[Private] Roleplay: Witch house, The Beginning of Everything

Discussion in 'RP Story Locker' started by 4_ka_[5h1]+ya+, 14 August 2013.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. 4_ka_[5h1]+ya+

    4_ka_[5h1]+ya+ Staff Member

    612
    88
    103
    Roleplay: Witch house

    [​IMG]
    The Beginning of Everything
    Player:

    mimong as Viola
    4_ka_[5h1]+ya+ as Elen
    =============================================================

    "Uhuk"
    Batuk batukku semakin parah, pandangan mataku menerawang ke semua sudut perpustakaaan di rumahku, nafaskku sesak, mataku mulai buram, Tubuh ini sudah terlalu lama hidup, tubuh ini melemah...
    "UGH..UHUK!"
    Sedikit darah keluar dari batukku barusan, organ dalam tubuh ini juga nampaknya sudah melemah, Sial...
    "CARI SEMUA CARA!!"
    Aku berteriak memerintah budak budak ciptaanku di rumahku sendiri untuk mencari cara agar aku bisa terus hidup, badan ini sudah terlalu lama ada di dunia ini, tapi aku tak mau mati meski telah lama hidup.

    Aku bisa berbagai macam sihir, Dengan sihirku, aku bisa membuat aku yg berumur ratusan tahun seperti gadis cilik 12 tahun, membuat budak budakku dan membuat rumah ini, tapi kenapa aku tak bisa sihir agar aku bisa abadi, aku sudah mencari kesana kemari, dan membaca hampir semua buku di perpustakaan ini, Sial..sial...sial... apa yang harus kulakukan, mati sendirian di rumahku sendiri? Tak mungkin aku mau!!

    Aku memandang keluar jendela dengan perasaan dongkol, hutan, Yah aku membuat rumah ini di tengah hutan, tapi hutan ini terlalu dalam, aku penasaran, apakah akan ada orang yang akan menemukan rumah ini, aku terus berfikir cara agar aku bisa terus hidup sambil memandangi hutan... sial... pikirkan sesuatu...
     
    Dejiko likes this.
  2. mimong

    mimong Member

    473
    140
    123
    Ingatlah Viola..
    Hutan itu menyimpan suatu kekuatan luar biasa.
    Namun di dalamnya tersimpan kejahatan, kebencian.
    Jangan sekalipun... memasukinya...

    Aku tinggal berdua bersama Ayahku di sebuah rumah kecil, letaknya agak jauh dari keramaian kota dan berada tak jauh dari sebuah hutan lebat. Ayah seorang pemburu, ia biasa pergi ke hutan itu untuk berburu rusa, babi hutan, atau kelinci hutan, entah untuk makanan sehari-hari atau dijual ke kota. Saat Ibu masih hidup, ia selalu melarangku untuk pergi ke hutan, meskipun aku pergi untuk membantu Ayah. Namun diam-diam Ayah membawaku ke hutan agar aku banyak belajar cara bertahan hidup.

    Aku menatap keluar jendela, menatap deretan pohon besar itu dengan tatapan menerawang. Aku mengingat-ingat lagi kalimat Ibu sebelum ia meninggal.

    Memangnya apa yang ada di dalam hutan itu? Kekuatan apa?

    "Viola! Ayo ikut Ayah berburu babi hutan!!", teriak Ayah dari lantai satu rumahku.
    "Iya Ayah!", sahutku.

    Aku segera berkemas untuk mempersiapkan peralatan berburu Ayah. Lalu tak sampai 30 menit kami berdua pergi menuju hutan itu.
     
    Dejiko likes this.
  3. 4_ka_[5h1]+ya+

    4_ka_[5h1]+ya+ Staff Member

    612
    88
    103
    Mataku menerawang jauh ke sekeliling hutan, aku merasakan ada beberapa orang masuk, sebenarnya aku menggunakan sihirku untuk merasakan kehidupan yg memasuki hutan ini, banyak sekali hawa kehidupan tua yang keluar masuk hutan ini, tapi tak satupun masuk hingga benar-benar dalam ke hutan ini.

