Share [Orific] No Title

Discussion in 'Tulisan' started by Dejiko, 14 May 2015.

  1. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    No Title

    Genre :

    Romance, Slice of Life, Reality-ship-based-fiction

    Rated :

    +13

    Character :

    <Spoiler>
    ========================================================================================
    Cerita ini hanya fiktif belaka. Apa bila ada kesamaan nama, tokoh, dan penempatan,
    maka itu bukanlah tidak disengaja.
    ========================================================================================
    Chapter 1 - No Title
    'di saat seperti ini, harusnya aku bahagia.....kan? Tapi, kenapa aku masih merasa tidak nyaman? Padahal aku sudah jauh-jauh datang kemari. setidaknya, aku harus mengucapkan selamat kepadanya.'

    Gadis itu memberi pikiran-pikiran positif untuk dapat membangun keyakinan di dalam dirinya. Namun hal itu bahkan tidak dapat membuat gemetar di tangannya berhenti.

    'Benar juga. Ini semua bukan salahnya. Hanya diriku sajalah yang terlalu egois. Ia sudah begitu baik padaku, dan aku bahkan belum membalas apa-apa. Jika ia mendapat kebahagiaan dari lubuk hatinya, maka hal itu akan menjadi sepercik kebahagian bagi diriku'

    'Aku harus terlihat tersenyum dan memberi selamat padanya.'

    Ia pun terlihat cukup tenang dan akhirnya berjalan mendekati sang pengantin pria yang duduk di kursi besar di atas panggung, bersama pengantin wanitanya.

    "Selamat ya atas pernikahannya, paman"

    "Oh, makasih ya, Han-" Pria itu memotong kalimatnya. "Kamu... nggak apa-apa?"

    Yang terjadi adalah, di atas senyuman wajah Hana, nampak sepasang air mata mengalir melewati pipi merahnya. Namun butuh beberapa saat sampai ia menyadarinya sendiri.

    "Eh?!"

    Hana turun dari panggung dan berlari keluar sambil mengusap matanya.

    'Apa yang sudah kulakukan? Aku benar-benar bodoh!'
    https://www.facebook.com/notes/deni-indrawan/2f43b42f/1035969216418916
     
    Last edited: 14 May 2015
  2. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    bukannya nulis naskah, malah nulis ginian.
    Chapter 2 - No Regret
    Di malam itu, angin berhembus dengan sejuk. Bintang bersinar menerangi langit dan bulan berada dalam wujud paling terangnya. Hana melipat tangannya di atas pagar besi, memandang lurus ke arah cakrawala garis laut hitam dan langit violet. Terbaca jelas dari raut wajahnya kalau ada hal yang sedang mengganggu pikirannya. Umumnya pemandangan ini kerap terjadi pada orang-orang yang sedang mengalami masa sulit.

    “Disini kau rupanya.” Suara kecil yang datang dari belakang Hana, berasal dari Seis.

    “Mbakem…” Hana menoleh sambil tersenyum kecil. Seis berdiri di samping Hana. Kedua tangannya di genggam di belakang pinggulnya dan ia memiringkan kepalanya sedikit, memandang ke arah Hana.

    “Gugup, ya?”

    “Ehm… tidak juga.”

    Seis yang baru saja muncul tidak memulai pembicaraan lagi. Keheningan sementara menyelimuti mereka berdua pada saat itu.

    “Mbakem, apa besok kau mau jalan-jalan?”

    “Kemana?”

    “Kemana pun. Sudah datang jauh-jauh kemari pasti banyak hal yang ingin kau lihat, kan? Aku akan mengantarmu ke berbagai tempat menarik.”

    “Oh, boleh saja. Iya, benar. Ada banyak tempat yang ingin kukunjungi. Kita juga akan mengajak semuanya, kan? Pasti menyenangkan. Nanti kita bicarakan saja pada semuanya kalau setelah acara pernikahan nanti kita─”

    “Tidak perlu pergi ke pernikahan!”

    Tiba-tiba Seis memotong perkataan Hana dengan suara lantang. Kali ini ia menundukan wajahnya.

    “Kita pergi berdua saja. Mbakem tidak perlu pergi ke pernikahan Om Sher besok. Aku akan menemanimu. Jadi…”

    Hana terkejut dengan apa yang dikatakan Seis. Sekarang ini yang ada di benak Hana hanyalah pertanyaan “Kenapa?”. Namun sejenak ia mengerti apa yang dimaksud Seis.

    “Aku mengerti, Mbakem. Tapi, kau tidak perlu melakukan hal ini untukku. Bagaimanapun juga aku harus hadir pada acara pernikahan Paman. Ia sudah sangat baik pada kita semua. Jadi, kupikir agak kejam kalau kita tidak datang dengan sengaja. Apalagi kalau sudah jauh-jauh datang kemari.”

    Hana tersenyum sambil mengingat-ingat hal-hal yang pernah dilakukan Sheratan padanya. Di benaknya, tergambar jelas sosok pria yang sangat dikaguminya itu.

    “Kalau bisa aku tidak ingin melarikan diri. Aku akan bertarung menghadapi perasaan di dalam diriku ini. Ini bukan hanya demi kebaikan diriku sendiri, tapi juga demi Paman.”

