapi bisakah kau memberikan notes itu padaku?"

    _____
    Kebun Belakang Sekolah, Pukul 5.37 Pagi.
     
    Last edited: 4 December 2013
  18. 4_ka_[5h1]+ya+

    4_ka_[5h1]+ya+ Staff Member

    612
    88
    103
    Di Daun pintu sekre

    Anak kecil ini tidak merespon, sejenak handa merasakan firasat buruk, tidak bukan gara gara anak kecil ini tapi karena sesuatu yang lain, ia melirik jamnya, 06.15 sejak kapan sudah jam segini? ia menatap anak kecil itu dan tanpa menunggu responya, menggeret anak itu masuk ke sekre dan berkata,

    "maaf bisa titip sekre sebentar? aku ada sedikit keperluan, jika kau lapar ambil saja snack di laci lemari doraemon itu... kau tak bisa kabur... posisiku hampir setara dengan kepala sekolah loh" kata handa pada anak itu riang, dan bergegas pergi ke ruang siaran,

    06.25, ruang siaran


    handa lupa, ia harus menyampaikan pembukaan klub yang langsung di bimbing kepala ini sekolah sebagai anggota tertua dari klub, ia menyalakan tombol on dan mulai menyiapkan dialognya..

    segera ia mematikan mic, dan bergegas kembali ke sekre, ada perasaan tak nyaman jika ia meninggalkan sekre, entah apa...
     
    seis_fleur likes this.
  19. s4skiazh

    s4skiazh kembali! Staff Member

    231
    180
    136
    Pukul 06:01 , Halaman A! High

    "..., Misaki Mei?"

    Gadis beriris merah marun tersebut perlahan menengok dan menerima uluran dari pria yang tak lain merupakan guru tata boganya. Sebenarnya mereka tak terlalu dekat, hanya sebatas kenal - hubungan guru dan murid.

    "Pak Guru?"

    "Apa yang terjadi, Misaki?" tanya Kuro seraya membantu Mei berdiri.

    Mei membersihkan roknya yang kotor dan memperbaiki posisi tali tas di bahunya.

    "Tidak ada. Saya hanya merasa sedikit pusing dan tergelincir."

    Pria tersebut menaikkan kacamatanya dan menatap muridnya perlahan. "Apakah kamu merasakan..."

    Ia memberikan jeda pada ucapannya. Sepertinya dia hampir mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya ia katakan.

    Gadis di depannya pun menanggapi perkataan sosok di hadapannya, "Meraskan?"

    "Ah, tidak... Maksud saya, apa kamu merasa tidak enak badan? Jika kau merasa sakit, sebaiknya beristirahat saja di asrama atau UKS."

    "Sekarang saya tidak apa-apa. Tapi saya akan lakukan jika memang merasa sakit."

    Kuro hanya tersenyum. Kemudian beberapa detik berselang dengan diam di antara mereka hingga akhirnya Mei mengangkat kembali pembicaraan mereka.

    "Kalau begitu saya permisi dulu," kata gadis itu sambil berjalan pergi.

    Pria tersebut menghampiri siswinya yang berjalan bukan ke arah gedung sekolah. "Mau kemana, Misaki?," tanyanya dengan nada khawatir.

    "Saya ada urusan sebentar."

    "Oh, baiklah." Ia mengumbar senyum yang sepertinya sedikit ia paksakan. Dalam hatinya, ia masih was-was jikalau seandainya suatu hal buruk terjadi pada salah seorang muridnya itu. Pada akhirnya mereka berpisah. Masih dengan perasaan aneh yang mengganjal, ia berjalan menuju gedung sekolah - menuju UKS, tempat persinggahan utamanya di A! High. Tanpa ia sadari, seekor mahluk kecil membuntutinya kesana-kemari.

    Pukul 06.24, Ruang UKS A! High

    Selesai memasukkan beberapa mangkuk puding dan makanan kecil lain ke dalam lemari pendingin, ia duduk di mejanya yang berada tak jauh dari jendela yang terbuka lebar. Angin bertiup pelan dan tiba-tiba mahluk berambut putih berhasil meloncati meja tuannya.

    "Rii-chan?!" Ia terkejut saat mendapati salah seekor piaraannya muncul dihadapannya tanpa terduga.

    "Lagi-lagi kau membuntutiku!" Ia tersenyum lebar sambil mengangkat tubuh mahluk bermata merahnya. Perasaan aneh yang ia rasakan sebelumnya perlahan menguap ketika menyadari kehadiran Rii.

    Ting tong ...

    Terdengar jelas suara seorang pemuda dari speaker yang sengaja diletakkan di dinding setiap ruangan.

    A! Dormitory? Apakah itu terdengar menarik bagimu?

    Emm.. Mungkin... apakah kau berniat untuk mengikutinya? Aku dapat melakukannya untukmu...

    Menurutmu?

    Kurasa hal ini baik untukmu meski kau jelas tak menyukainya...

    ...

    Mungkin, dengan kekuatan ESP-mu, kau dapat membantu mereka dalam menyelesaikan masalah ...

    'Mereka', huh? Maksudmu para 'pembunuh' itu? Atau orang setengah baya itu? Atau mahluk lain yang tak jauh berbeda dengan 'mereka'?