    Tiba-tiba aku merasakan hawa kehidupan segar memasuki hutan, apa ini? siapa?.... Aku segera bergegas keluar rumah, dan mencari asal hawa kehidupan itu,
    "Uhuk!"
    Ahh,,, aku lupa badan ini tidak selincah dulu, tak boleh terlalu banyak bergerak, Aku berjalan pelan mendekati hawa kehidupan itu, samar agak kejauhan dari tempatku berdiri, ternyata hawa kehidupan itu anak perempuan yang fisiknya sebaya denganku, dan yg bersamanya... Pemburu,

    aku ingin tau lebih banyak tentang anak itu, tapi bagaimana caranya, aku menghipnotis banyak hewan di hutan agar mendekati pemburu itu dan kabur sekencangx jika di serang, anak itu tak mungkin bisa berlari secepat ayahnya kan? setidaknya jika kami hanya berdua mungkin aku akan dapat kesempatan berbicara denganya....
     
    Dejiko likes this.
  4. mimong

    mimong Member

    473
    140
    123
    SRAAKK!!
    Ada seekor babi hutan yang melihat ke arah kami. Jaraknya cukup jauh, namun masih terlihat.

    "Lihat, Viola! Babi hutan!" Ayah segera menyiapkan senapan panjangnya, berancang-ancang untuk berburu kembali. Aku segera membereskan termosku dan berdiri di belakang Ayah. Perlahan Ayah mempersempit jarak antara kami dan babi hutan itu agar Ayah dapat membidik dengan tepat. Namun saat Ayah mengangkat senapannya, babi hutan itu menjauh dan bersembunyi di balik pohon.

    Ayah berusaha mendekatinya lagi dengan sangat perlahan. Namun sekali lagi, saat Ayah membidiknya, babi hutan itu malah lari ke dalam hutan.

    "Viola, kita kejar babi hutan itu!" Ayah berlari sekuat tenaga mengejar babi hutan itu. Aku juga berusaha mengimbangi lari Ayah. Kami terus mengejar babi hutan itu dan berlari, semakin dalam dan semakin dalam, memasuki area hutan lebih dalam lagi.

    "A-ayah.. aku tidak kuat lagi...." kataku dengan tersengal-sengal di tengah lariku. Namun Ayah masih terus berlari mengejar buruannya. "A-ayah....--AAH!"

    BRUK! Aku terjatuh di tengah lariku. Karena aku berlari sangat kencang, jatuh di saat begini sangat sakit. Ah, aku pasti melukai lututku dengan parah. Aku berusaha bangkit, menahan rasa sakit di lutut dan beberapa bagian tubuhku yang lain.

    "uugh... Ayah...?" Saat aku menyisir pandanganku ke seluruh arah, aku tak melihat sosok Ayahku. "...Ayah?" Aku memanggil sekali lagi, namun tak ada jawaban. Aku berteriak dengan sekuat tenaga namun tetap tak ada jawaban.

    "Ayah... kau dimana?" aku berjalan perlahan, langkahku sedikit pincang karena luka di kakiku. Sedikit meringis kesakitan, aku tetap teguh memanggil ayah, berharap sosoknya muncul.

    Namun berapa kalipun aku memanggil, Ayah tidak menampakkan dirinya.

    Aku terus berjalan semakin ke dalam hutan....
    Kemudian aku menemukan sesuatu yang belum pernah kutemukan sepanjang hidupku.

    Sebuah mansion yang megah.
     
    Dejiko likes this.
  5. 4_ka_[5h1]+ya+

    4_ka_[5h1]+ya+ Staff Member

    612
    88
    103
    "Viola, kita kejar babi hutan itu!"
    Tiba tiba mereka berlari manjauh dariku, Ah... sebenarnya aku ingin mereka mendekat.. sial..
    Aku kembali ke kamar di rumah ku, dan berbicara pada orang tuaku di ruang tengkorak di balik dapur.