    “Lalu apa kau yakin kau dapat menghadapinya? Bagaimana jika kau gagal? Bagaimana kalau ternyata ketika acara nanti kau malah tidak dapat menahan perasaanmu? Aku mengerti kau ingin mengakhiri semuanya pada saat esok. Tapi bagiku kau belum siap. Seandainya kau malah menjadi kacau, pada saat itu kau hanya akan merepotkannya! Pikirkan juga tentang orang-orang disekitarmu yang peduli padamu!─”

    “JADI APA YANG HARUS AKU LAKUKAN?!!”

    Air mata mulai mengalir dari kedua bola mata Hana, bersamaan dengan teriakannya barusan.

    “Aku tidak ingin terus-menerus merasakan rasa sakit ini… Aku ingin mengikhlaskan dirinya dari hatiku… Aku ingin menerima kenyataan bahwa ia bukan milikku. Meski sangat pahit, tapi itulah kenyataannya sekarang. Jika aku lari, maka selamanya aku akan menyesal dan rasa sakit ini takkan pernah hilang. Maka dari itu… maka dari itu…”

    Hana mendekatkan tubuhnya ke arah Seis. Kedua tangan Hana melewati belakang leher Seis. Hana mendekap lembut tubuhnya, dagunya disandarkan pada bahunya, dan ia suara isak tangis terdengar jelas di telinga Seis. Tinggi badan Seis yang lebih rendah membuat Hana agak membungkuk untuk memeluknya.

    “Kumohon Mbakem, izinkan aku untuk pergi ke pernikahan besok…”

    Seis menutup matanya, air mata mengalir pelan dari kedua kelopak matanya yang tertutup. Tangannya melewati pinggang Hana, naik ke atas, dan kedua lengan itu menyilang di belakang punggung Hana.

    “Maaf, aku tidak menyangka kalau Mbakem juga berusaha sekeras itu. Tidak perlu memohon seperti itu padaku.”

    Mereka berpelukan agak lama, hingga keduanya merasa agak lega. Kemudian mereka berpengangan tangan memandangi laut malam.

    “Tapi, pendapatku masih tidak berubah. Bagiku Mbakem masih belum siap. Aku akan memberi waktu sedikit lagi. Bahkan hingga di detik terakhir acara pernikahan, kalau aku merasa kau tidak bisa menahannya, aku akan langsung menarikmu pergi.”

    “Hehe… kau memang tidak pernah berubah. Selalu memegang pendirianmu. Tapi, terima kasih. Kau adalah orang yang selalu mengkhawatirkanku apapun yang terjadi.”

    Seis tidak menanggapi pujian dari Hana. Ia hanya tersenyum tenang.

    “Ayo kita kembali.” Ajak Hana.

    “Duluan saja. Aku masih ingin di sini.”

    “Oh, oke.”

    Hana pun pergi meninggalkan Seis di tempat itu. Sejenak setelah Hana pergi, Seis menundukan kepalanya lagi. Ia memegangi sikut lengan kirinya yang bergetar.

    Dari belakang, seorang laki-laki berjalan mendekat. Suara langkah kakinya terdengar jelas, namun sepertinya Seis tidak mendengarnya.

    “Saya rasa Kak Dinda tidak seharusnya merasa bertanggung jawab atas semua ini.”

    “Apa maksudnya?”

    “Kak Hana mengerti bahwa apa yang akan dihadapinya adalah hal yang sulit. Namun ia tidak menyerah dan tetap ingin menghadapinya. Saya ingin percaya kalau ia bisa melakukannya. Saya ingin mendukung apapun pilihan Kak Hana.”

    “Deji, kau tidak mengerti apa-apa.”

    Seis mengusap air matanya kemudian berbalik menghadap Dejiko.

    “Aku sudah berusaha percaya hingga detik terakhir. Aku sudah sering melihat Mbakem menghadapi perasaannya namun ia tetap tidak dapat melupakan Om Sher, dan perasaan itu berbalik menghancurkan dirinya. Apa kau mengerti bagaimana rasanya melihat saudara yang kau sayangi merusak dirinya sendiri karena perasaan yang tidak bisa ia hadapi?! Aku sudah tidak tahan! Aku akan melakukan apapun untuk membuat Mbakem tidak sedih, meskipun harus memaksanya dan membuatnya membenciku, aku tidak peduli! Aku hanya tidak ingin melihat Mbakem hancur.”

    “Kak Dinda melakukan semua ini demi Kak Hana, saya paham itu. Tetapi tidak seharusnya hal itu membuat Kak Dinda kehilangan kepercayaan─”

    “Sudah cukup!”

    Seis memotong kalimat Dejiko dengan lantang.

    “Terserah saja. Aku tidak ingin bertengkar denganmu sekarang.”

    Seis kembali membelakangi Dejiko. Kedua telapak tangannya digenggam di depan dadanya.

    “Aku adalah satu-satunya orang yang dapat menolong Mbakem. Ia sendiri juga mengatakan bahwa aku adalah orang yang selalu ada untuk dirinya. Jika kau bilang kalau aku tidak perlu bertanggung jawab, maka kau salah. Seandainya semuanya berjalan buruk, maka aku takkan memaafkan diriku sendiri yang tidak berdaya di saat seharusnya aku dapat menyelamatkannya dari kesedihan.”

    “Kau tidak ingin Kak Hana pergi ke acara pernikahan karena tidak ingin melihatnya sedih, bukan? Kau melupakan sesuatu yang penting, yaitu kebahagiaan Kak Hana. Mungkin dengan caramu Kak Hana akan terhindar dari kesedihannya. Tetapi ia juga tidak mendapat kebahagiaan. Namun seandainya ia berhasil menghadapi perasaannya, maka ada kemungkinan kalau kebahagiaan akan ia dapatkan.”

