[Orific] No Friend

Discussion in 'Tulisan' started by Dejiko, 21 September 2015.

  1. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    No Friend

    Genre :
    Romance, Slice of Life, Reality-ship-based-fiction

    Rated :
    +13

    Character :
    Sheratan, Hana

    ========================================================================================
    #HeartBreakerChallange
    Juga merupakan bagian dari No Title Series, Serial nomer 3
    ========================================================================================
    Chapter 1 - No Friend

    Classic Academy, sebuah sekolah yang berorientasi pada pelajaran musik dan hanya orang-orang kaya tertentu atau siswa berbakat saja yang mampu bersekolah di sana. Sekolah ini telah melahirkan banyak musisi dan komposer muda yang telah berkarir di jenjang internasional. Meski merupakan sekolah musik, tetapi tingkat kurikulum di sekolah ini tetap ketat dan berakreditas tinggi layaknya sekolah-sekolah favorit. Sehingga hanya yang berbakat dan jeniuslah yang bisa berada di sekolah ini.

    Sebuah mobil limusin berhenti di depan gerbang besar sekolah. Sang sopir wanita bergegas keluar dan membukakan pintu belakang mobil. Dari pintu itu, turunlah seorang siswi yang memakai seragam Classic Academy.

    “Terima kasih.” Ucapnya lembut sambil berjalan lurus ke arah sekolah.

    Ketika memasuki gerbang, para siswa-siswi yang menyadari kehadirannya langsung memberi salam dengan santun.

    “Selamat pagi, Nona Hana.” Ucap setiap orang yang berada di sekitar siswi yang bernama Hana tersebut.

    Layaknya seorang putri yang turun dari kereta kuda, Hana berjalan dengan anggun, tersenyum, dan membalas sapaan semua orang yang telah menyapanya. Setelah Hana berjalan cukup jauh, para siswa-siswi yang ada di belakang saling merumpi.

    “Nona Hana benar-benar luar biasa. Auranya sungguh berbeda dibanding kita semua.”
    “Ia cantik, manis, sifat dan suaranya lembut, pintar, pokoknya sempurna deh.”
    “Apalagi Nona Hana anak dari orang kaya yang menjadi sponsor terbesar sekolah ini.”
    “Pantas saja dia dikagumi. Aku sangat iri.”
    “Bukan cuma karena itu. Kudengar Nona Hana mendapat penghargaan di audisi internasional.”
    “Bahkan di sekolah ini ia selalu berada di posisi teratas di setiap ujian.”
    “Benar-benar seperti dewi yang turun ke bumi.”

    Pada pelajaran bahasa inggris…

    Di akhir jam, guru membagikan hasil ulangan mereka.

    “Hey, Hana!” seorang siswi berjalan mendekati Hana yang sedang duduk di mejanya memegang kertas ulangan. “Pada ujian kali ini, aku, Dekina, nilaiku pasti lebih tinggi darimu!” Ucap Dekina sambil memperlihatkan kertas ujian dengan nilai 99. Kacamatanya bersinar terkena cahaya matahari.

    Ia berjalan kebelakang Hana. Ia terkejut melihat bahwa Hana mendapat nilai 100 pada ujian kali ini.

    “S-Seratus! Hahaha… sainganku memang hebat. Selanjutnya aku tidak akan kalah darimu. Hahaha…” Dekina pergi sambil tertawa.

    Tiga orang siswa berlari mendekati Hana.

    “Wah, nilai sempurna.” “Hebat sekali, Nona Hana!” Ucap mereka.
    “Ah, tidak. Aku hanya beruntung saja kok.”

    Pada pelajaran renang…

    Hana berada di posisi pertama dalam balapan renang. Setelah mengambil nafas sebentar, ia naik melalui tangga kolam. Setelah naik, Hana mengulurkan tangannya pada siswi lain yang juga berlomba dengannya.

    “Sini kubantu, Nona Septa.” Ucap Hana.
    “T-Tidak apa-apa kok.” Siswi bernama Septa itu naik tanpa menerima uluran tangan Hana. Kemudian ia berjalan pergi.

    “Nona Hana hebat sekali. Bisa mengalahkan Septa yang tim renang itu.”
    “Ah, tidak. Aku hanya beruntung saja kok.”

    Pada pelajaran bernyanyi…

    Seluruh kelas menjadi penuh keheningan. Pada saat ini Hana sedang menyanyikan O Mio Babbino Caro milik Giacomo Puccini. Suara rendahnya melembutkan hati dan suara tingginya memecah jiwa. Guru musik mereka bahkan tidak dapat membendung air matanya.

    Sekolah pun berakhir. Hana berjalan menuju gerbang keluar dan seperti biasa, para siswa menyapanya sepanjang jalan. Tapi jumlah mereka lebih sedikit daripada ketika pagi karena Hana pulang di jam yang lebih lama dari siswa lainnya.

    “Sampai jumpa, Nona Hana.”
    “Hati-hati ketika pulang, Nona Hana.”

    Hana berjalan dengan anggun dengan membawa tas sekolahnya di depan paha. Ketika Hana sudah berada di luar pagar, ia bertabrakan dengan seorang pria. Ia terjatuh ke belakang dan tasnya terlepas dari genggamannya. Isi tas Hana yang kebanyakan kertas musik terhambur di tanah.

    Prolog

    Aku diberitahu oleh guruku kalau kepala sekolah ingin bertemu denganku di kantor. Aku memberi salam lalu masuk ke dalam ruang guru, berjalan menuju pintu ruangan kepala sekolah yang tertutup rapat. Aku mengetuk pintu tanpa menyebut namaku lalu terdengar suara silahan kepala sekolah yang memperbolehkanku masuk. Ia nampak senang melihat kedatanganku dan mempersilakanku duduk di sofa.

    “Kamu Sheratan, ya?”
    “Iya pak.”
    “Nah gini Dek, ini ada surat undangan beasiswa untuk kamu.” Kepala sekolah memberikan amplop padaku.
    “Saya dapat beasiswa?” Tanyaku agak terkejut.
    “Iya, tapi bukan di sekolah ini.”

    Aku tidak mengerti. Apa artinya aku akan pindah sekolah? Ketika kulihat amplop yang cukup mewah tersebut, aku melihat tulisan Classic Academy.

    “Jangan-jangan… Classic Academy?”
    “Iya, benar.”
    “Bagaimana bisa?”
    “Kau ingat dengan kemenanganmu pada lomba biola tingkat SMA minggu lalu? Rupanya Presdir sekolah tersebut tertarik padamu dan ingin agar kau bersekolah di tempatnya selama satu tahun ini. Dan kau akan mulai bersekolah di sana besok. Ini pakaian dan buku-buku yang kau butuhkan.” Kepala sekolah menunjuk pada pakaian dan buku-buku yang tertata rapi di atas meja. Awalnya ketika pertama kali masuk, aku bertanya-tanya barang apa ini, ternyata itu tujuannya.

    Pada pagi ini aku diizinkan untuk langsung pulang, sambil membawa barang-barang tersebut.

    Siang hari, aku pergi menuju sekolah tersebut. Karena tempat yang jauh dari rumahku, aku pergi sambil membawa peta. Aku tidak ingin menaiki angkutan umum karena tidak ingin membebani keuangan keluargaku. Setelah sekitar dua jam aku berjalan dan bertanya-tanya pada orang sekitar, akhirnya aku dapat menemukan destinasi utamaku, Classic Academy.

    “Hmm… kalau dipikir-pikir tempat ini jauh juga ya. Ada sekitar dua jam aku menyusuri jalan. Tapi asalkan sudah tahu tempatnya, satu jam jalan kaki pun sepertinya bisa kutempuh.”

    Aku bergumam sendiri sambil berjalan melihati peta. Tetapi tanpa sadar aku menabrak gadis yang baru saja keluar dari depan gerbang.

    End prolog

    Dengan buru-buru aku bangkit dan merapikan isi tasnya. Aku mendekati gadis itu dan mengulurkan tanganku.

    “Hey, apa kau tidak apa-apa? Apa kau terluka?”
    “Aku baik-baik saja.”

    Tidak kusangka gadis yang kutabrak begitu manis. Aku hampir sungkan memberi uluran tanganku tapi tangan mungilnya sudah menggenggam halus tanganku untuk berdiri.

    “Terima kasih, Tuan.”

    Tuan? Apa aku nampak setua itu?

    “I-Ini tasmu.” Kuberikan tasnya yang terjatuh setelah membersihkannya.
    “Oh, iya. Terima kasih lagi. Dan maaf telah menabrak Anda barusan.”
    “Tidak, tidak. Itu salahku karena tidak lihat-lihat ketika jalan. ”
    “Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu.” Ia membungkuk sopan kemudian beranjak.

    Aku pun lanjut berjalan menuju bagian dalam gerbang, tetapi kemudian aku terdiam. Rupanya sekolah ini lebih mewah dari yang kukira. Mulai dari arsitektur gedungnya yang megah, hingga pekarangan taman di sekitarnya yang tertata rapi. Bahkan lantai berbentuk bata merah ini nampak terlalu bagus untuk kuinjak, dan aku hanya terdiam di depan gerbang. Seolah-olah yang ada di depanku adalah dunia lain yang kelasnya sangat berbeda.

    Dibandingkan dengan diriku, memakai sepatu olahraga, tas olahraga, kaos lengan panjang putih berles biru, dan celana jeans biasa. Aku pasti akan dianggap aneh jika tiba-tiba memasuki tempat seperti ini.

    “Tuan?”

    Sheratan menoleh pada panggilan lembut di belakangnya.

    “Apa Anda hendak masuk ke dalam sekolah?” Lanjutnya.
    “Ya, begitulah. Tapi, aku sedikit gugup.” Ucapku agak malu, dan ia tertawa kecil.
    “Apa yang hendak Anda lakukan di sekolah kami?”
    “Aku ingin bertemu kepala sekolah. Oh iya, aku siswa baru yang mulai besok akan bersekolah di sini. Jadi aku berpikir sebelum besok, aku ingin melihat-lihat sekolahnya dulu.”
    “Begitukah? Bagaimana kalau saya mengantar Anda menemui beliau?”
    “Tidak usah. Bukannya tadi kau mau pulang?”
    “Iya benar. Tapi sepertinya jemputan saya masih belum datang. Selagi menunggu, akan lebih baik jika saya menemani Anda masuk ke sekolah.”
    “Baiklah. Terima kasih.”

    Gadis itu berjalan di depan Sheratan, menuntunnya ke dalam sekolah. Sheratan mengikuti sambil melihat-lihat lingkungan sekitar sekolah yang indah itu.

    Penataan yang rapi nan indah memenuhi lingkungan depan sekolah bagaikan taman kota. Pagar rumput yang dipotong rapi, pohon yang terlihat sehat, bangku-bangku panjang dari kayu berukiran unik, dan bahkan ada air mancur serta lampu jalan.

    “Silakan masuk.” Ucap gadis itu ketika aku mencapai depan pintu bangunan sekolah.

    Ia terus mengantarku masuk lebih dalam. Sejenak aku menyadari kalau perjalanan ini agak sepi. Aku bahkan baru sadar kalau aku tidak tahu namanya.