    "Ibu, ayah, aku kira tadi aku akan mendapat teman bermain... tapi dia pergi"
    Hening tak ada jawaban

    "ayah dan ibu tidak mencintaiku, jadi aku me x kalian, dan karena kalian tak mau bermain denganku dan seenaknya masuk rumah ini, aku juga meng X kalian hehe"
    Kataku yg sedang bosan pada tulang orang tuaku dan teman temanku dulu, sambil bermain main dengan tulang rusuk orang tuaku.

    mendadak aku merasakan hawa murni tadi benar benar dekat,
    "tidak, tak boleh siapapun masuk rumah ini"

    Aku mengintip apa yang sedang terjadi, ternyata anak tadi sedang terluka, aku segera keluar dengan membawa obat-obatan normal.

    "Hei kau tak apa apa?"
    Kataku dari sisi luar kanan rumah, tanpa menunggu reaksi anak itu aku segera mengobati kakinya yang terluka..
    "senangnya bisa bertemu anak semuranku haha, aku tak punya teman, karena badan ku lemah tak ada yang mau bermain denganku"
    kataku riang.
     
    Dejiko likes this.
  6. mimong

    mimong Member

    473
    140
    123
    Seorang gadis berambut violet keluar dari mansion itu dan berjalan ke arahku yang terluka. Gadis manis berambut panjang itu membawa kotak P3K di tangannya.

    "Hei kau tak apa apa?"
    Gadis itu segera mendekat ke arahku dan dengan sigap mengeluarkan perban, obat antiseptik, dan benda-benda lain yang diperlukan untuk mengobati luka di lutut dan kakiku. Aku tak sempat berkata apapun, setidaknya aku ingin berkata bahwa aku akan mengobati lukaku sendiri. Akhirnya aku membiarkan gadis itu melakukan pekerjaannya, meskipun dalam hati aku sedikit...was was. Maksudku, aku tak mengenalnya dan tiba-tiba dia datang mengobati luka orang lain?

    "Senangnya bisa bertemu anak semuranku haha, aku tak punya teman, karena badan ku lemah tak ada yang mau bermain denganku."

    Dia berkata dengan riang dan senyum manisnya terkambang. Kalimatnya itu membuatku tertegun sejenak. Kurasa dia anak yang baik, pikirku. Dan cukup masuk akal jika kau tinggal di tengah hutan dan tidak punya teman manusia, mungkin temanmu hanya sekelompok kelinci hutan.

    "...apa kau tinggal disini? Siapa namamu?"

    Mungkin aku bisa menjadi teman pertamanya?
     
    Dejiko likes this.
  7. 4_ka_[5h1]+ya+

    4_ka_[5h1]+ya+ Staff Member

    612
    88
    103
    "Yosh, selesai"
    kataku yang sudah selesai membalut luka gadis pirang ini.

    "...apa kau tinggal disini? Siapa namamu?"
    oh, gadis pirang ini bersuara juga,

    "hahaha Iya, aku tinggal disini, namaku Ellen, namamu?"
    sebenarnya aku ingin dia tetap di sini, tapi hari sudah mulai senja, jika terlalu memaksa rasanya akan buruk juga.

    "hari sudah mulai senja, aku rasa sebaiknya kau kembali, orang tuamu pasti cemas"
    sesaat tertekan karena kata kata sendiri.
    lalu aku mengeluarkan pisau yang terbalut kain dari kotak, dan memanggil kucing hitam Umm, sebenarnya bukan peliharaan...

    "rumah ini benar benar dalam di hutan, jadi bawa pisau ini jika kamu menemui hewan buas, Ah, untuk jalan keluar hutan ikuti kucing ini saja, dia hafal seluruh isi hutan hehe, ah, jaga pisau itu ya..." lanjutku tanpa jeda
     
    Dejiko likes this.
  8. mimong

    mimong Member

    473
    140
    123
    "hahaha Iya, aku tinggal disini, namaku Ellen, namamu?"
    Tanpa banyak pikir aku menjawab singkat, "Viola."

    Saat itulah aku mengetahui ada gadis bernama Ellen yang tinggal di tengah hutan.

    ----

    Langit sudah mulai berubah warna menjadi sedikit oranye, tanda malam sebentar lagi akan tiba. Aku memegang erat sebilah pisau yang diberikan Ellen kepadaku, berharap tidak ada hewan buas di sekitar sini. Aku melihat hutan di sisi kiri dan kananku, mungkin saja aku bertemu dengan Ayah.