    “Jadi maksudmu, yang kulakukan ini salah?”

    “Tidak. Saya hanya ingin mengatakan bahwa apapun yang terjadi dan apapun alasannya, Kak Dinda tidak seharusnya menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi.”

    “Lantas… apa yang harus aku lakukan?”

    Dari nada bicara Seis, Dejiko menyadari kalau Seis sedang menangis. Ia berjalan mendekati pagar besi dan berdiri di samping kanan Seis.

    “Mungkin ini adalah cobaan hidup bagi Kak Hana. Di balik cobaan ini pasti ada berkah. Apapun yang terjadi, jangan pernah kehilangan kepercayaan. Pasti akan ada akhir bahagia bagi Kak Hana jika kita terus percaya.”

    Dejiko dan Seis saling berdiri berhadapan. Mereka saling tersenyum setelah tadinya saling berargumen. Dejiko menatap lurus mata biru tua Seis yang bersinar dibalik kacamatanya. Tinggi mereka berdua tidak terlalu jauh sehingga tidak ada yang perlu menunduk atau mengadah. Tangan kanan Dejiko memegang bahu kiri Seis. Dejiko mengambil satu langkah mendekat. Telapak tangan kanan Seis menyentuh dada Dejiko, seperti ingin menjaga jarak, namun juga bisa untuk dapat merasakan degupan jantung Dejiko.

    “Hey, kalian lama sekali. Apa yang kalian─? …..Ohhh~”

    Sheratan tiba-tiba muncul tanpa di sadari. Dejiko dan Seis mengambil langkah mundur bersamaan.

    “Kami tidak bermaksud apa-apa. Aku cuma… hanya…” Dejiko menjelaskan dengan was was sedangkan Seis membelakangi kedua orang tersebut.

    “Kalau kalian butuh waktu lebih lama, aku bisa menunggu.”

    “Tidak, tidak. Kami akan segera kembali. Ayo, Kak Dinda.”

    “Om Sher sama Deji duluan saja.”

    Nampaknya Seis masih ingin sendiri. Dejiko memandang ke arah Seis dengan tatapan agak sedih. Sheratan mengamati mereka berdua kemudian tersenyum.

    “Ayo Deji, kita kembali duluan.”

    “Ah, baik.”
     
    Last edited: 14 May 2015
    s4skiazh, Sheratan and Kuro Nami like this.
  3. Sheratan

    Sheratan Parental Advisory Staff Member Uploader Donatur Event Winner VN Development Team Masa Latihan

    3.728
    738
    248
    Ini Deji memang pengarang top deh. Dikau buat fanfic aja, dijamin banyak penggemarnya.

    Serius ene.
     
  4. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    Chapter 3 - No Puppet
    (Part 1)

    BAAMM!!!

    Hana membuka pintu dengan keras. Ia masuk ke dalam sebuah ruangan kecil yang masih nampak gelap, meski ini sudah jam 06.30 pagi. Satu-satunya penerangan hanyalah cahaya biru redup yang berasal dari biasan kain gorden jendela. Ia berjalan menuju jendela tersebut, menaiki tempat tidur yang merapat dengan jendela, lalu membuka kain gorden dengan cepat. Cahaya putih matahari pagi merambat ke dalam kamar ini bersama dengan suara-suara dan kehangatannya. Di dekat Hana, nampak ada seseorang yang tertidur di atas kasur tersebut, namun seluruh tubuhnya, kecuali kepala, tertutup oleh selimut.

    Hana menaiki tubuh pria itu seperti menaiki seekor kuda, bahkan ia juga mengerak-gerakan tubuhnya naik turun seperti seorang koboi.

    “Bangun Paman! Pamaaan!! Paman…… Bangun Paman!! Pams! Pa~ama~an!! PAMAN!! Paman Paman Paman! Paman Bangun! Paman! Ihh… Paman! Cepat Bangun, Paman!”
    “S-Stop! Hana, ya, aku sudah bangun.”
    “Buka dong matanya.”
    “Iya, tunggu sebentar lagi.”
    “Lama!! Ayo cepat bangun!” Hana melakukan gerakan koboinya lagi.
    “I-Ini aku sudah buka mata. Lihat.”
    “Nah, gitu dong. Hhe. Kan Paman sendiri yang kemarin minta dibangunin pagi.”
    “Iya, tau kok. Makasih ya.”
    “Sama-sama.” Ucap Hana tersenyum.



    “Eng… bisa kau turun?”
    “Oh, iya. Maaf.”

    Tanpa sengaja, Hana meraba sesuatu yang aneh di sekitar kaki Sheratan.

    “Eh, apa ini?”
    “Tung─, Jangan pegang!”

    Tanpa mendengarkan ucapan Sheratan, Hana mencoba mengidentifikasi objek misterius pada tangannya tersebut. Bentuknya mungkin silinder, agak panjang, ujung depannya tumpul tetapi ujung belakangnya melingkar seperti bola.

    “Ah, jangan-jangan ini…” Sepertinya Hana tahu apa yang sedang dirabanya.

    Hana bergerak mundur, kemudian masuk ke dalam selimut.

    “Hey, Hana! Hentikan. Aku malu tahu.”
    “Ya, ampun Paman…”

    Hana keluar dengan memegang mic.

    “Habis karaoke-an ya semalam?” Hana terkikik.
    “Tidak. Aku sedang membuat tutorial… yah, kalau kujelaskan kau takkan mengerti. Ini bagian dari pekerjaan.”
    “Oh, begitu.”