    “Hey, em, namaku Sheratan.”
    “Oh.” Ia berbalik. “Nama saya Fleurishana Nala.”
    “Flo… Fleu… ris?”
    “Saya biasanya dipanggil Hana.”
    “Owh… ya ok. Begini Hana, kau tahu kan kalau aku akan menjadi siswa di sini?”
    “Tentu saja. Anda telah menjelaskannya tadi.”
    “Ya, itu maksudku. Maksudku, kau tidak perlu berbicara terlalu formal padaku.”

    Hana nampak bingung, seolah-olah muncul titik-titik di atas kepalanya. Dan sesaat kemudian titik-titik itu berubah menjadi lampu pijar.

    “Maaf. Apa cara bicara saya mengganggu An─ mengganggumu… Tuan Sheratan?”
    “Sebenarnya... tidak juga sih.”

    Aku merasa mungkin itu adalah cara bicara orang kaya. Mereka yang bermartabat memiliki pola hidup dan tingkah laku tersendiri dalam bergaul. Orang sederhana sepertiku saja yang mungkin belum bisa menyesuaikan diri. Karena memang ini pertama kalinya aku berada di luar zona yang levelnya berada di atasku.

    Kami melanjutkan perjalanan sambil berbincang.

    “Mengapa kamu memilih bersekolah di sini, Tuan Sheratan?”
    “Aku tidak memilihnya. Tadi siang ketika di sekolahku, aku diberitahu kalau aku mendapat beasiswa untuk bersekolah di sini.”
    “Oh, begitu. Kau pasti sangat senang.”
    “Karena itu aku mau berterima kasih pada kepala sekolah di sini yang sudah memberiku beasiswa.”
    “Kalau boleh tahu, bagaimana bisa kau mendapat beasiswa dari beliau?”
    “Katanya sih, dia melihatku pada lomba Violin San Mario minggu lalu.”
    “Oh, jadi kau pemain biola? Apa kau menjadi pemenang audisi itu?”
    “Ya, begitulah.”

    Hana yang tadi berjalan di depanku sekarang agak mundur dan berjalan di sampingku.

    “Saya harap bisa mendengar permainan musikmu, Tuan Sheratan.”

    Melihat Hana yang tiba-tiba berjalan di sampingku membuatku memalingkan wajah untuk menutupi rasa malu. Aku bahkan dapat mencium aroma bunga dari shampoonya.

    “T-Tentu. Nanti aku akan memperlihatkannya padamu.”
    “Terima kasih.”

    Kami sampai di depan ruang kepala sekolah. Tapi terlihat dari kaca pintunya, sepertinya beliau tidak ada di dalam ruangan.

    “Mungkin dia sudah pulang. Lagipula ini sudah sore.” Ucapku sambil melihat ruangan dari balik kaca pintu.
    “Maaf ya, sepertinya… kau tidak bisa bertemu dengannya hari ini.”
    “Tidak apa-apa kok. Aku masih bisa bertemu dengannya besok. Ini sudah sore, Hana sebaiknya juga pulang.”
    “Iya. Mungkin saja jemputan saya sudah tiba. Ayo kita segera kembali ke gerbang.”

    Kami kembali berjalan. Setiap langkah yang kulalui, aku terus memikirkan bahwa aku akan bersekolah di tempat sehebat ini mulai besok, dan itu membuatku gugup. Waktu terasa berjalan lebih cepat dan kami sudah berada di luar gedung sekolah.

    “Sekolah ini terlihat hebat ya?” Ucapku kagum.
    “Benar sekali. Tuan Sheratan, apa kau mau saya ajak berkeliling.”
    “Tentu. Tapi besok saja. Kalau sekarang sudah terlalu sore.”
    "Besok ya..." Hana bergumam kecil.

    “Tuan Sheratan…”
    “Hmm… ada apa?”
    “Besok… Seandainya besok kita bertemu, apakah kau akan menyapa saya?”

    Aku tidak begitu mengerti apa yang ia maksud. Tapi ia mengatakannya dengan nada dan tatapan serius, sedikit sedih. Aku yakin ia tidak bercanda.

    “Jika besok kita bertemu di sekolah, maukah kau menyapa saya?” Ia mengulangi ucapannya.
    “Oh, tentu. Aku pasti akan melakukannya.”

    Hana berjalan di depanku kemudian berhenti. Tangannya ia genggam menggantung di depan tubuhnya. Ia berbalik dan tersenyum.

    “Sampai jumpa besok, Tuan Sheratan.” Hana berlari kecil dan beranjak pergi. Aku melihat dari jauh ia berhenti di depan sebuah mobil limusin hitam. Seorang wanita berpakaian hitam membukakan pintu dan Hana masuk ke dalam.

    “Wah, rupanya ia benar-benar anak orang kaya.”

    *.*​

    Pintu kelas terbuka dan pria yang agak tua berjalan masuk.

    “Oh, bapak kepala sekolah. Ada apa?”
    “Begini, Bu. Saya membawa siswa baru.”

    Pria itu menoleh ke belakang. Aku berjalan masuk mengenakan seragam sekolah Classic Academy.

    “Ohoho… begitu ya.” Guru itu nampak senang.
    “Kalau begitu saya permisi dulu.”
    “Iya. Terima kasih, pak.”

    Kepala sekolah pergi dan menutup pintu.

    “Kalau begitu, Nak, maukah kau memperkenalkan dirimu?”
    “Oh, baik.”

    Aku memperkenalkan diri di depan kelas. Setelah itu aku mendapat tempat duduk di bagian paling belakang barisan tengah. Pelajaran pertama di pagi ini dimulai. Meski tingkat pelajaran di kelas ini sangat berat seperti yang kuduga, tetapi nampaknya aku tetap dapat memahaminya.

    Istirahat pertama, beberapa anak mendekati mejaku. Mereka menanyai asal sekolah, latar belakang, hobi, dan kegiatanku. Aku menyadari bahwa meski di tempat seperti ini, yang namanya sekolah tetap sekolah.

    Pada Istirahat kedua, aku berjalan bersama dua teman yang baru kukenal di dalam kelas.

    “Mau pergi makan siang?” Ucap laki-laki yang bernama Dango.
    “Ya, boleh. Sher, kamu pengen makan apa?” Tanya perempuan yang bernama Kuronami.
    “Aku ngikut saja dengan pilihan kalian.”
    “Ya sudah. Kita jalan ke kantin dulu.”

    Kami bertiga berjalan menyusuri koridor. Tidak lama setelah kami berjalan, aku mendengar suara gemuruh orang-orang dari belakang.

    “Ada ribut apa itu?” tanyaku heran. Dan tiba-tiba Kuronami menarik tanganku untuk bersandar di sisi koridor.
    “Nanti kau juga akan mengerti. Untuk sekarang diam dulu.”

    Aku menjadi tambah penasaran. Mereka melihat ke arah suara gemuruh tersebut. Aku pun ikut melihat ke arah yang sama dan yang kudapati adalah, Hana yang sedang berjalan dengan anggun di koridor tidak jauh dari tempatku berdiri. Dan aku juga melihat siswa-siswa lain menepi ke koridor nampak begitu terkagum melihat kedatangan sosok Hana.

    “Ah, itu Nona Hana.”
    “Iya. Tidak salah lagi.”
    “Ia lebih cantik daripada yang di majalah.”
    “Aku harap ia melihat kemari.”

    Sosok Hana yang berjalan melewati koridor sangat menyita perhatian semua murid. Aku tidak menyangka kalau ia siswa yang terkenal. Ketika Hana berjalan melewatiku, aku merasa Hana sekejap melirik ke arahku. Tapi ia hanya tetap berjalan seolah seperti tidak mengenalku. Setelah Hana berjalan cukup jauh, kedua temanku mulai saling berbisik membicarakan Hana, sedangkan aku masih belum melepas pandanganku pada punggungnya.

    “Anu, Kak Hana!” Dua orang siswi mendekati Hana sambil memegang bingkisan kue.
    “Ada apa?”
    “Ini… Terimalah!”
    “Oh, kue untuk Saya? Manis sekali. Terima kasih.” Balas Hana tersenyum.
    “Kami permisi dulu.”

    Kedua siswi itu menunduk sopan lalu berlari kecil.

    “Sebenarnya… Hana itu siswa yang seperti apa?” tanyaku pada teman-temanku.
    “Ah, kau siswa baru jadi wajar tidak tahu, ya?”

    Sepanjang perjalananku, aku diberi “pelajaran” oleh mereka berdua mengenai siapa itu Nona Hana. Sejauh yang kuketahui adalah, Hana adalah siswa kelas 3, satu tahun lebih tua dariku. Ia seorang penyanyi diva yang telah beberapa kali mengikuti dan memenangkan audisi internasional tingkat pelajar. Ia merupakan anak dari keluarga terhormat yang menjalankan bisnis seni, dan merupakan investor terbesar Classic Academy. Juga prestasinya di sekolah sangat baik. Kurang lebih itu yang kuingat meski mereka menjelaskan lebih banyak dari itu.

    “Kau mau pesan apa, Sher?” Tanya Dango.
    “Entahlah. Makanan di kantin mahal-mahal. Mungkin aku pesan minum saja.”
    “Di sini ada yang murah lho.” Ucap Kuronami sambil menunjuk salah satu papan harga.
    “Nasi telur 6000? Hmm… sepertinya aku memang harus membawa bekal besok.”

    Nasi telur nampaknya menu yang paling murah di kantin ini. Meski aku mampu membayarnya, aku tetap merasa kalau harga itu terlalu mahal. Tapi ini lebih baik daripada aku tidak makan sama sekali sepanjang kelas. Hanya untuk hari ini saja, tekanku.

    Kami telah membawa makanan kami dan duduk di depan meja makan kapasitas 4 orang.

    “Ah, lihat. Nona Hana sedang makan siang.” Sahut Kuronami pada kami.

    Aku melihat ke arah yang ia tunjukan. Terlihat Hana yang sedang duduk di depan meja lingkaran yang ada di tengah teras luar kantin. Meja tersebut dilapisi alas putih bermotif bunga. Di atas meja hanya ada secangkir teh dan bingkisan kue yang ia dapat tadi siang. Dan di atasnya lagi, meja ini di tutupi oleh payung. Dari kejauhan, aku tetap dapat melihat kalau bahkan di tengah kantin pun, keberadaan Hana tetap menyita perhatian. Orang-orang sekitar teras memperhatikan Hana yang sedang duduk, menikmati teh siang sambil membaca buku.”

    “Permisi.” Hana memanggil pegawai kantin yang kebetulan lewat.
    “Ada yang bisa saya bantu, Nona?”
    “Cuaca siang ini tidak terlalu panas. Bisakah saya minta tolong untuk melepaskan payungnya?”
    “Saya mengerti. Permisi.”

    Pegawai itu melepas dan menutup payung dari meja Hana.

    “Terima kasih.”
    “Sama-sama.” Ia membungkuk sopan lalu berjalan pergi membawa payung.

    Setelah payung meja Hana dilepas, sehembus angin mulai menerpa wajah Hana. Rambutnya yang sebahu menari lembut dan seakan-akan, ada kilap-kilap debu cahaya yang meluncur dari rambutnya yang diterpa angin.

    “Hnngg… seandainya aku duduk di samping Nona Hana sekarang, aku mungkin bisa mendapatkan sedikit pesonanya.” Gumam Kuronami.
    “Orang seperti kamu mana mungkin bisa seperti Nona Hana. Mengejar pun tidak mungkin.” Celetuk Dango.
    “Kamu!”
    “Haha… sudah-sudah. Kita kan lagi makan.” Aku mencoba menenangkan mereka.