    "..meoooong."

    Pandanganku langsung tertuju kepada kucing hitam milik Ellen yang ada di depanku itu. Kucing itu mengeong dan melihat ke arahku, seakan mengingatkanku untuk tetap mengikutinya, "Ah ya, aku harus mengikuti kucing ini untuk bisa keluar hutan ini."

    Aku tetap melangkah dan mengikuti kucing itu. Sekitar 15 menit kemudian, kami telah sampai di daerah hutan yang kukenal, aku yakin ini adalah daerah yang sering aku dan Ayah kunjungi untuk berburu. Lalu samar-samar aku mendengar seseorang memanggil namaku...

    "--la! Viola!! Violaa!!"

    Aku menoleh ke segala arah, mencari sumber suara. Dan aku melihat Ayah yang memanggilku. Tanpa ba-bi-bu aku langsung berlari menuju tempat Ayah berada dan berteriak, "Ayaaaahh!!! Aku disini!!"

    Betapa senangnya Ayah melihatku. Ia langsung memelukku erat dan melontarkan beberapa pertanyaan. Aku menjawab singkat pertanyaan-pertanyaan itu, "...lalu Ayah, aku diantar oleh kucing ini....eh?" Aku ingin memperlihatkan kucing milik Ellen, tapi kucing itu sudah pergi.

    "Sudahlah, ayo kita pulang. Yang penting kau tidak apa-apa." Aku dan Ayah berjalan menuju rumah kami.

    ---

    Aku menatap pisau pemberian Ellen, aku melihat ada ukiran nama Ellen di gagangnya. Aku ingat dia berkata, "Ah, jaga pisau itu ya.." kurasa ini bukan pisau biasa, ada nilai penting di dalamnya. Aku membuka jendela kamarku, bulan purnama sangat indah malam ini. Kemudian aku menyapukan pandanganku ke arah hutan itu.

    "Aku tak menyangka ada seorang gadis tinggal di tengah hutan... Apakah Ellen baik-baik saja disana? --tunggu, kenapa aku mengkhawatirkannya?" Baru saja aku ingin menutup lagi jendela kamarku, lalu aku melihat seekor kucing hitam tak jauh dari rumahku, langsung menatap mataku.

    "Bukankah itu.... kucing Ellen?"
     
    Dejiko likes this.
  9. 4_ka_[5h1]+ya+

    4_ka_[5h1]+ya+ Staff Member

    612
    88
    103
    Segera setelah menerima pisau itu dia langsung pergi keluar hutan,

    Tak apa, selama dia membawa pisau itu dia akan kembali ke rumahku karena itu pisau milikku hehe, Pisau yang penuh nostalgia, pisau yang aku pakai untuk membunuh orang tuaku, dan bukti perjanjianku dengan Tuan iblis / kucing

    sebenarnya sesaat saat aku membalut luka gadis pirang itu, Iblis kucing itu bilang wanita itu bisa menyembuhkan penyakitku yang gagal ia sembuhkan, entah bagaimana caranya, tapi aku menurutinya untuk memulangkan viola dan membiarkan kucing itu bersama Viola.

    entah apa rencana kucing itu, untuk membuat Viola simpati padaku? untuk membuatnya mau berteman denganku?
    yang jelas aku kembali sendirian, di rumahku, bersama penyakit yang menggerogoti ini.
    meski aku berharap ada seseorang yang datang, tapi siapapun yang masuk rumah ini harus mati, ah, mungkin kecuali dia mau menyelamatkanku.
     
    Dejiko likes this.
  10. mimong

    mimong Member

    473
    140
    123
    Entah apa yang merasukiku, aku sangat ingin mendekati kucing milik Ellen. Aku mengendap-endap keluar dari kamarku, menuruni tangga, lalu perlahan membuka pintu rumah. Aku berharap Ayah tidak mendengarku.

    Kini aku berada tepat di hadapan sang kucing. Ia balas menatapku tajam, kemudian ia berlari masuk ke dalam lebatnya hutan, "Ah--! Tunggu!"