    Hana turun dari kasur.

    “Ibu sudah membuatkan sarapan. Aku meletakannya di meja makan.”
    “Wah, aku jadi nggak enak sama ibumu.”
    “Sudahlah. Cepat Paman siap-siap.”

    Hana pergi keluar. Sheratan merapikan tempat tidurnya, kemudian berjalan keluar. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya sambil menguap. Sheratan melepas pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Seusai mandi, ia kembali ke kamarnya untuk berpakaian lalu pergi ke ruang tamu, tempat dimana Hana menunggu dan juga makanan dari Ibu Hana tersedia. Hana menyadari kehadian Sheratan, namun ia tetap fokus pada acara TV yang disaksikannya, walaupun hanya acara berita.

    “Hm… enak nih.”
    “Buruan makan, nanti telat lho.”

    Sheratan memulai sarapannya. Setelah beberapa suap, Hana berbalik.

    “Aku bantu Ibu masak itu lho.”
    “Oh, ya? Yang mana?”
    “Tebak aja.”
    “Hm… semuanya enak sih. Sekarang Hana pinter masak ya. Padahal baru belajar, kan?”
    “Hehe… iya dong.”

    Sheratan melanjutkan makannya.

    “Hari ini pergi bareng lagi?” Tanya Sheratan.
    “Iyah.”
    “Oh, ok.”

    Setelah selesai makan, Sheratan meletakan piring-piring itu di dapurnya. Ia berencana mencucinya dulu sebelum mengembalikannya ke rumah Hana.

    Sheratan dan Hana pergi bersama. Hana pergi ke sekolah sedangkan Sheratan pergi ke tempat kerjanya. Setelah keluar rumah, mereka berjalan menuju halte bus dan menaiki bus yang datang. Ketika pagi hari, biasanya bus sudah ramai, namun tidak sampai penuh. Pada pemberhentian pertama, Hana pergi turun.

    “Dadah.”
    “Hati-hati.”

    Hana berdiri di luar. Ia melihati kepergian bus yang membawa Sheratan tersebut. Setelah hilang dari pandangan, ia berlanjut berjalan kaki ke sekolah

    *-*

    Pada jam pulang sekolah, Hana memiliki tempat spesial yang biasa ia datangi. Tetapi, sebelum itu, ia turun ke koridor tempat anak kelas dua. Ia melihat ke dalam salah satu kelas, mengobservasi setiap ruangan menggunakan matanya, lalu menghela nafas.

    “Mungkin dia sudah duluan.”

    Hana terus berjalan, dan agak jauh karena ia harus keluar menuju gedung lain. Ia memasuki gedung ruang klub, menaiki tangga, lalu memasuki salah satu ruangan.

    “Halo semuanya~!”
    “Halo, Hana.”
    “Selamat siang, Kak Hana.”

    Yang menyambut kedatangan Hana adalah dua orang di dalam ruangan tersebut, seorang laki-laki dan perempuan. Mereka berdua duduk di depan meja besar yang berada di tengah ruangan tersebut. Meja itu memiliki 3 kursi di kiri dan kanannya. Hana mendekati si anak laki-laki, yang duduk paling dekat dengan pintu masuk.

    “Mie instan, Dej?”
    “I-Iya.”

    Hana mengomentari mie instan yang sedang diseduh Dejiko di depannya. Lebih tepatnya, sekarang Dejiko sedang menunggu hingga mie tersebut matang.

    “Jangan keseringan. Itu nggak sehat.”
    “Baik.”

    Hana berjalan menuju sebuah meja kecil yang berada agak di ujung ruangan. Kursi pada meja tersebut membelakangi jendela dan menghadap ke arah pintu masuk dan meja besar. Dari kursi itu, ia dapat melihat kedua temannya.

    “Hai, vanti.”
    “Hai.” Jawabnya sungkan.

    Shirayuki nampak sedang membaca komik shoujo kesukaannya. Tetapi tidak seperti kebanyakan orang, ia tidak begitu terlarut pada komiknya. Ketika seseorang tiba-tiba mengajaknya berbicara, ia merespon dengan baik, bahkan menatap lawan bicaranya.

    “Oh, iya. Mbakem nggak kesini? Tadi aku pergi ke kelasnya ia sudah nggak ada.”
    “Nggak. Tadi saya yang pertama kesini dan pintunya masih terkunci.”

    Tiba-tiba saja, orang yang dimaksud pun datang.

    “Hai.”
    “Lho, Mbakem… dari mana?” Atas suatu alasan, Hana bertanya agak canggung.
    “Tadi ada keperluan sebentar dengan seseorang.”
    “Eng, trus…. Kenapa bawa sekop?”

    Seis tersenyum angkuh. Ia menggerakan kacamatanya.

    “Kalian tahu gak? Sekop merupakan senjata permulaan yang dipakai oleh Dean Spark, main chara game Wild Arms 5. Ia memiliki damage dan critical yang lebih tinggi daripada pistol. Mottonya Dean adalah ‘Tidak ada yang mustahil selama kau tidak pernah menyerah’.”

    Seis menoleh ke arah mie instan Dejiko.

    “Mie instan, Dej?”
    “I-Iya.”
    “Bikin satu lagi.”
    “Baik.”