    Pada istirahat ketiga dan keempat pun aku terus berpapasan dengan Hana. Lebih tepatnya, aku selalu melihatnya meski ia tidak melihatku. Seperti ketika ia membawakan tumpukan buku dari perpustakaan, memberi makan burung-burung di taman, dan ketika aku tanpa sengaja melewati ruang musik, aku melihat Hana yang sedang bermain piano. Dimanapun Hana berada, ia selalu dikagumi oleh setiap siswa yang melihatnya.

    Dan semakin aku melihatnya, aku semakin menyadarinya…

    Meski ini hanya apa yang kupikirkan, tapi perasaan ini…

    Aku tidak dapat melepas pandanganku darinya…

    *-*​

    Jam pelajaran berakhir. Kelas telah kosong dan aku sedang merapikan mejaku dan memasukan barang-barang ke dalam tas. Setelah itu aku berjalan keluar kelas. Dari jendela koridor, aku dapat melihat cahaya jingga yang menyelimuti lingkungan sekolah. Beberapa saat setelah aku berjalan, aku sadar kalau aku belum mengitari seluruh wilayah sekolah ini.

    ~
    “Sekolah ini terlihat hebat ya?”
    “Benar sekali. Tuan Sheratan, apa kau mau saya ajak berkeliling.”
    “Tentu. Tapi besok saja. Kalau sekarang sudah terlalu sore.”
    ~

    Aku jadi teringat percakapanku dengan Hana kemarin. Aku memutuskan untuk mengitari sekolah ini lebih jauh sebelum aku pulang.

    Pada suatu jalur koridor, aku melihat dua gadis yang tadi siang memberi Hana kue. Mereka sedang mengintip ruangan lewat balik kaca pintu. Ketika mereka menyadari kedatanganku, mereka melarikan diri. Aku mencoba memanggil tapi mereka sudah pergi jauh. Aku berjalan mendekati pintu ruangan yang baruan mereka intip. Ruangan ini adalah ruangan musik dan di dalam sana ada Hana yang sedang berlatih bernyanyi. Sayangnya aku tidak dapat mendengar suaranya dari luar. Seusai bernyanyi, ia menoleh ke arah pintu dan melihatku. Dengan cepat aku langsung menyingkir ke samping.

    Apa tadi ia menyadari kedatanganku? Pikirku sambil bersandar di dinding.

    Pintu ruangan terbuka pelan dan sosok Hana pun muncul. Pandangan kami saling bertatapan. Aku berharap agar ia memulai pembicaraan, tapi ia hanya diam dengan mulut yang terbuka.

    “Eh… H-Hai, Hana. Em… maksudku… Se-Sedang latihan?”
    “Anda mau masuk?”

    Pertama aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi akhirnya aku menerima ajakan tersebut. Aku masuk ke dalam ruangan lalu Hana menutupnya kembali.

    “Banyak sekali ya ruang musik di sekolah ini.”
    “Benar. Semua fasilitas ini untuk memudahkan siswa dalam kegiatan latihan musik mereka. Ruangan ini sendiri adalah ruangan nyanyi.”
    “Ooh…”

    Hana berjalan mendekati jendela dan menatap keluar. Ia diam, dan keheningan tercipta di ruangan ini.

    “Em… Apa aku mengganggu latihanmu?”

    Ia menggeleng pelan namun tidak bersuara ataupun berbalik. Aku melirik seluruh ruangan. Terdapat beberapa alat musik, dan pandanganku teraksen pada…

    ‘Biola.’

    Aku berjalan mengambil biola tersebut. Aku membunyikannya sedikit untuk mengecek stemnya. Di saat itu Hana mulai berbalik.

    “Kemarin aku berjanji untuk menunjukkan permainanku, bukan? Aku akan melakukannya sekarang.”

    Hana duduk di kursi di tengah ruangan sedangkan aku berdiri lurus di depannya. Aku mengambil nafas lalu mulai bermain.

    ‘Ah, permainan yang sangat lembut. Aku merasa seperti dapat tertidur jika mendengarnya. Alunan melodi yang sangat indah. Ketukan dan ritmenya sangat stabil dan sempurna.’ Batin Hana. Ia pun perlahan menutup matanya dan merilekskan tubuhnya.

    ‘Tuan Sheratan memainkan musik Mozart. Sepertinya ini adalah musik romansa. Aku pernah mendengar musik ini tapi mendengarnya melalui biola terasa berbeda. Tidak, yang berbeda bukan instrumennya, tetapi... Tuan Sheratan.’

    ‘Hangat, tiba-tiba saja musiknya menjadi hangat. Meski permainannya yang lembut nampak mengandung unsur kesedihan, tetapi sebenarnya bukan. Ini adalah keharuan.’

    Sepanjang permainan, Hana terus mengagumi setiap gesek senar musik yang dimainkan Sheratan di dalam hatinya. Seusai bermain, Sheratan menyadari kalau air mata Hana mengalir melewati pipi lembutnya.

    “Ah, maaf.” Ucap Hana sambil mengusap air matanya dengan sapu tangan. “Permainan yang bagus, Tuan Sheratan.” Hana bertepuk tangan.
    “Terima kasih.”
    “Horn Concerto, No. 3 E-flat, bukan? Katakan, apakah lagu ini memiliki arti bagi Anda?”
    “Ah sebenarnya, lagu ini adalah lagu yang dibawakan orang tuaku ketika pernikahan mereka. Ayahku yang memilihkannya.”
    “Oh, indah sekali.”
    “T-Tapi, aku sama sekali tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya kebetulan juga menyukai lagu ini, dan kupikir akan bagus memainkannya di depanmu! Itu saja…”

    Aku merasa malu dengan penjelasanku sendiri. Hana menutup matanya dan meletakan tangannya di depan dada. Ia mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya.

    “Sebenarnya hari ini perasaan saya sedang tidak baik. Tapi setelah mendengar permainan Anda, saya menjadi lebih tenang. Terima kasih, Tuan Sheratan.”
    “Tidak, Tidak apa-apa kok. Aku senang jika kau menyukainya.”
    “Kalau boleh tahu, apa yang Tuan Sheratan lakukan di gedung ini? Apa Tuan ingin pergi ke suatu tempat?”
    “Tidak kok. Aku hanya sedang berkeliling.”
    “Oh, begitukah? Ah iya…”

    Hana berdiri dari bangkunya.

    “Izinkan saya memandu Anda, Tuan Sheratan. Sebagai ucapan terima kasih.” Hana nampak agak bersemangat. Aku menerima ajakan tersebut.

    Hana mengajak Sheratan mendatangi berbagai tempat di sekitar sekolah.

    “Tuan Sheratan, apakah Anda juga berasal dari keluarga pemusik?”
    “Hmm… sepertinya tidak. Seingatku orangtuaku tidak bermain musik. Aku menyukai biola begitu saja ketika aku melihat pemain biola jalanan di sekitar rumahku. Mereka mengizinkanku untuk mencoba memainkan biola mereka. Perlahan-lahan aku mulai belajar cara bermain biola dan tidak lama kemudian ayahku membelikan biola untukku.”
    “Kalau begitu Anda pasti sangat berbakat.”
    “Haha… tidak juga kok.”

    Hana menoleh keluar jendela. Aku pun juga menyadari kalau langit semakin berwarna kemerahan. Apakah sebaiknya kami segera pulang?

    “Saya ingin sekali menemani Anda. Tapi sepertinya jemputan saya sudah tiba.”
    “Ah, tidak masalah. Akupun juga harus segera pulang. Ayo kita pergi.”

    Kami berjalan bersebelahan. Aku melirik ke arah gadis mungil di sebelahku yang sebenarnya adalah seniorku. Teringat kembali di saat aku seharian melihatnya di setiap tempat di sekolah, melakukan kegiatan yang sangat baik, dan menjadi idola semua orang. Tetapi di balik itu semua… aku…

    “Hana!”

    Ia terus melangkah, berhenti, lalu menoleh ke arahku.

    “Ada apa?”
    “Kau itu…”

    Aku terdiam sejenak. Aku mulai bingung bagaimana harus memulainya. Setelah menemukan kalimat yang pas, aku kembali berbicara.

    “Apa kau tidak kesepian?”

    Hana diam. Keheningan tercipta kembali di antara kami. Kalimatku terutarakan dengan jelas. Setidaknya aku yakin aku mengucapkannya dengan jelas dan sesuai dengan maksudku, tetapi Hana diam. Ia berbalik membelakangiku, kemudian berputar kembali sambil tersenyum. Hanya saja perlahan Hana menunduk dan senyuman itu berubah menjadi senyuman kecut dilapisi kesedihan.

    “Aku tidak tahu.”

    Aku memalingkan wajahku, merasa tidak enak melihat wajahnya yang nampak murung. Aku mengusap sikut kananku.

    “Begitu ya…”

    Aku mulai berpikir apa yang ia maksud. Apakah ia benar-benar merasa kesepian? Ataukah ia merasa bahwa keadaannya yang sekarang tidaklah masalah? Padahal ia gadis yang baik, tetapi kenapa ia membuat jarak dengan orang disekitarnya?

    ~
    “Tuan Sheratan…”
    “Hmm… ada apa?”
    “Besok… Seandainya besok kita bertemu, apakah kau akan menyapa saya?”
    ~

    Hana… sebenarnya…

    Kau pun tidak menginginkannya, bukan?

    Keesokan paginya aku berjalan di koridor, mencari sesosok makhluk yang mungkin saja bisa atau tidak bisa kutemui. Tetapi pada akhirnya aku berhasil menemui punggung mungil makhluk tersebut di depanku. Aku teringat kalau sebenarnya tidak sulit mencarinya karena keberadaannya selalu menyita perhatian. Aku berlari kecil untuk memperdekat jarak di antara kami, namun tiba-tiba kakiku terhenti bersamaan dengan rasa dingin yang tiba-tiba menyerang syaraf motorikku.

    Apakah aku benar-benar akan menyapanya? Entah bagaimana rasa takut mulai menghantui pikiranku. Bagaimana jika keberadaanku apa mempengaruhi reputasinya? Bagaimana jika aku tidak dapat menjadi teman yang baik baginya? Apapun yang kulakukan setelah ini, akan mempengaruhi keadaan diantara kami kedepannya. Haruskah aku mempersiapkan diri dulu?

    ~
    “Aku tidak tahu.”
    ~

    Tidak! Aku tidak ingin melihat wajah itu lagi.

    “Hana!”

    Aku memanggilnya. Suaraku seolah-olah menggema di koridor. Ia menoleh ke belakang, lalu memberi senyuman yang begitu indah.
     
    Last edited: 21 September 2015
  2. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    Chapter 2 - Just Be No Friend
    Namaku Sheratan. Karena mendapat beasiswa, aku sekarang bersekolah di Classic Academy, sekolah tingkat SMA yang berorientasi pada pelajaran musik bagi siswa-siswanya. Dan oleh karena itulah, kali ini aku mengikuti mata pelajaran yang disebut Instrumen.

    “Bravo, Mister Sheratan!” Ucap guru tersebut sambil bertepuk tangan.
    “Terima kasih.”
    “Anda berbakat sekali. Saya harap saya bisa mengetahui lebih banyak tentang Anda.”
    “Tentu, Pak Guru. Boleh saja.”