    Aku berlari mengejar kucing itu--tanpa peduli hari sudah malam, sejenak aku heran mengapa aku tidak takut sama sekali. Yang kupikirkan hanyalah mengikuti kucing itu, nampaknya ia ingin menunjukkanku sesuatu.

    Lalu aku kembali ke sini...

    Rumah Ellen.
     
    Dejiko likes this.
  11. 4_ka_[5h1]+ya+

    4_ka_[5h1]+ya+ Staff Member

    612
    88
    103
    Entah sudah berapa hari sejak Viola datang kemari, Keadaanku semakin memburuk ditambah
    Malam ini tak ada bulan, aku tak sanggup mengendalikan sepenuhnya rumah ini.

    saat aku ingin keluar rumah sejenak suasana hutan benar benar tak bersahabat, angin berhembus kencang dan banyak hewan buas mengellilingi rumah ini, aku mengurungkan niat dan kembali kedalam. belum ada semenit aku merasakan keberadaan viola, segera aku buka pintu rumahku dan mataku terbelalak melihat beruang besar yang sudah siap menyerang viola dari belakang.
    "VIOLA MENYINGKIR!"
    Aku spontan berteriak,

    dan spontan menggunakan sihirku untuk memenggal kepala beruang itu dari jarak jauh....

    gawat...

    dengan kejadian sejelas ini dia pasti menyadari...

    aku adalah penyihir
     
    Dejiko likes this.
  12. mimong

    mimong Member

    473
    140
    123
    Kini aku berada di depan rumah megah milik Ellen.

    Namun aku tak menyadari ada bahaya yang mengancamku. Seekor beruang besar ada di hadapanku sekarang, siap menerkamku kapan saja.

    Badanku tak bisa digerakkan.
    Aku terlalu takut untuk berlari.

    "VIOLA MENYINGKIR!"
    Sebuah suara membuatku terkejut. Lalu detik berikutnya...

    Kepala beruang itu sudah tak ada lagi di tempatnya. Tubuh besar itu langsung jatuh, dengan darah yang mengalir deras dari lehernya yang terpotong.

    --Ingatlah Viola..

    Apa yang terjadi?

    --Hutan itu menyimpan suatu kekuatan luar biasa.

    Aku melihat Ellen tak jauh dari tempat beruang itu tumbang. Tangannya teracung keatas, dengan sekelebat aura aneh berwarna ungu mengelilinginya. Otakku mencerna jika Ellen memakai suatu kekuatan, sehingga dapat memotong kepala beruang itu dengan mudah.

    Namun di dalamnya tersimpan kejahatan, kebencian.
    Jangan sekalipun... memasukinya...


    Kekuatan apa?
    Sejenak muncul sosok penyihir yang pernah kulihat di sebuah buku legenda. Dulu aku tak mempercayai adanya penyihir.

    Namun firasatku berkata,
    Ellen adalah salah satu dari mereka...
     
    Dejiko likes this.
  13. 4_ka_[5h1]+ya+

    4_ka_[5h1]+ya+ Staff Member

    612
    88
    103
    Ah... Viola hanya terpaku di sana..

    teman temanku dulu dan orang tuaku saat mengetahui aku menjadi penyihir mereka menatap rendah padaku, apakah Viola juga akan seperti itu? apa dia akan membocorkan ini ke penduduk desa? tapi jika tidak kulakukan tadi Viola bisa celaka, Ahh, apa akhirnya akan begini.... aku menatap viola dengan sedih..

    "kau tak apa kan?"

    aku memang menyesali ini tapi aku khawatir, Ah, aku tak berharap apa apa lagi, tidak juga untuk ucapan terima kasih, jika dia takut dan berlari atau bereaksi sama dengan mereka aku siap membunuh viola sekarang.
     
    Dejiko likes this.
  14. mimong

    mimong Member

    473
    140
    123
    Ellen menatapku sedih.
    Perasaanku saja atau matanya berkata bahwa dia sangat merasa berdosa?

    "Kau tak apa kan?"