    Dejiko beranjak dari kursinya dan membuka lemari kecil di belakangnya. Ia mengambil segelas mie instan, membuka separuh segel plastiknya, mengeluarkan bumbu-bumbunya, dan menuangkan air panas. Selagi Dejiko sedang menyiapkan mie instan, seseorang mengetuk pintu dari luar. Pintu tersebut sudah terbuka sehingga semuanya bisa melihat seorang perempuan berdiri di sana. Ia mengetuk hanya untuk menyadarkan kehadirannya.

    “Permisi, ketua klubnya ada?”
    “Eh, ada apa ya?.” Hana berdiri lalu berjalan mendekati tamunya.
    “Oh, Hana. Gini, kalian klub peneliti animanga ada rencana bikin stand gak buat acara sekolah nanti?”
    “Eng…”

    Hana menoleh ke arah teman-teman klubnya.

    “Gimana teman-teman? Mau bikin stand gak?”
    “Boleh sih. Tapi kita belum bahas mau bikin apa?”
    “Maaf ya, bisa kasih waktu sebentar?” Ucap Hana pada perempuan tersebut.
    “Ya, boleh. Kalau sudah fix, besok langsung kabarin aku di kelas, ya.”
    “Makasih, Madoka.”

    Madoka melambai pergi ke arah Hana.

    Rapat klub peneliti animanga untuk membahas stand acara sekolah dimulai.

    “Oke, siang ini kita akan membahas mengenai apa yang akan diberikan klub peneliti animanga pada acara sekolah nanti. Ini Sidik mana pula?” Tanya Hana agak geram
    “Masih ngeladur kali.” Jawab Seis ketus. Kemudian menyerup mie nya.
    “Hee…”
    “Yasudah, jadi ada saran, nggak?”
    “… mau bikin komik… lagi?” Saran Shirayuki agak canggung. Ia menunduk dan menenggelamkan bibirnya ke dalam syal yang ia kenakan.

    Pada tahun sebelumnya, mereka pun juga memberikan komik pendek.

    “Boleh. Aku nggak keberatan.”
    “Tapi…”

    Semua orang menatap ke arah Hana, yang sepertinya kurang menyetujui ide tersebut.

    “Kenapa, Mbakem?”
    “Kalau kita bikin komik, aku jadi gak bisa ngapa-ngapain lagi dong.”

    Ketiga orang yang lain saling bertukar pandang.

    “Jangan khawatir, Kak Hana. Saya juga nggak bisa gambar kok.”
    “Tapi Deji kan yang bikin ceritanya. Sedangkan aku bisa apa? Aku gak bisa bantu kalian. Padahal aku ketua di klub ini.”
    “H-Hee… maafkan saya.”

    Sepertinya cukup repot bagi mereka memiliki ketua yang baperan. Padahal mereka tidak pernah berpikir kalau Hana itu tidak bisa membantu.

    “Ah, maaf. Jangan pikirkan aku. Kalau kalian memang setuju untuk bikin komik lakukan saja. Aku akan memberi komentar hasil pekerjaan kalian.” Hana mencoba menghibur anggota klub yang lain. Ia menyadari kalau apa yang ia ucapkan barusan tidak baik.
    “Tapi, waktunya cuma dua minggu. Sempat gak ya?” Ucap Shirayuki.
    “Sebenarnya kalau ada Kaji-nee lebih gampang sih. Tapi dia lagi sibuk ngejar deadline.”
    “Baiklah, sudah diputuskan! Kita akan membuat komik!” Ucap Hana semangat. “Nanti aku juga coba hubungi Kajika. Mungkin dia bisa ngebantu kita di tengah-tengah kesibukannya.”
    “Em, anu… Saya boleh pulang duluan, gak?” Ucap Dejiko.
    “Oh, mau jemput Sena, ya?” Tanya Hana.
    “Iya. Ah, kalau saya bilang kita mau bikin komik, pasti Sasa bakal senang buat membantu.”
    “Ya ya! Kalau ada Dek Sena, ako jadi semangat.”
    “Karena rapatnya sudah selesai, sebaiknya kita semua juga pulang.”

    Mereka semua membereskan ruangan, lalu mengambil tas masing-masing.

    “Gyaah… aku juga mau jemput Dek Sena di sekolahnya. Tapi aku gak mau pulang sekolah bareng Deji. Gimana ini!”

    Seis mengacak-acak rambutnya, sedangkan Deji, syok.

    “S-Sebaiknya saya bergegas supaya nggak bikin Sasa nunggu terlalu lama. Dadah semuanya.” Dejiko berlari meninggalkan mereka.
     
    s4skiazh likes this.
  5. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    Chapter 3 - No Puppet
    (Part 2)

    “Ndi…”
    “Apa?”
    “Coba cek kesini bentar.”

    Sheratan penasaran kenapa Dango memanggilnya. Ia pun berjalan mendatanginya dan melihat ke arah layar komputernya.

    “Menurut lo kalau pengaturannya begini gimana?”

    Sheratan mengamati dengan seksama.

    “Ngutak-atik script, ya? Itu apa gak terlalu rumit? Pengalokasiannya gimana?”
    “Itu sih gampang. Setelah gw perhatiin, kalau kita pakai drive kapasitas yang besar, pelayanannya juga bisa lebih banyak.”
    “Tapi kalau terlalu banyak kan tetap boros. Kebanyakan klien maunya yang ringan simple doang.”
    “Nggak diborosin. Kita tetap pakai perbandingan yang seperti biasa untuk nentuin service. Cuma untuk yang ini, khusus high-class user. Kebanyakan pemiliki saham besar biasanya nggak peduli dengan biaya, yang penting situs mereka aman, trus cepat.”
    “Iya juga sih. Tapi pastinya rangkaian ini bakal mahal banget, kan?”
    “Soal itu kan bisa ditutupi pakai garansi atau free maintenance.”
    “Hmm… oke deh. Nanti coba gw bicarain sama bos.”