    Aku kembali duduk di bangkuku bersamaan dengan Pak Guru memanggil satu nama berikutnya untuk tampil.

    “Keren. Kamu hebat sekali, Sher.” Kagum Dango.
    “Iya, sumpah. Sudah seperti pemain profesional saja.” Sambung Kuronami.
    “Tidak. Itu biasa saja kok.”

    Selain kedua orang yang sering menemaniku sejak pertama kali pindah, beberapa teman sekelasku yang lain pun ikut berbicara padaku dan membicarakanku.

    Oh, berbicara tentang menjadi bahan pembicaraan, sebenarnya hal itu telah terjadi padaku sejak beberapa hari yang lalu. Yaitu sejak aku mulai akrab dengan Hana.

    Pada istirahat makan siang,

    “Tuan Sheratan.” Sambut suara manis dari belakangku. Akupun segera berbalik. “Selamat siang.” Sambungnya.
    “Hai, Hana.” Balasku santai.
    “Aku sudah menepati janjiku, bukan?”

    janji yang ia maksud adalah, permintaanku yang ingin agar ia menyapaku lebih dulu ketika di sekolah.

    “Ya. Kau hebat, Hana.”
    “Terima kasih.” Ucapnya sambil tertawa kecil.

    Padahal aku berniat meledeknya. Tapi hatinya begitu polos sehingga menganggap kalau aku benar-benar memujinya.

    “Bagaimana dengan pelajaran Instrumenmu, Tuan Sheratan? Kemain kau bilang kau mendapatkannya pagi ini, bukan?”
    “Ah, lumayan. Aku bersyukur tidak membuat guru dan seisi kelas menangis.” Aku mengatakannya dengan agak sombong dan Hana tertawa kecil.
    “Kau memang luar biasa. Aku harap bisa mendengarkan permainanmu pada saat itu.”

    Percakapan ini, persahabatan ini, situasi ini, sebenarnya sangatlah normal nan membahagiakan. Seandainya saja aku tidak bisa merasakan tatapan dan mendengar suara-suara mereka.

    “Eh, siapa itu?”
    “Cowok… cowoknya, ya?”
    “Ah, muka pas-pasan begitu?”
    “Kudengar sih anak baru.”
    “Berani sekali dia.”
    “Kalau sampai tangan laki-laki kotor itu menyentuh Nona Hana, takkan kumaafkan!”
    “Dia dari kelas mana, ada yang tahu, tidak?”
    “Ayo kita beri pelajaran nanti.”

    Semenjak bergaul dengan Hana, aku mulai banyak dibicarakan. Sebagian besar hanya bentuk penasaran, tapi ada juga yang mulai memberi pandangan negatif. Untunglah selama ini aku bisa menghindari kontak dengan siswa-siswa mencurigakan yang mungkin hendak mencelakakanku. Aku yang hidup di daerah kurang mampu, menjalani kehidupan di lingkungan yang keras sejak kecil, tidak akan kalah dari mereka yang hidupnya lebih enak dan nyaman. Tapi sebenarnya, aku ingin menghindari masalah sebanyak mungkin untuk menjaga nama baikku, yang jika saja buruk, bisa mempengaruhi keberadaan Hana yang sekarang sudah menjadi temanku.

    Ketika di kantin, aku melihat Dango dan Kuronami yang sedang makan berdua.

    “Hey, boleh numpang makan bareng kalian, tidak?”
    “Oh, Sheratan. Boleh, duduk aja.” Ucap Dango sambil melanjutkan makannya.
    “Permisi.” Sapa Hana sambil ikut duduk bersama Sheratan.

    Seperti yang kuduga, Dango dan Kuronami kaget ketika aku membawa Hana ke hadapan mereka. Mereka menegakkan posisi duduk dan menata kerah pakaian mereka entah untuk tujuan apa.

    “Maaf ya Nona Hana, Anda sampai harus ikut makan di tempat seperti ini.”
    “Tidak apa-apa kok. Apakah kalian temannya Tuan Sheratan?”
    “I-Iya. Saya Kuronami, dia─”
    “Dango.”
    “Oh, Nona Kuronami dan Tuan Dango, maaf mengganggu makan kalian.”
    “Tidak sama sekali, kok.”

    Seorang pelayan mendatangi Hana.

    “Ini teh Anda, Nona.”

    Ia meletakan taplak meja kecil di depan Hana lalu meletakan cangkir teh di atasnya.

    “Terima kasih.” Ucap Hana pada pelayan tersebut. Ia menunduk sopan lalu pergi.
    “Han, apa tidak apa-apa setiap hari kau hanya makan siang dengan minum teh?” Tanyaku heran.
    “Jangan salah, Sher. Yang dipesan Nona Hana itu Flower Tea. Benar, kan?” Jelas Kuronami sambil menunjuk suatu papan harga.

    Aku kaget karena rupanya secangkir flower tea yang dipesan Hana harganya 35,000.

    “Aku menyukai teh ini. Jadi tidak masalah.” Hana mengucapkannya sambil mengangkat cangkir teh tersebut.
    “Bagaimana kalau meminum teh itu dengan ini.” Aku membuka kotak bekal yang kubawa sejak tadi.
    “Ini apa?”
    “Roti isi. Kau mau mencobanya?”
    “Boleh.”

    Hana mengambil roti isi berbentuk segitiga dari bekal Sheratan. Setelah itu ia memotong roti tersebut menjadi dua dan meletakan salah satunya di samping cangkir teh. Ia mengigit kecil ujung roti di tangannya, mengunyah pelan, dan meletakan telapak tangannya di samping pipi.

    “Ini enak sekali.”
    “Baguslah kalau kau suka.”

    Kuronami dan Dango juga ikut mengambil roti isiku.

    “Hmm… isi selai coklat, ya? Rasanya lumayan juga.”
    “Tapi menurutku ini terlalu manis untuk dimakan dengan teh.”
    “Hoi, aku cuma bawa empat. Bagaimana bisa aku cuma makan siang dengan satu potong roti isi? Kalian kan punya makanan sendiri.”
    “Jangan pelit begitu. Sebagai gantinya, kau boleh minum es jerukku sekali sedot.”
    “Lagipula, salahmu sendiri tidak bawa lebih.”
    “Ah, maaf Tuan Sheratan.”
    “Ada apa, Hana?”
    “Aku tidak tahu Anda lebih membutuhkan roti ini daripada aku. Masih ada sisa potongan yang belum kucicipi. Anda boleh mengambilnya jika mau.” Hana memberikan potongan roti isi di samping cangkirnya padaku.
    “T-Tidak. Kau tidak perlu melakukannya.”
    “Kau keterlaluan sekali. Kata-katamu membuat Nona Hana menjadi sungkan seperti itu.” Ucap Kuronami agak marah.
    “Ketika pertama mengenalmu, aku tahu kau orang yang bisa bertindak kasar. Tapi tidak kusangka kau sampai melakukannya sejauh itu pada Nona Hana.” Dango mengatakannya dengan nada kecewa.

    “Kenapa seolah-olah aku yang salah di sini?”

    *-*

    Sabtu ini merupakan hari libur pertamaku sejak aku mulai pindah sekolah. Dan karena libur, aku bisa datang ke tempat kerja dan mengambil shift pagi. Aku berjalan masuk ke dalam sebuah game center. Di dalam tempat yang tidak terlalu ramai ini, aku terus berjalan hingga memasuki pintu yang bertuliskan “Khusus Pekerja”. Sesaat kemudian aku keluar dengan memakai seragam kerja lengkap dengan topi, memegang ember dan tongkat pel di kedua tanganku. Pekerjaanku adalah menjadi cleaning service di tempat ini.

    “Oh, kau datang pagi, Sherly?” Sapa seorang CS yang sama sepertiku yang bernama Flame.

    Flame adalah seorang mahasiswa yang berkuliah sambil bekerja di tempat ini. Aku pernah menceritakan tentang diriku yang pindah ke sekolah yang jaraknya cukup jauh. Dan di saat itulah ia meminjamiku sepeda agar aku dapat pergi sekolah lebih mudah.

    “Iya. Untungnya sekolahku yang baru memiliki hari libur ketika sabtu. O iya, terima kasih buat sepeda yang kau pinjamkan padaku.”
    “Iya. Lagipula aku sudah tidak memakainya. Aku punya yang lebih baru, jadi tidak perlu dipikirkan.”
    “Tapi tetap saja. Aku jadi tertolong.”
    “Kau menjaganya dengan baik?”
    “Ya, tentu.”
    “Kalau begitu tidak masalah. Anggap saja aku menitipkannya padamu. Jika sepedanya rusak, aku akan menagihmu.” Ucapnya sambil beranjak pergi.

    Akupun juga beranjak pergi. Biasanya saat pagi ketika game center baru buka, kami mulai dengan membersihkan lantai. Dan di saat siang ketika mulai ramai, kami hanya mengelap mesin atau wahana permainan.

    Hari sudah semakin siang dan gedung ini semakin ramai. Ketika aku berkeliling, aku melihat genangan air di lantai. Sepertinya ada seseorang yang menumpahkan sodanya. Aku memasang satu penanda di dekat genangan air, lalu mulai mengepel lantai dengan alat pelku.

    Duakk!! Blurr!!

    Aku terkejut dengan suara di belakangku. Seseorang tanpa sengaja tersandung ember airku.

    “Maaf. Kau tidak apa-apa? Kau tidak terluka, kan?”
    “Tidak apa-apa.” Ucapnya sambil sedikit merintih.

    Seorang perempuan, ya? Pikirku. Ketika aku melihat wajahnya, aku merasa mengenalnya atau pernah bertemu dengannya. Dan ternyata aku sadar bahwa dia adalah,

    “H-Hana?!”
    “Heh?? Heeee……!!”

    Meski sulit kupercaya tapi dia, ya, dia adalah Hana. Hanya saja sekarang ia memakai celana jeans coklat, sepatu kulit tinggi menutupi tulang kering, jemper kuning yang tengahnya terbuka dengan baju t-shirt terlapisi di dalamnya, topi kodok (bukan berbentuk hewan kodok) coklat. Rambutnya ia ikat dengan gaya single tail di sebelah kanan. Akupun menyadari ia membawa kacamata namun terjatuh saat ia tersandung.

    “Sebenarnya… apa yang kau lakukan di tempat seperti ini? Dengan pakaian seperti itu?”
    “Ah, kau…?.” Jawabnya heran.

    Aku masih tidak terlalu mengerti apa yang terjadi padanya, tapi ada hal yang lebih penting.

    “Sudahlah. Kau bisa berdiri, kan?” Aku menjulurkan tanganku dan ia menerimanya. Kalau diingat-ingat, seperti ini juga keadaan ketika kami pertama kali bertemu. Pada saat tangan halus Hana menyentuh tanganku, memori itu kembali terputar di benakku.
    “Terima kasih. Hehe…” ia kembali memasang kacamatanya.

    Aku membersihkan lantai bekas air ember yang tumpah dengan cepat.

    “Aku ke belakang sebentar.” Ucapku meninggalkannya.