    Sebuah kalimat akhirnya terlontar dari mulut mungil Ellen--setelah keheningan yang cukup lama. Aku terkesiap dengan kalimatnya itu dan refleks berkata, "--ah, a-aku tidak apa-apa..."

    Lalu hening kembali.

    Perasaan aneh mulai menyelimutiku. Curiga, penasaran, waspada. Namun, bukankah aku seharusnya berterima kasih karena Ellen telah menolongku? Kalau Ellen tak ada, mungkin aku sudah tercabik-cabik sekarang.

    "...ah... Euhm.. Terima kasih.. Kau menyelamatkan nyawaku..."

    Meski begitu, jujur saja aku takut. Rumor tentang penyihir yang kudengar selalu buruk, penyihir adalah sosok makhluk jahat. Jika Ellen benar salah satu dari mereka, nyawaku bisa saja akan melayang sebentar lagi.

    Namun aku ingat kejadian itu. Saat aku ditolong oleh Ellen.

    Apakah penyihir jahat akan melakukan itu?

    Pertanyaan itu mencegahku untuk lari dari tempat itu. Mungkin hatiku masih percaya pada Ellen.
     
    Dejiko likes this.
  15. 4_ka_[5h1]+ya+

    4_ka_[5h1]+ya+ Staff Member

    612
    88
    103
    "--ah, a-aku tidak apa-apa..."

    Ah dia takut, tapi itu halyang wajar sih sihir yang aku siapkan untuk membunuh viola sudah hampir selesai, tentu saja kulakukan di balik punggungku agar dia tak menyadarinya.

    "...ah... Euhm.. Terima kasih.. Kau menyelamatkan nyawaku..."

    Eh? apa? a...aku.. aku tak salah dengar kan? Viola masih berdiri di tempatnya dengan takut takut. sekejap semua sihir yang kusiapkan lenyap seluruhnya, Uh kenapa ini? kenapa aku merasa senang sekali,

    aku menatap viola dan tersenyum lepas,

    "sama sama" kataku dengan tersenyum dan tanpa menunggu kata kata lagi aku segera memeluk Viola.

    "Maaf ya, kau pasti terkejut dan takut padaku, aku sudah menduga itu" lalu aku melepas pelukanku ke viola dan memegang kedua tanganya.

    "hei Viola... ayo berteman denganku!! kau mau kan?"
     
    Dejiko likes this.
  16. mimong

    mimong Member

    473
    140
    123
    "hei Viola... ayo berteman denganku!! kau mau kan?"

    Mataku membulat.

    Teman

    Sebuah kata yang sangat jarang kudengar. Aku jarang sekali bersosialisasi dengan anak-anak seumuran--karena letak rumahku yang tepencil. Selama ini aku menerka-nerka seperti apa rasanya punya teman perempuan sebaya. Aku sangat mendambakan sebuah pertemanan.

    Ellen ingin menjadi temanku. Teman pertamaku.

    Sebagian dari hatiku masih takut akan kekuatan Ellen, namun sebagian yang lain sangat menginginkan Ellen untuk menjadi teman, dan ingin mempercayainya. Aku memutuskan.

    "Ya, aku mau!" jawabku dengan tersenyum.
     
    Dejiko likes this.
  17. 4_ka_[5h1]+ya+

    4_ka_[5h1]+ya+ Staff Member

    612
    88
    103
    "Ya, aku mau!"

    Hanya satu kata ini rasanya benar benar membuat senang.
    aku membalas seyuman Viola, namun tiba tiba Badanku ambruk dan sedikit memuntahkan darah, bukan pingsan, hanya tak kuat berdiri saja.

    "Maaf, aku terlalu banyak memaksa kekuatan sihirku meski aku sedang sakit sakit tadi"

    Terdiam sejenak

    "Hari sudah larut, bagaimana jika kau menginap di sini?" Kataku berusaha berdiri dan mengajak Viola masuk.