    Sheratan kembali ke meja kerjanya. Smartphone diatas mejanya tiba-tiba berbunyi. Ia melihat siapa yang menghubunginya, kemudian ia tersenyum. Ia menerima panggilan tersebut.

    “Halo…… Lagi di kantor….. Mungkin sebentar lagi…… Oh, iya. Masuk aja……Iya…… Iya…… Hahaha, oke. Dah.”

    Sheratan menutup panggilan. Ia melihat ke arah jam, mematikan komputernya, membereskan mejanya, dan mengambil jaketnya.

    “Riz, gw duluan ya.”
    “Oke, sip. Gw bentar lagi juga cabut.”

    *-*

    “Mbakem, tahu gak? Nanti malam ada parade lho.”
    “Parade apa?”
    “Malam ini kan ulang tahun kota. Bakal ada perayaan di jalan dekat alun-alun. Tadi di kelas aku sama vanti sudah janjian mau pergi bareng. Deji katanya juga mau ikut ngajak Dek Sena.”
    “Ah, kayaknya seru. Aku juga mau ikut kalian.”
    “Mbakem gak ngajak Om Sher?”

    Wajah Hana memerah. Ia langsung membayangkan pergi ke perayaan berdua bersama Sheratan.

    “Eh, ah, entahlah. Akhir-akhir ini Paman selalu sibuk. Aku gak tahu malam ini dia punya waktu apa nggak.”

    Seis tersenyum kecil, namun nampak agak dipaksakan.

    “Mbakem, menurutku… sebaiknya kau tidak boleh terlalu banyak berharap.” Ucap Seis tanpa memandang ke arah wajah Hana, meskipun mereka berdiri saling bersebelahan.
    “Apa maksudnya?”
    “Kau tahu sendiri, kan? Om Sher itu sudah…”
    “Bicara apa, Mbakem? Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu. Buatku Paman itu cuma orang yang baik. Cuma itu saja.” Ucap Hana dengan senyum kecil.

    Sekarang Seis benar-benar tampak sedih.

    “Aku ingin sekali membantumu. Tapi di sisi lain, aku tidak ingin melihatmu hancur.”

    Keheningan menyelimuti kedua orang tersebut. Setelah cukup lama menunggu di halte bus, sebuah bus pun akhirnya datang. Dari luar, mereka berdua dapat melihat Sheratan yang duduk di samping jendela. Sheratan pun juga menyadari kehadiran mereka dan melambai dari jendela.

    “Aku jalan kaki saja.” Ucap Seis sambil langsung berjalan meninggalkan Hana.

    Hana nampak kebingungan antara menaiki bus atau mengejar Seis. Dan kemudian ia memilih untuk menaiki bus. Hana duduk di kursi kosong di samping Sheratan.

    “Loh? Seis gak ikut naik bus?”
    “Nggak.”
    “Kenapa?”
    “Eng… Entahlah.”
    “Gak berantem, kan?”
    “Nggak kok. Aku sama Mbakem itu selalu akur.”

    Sepanjang perjalanan Hana menceritakan tentang aktifitasnya di sekolah kepada Sheratan. Mulai dari hal lucu yang terjadi di kelas, sampai mengenai klubnya yang ingin membuat komik.

    “Berjuanglah, Ketua Klub Hana.” Puji Sheratan.
    “Hehe… kalau Paman yang memberi semangat, aku jadi lebih lebih semangat.” Hana mengepalkan tangannya.

    Mereka turun di pemberhentian berikutnya. Dari tempat ini, mereka perlu berjalan sebentar hingga mencapai rumah mereka.

    “Em, Paman. Malam ini ada parade. Paman sudah tahu belum?”
    “Belum. Oh, ulang tahun kota, ya? Hana mau pergi ke sana?”
    “Iya sih. Tapi kalau bisa… sama Paman.”
    “Sama aku?”

    Hana menganguk. Kedua tangannya menggenggam tangan kiri Sheratan.

    “Malam ini Paman sibuk, gak?”
    “Aku sih selalu sibuk. Juga kesibukanku biasanya datang dadakan.” Sheratan berucap dengan nada mengejek.
    “Yasudah─!”
    “Tapi kalau demi Hana…” Sheratan menunjukkan tatapannya yang berseri pada Hana “Aku mau deh.”

    Hana merona. Ia tak berkata apa-apa, kemudian tersenyum bahagia.

    “Yey! Yey! Paman baik. Janji ya, Paman.” Hana menunjukkan jari kelingking kanannya.
    “Iya. Aku janji.” Sheratan mengikat jari kelingking Hana dengan jari kelingkingnya sendiri, kemudian menggoncangnya sekali sebelum melepasnya.

    Hana memeluk tangan kiri Sheratan dengan erat. Jalan menuju rumah mereka ini memang sering sepi sehingga Hana tidak perlu malu karena dilihat orang. Sedangkan Sheratan, mungkin sudah terbiasa akan sifat kekanak-kanakan Hana. Mereka berdua masuk ke dalam rumah Sheratan.

    “Aku pulang.”

    Hana merasa aneh dengan Sheratan yang mengucapkan salam ketika masuk rumah, padahal ia tinggal sendiri. Tapi hal itu terjawab ketika ia melihat di teras dalam, terdapat sepatu perempuan.