    Tunggu sebentar, apa yang tadi itu sungguh Hana? Maksudku, Hana yang itu? Yang benar saja. Aku bahkan tidak bisa membayangkan gadis polos, lembut, dan ramah sepertinya akan pergi ke tempat semacam ini. Belum lagi dengan pakaian dan gaya semacam itu? Apa mungkin itu hanya seseorang yang mirip dengannya saja?

    Saudara kembar?

    Yang pasti, aku akan tahu jika aku keluar dan bertemu dengannya lagi.

    Aku pergi keluar dan seperti yang kubayangkan, ia sudah tidak ada di tempat tadi. Aku berkeliling melihat satu per satu mesin permainan dan akhirnya aku menemukannya sedang memainkan permainan yang bernama Pump It Up, sebuah game mesin untuk menari.

    Hana, atau orang yang seperti Hana itu, menari dengan lincah di atas papan permainan. Di tangan kirinya ia memegang kotak pocky dan di bibirnya sendiri menggantung sebatang pocky. Lagunya berakhir begitu pula dengan tariannya. Papan skor menunjukkan huruf A besar. Ia berputar kebelakang.

    “Oh, Sheratan!” Panggil gadis itu padaku sambil memberi tanda peace dengan tangan kanannya.

    Ya, benar. Rupanya dia memang Hana. Ia turun dari mesin, memakai sepatunya lalu berjalan mendekatiku.

    “Wahh… tidak kusangka kau bekerja di sini. Padahal kau pemain biola yang hebat. Bikin kaget saja. Wahahahaha!” Ia tertawa keras sambil membusungkan dada kecilnya.
    “Aku yang seharusnya kaget! Kau yang… nghh… seperti itu, bagaimana bisa… grh…” Aku sampai bingung harus berkata seperti apa. Aku mengelap wajahku dengan tangan. “Biar aku mulai dengan pertanyaan mudah. Kau menyamar seperti itu untuk datang ke game center?”
    “Iya.”
    “Lalu apa yang ingin kau lakukan di sini?”
    “Apa maksudmu? Sudah jelas, bukan? Hana datang untik main!” ucapnya sambil berdiri dan bersemangat seperti anak kecil.
    “Kenapa harus menyamar?”
    “Hana adalah wanita cantik dan anggun di sekolah. Jadi haram untuknya datang ke tempat hiburan seperti ini!” Hana membentuk pose yang aneh sambil mengucapkannya.
    “Aku tidak menyangka kau memiliki kepribadian seperti ini.”
    “Nyahaha… jangan memujiku seperti itu, ah.”
    “Aku tidak memujimu!”
    “Yah, terserahlah. Tapi intinya, sekarang kau sudah tahu rahasiaku. Oleh karena itu, kau tidak boleh membocorkannya pada siapapun tentang kebiasaanku ini.”
    “Kenapa?”
    “Ini menyangkut reputasiku. Re-pu-ta-si! Kau pikir seberapa sulit aku harus menanggung kelelahan menjadi siswa teladan? Dan juga mengikuti berbagai kompetisi? Meski aku suka bernyanyi, memangnya suaraku nggak serak apa kalau disuruh nyanyi seharian? Kemana aku harus membuang stressku kalau bukan ke tempat ini?!” Hana mengatakan kalimat terakhir sambil merentangkan kedua tangannya ke samping kanan dan membuka telapak tangannya lebar-lebar.
    “Itu bukan urusanku. Memangnya aku peduli?”
    “Haha… ayolah, Sheratan. Aku hanya bercanda.”
    “Bagian mana dari kalimatmu yang kau anggap candaan?”
    “Sudah cukup tentangku. Kini giliranmu yang harus bicara. Mengapa kau memilih bekerja di tempat ini? Apakah kau segitu senangnya dengan game? Hoh, apa itu artinya kita bisa menjadi teman sesama gamer?”
    “Kau bahkan belum…. Ah, sudahlah. Aku bekerja di sini karena tidak punya pilihan lain.”
    “Owh, begitu rupanya. Seorang perjaka SMA yang harus bekerja di tempat yang tidak punya pilihan lain. Hana sungguh terkesima.”

    Aku tidak tahu apakah ia serius atau cuma menyindirku. Aku sudah cukup pusing dengan perbedaan kepribadiannya di tempat ini.

    “Oke, selamat bekerja. Dadah.” Ia berlari pergi sambil melambaikan tangannya padaku.

    Sesekali aku memperhatikan Hana yang memainkan berbagai mesin permainan di game center ini. Sekilas ia terlihat seperti anak biasa, yang sedang bermain dengan riang sepenuh hati. Tetapi jika mengetahui bahwa ia adalah putri sekolah terbaik dengan prestasi terbaik di kota ini, pastilah tidak akan ada yang menduga. Mungkin aku sedikit kagum padanya.

    Aku berjalan keluar gedung.

    “Sheratan. Mau pergi kemana?” Sahut Hana yang mengejarku dari belakang.
    “Oh, sekarang aku lagi istirahat makan siang. Jadi aku mau cari makan dulu.”
    “Hoh, begitu rupanya. O iya, bagaimana kalau aku yang memilih tempatnya?”
    “Memang kau mau makan apa? Tunggu, sejak kapan aku setuju kita makan bareng?”
    “Hana mau makan hamburger! Karena Hana dan Ham sudah seperti saudara.”
    “Hoi…”
    “Tenang saja. Aku yang traktir. Kau mau, kan?”

    Aku berpikir sejenak, hingga akhirnya aku setujui permintaannya.

    Kami berjalan menyusuri trotoar, menyebrang sekali lalu kembali berjalan.

    “Sheratan.”
    “Hm?”

    Hana tidak membalas apapun.

    “Sheratan.”
    “Ada apa?”

    Hana hanya menggumam.

    “Matthew?”
    “Kamu ngomong apa sih?”
    “Oh, Pams!”

    Hana terlihat senang, sedangkan aku, sama sekali tidak mengerti apa yang ia lakukan.

    “Menurutku nama Sheratan terlalu panjang, menyusahkan, dan repot untuk diucapkan. Oleh karena itu, mulai sekarang aku akan memanggilmu Pams.”
    “Nama macam apa itu?”
    “Ayo Pams, kita pergi. Follow me~!”

    Kami sampai ke tempat yang ia maksud.

    “Junk food!” ia merentangkan tangan. “Pesanlah apapun yang kau mau, Pams. Karena kali ini Hana yang traktir.”
    “Sungguh?”

    Sejujurnya aku belum pernah makan di tempat seperti ini. Oh, bagaimana kalau aku memesan menu yang paling mahal saja? Toh, ini traktirannya.

    Singkatnya, aku memesan paket nasi, ayam tepung, dan keripik kentang. Sedangkan Hana memesan burger daging.

    “Selamat makan.” Ucapnya sambil memberi lahapan besar pada burgernya.
    “Hey, kalau kau makan daging sebanyak itu, nanti kau jadi gemuk lho.” Ejekku.

    Ia mengunyah sebentar lalu membalas kalimatku.

    “Tenang saja. Wanita punya perut sendiri untuk makanan berlemak.”
    “Aku pikir itu bukan perumpamaan yang benar.”
    “Ngomong-ngomong, Pams. Sudah sejak kapan kau bekerja di sana?”
    “Sekitar 4-5 bulan. Rasanya aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya. Sudah sejak kapan kau bermain di sana.”
    “Sudah lama sekali. Yah, tempat itu kan besar, jadi wajar kalau kita tidak pernah bertemu. Lagipula mana ada orang yang mau berkenalan dengan cleaning service. Hahaha….”
    “Kau benar.” Aku menyetujui perkataannya dengan perasaan kesal.
    “Lalu, Pams. Bagaimana caramu mengatur waktu antara sekolah dan pekerjaan? Pastinya sulit.”
    “Kami punya shift. Kalau di hari sekolah, aku bekerja mulai jam 4 sampai jam 7. Tapi di hari libur, aku bisa bekerja dari pagi sampai siang. Semakin banyak jam kerjaku, semakin banyak aku mendapat bayaran.”
    “Oh, begitu. Pams hebat sekali.”
    "Tidak. Itu biasa saja."

    Hana telah menghabiskan burgernya tetapi aku belum menghabiskan nasiku.

    “Aku akan memesan lagi. Kalau kau mau nambah lagi, silakan saja.” Hana pun langsung pergi. Tidak lama kemudian ia kembali dengan burger yang sama.
    “Sudah jam segini. Sebaiknya aku kembali bekerja. Bagaimana denganmu?”
    “Aku akan langsung pulang. Kau duluan saja.”
    “Oke, sampai jumpa, Hana. Makasih buat traktirannya.”
    “Bye-bye.”

    Aku pergi meninggalkannya yang sedang menikmati burger. Dan pada hari ini kami berpisah.

    Keesokan harinya…

    “Hana datang untuk main!!”
    “Rupanya kau benar-benar sering datang kemari.”
    “Nyehehehe…” Ia menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya sambil tersenyum.
    “Aku tidak memujimu.”

    Ia datang dengan pakaian yang sama seperti kemarin. Hanya saja kali ini ia membawa ransel.

    “Pams, jam berapa shiftmu berakhir?”
    “Eh, sekitar satu jam lagi.”
    “Baiklah, akan kutunggu. Kalau sudah selesai kerja, cari Hana ya. Jangan pulang duluan. Dadah”

    Aku tidak tahu apa yang ia inginkan. Tapi ia sudah langsung pergi sebelum aku sempat bertanya. Satu jam kemudian setelah shiftku berakhir, aku mendapatinya sedang bermain zombie shooting. Ia menembak ke layar secara asal sambil menutup rapat matanya.

    “Menakutkan sekali~”
    “Hoi, aku sudah selesai.”
    “Oh, Pams! Kebetulan sekali. Ayo kita pergi.”
    “sebenarnya kau ingin mengajakku kemana?”
    “Nanti kau juga akan tahu.”

    Hana dan aku berjalan keluar.

    “Kau membawa sepeda, bukan?”
    “Iya.”
    “Tempatnya agak jauh jadi sebaiknya kita pakai sepeda.”
    “Tapi sepedaku tidak ada tempat duduk belakangnya. Kalau mau kau berdiri di belakang sambil menginjak mur ban. Apa tidak apa-apa?”
    “Tentu saja.”

    Aku mengambil sepedaku di tempat parkir. Setelah aku duduk, Hana memegang punggungku dan memijak mur sepeda. Aku mulai memutar pegas dan melunjur ke jalan raya.

    “Jadi kemana kita pergi?” Tanyaku untuk kesekian kalinya.
    “Aku akan menunjukkan arahnya. Setelah ini belok kanan.”

    Aku mengikuti arah-arah yang ditunjukan Hana. Hingga akhirnya kami berhenti di sebuah…

    “Mall?”
    “Yup.”
    “Aku mencari tempat untuk memarkir sepedaku dulu.”

    Kami berdua memasuki mall tersebut. Untunglah pakaianku tidak terlalu buruk untuk dibawa ke mall.

    “Apa ada yang ingin kau beli di sini?” Tanyaku
    “Kita pergi ke lantai atas.” Ucap Hana sambil menunjuk jarinya ke atas. “Oh, iya. Jika kau melihat ada siswa dari sekolah kita di sekitar sini peringati aku, ya.”
    “Apa untuk menjaga identitasmu.”
    “Ping-pong. Ayo jalan.”

    Destinasi mereka selanjutnya adalah sebuah bioskop.