    "Masuklah... sebagai awal perayaan pertemanan kita aku akan menceritakan semuanya padamu, Viola"
    Lanjutku dan mengajak viola ke kamarku, karena tempat itu bebas sihir, dan aku rasa tempat paling aman untuk bicara dengan viola, meski berarti aku membawa Viola melihat isi rumah, karena Kamarku berada di lantai teratas, melewati ruang makan,dapur, naik tangga, melewati lobi, dan kamarku...
     
    Dejiko likes this.
  18. mimong

    mimong Member

    473
    140
    123
    Mansion Ellen sangat besar--hal itu sudah terlihat dari luar. Tapi aku tak menyangka bahwa bagian dalamnya bak istana. Setelah Ellen membuka pintu, yang kulihat adalah karpet mahal, lampu dekorasi yang sangat cantik, vas bunga yang kelihatannya tidak murah, bahkan terdapat baju zirah lengkap dengan senjatanya.

    Ellen ingin mengajakku ke kamarnya yang ada di lantai teratas. Sepanjang perjalanan menuju kamarnya, aku sempatkan diri untuk melihat-lihat rumah Ellen. Dan sungguh, aku tak bisa menyebut ini sebuah rumah.

    Akhirnya kami telah sampai di lantai teratas. Di hadapan kami adalah sebuah pintu dengan warna coklat tua, yaitu kamar Ellen. Kemudian Ellen memutar kenop pintu itu. Namun sebelum ia membuka pintu, aku menyelanya dengan bertanya,

    "Rumah ini besar, tapi kenapa tidak ada orang sama sekali?"
     
    Dejiko likes this.
  19. 4_ka_[5h1]+ya+

    4_ka_[5h1]+ya+ Staff Member

    612
    88
    103
    Aku memperhatikan viola yang seolah terkesima akan rumah ini, ia benar benar fokus memperhatikan isi rumah dan sama sekal tak bersuara, akhirnya sampai di depan kamarku ia bersuara
    "Rumah ini besar, tapi kenapa tidak ada orang sama sekali?"

    Aku tersenyum dan membuka pintu,
    "Yaah, Orang tuaku sudah tak ada, dan aku belum pernah mempunyai teman manusia sebelumnya, mau bagaimana lagi" Kataku sambil menyiapkan kursi untuk viola duduk, dan melihat ke arahnya.

    "tapi aku sama sekali tak kesepian kok, lagipula mereka tak menyayangiku, dan Katak, kucing dan tumbuhan di atap menemaniku" kataku sambil tersenyum, dan memberi isyarat duduk untuk viola.

    "tapi aku senang sekali, akhirnya aku punya teman, di buku yang aku baca kau bisa mengajak teman bermain, saling berbagi, dan saling menolong, sebelumnya anak anak seumuranku tak mau bermain denganku karena aku sakit, ah maaf aku jadi berbicara sendiri" lanjutku dengan ceria.

    "baiklah, sebelum aku menceritakan bagaimana aku menjadi penyihir apa ada yang ingin kau tanyakan viola?"
     
    Dejiko likes this.
  20. mimong

    mimong Member

    473
    140
    123
    Ellen bertanya apa ada yang ingin aku tanyakan. Jujur saja, banyak sekali. Namun aku tak bisa memilih apa yang harus kutanyakan pertama kali. Aku menggumam panjang tidak jelas--berpikir. Mataku mencuri-curi pandang kamar besar Ellen.

    Sebuah ranjang mewah yang rapi, rak buku yang tersusun rapi sesuai dengan abjad dan warna, meja yang tertata dengan apik, lalu aku ingat bagaimana ruang-ruang di rumah Ellen yang tersusun rapi dan bersih. Bahkan baju zirah yang aku lihat begitu mengkilap tanpa noda.

    "Bagaimana kau bisa membersihkan rumah super besar ini, padahal ku tinggal sendiri? Ah--"

    Aku merasa seperti orang bodoh. "Bagi seorang penyihir itu mudah saja ya?" dan aku tertawa garing.

    "Ehem," aku membetulkan dudukku, "Yah, yang membuatku sangat penasaran sih, kenapa kau jadi penyihir? Aku dengar penyihir itu jahat dan dibenci."

    "Kenapa kau memilih menjadi penyihir? Atau... kau terpaksa?"
     
    Dejiko likes this.
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page