    “Selamat datang.”

    Sambut suara lembut seorang perempuan dari dalam rumah. Hana langsung melepas pelukan tangannya dari Sheratan sebelum perempuan itu melihat. Perempuan itu mendatangi Sheratan dan mencium tangannya Sheratan.

    “Eh, ada Hana juga.”
    “Selamat siang.”
    “Hmh, baunya enak.” Nampaknya Sheratan menyadari sebuah aroma masakan.
    “Kamu belum makan, kan? Ayo cepat ganti baju, terus makan. Hana mau ikut makan?”
    “Enggak, makasih. Aku mau langsung pulang saja.”

    Hana langsung beranjak pergi.

    *-*

    Seharian Hana berdiam di kamarnya. Ia terbaring di atas kasur dan menutupi wajahnya dengan bantal.

    “Mbakem, menurutku… sebaiknya kau tidak boleh terlalu banyak berharap.”Ucapan Seis tadi siang terngiang di kepala Hana.

    “Iya. Aku janji.” Hana pun juga teringat akan janjinya malam ini dengan Sheratan. Ia melihat jam dinding di kamarnya, waktu menunjukkan pukul enam kurang sepuluh menit.

    “Paman masih ingat gak ya dengan janjinya?”

    Entah bagaimana muncul keraguan di dalam hati Hana. Ia mengambil Smartphone dan mengetik pesan pada akun Lime Sheratan. Nampaknya mereka berdua dulu pernah chattingan sebelumnya. Terlihat dari preview post beberapa hari yang lalu dimana mereka membahas sesuatu yang tidak terlalu penting. Pada kolom chat, akun Hana menggunakan DP sebuah bunga 2D berwarna pink, sedangkan Sheratan menggunakan DP Yuki Nagato yang seperti sedang foto KTP.

    1 menit… 2 menit… Hana masih memikirkan apa yang sebaiknya ditulis. Ia menulis sebuah kalimat, lalu menghapusnya, berguling-guling di kasur, menulis lagi, lalu menghapus lagi. Hingga ia akhirnya mengirim dengan pesan bertuliskan “Pams, malam ini jadi, kan? Paradenya…”. Pesan balasan dari Sheratan muncul dengan cepat. Ia membalas “Iya. Aku tanya temenku, katanya paradenya dimulai jam 8. Kita berangkat jam 7 aja.”.

    Hana tersenyum dan membalas “Okee~ =DD”. ia senang karena Sheratan masih mengingat janjinya.

    Hingga pada waktu yang dijanjikan, Hana telah bersiap-siap. Ia sudah mandi menggunakan sabun dan shampoo yang banyak, memilih pakaian yang manis, juga menyisir dan mengikat kecil rambut kirinya. Ia melihati Smartphone miliknya dan ternyata ada dua panggilan tak terbalas dari Sheratan, dan juga sebuah pesan masuk Lime.

    “Hana, maaf, aku ada panggilan mendadak dari kantor. Tapi gak usah khawatir, kamu pergi aja duluan. Nanti kita ketemu di alun-alun.”

    Hana terdiam. Ia tidak dapat membalas apa-apa. Ia menutup matanya dan meyakinkan diri kalau semua akan baik-baik saja. Saat Hana pergi keluar, ia melihati rumah Sheratan yang nampak gelap dari luar, lalu terus berjalan menuju halte bus. Biasanya Hana bukan tipe cewek yang bisa pergi ke tempat jauh malam-malam sendirian. Tapi kali ini ia tampak tenang, tanpa senyum di wajahnya, agak murung.

    Hampir satu jam perjalanan menuju jalan alun-alun menggunakan bus. Setelah turun dari bus, Hana berjalan menuju tempat dimana orang-orang banyak berkumpul dan jalan raya terlihat lebih terang. Hana berada di dekat sebuah taman yang memiliki tiang jam. Waktu menunjukkan pukul delapan tepat. Dari arah jalan raya, Hana menyadari kedatangan Marching Band yang memukul-mukul alat musiknya dengan sangat keras. Orang-orang bersorak, dan Hana hanya duduk mengamati mereka dari belakang dengan tenang, ekspresi yang datar. Hana duduk di sebuah kursi dekat tiang jam tersebut.

    “Pukul 8 lewat 5 menit…… suara marching band masih terdengar. Drum, trompet, dan simbal, semua suara menjadi satu.”

    “Pukul 8 lewat 15 menit…… para penari tongkat melempar-lempar tongkat mereka ke udara. Aku harap akan ada tongkat yang bertabrakan dan jatuh. Namun tidak terjadi.”

    “Pukul 8 lewat 30 menit…… sebuah kendaraan besar seperti kereta tanpa atap melewati jalan raya. Orang-orang berkostum berdadah-dadah dari atas sana. Memang siapa mereka?”

    “Pukul 8 lewat 50 menit…… sekumpulan orang menyemburkan api dari mulutnya ke udara. Kalau api tersebut membakar sesuatu tanpa sengaja pasti lebih heboh.”

    Hana mengecek Smartphone-nya. Ia berpikir untuk mengecek apakah ada kabar dari Sheratan, tetapi baterainya habis dan tidak mau menyala. Hana menyimpannya kembali ke dalam tas kecilnya.

    “Pukul 9 lewat 5 menit…… barisan parade tanpa henti terus berlanjut. Sebenarnya kapan mereka akan berhenti?”

    Hana mengangkat kakinya dan duduk sambil memeluk lutut.