    “Aku ingin menonton itu.” Hana menunjuk salah satu cover film di tembok bioskop yang akan tampil hari ini.
    “Film animasi?”
    “Katanya ini bagus loh. Tapi sepertinya akan mulai 30 menit lagi. Kau mau, kan?”

    Menonton film, ya? Akan sayang jika kutolak tawarannya setelah jauh-jauh datang kemari. Apalagi jika harus kutinggal dia sendiri di sini.

    “Mau berkeliling dulu sebelum filmnya dimulai?”
    “Boleh. Tunggu, biar kubeli tiket untuk kita berdua.”

    Aku menunggu Hana yang pergi membeli tiket. Setelah ia kembali, kami pergi berkeliling. Di lantai teratas hanya ada bioskop dan food court, jadi kami turun satu lantai dan melihat-lihat di sana.

    “Pams, kau bisa mengendarai motor tidak?”
    “Bisa. Aku pernah mencoba membawa motor temanku.”
    “Hoo…”
    “Em, Hana.”
    “Apa?”
    “Kau tidak berpikir untuk membelinya untukku, kan?”
    “Hmm… mungkin.”
    “Maaf, tapi aku tidak ingin memiliki motor. Merawat dan membeli bensinnya pasti repot. Aku sudah cukup dengan sepeda.”
    “Oh, sepeda, ya?”
    “Lebih spesifiknya sepeda yang kupinjam sekarang. Bukan sepeda yang lain.”
    “Ada toko pakaian yang sepertinya lucu. Ayo kita masuk, Pams.”

    Hana berlari ke dalam toko pakaian yang ia maksud dan aku mengikutinya di belakang. Setelah masuk cukup dalam, aku menyadari kalau toko pakaian ini adalah khusus pakaian wanita dan bagian depan berjejer beraneka ragam pakaian dalam. Aku memalingkan pandanganku ke bawah dan berputar menghadap keluar.

    “Kau kenapa, Pams?”
    “Tidak. Kalau pilih saja pakaian yang ingin kau beli. Aku akan menunggu di luar.” Ucapku sambil berjalan cepat keluar.
    “Hiii… nggak seru, ah.” Hana mengikutiku keluar.

    Tiga puluh menit berlalu dengan cepat. Masing-masing dari kami membawa soda ditambah Hana membawa popcorn ukuran besar dipelukannya. Kami masuk ke dalam bioskop dan duduk di kursi yang telah kami booking.

    “Filmnya akan dimulai, Pams!”
    “Ya ya.”

    Film dimulai. Penonton mulai tenang dan menyaksikan dengan seksama. Dalam ritme tertentu, tangan Hana selalu bergerak mengambil satu dua biji popcorn dan memakannya. Dengan tatapan tetap fokus ke layar, aku juga mengambil popcorn milik Hana. Tetapi tanpa sengaja, aku menyentuh tangan Hana yang juga hendak mengambil popcorn. Spontan kami saling menatap. Dari ruang bioskop yang gelap, aku dapat melihat gradiasi merah merona dari pipi putihnya.

    “Ah, maaf.” Aku mengangkat tanganku.
    “Tidak apa-apa.”

    Sesaat ia tidak memakan popcornnya lagi. Karena kami menonton film animasi, terkadang Hana bersama beberapa penonton yang lain tertawa menyaksikan filmnya. Tawa tersebut membuat mood Hana baikan dan akhirnya ia menghabiskan popcornnya sebelum film berakhir.

    “Aah… film yang bagus sekali. Benar, kan?” Ucap Hana sambil merentang dan merenggangkan tangannya ke atas.
    “Benar.”

    Aku melihat arlojiku dan tanpa kusadari sekarang sudah pukul tujuh lebih tiga puluh menit.

    “Tidak ada tempat yang mau kau datangi lagi, kan? Sebaiknya kita pulang saja.”
    “Betul juga.”

    Aku dan Hana berjalan menuju luar Mall, mendatangi tempat di mana aku memarkir sepedaku.

    “Pams. Apa kau mau mengantarku pulang ke rumah?”
    “Boleh saja. Tapi bukankah kau biasanya dijemput menggunakan mobil.”
    “Aku mau naik sepedamu lagi.”
    “Begitu.” Ucapku sambil memutar arah sepeda. “Naiklah.”

    Hana naik memegangi punggungku dan aku mulai memutar pegas. Di jaman yang sudah semakin modern, di mana jalan raya dimayoritasi dengan kendaraan bermotor, kami, dua anak SMA, berboncengan menggunakan sepeda tanpa tempat duduk belakang. Terdengar seperti pasangan yang unik.

    “Apa rumahmu jauh?”
    “Hm… mungkin.”

    Hana menunjukkan arah-arah untuk mencapai rumahnya. Semakin kami berjalan, aku menyadari kalau lingkungan kami semakin sepi. Mulai dari tengah kota yang ramai, hingga menuju daerah pertamanan yang sepi.

    “Wah, indah sekali.” Gumam Hana kagum.

    Aku menyadari bahwa wajah Hana sedang mengadah ke atas, mengamati bintang-bintang. Meski sedang mengemudikan sepeda, karena jalan di depanku sangat sepi, aku pun turun mengadah ke atas. Aku melihat gemerlap bintang-bintang yang begitu banyak dan berhamburan di angkasa. Ketidak-hadiran bulan pada malam ini memberikan kesempatan untuk bintang-bintang bersinar dengan cahaya yang mereka miliki sendiri.

    “Jika menaiki mobil, aku tidak dapat melihat pemandangan bintang seperti ini. Juga perjalanan ini akan berlalu terlalu cepat.” Jelas Hana. “Katakan, Pams. Apa arti nama Sheratan?”
    “Itu adalah nama dari gugus bintang kedua rasi Aries. Hamal, Sheratan, dan Mesarthim.”
    “Bintang, ya? Kalau Hana artinya bunga.”

    Bunga. Nama yang cocok untuknya. Seseorang yang cantik, indah, dan anggun. Tapi aku hanya mengatakannya dalam hati.

    “Bintang dan Bunga, ya? Kau tahu Pams, jika bunga adalah bintang yang menghiasi bumi, maka bintang adalah bunga yang menghiasi langit. Jika bintang menunjukkan keindahannya pada malam hari, maka bunga menunjukkan keindahannya pada pagi hari. Kurasa nama kita memiliki banyak persamaan.” Ucap Hana bijak.
    “Haha… perumpamaan yang bagus.” Aku merasa kata-katanya cukup bagus.
    “Tapi entah kenapa… Pams. Aku merasa kau begitu jauh. Aku merasa kalau… aku hanya dapat melihatmu dari kejauhan. Dan harapan untuk bisa bersamamu adalah mustahil.”

    Kalimat lain yang tidak kumengerti dari Hana. Apa maksudnya? Kenapa ia berpikir aku akan pergi jauh? Aku yakin ia mengatakannya dengan serius, tetapi aku tidak mengerti. Mungkin ia takut untuk sendirian lagi.

    “Itu tidak benar. Kita berbeda bukan Karena kita jauh, tetapi karena kita diciptakan untuk saling melengkapi. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku memang terkejut melihat sisi lain sifatmu. Tapi kalau cuma itu kurasa tidak masalah.”

    Hana hanya diam. Aku tidak dapat melihat ekspresi yang dibuatnya sekarang. Kuharap aku tidak mengatakan hal yang salah.

    “Ini rumahku.”

    Aku berhenti di depan sebuah pagar yang besar. Bahkan lebih besar dari pagar sekolah kami. Tembok batu yang tingginya kurang lebih lima meter mengitari halaman. Pagar besi yang merupakan gerbang utama tertutup rapat. Dari sekat pagar besi tersebut, terlihat rumah besar seperti villa yang dibangun dengan ala Eropa.

    Hana turun dari sepedaku.

    “Terima kasih, Pams. Apa kau mau mampir dulu?”
    “Tidak usah. Akupun juga harus kembali pulang.” Jangankan mampir, berada di luar rumah ini dan memikirkan aku akan masuk ke dalam sana saja sudah membuatku gugup.
    “Baiklah. Kalau gitu selamat malam.” Ia melambaikan tangannya.
    “Sampai jumpa di sekolah besok, Han.” Aku memutar sepedaku pergi.

    *-*​

    Aku menyadari bahwa pelajaran di sekolah baruku tidaklah mudah. Entah karena memang kurikulumnya yang tinggi atau masalahnya ada pada diriku. Tanpa sadar, tugas-tugasku menumpuk dan aku memikirkan cara untuk mengatur waktu mengerjakan semuanya. Haruskah aku meminta bantuan teman? Tapi belajar kelompok itu membuang-buang waktu. Apa aku harus cuti dari pekerjaanku? Ah, kalau bisa itu adalah pilihan terakhirku. Mungkin aku memang harus memanfaatkan waktu luang di sekolahku untuk mengerjakannya. Misal ketika istirahat makan siang.

    Sembari berpikir, aku mendengar suara gemuruh dari orang-orang. Aku tahu pasti siapa yang akan kutemui. Aku menatap kedepan dan kudapati Hana sedang berjalan membawa tumpukan buku setinggi dadanya. Aku berjalan mendekati Hana, menyapanya, dan merebut buku yang ia bawa.

    “Sini biar aku yang bawa. Berat, kan?”
    “Kau baik sekali, Tuan Sheratan.”
    “Ini mau di bawa kemana, Han?”
    “Saya hendak membawanya ke perpustakaan. Buku-buku itu adalah milik investor dari penerbit yang baru datang hari ini.”

    Sejenak aku teringat kalau Hana yang disekolah sangat berbeda. Cara bicara dan tingkah lakuku masih terbawa oleh Hana yang dua hari kemarin mengunjungi game center tempat aku bekerja. Bahkan orang-orang disekitar yang awalnya memperhatikan Hana, sekarang mulai menatapku dengan perasaan tidak baik. Setidaknya itu yang kurasakan dan kucoba tahan.

    Tunggu, coba pikir, bukankah Hana itu siswa terbaik di sekolah ini. Kenapa aku tidak coba minta bantuannya?

    “Hana, ada yang ingin kubicarakan.”
    “Ada apa, Tuan Sheratan?” Tanyanya penasaran.

    Aku menjelaskan tentang dilemma tugas yang kuhadapi pada Hana. Singkatnya, ketika telah sampai di perpustakaan, aku menyerahkan buku tersebut pada penjaga perpustakaan. Hana memintaku untuk duduk di suatu tempat sambil menunggunya kembali.

    “Maaf membuatmu menunggu.” Hana kembali sambil membawa sebuah buku di pelukannya.
    “Oh, tidak apa-apa. Buku apa itu?”

    Hana menegakkan telunjuknya di depan bibir, memberi isyarat untukku mengecilkan suaraku. Aku pun sadar kalau suaraku tadi bisa mengganggu konsentrasi pembaca-pembaca lain di ruangan ini.

    “Ah, maaf.”
    “Tidak apa-apa.”

    Hana meletakan dan membuka buku yang ia bawa pada meja di depanku. Ia membuka halaman demi halaman sedang aku memperhatikan halaman tersebut. Ia menggunakan pensil di tangannya untuk menandai suatu kalimat di dalam halaman.

    “Untuk tugas yang kau katakan tadi, kau bisa menyalin bagian ini sampai bagian ini…”
    “Apa?”