    ....

    ...


    Ia hanya menghela nafas panjang sambil tersenyum kecut. Perasaan tak enak kembali merasuki hatinya.
    Pukul 06.25, Ruang UKS A! High
     
  20. mimong

    mimong Member

    473
    140
    123
    -== Ciel Mythevine ==-
    ((06.15, Di depan Ruang Sekre Klub Occult))

    Cukup lama Ciel hanya menatap dengan seksama ruangan yang, yah, bisa dibilang lumayan lebih luas untuk ruang klub biasa. Beberapa meja berukuran sedang yang disusun membentuk satu meja yang besar, lemari-lemari yang penuh dengan buku-buku tebal, majalah, kertas-kertas lusuh—yang beberapa kini berserakan di lantai.

    Tapi yang membuat matanya begitu terkunci pada ruangan itu adalah sebuah lemari besar di dinding.

    Lemari yang sama persis seperti di kartun kesukaannya, Doraemon
    Ditambah lagi, ia bisa melihat kasur di dalamnya, dan seseorang.

    Orang itu—yang sepertinya murid SMA—merasakan kehadiran Ciel, lalu membuka pintu. Dan kini lelaki berambut keperakan yang lebih tinggi darinya berada di hadapannya. Ia tersenyum dan berkata, "Selamat pagi, ingin bergabung dengan klub?"

    Ciel hanya diam, menatap setiap inci orang baru kali ini dia temui. Membuat berbagai macam kalkulasi dan prediksi tentang orang itu.

    "Kurasa dia murid SMA di Akira!High, aku tak pernah melihatnya... Yah, aku tidak begitu tahu murid SMA sih.. Jenis kelamin laki-laki. Tinggi badan sekitar 166ah tidak, tingginya 170 cm. Kalau dilihat dari posturnya, mungkin berat badannya sekitar 60 sampai 65 kilogram. Rambut keperakan yang... oh, rasanya warnanya agak ungu, ya? Dia masih memakai seragam, namun hanya kemejanya saja. Berantakan, rambutnya juga, belum disisir. itu berarti dia tidur di lemari itu malam ini, lemari seperti Doraemon.... ah! Aku iri! Aku juga ingin tidur disitu—ah tidak tidak Ciel, itu tidak penting. Tunggu, kenapa dia tidur disini? Bukankah seharusnya dia tidur di kamarnya sendiri? Tunggu, tadi dia menawariku untuk masuk klub. Dia anggota? Atau ketua klub ini?

    Mungkin dia tahu tentang..."

    Memang itulah kebiasaan Ciel setiap bertemu dengan orang lain. Memeriksa setiap sudut, dan menganalisa orang tersebut—hal yang sebenarnya tak terlalu penting untuk terlalu dipikirkan. Apalagi ia melakukannya tanpa bicara dan menatap tanpa ekspresi. Tak jarang orang lain tidak betah ditatap terus-terusan seperti itu. Responnya sih macam-macam, ada yang tiba-tiba tertawa garing lalu segera pergi dengan alasan yang dibuat-buat, atau langsung sewot dan marah-marah... Namun ternyata respon orang ini sedikit berbeda.

    Tiba-tiba tubuhnya terseret masuk ke dalam ruang sekre, lalu orang tersebut berkata, "Maaf bisa titip sekre sebentar? aku ada sedikit keperluan, jika kau lapar ambil saja snack di laci lemari doraemon itu... kau tak bisa kabur... posisiku hampir setara dengan kepala sekolah loh."

    Blam!

    Ciel berdiri mematung di depan pintu yang tertutup. Oh, sekarang dia harus menjaga ruangan ini sendirian? Ah, masa bodoh.

    "Hei Leic, dia bilang ada snack di lemari Doraemon itu kan?" kata Ciel pelan kepada boneka tangannya yang selalu setia menemaninya kemanapun. Ciel hanya memakai suaranya jika sendirian saja, itu pun dia gunakan untuk berbicara dengan bonekanya saja. Terkesan Forever Alone? Bisa jadi.

    Ia berjalan menuju lemari dinding yang unik itu. Tangannya yang tidak memegang boneka meraih gagang laci. Voila! Ia menemukan harta karun! Cokelat Pocky rasa Vanila!

    Cepat-cepat ia membuka bungkusnya, dan duduk di atas kasur lemari itu.

    "Ah~ seandainya di kamarku ada lemari seperti ini..." pikirnya sambil tiduran, sedikit berangan-angan. Namun angannya terhenti begitu speaker ruangan itu bercuap nyaring.

    Oh, orang tadi kah yang sedang bercuap di balik mic? Sepertinya begitu, mengingat tadi ia begitu terburu-buru. Lagipula tadi dia mengeluarkan senyum bisnis yang aneh dengan menawarkan keanggotaan klub occult. Dan tadi ia berkata, "aku tak bisa kabur"?

    Aku tak akan kabur, karena aku harus masuk klub occult... dan menemukan 'dia'...

    "Arwah-arwah yang dari tadi berkeliaran di sini tahu sesuatu tidak ya..." Ciel bergumam sambil menatap setiap sudut langit-langit ruangan tersebut.

    ((06.30, Ruang Sekre Klub Occult))
     

Share This Page