    “Pukul 9 lewat 15 menit…… Mbakem dan teman-teman katanya juga pergi ke tempat ini. Haruskah aku mencari mereka? Gak deh. Aku kan janjiannya bukan bareng mereka.”

    “Pukul 9 lewat 25 menit…… barisan parade berakhir. Tapi sekarang mereka menampilkan kembang api. Aku yakin setelah ini pasti sampah-sampah kota akan semakin banyak.”

    Hana menenggelamkan wajahnya di dalam pelukan antara tubuh dan kakinya. Sesekali ia mengangkat kepalanya untuk melihat jam.

    “Pukul 9 lewat 30 menit…… orang-orang tertawa riang. Apa kalian menertawakan diriku? Menyebalkan sekali.”

    “Pukul 9 lewat 40 menit…… beberapa gerobak jajanan pinggir jalan melintas di depanku. Kudengar di berita, 70% penjual jajanan menggunakan bahan kimia berbahaya sebagai bahan makanan.”

    “Pukul 9 lewat 45 menit…… aku mulai mempertanyakan apa yang kulakukan di tempat ini? Mungkin saja karena parade telah selesai, Paman berpikir aku sudah pulang. Lagipula dia kan memang selalu pelupa.”

    “Pukul 9 lewat 50 menit…… tadi siang Mbakem berkata kalau ia tidak ingin melihatku hancur. Menurutku itu perkataan yang aneh, tapi mungkin, kehancuran itu sedang kurasakan sekarang. Dunia terasa berputar-putar dan mempermainkanku.”

    “Pukul 9 lewat 55 menit…… aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Aku ingin pergi, tetapi aku juga tidak ingin pergi. Aku ingin mempercayainya, tetapi aku menolak bahwa aku telah dikhianati. Aku ingin membuang perasaanku, tetapi aku juga ingin menyimpan perasaanku sebagai harta yang tak ternilai. Walaupun sakit, tetapi aku melakukan semua ini karena cinta. Seluruh tubuhku terasa membeku dan mataku serasa ingin menangis.”

    “Pukul 10…… sudah dua jam berlalu sejak aku menunggunya. mungkin saja sebenarnya Paman sedang pergi bersama Kak Nani. Dan dia mencoba untuk membohongiku. Apa boleh buat. Tapi… bukankah Paman sudah berjanji padaku? Lalu kenapa, Paman? Apakah ini jawabanmu? Sebenarnya dimatamu, kau melihatku sebagai apa, Paman? Kau begitu baik padaku. Janji manismu seperti tali dan aku adalah boneka yang bergerak karena tali tersebut. Tetapi meski begitu… kumohon… kumohon, walau hanya sedetik… aku ingin merasakan kehadiranmu.”

    “Hana!”

    Sebuah suara pria memanggil Hana tepat dihadapannya. Suaranya diiringi sebuah engahan seseorang yang kelelahan setelah berlari panjang. Hana mengangkat wajahnya. Dihadapannya, Sheratan sedang tertunduk, kedua tangannya berpangku pada lutut kaki yang terbuka lebar. Mulutnya terbuka lebar untuk menarik nafas. Tetapi ia tetap berusaha untuk bicara.

    “Maaf. Ketika aku kemari dari kantor, busnya terkena macet satu jam lebih. Aku langsung turun di tengah jalan dan berlari kemari. Aku terus menghubungimu tetapi kau tidak membalas. Aku terus mencarimu di tengah keramaian ini.”

    Sheratan terus terengah-engah. Ia masih sangat kelelahan, terlihat dari keringatnya yang bercucuran. Sedangkan Hana, ia masih terkejut melihat Sheratan muncul di hadapannya. Mulutnya sedikit terbuka dan matanya berkaca-kaca.

    “Syukurlah aku bisa menemukanmu. Maaf telah membuatmu menunggu di tempat ini sendirian. Aku tahu sebenarnya kau tidak suka keluar malam-malam sendirian, benar kan?”

    Air mata Hana mulai tidak terbendung. Ia menangis dengan suara keras.

    “Hwaaa…!!! Paman! Hiks… Hiks… HUWAAA!!!”

    Sheratan membersihkan keringat di wajahnya. Ia merapatkan jaketnya lalu menunduk dan memeluk Hana.

    “Maaf ya… aku sudah jahat padamu. Maafkan aku.”

    *-*

    Mungkin, aku tidak tahu bagaimana kau melihatku. Mungkin, saat ini matamu tidak sedang memandangku. Dan mungkin, sejak awal aku memang sudah tidak punya harapan lagi. Tapi, kau tahu, Paman? Bagiku itu semua tidak masalah. Yang kuinginkan hanyalah agar aku bisa terus mencintaimu. Agar setiap hari-hariku dipenuhi oleh kebaikan dirimu. Agar aku bisa terus melihat wajahmu, yang membuat hatiku selalu tenang.

    Kau mengajariku bagaimana rasanya mencintai seseorang. Kau mengajariku bagaimana rasanya memiliki orang yang spesial. Semua ini, adalah perasaan berharga yang ingin selalu kukenang.

    Akan ada saat di mana hatiku akan terasa sakit atas tindakanku ini. Tetapi selama aku dapat menahannya, aku akan tetap berjuang. Aku akan tetap menjadi orang yang mengejarmu.

    Hingga suatu saat nanti, aku bisa mencari cinta yang lain.
     
    Last edited: 25 July 2015
    s4skiazh likes this.

Share This Page