    Suara Hana terlalu kecil sehingga aku tidak mendengar. Akhirnya Hana mendekatkan wajahnya sedikit ke telingaku. Nafas Hana, serta udara yang ia hembuskan ketika berbicara, kehangatannya dapat kurasakan langsung dari telingaku. memikirkannya membuatku hilang konsentrasi, tapi kualihkan pikiranku agar kembali fokus.

    “Jadi, untuk tugas pengantar musik yang kau jelaskan tadi, kau bisa menyalin bagian ini sampai bagian ini. Kemudian dilanjutkan bagian ini sampai bagian ini. Terus…” Hana membalik-balik halaman selanjutnya. “Kau bisa mencari bahan untuk nada di sini.”

    Aku dapat memahami penjelasan Hana dengan baik. Ia guru yang baik. Tidak salah jika aku meminta bantuannya.

    “Terima kasih. Sepertinya aku yakin dapat mengerjakannya dengan cepat.”
    “Sama-sama. Kalau boleh tahu, apa menurutmu pelajaran di sekolah ini cukup sulit?”
    “Ah, bagaimana ya. Mungkin karena pelajarannya berbeda dengan sekolahku yang lama.”
    “Begitu rupanya. Apa boleh buat. Jika ada pelajaran lain yang bisa saya bantu, saya akan senang sekali.”
    “Oh, tentu. Pengajaranmu sangat mudah dimengerti. Aku pasti akan meminta bantuanmu lagi nanti.”
    “Iya.” Hana tersenyum.
    “Apa aku boleh meminjam buku ini?”
    “Kau perlu membuat kartu perpustakaan terlebih dahulu. Tapi jika tidak punya, kau bisa meminjam punyaku.”
    “Ah, terima kasih.”

    *-*​

    Hari sudah mulai agak gelap. Bola cahaya oranye yang bertugas menerangi bumi perlahan memalingkan wajahnya di ufuk barat. Sinar jingga langit sore mulai berubah menjadi keunguan, menurunkan suhu hangat di siang hari mendekati titik yang lebih dingin. Di bawah langit yang semakin gelap, aku bersepeda dari tempat kerjaku menuju rumah. Aku memarkir sepedaku di samping rumah lalu kembali ke pintu depan. Aku melihat sosok seseorang yang sedang berdiri di depan pintu rumahku.

    “Oh, jadi ini ya rumahmu?”
    “Hana. Sejak kapan kau di sini?”

    Hana datang ke rumahku, menggunakan pakaian yang biasa ia pakai untuk menyamar.

    “Aku mengikutimu dari game center.”
    “Lalu, mau apa kau kemari?”
    “Hana datang untuk main!” Ucapnya sambil membuat pose aneh
    "Rumahku bukan game center!"

    Aku menghela nafas. Setelah itu aku berjalan masuk membuka pintu.

    “Aku pulang.”
    “Permisi!”

    Aku membuka sepatuku, meletakannya di rak kemudian masuk ke dalam. Hana melakukan hal yang sama. Aku berjalan memasuki ruang tamu, lalu masuk ke dapur.

    “Ibu, ada temanku yang mampir.” Ucapku pada Ibuku yang sedang memasak di dapur.
    “Oh, siapa ya?” Ibu memalingkan perhatiannya sebentar ke araku dan Hana
    “Namanya Hana. Dia teman satu sekolahku.”
    “Selamat sore, Tante.”
    “Ara ara…” Ibuku tersenyum kepada Hana
    “Han, aku ganti baju dulu di kamarku. Kamu tunggu di sini, ya.”
    “Baiklah.”

    Aku beranjak pergi menuju kamar.

    Aku berpikir, pada dasarnya Hana adalah gadis yang sopan dan bertutur kata lembut. Awalnya aku berpikir mungkin akan jadi masalah jika aku membiarkan Hana memasuki rumahku. Tapi sepertinya, bahkan seorang Hana pun pasti mengerti bagaimana berprilaku baik sebagai tamu di rumah orang lain. Ia pasti bisa berbicara dengan baik pada Ibuku.

    Selesai berganti pakaian, aku berniat kembali mendatangi Hana. Tapi ketika kubuka pintu, aku mendengar suara tawa Hana yang begitu keras. Aku bergegas ke ruang tamu dan yang kudapati adalah,

    “Ihh… adek. Kamu lucu banget. Namanya siapa? Kenalan sama kak Hana yuk.”
    “Hueee… o n o)”

    Hana yang sedang memeluk dan mengelus-elus pipinya ke pipi adik perempuan bungsuku, Sena, yang masih kelas lima SD.

    “Woy, kamu siapa? Lepasin Sena, bibi tua!” Ucap adik laki-laki pertamaku, Sidik, yang usianya satu tahun di atas Sena.

    Hana melepaskan pelukannya dari Sena. Kemudian ia malah menjewer-jewer pipi Sidik.

    “Kamu juga ngegemesin, dek shota. Wahaha… kamu mirip Pams.”
    “Henti… kan.” Sidik mencoba menolak tapi ia tidak lebih kuat dari Hana.
    “Hana~ mau ikut makan malam di sini tidak?”
    “Tentu saja, Tante. Hana siap untuk makan!” ia mengesturkan kedua tangannya keatas seperti seorang binaraga.
    “Ara ara…”

    “Kakak…” Sena berjalan pelan mendekatiku. Sambil memeluk boneka kelinci yang ia bawa, ia melengketkan tubuhnya dan meletakan wajahnya di perutku tanpa berkata apa-apa. Sepertinya ia ketakutan pada Hana. Aku hanya bisa menepuk wajahku.

    Tapi semua berakhir baik-baik saja.

    Selagi aku membantu Ibuku memasak, Hana, Sidik, dan Sena sedang berlari-lari di ruang tamu, bermain pesawat mainan.

    “Hyunnnggg…. Dododododorr!” Ucap Hana menirukan suara pesawat sambil memegang pesawat mainan.
    “Lumayan juga.” Sidik menggerakan pesawatnya ke depan pesawat Hana. “Tapi rasakan ini, Call Down!”
    “Hwaaa! Eh, apa itu?”
    “Skill ulti double missile yang kudapat setelah level enam.”
    “Hoo… Hwaaa. Kau hampir membunuhku. Tapi sebenarnya kau terperangkap.” Dari tangan sebelahnya, Hana mengeluarkan pesawat lain dan menabraknya ke pesawat Sidik.
    “Ah, aku lengah.”
    “Wahahahaha…”

    Sena bertepuk tangan tanpa mengerti apa yang terjadi.

    “Hoi, kalian. Makan malam sudah siap.” Panggilku pada merek
    “Yeee!” Yang berteriak barusan adalah Hana.

    Mereka bertiga berlari menuju dapur dan duduk di depan meja makan.

    “Semoga kau menyukai makanan kami, Hana.”
    “Tenang saja, Tante. Hana tidak akan pilih-pilih makanan. Benar begitu, adik-adik?”
    “Ya.” Ucap Sidik dan Sena bersamaan.

    Sejak kapan mereka jadi adik-adikmu? Ketusku dalam hati.

    “Dek Hana ini teman sekelasnya Sheratan, ya?”
    “Tidak. Kami berbeda kelas.”
    “Oh, gitu. Maaf ya kalau Sheratan pernah merepotkan dek Hana. Kadang-kadang ia orangnya cuek terus susah diberitahu.”
    “Hahaha. Emang begitu, Tante.”

    Aku hanya diam sambil menahan rasa malu.

    “Tetapi menurut saya, meski kelihatannya cuek, tapi di dalam hati dia sebenarnya sangat peduli. Hanya saja ia tidak ingin merepotkan orang lain atau membuat orang lain merasa kerepotan. Sheratan tidak pernah merepotkan saya, saya lah yang sebenarnya selalu merepotkannya. Hanya saja Sheratan selalu terlihat tidak ada yang terjadi atau ia tidak mempedulikannya, agar ia tidak mendapat balas budi dari orang lain. Bahkan ia mampu menolong orang lain meski ia yang pada akhirnya mendapat masalah. Menurut saya Sheratan orang yang sangat baik.”

    Ibuku terdiam sejenak. Ia nampak terkesan atas penjelasan Hana. Aku bisa tahu meski ia mencoba menyembunyikannya karena aku tahu Ibu sejak lama.

    “Ara ara…” Ibuku tersenyum. “Lalu apa hubungan kalian?”

    Pertanyaan itu ditujukan pada kami berdua. Aku pikir Hana yang akan menjawab tapi rupanya ia ikut diam sepertiku. Tapi sesaat kemudian ia menjawab.

    “Kami hanya teman.”
    “Oh, begitu ya.”

    Kami melanjutkan makan kami. Selesai makan, kami semua merapikan piring dan alat-alat makan dari atas meja.

    “Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?”
    “Aku ingin main dengan Dek Sena.”
    “Yasudah. Tapi jangan berisik, karena aku mau mengerjakan tugasku.”
    “Tugas… Hah, iya!”

    Baru sejenak aku hendak pergi, Hana mengagetkanku dengan teriakannya.

    “Ada apa?” Tanyaku.
    “Pams, aku kemari untuk membantumu mengerjakan tugas.”

    Kau baru ingat tujuanmu kemari? Kenapa tidak bilang daritadi.

    “Tidak perlu. Aku bisa mengerjakannya sendiri.”
    “Lho? Bukannya tadi siang kau berkata akan membutuhkan bantuanku lagi?”
    “I-Itu kan… ketika kau…”

    Sifatnya yang berubah-ubah seperti ini sangat menjengkelkan. Aku akhirnya menghela nafas dan menyerah.

    “Oke, aku mengerti. Ayo ikut aku.”

    Aku mengajak Hana ke dalam kamarku. Beberapa langkah ia masuk kamarku, pandangannya berputar ke segala arah, memindai matanya ke seluruh sudut kamarku.

    “Kamar yang bagus.”
    “Terima kasih.”

    Aku merapikannya setiap hari dan aku tidak memiliki banyak barang, jadi tentu saja.

    Aku menyadari aku hanya memiliki satu kursi dan meja belajarku terlalu kecil untuk digunakan oleh kami berdua.

    “Tidak apa-apa kan kalau kita mengerjakan tugas di lantai.”
    “Iya.”

    Aku mengeluarkan buku-buku dan alat tulis yang kubutuhkan.

    “Kamarmu agak panas, ya.” Ucap Hana sambil menggerak-gerakan kerahnya.

    Aku dapat melihat sedikit cucuran keringat di leher Hana dan meluncur masuk ke dalam pakaiannya. Aku segera memalingkan pandanganku, takut jika Hana salah paham terhadap arah pandanganku.

    “Akan kunyalakan kipas anginnya.”

    Untungnya di kamar ini aku memiliki kipas angin. Ketika aku menyalakan dan mengarahkannya kepada Hana, lembar-lembar buku di lantai terbalik-balik secara acak dan aku menyadari kalau menggunakan kipas angin bisa berbahaya. Aku mengurangi dayanya ke yang paling kecil.

    “Oh, aku membawa bukuku kemari. Tapi aku meninggalkan ranselku di ruang tamu.”
    “Kalau begitu biar aku yang ambilkan.” Aku segera beranjak pergi.

    Entah bagaimana meski hanya Hana, tapi dengan adanya gadis di kamarku, aku merasa agak gugup. Atau aku merasa gugup karena Hana lah yang ada di kamarku sekarang? Aku tiba di ruang tamu dan melihat ransel Hana di sofa. Aku mengambilnya dan kemudian Ibu yang baru keluar dari dapur memanggilku.

    “Sheratan, bawa ini juga.” Ibuku menyuguhkan loyang yang di atasnya terdapat dua gelas sirup jeruk dan kue kering. Aku menghampirinya dan menerima loyang tersebut.
    “Terima kasih, Bu.”
    “Sheratan, ketika kalian berdua di kamar, pintunya jangan di tutup ya.”
    “Oh, aku mengerti.”

    Aku mengantarkan ransel Hana dan cemilan minuman dari Ibu ke dalam kamar. Ketika aku masuk ke dalam kamar, rupanya Hana telah melepas jempernya dan hanya mengenakan kaos lengan pendek berwarna pink.

    “Ah, maaf. Tidak apa-apa kan aku membuka jemperku.”
    “T-Tidak apa-apa. Ini ranselmu.”
    “Ya, terima kasih.”

    Aku mulai mengerjakan tugasku di temani Hana.

    “Jadi, aku cukup menyalin ini, kan?”
    “Iya.”
    “Lalu dilanjutkan dengan ini?”
    “Iya.”
    “Dan untuk tugasku yang berikutnya, bagian ini.”
    “Benar, tepat sekali. Kau memperhatikanku dengan baik rupanya.”
    “Terus untuk apa kau kemari?!” Tanyaku dengan nada kesal.
    “Hahaha… tentu untuk mengawasimu agar tidak ada yang salah. Juga kalau kau punya tugas lain, aku akan membantu.”
    “Ya, sebenarnya ada sih. Selagi aku mengerjakan yang ini, mau kau melihat tugasku yang lain.”
    “Tentu.”

    Kami bekerja sama mengerjakan tugasku. Hana membantuku dengan tugas yang kudapatkan, serta mengoreksi kembali yang sudah kuselesaikan. Meski dapat kukatakan walau Hana dengan sifat yang berbeda, tapi cara Hana mengajariku tetap mudah kumengerti. Tanpa terasa sedikit demi sedikit tugasku selesai. Waktu berlalu dengan cepat.
    “Aku sudah selesai dengan yang ini. Bagaimana menurutmu?”

    Kudapati Hana rupanya tertidur bersandar pada kasurku. Ia pasti kelelahan, pikirkku. Aku melihat ke arah jam dan waktu telah menunjukkan hampir pukul sepuluh. Aku berpikir apakah sebaiknya aku mengantarnya pulang atau membiarkannya menginap. Rasanya tidak mungkin aku mengantarnya pulang dengan sepeda kecuali aku membangunkannya. Dan kalau menginap, mungkin aku bisa membawanya tidur di kamar Sidik dan Sena. Tapi sepertinya jam segini mereka sudah tidur.

    “Apa boleh buat.”

    Aku berpikir untuk membiarkannya tidur di kasurku dan aku akan tidur di ruang tamu. Sejenak aku menatap wajah tidur Hana yang begitu polos. Kemudian pandanganku turun menatap bibir merah mudanya yang kecil dan sedikit terbuka. Pipiku merona, kuteguk air liur hingga tenggorokanku. Telapak tanganku bergerak pelan mendekati wajah Hana. Ujung jariku menyentuh dahi Hana lalu kusisir lembut poni Hana.

    “Terima kasih sudah membantu tugasku, Hana.”

    Perlahan aku menggendong Hana ke atas kasur lalu kututup tubuhnya dengan selimutku. Aku merapikan kembali buku-bukuku sekaligus menyiapkan untuk pelajaran besok. Tiba-tiba ibu datang ke kamarku.

    “Hana. Oh, ia tertidur ya?”
    “Ada apa, Bu?” Tanyaku.
    “Ada wanita yang mencarinya di depan.”

    Aku berjalan menuju depan pintu dan kulihat seseorang berpakaian rapi sedang berdiri di pintu depan. Setelah kuingat-ingat, aku sadar kalau ia adalah supir yang biasa mengantar Hana pulang.

    “Anu, Nona. Hana sedang tertidur.”
    “Saya mengerti. Bisa antarkan saya padanya?”

    Aku mengantar wanita tersebut ke kamarku, tempat Hana tertidur. Ia berjalan mendekati Hana. Perlahan ia menggendong Hana lalu berjalan keluar kamarku.

    “Terima kasih atas perhatian kalian pada Nona Hana. Kami permisi dulu.” Ucapnya yang sedang berdiri di pintu luar sambil menggendong Hana.
    “Tidak apa-apa. Katakan pada Dek Hana kalau ia boleh berkunjung kapanpun ia mau.”
    “Baiklah. Akan saya sampaikan, Nyonya.” Ia membungkuk sopan lalu beranjak pergi.

    Aku mengikutinya dari belakang, membantu membukakan pintu mobil agar ia dapat membaringkan Hana di dalam.

    “Berikan ini padanya.” Aku menyerahkan selimutku pada wanita itu.
    “Baiklah. Terima kasih.” Ia menerima selimut itu lalu menggunakannya untuk menyelimuti Hana. Setelah itu ia menutup pintu mobil.

    “Kau yang namanya Sheratan, bukan?”
    “Ya. Benar.”
    “Aku ingin membicarakan beberapa hal padamu.” Cara bicaranya terdengar serius.
    “Apa itu?”
    “Ini mengenai Nona Hana.” Sejenak ia menatap ke dalam kaca mobil. Kemudian pandangannya kembali di arahkan padaku. “Bagaimana perasaanmu terhadapnya?”

    Perasaanku padanya? Sebenarnya aku sendiri pun tidak mengerti. Aku jelas tidak membencinya. Dan jika harus menggunakan suka, mungkin aku menyukainya. Tapi suka seperti apa? Apa hanya sebagai teman yang baik? Atau sebagai perempuan?
    Sebenarnya untuk apa ia menanyakan itu?

    ~
    “Kami hanya teman.”
    ~

    Terbesit kembali ingatanku pada saat ketika makan malam tadi. Hana berkata bahwa kami hanya teman.

    “Memangnya ada apa?”

    Aku memberikan jawaban terambigu yang pernah ada. Tetapi aku memang ingin mengetahui situasi yang kuhadapi sekarang lebih dalam lagi.

    “Mungkin dia belum meberitahumu, tapi besok ia akan pergi keluar negeri.”
    “Apa? Besok? Apa yang akan ia lakukan? Untuk berapa lama?”
    “Soal itu aku tidak bisa memberitahukannya. Jika ia belum memberitahumu, itu artinya ia masih belum ingin kau tahu.”
    “Begitu, ya… Mungkin memang benar.” Aku menundukkan kepalaku.

    Selama ini aku tidak tahu bagaimana perasaan Hana padaku. Menjadi satu-satunya orang yang dekat padanya di sekolah, mengetahui rahasia identitasnya, tidak membuat ia akan menyukaiku, suka dalam artian ingin menjadi kekasih. Jika aku sadari lagi, akulah yang bersikap egois di sini yang berharap agar Hana memiliki perasaan itu padaku.

    “Kau belum menjawab pertanyaanku. Tapi tidak apa-apa. Itu bukanlah pertanyaan yang harus kau jawab padaku. Kami akan pergi besok malam. Kalau begitu sampai jumpa.”

    Ia masuk ke dalam mobil. Lampu mobil menyala dan kemudian mulai beranjak pergi. Aku masih berdiri menatapi kepergian mereka. Beberapa saat berlalu dan kemudian aku kembali ke dalam rumah.
     
    Last edited: 21 September 2015
  3. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    Chapter 3 - No Answer
    Keesokan harinya di sekolah, para siswa-siswi sedang heboh dengan berita tentang Hana yang tiba-tiba absen. Biasanya Hana tidak pernah absen dari sekolah. Apalagi kali ini ia absen tanpa kabar. Sedangkan aku hanya sedang duduk melamun di kelas sambil berpangku sikut pada meja. Mungkin hanya aku di sekolah ini yang tahu kemana Hana pergi.

    Sekolahku berakhir dan aku pergi ke tempat kerja.

    “Pams!”

    Aku menoleh ke belakang. Sejenak aku melihat sosok Hana tapi rupanya itu hanya imajinasiku saja. Bahkan aku masih mendengar dengung suaranya di kepalaku.

    “Pams, sudah makan belum?”
    “Temani aku ke suatu tempat.”
    “Wahahaha…”
    “Jaga rahasiaku, ya.”
    “Hana datang untuk main!”

    Aku menggeleng kepalaku untuk menghilangkan pikiran yang tidak kuinginkan.

    “Sherly. Kamu kenapa?” Tanya Flame.
    “Tidak apa-apa, kok.”
    “Kalau kau kurang enak badan, istirahat saja di rumah.” Ucapnya sambil menepuk pundakku dan beranjak pergi.

    Apa wajahku sekarang seburuk itu? Tapi entah bagaimana sekarang aku merasa lelah. Sesaat kemudian aku mengganti pakaianku dan meminta izin untuk pulang. Ketika aku hendak mengambil sepedaku, aku bertemu Hana menggunakan pakaian formal, rok panjang, dan terlihat rapi.

    “Selamat sore, Tuan Sheratan.”
    “Hana…”

    Apakah ini halusinasiku lagi? Apakah Hana yang dihadapanku asli? Aku mendekatinya, dan tanpa sadar kedua tanganku menyentuh pundaknya.

    “Ini kau, kan?”
    “Apa kau tidak apa-apa, Tuan Sheratan? Kau sepertinya kurang sehat.”
    “Tidak, aku tidak apa-apa. Apa yang kau lakukan di sini?”
    “Aku ingin bertemu denganmu.”
    “Benarkah? Memangnya ada perlu apa?”
    “Aku ingin kau mengantarku ke suatu tempat.”
    "Baiklah. Tunggu sebentar."

    Tidak seperti biasanya, aku tidak bertanya kemana Hana akan membawaku. Aku menyiapkan sepedaku dan mempersilakannya untuk naik. Hana mengarahkanku untuk menuju tempat yang ia inginkan. Perjalanan kami begitu sunyi. Hana tidak mengatakan apapun selain mengarahkan jalan. Kami sama sekali tidak membuat percakapan apapun di atas sepeda ini.

    “Di sini.”
    “Taman?”

    Hana berjalan masuk dan aku pun mengikutinya, membiarkan sepedaku terparkir apa adanya di tempat itu. Taman ini nampak sepi dan seperti sudah lama ditinggalkan. Hana terus berjalan hingga mencapai sebuah kursi kayu panjang. ia duduk di kursi tersebut.

    “Duduklah.”

    Aku duduk di samping Hana. Beberapa saat kami hanya terdiam. Aku bisa melihat kalau Hana seperti ingin mengatakan sesuatu, namun ia ingin mengumpulkan keberaniannya dulu, atau menuggu waktu yang tepat. Jika aku angkat bicara sekarang, aku takut hal itu akan mengganggu hal yang ingin ia bicarakan.

    “Kau mungkin sudah mendengarnya dari Shirayukin, bukan?”

    Shirayukin? Oh, mungkin itu nama supirnya.

    “Hana, apa benar kau akan pergi malam ini?”

    Hana mengangguk.

    “Kenapa kau tidak memberitahuku?”
    “Aku…” Hana mengambil nafas dalam. “Aku berniat untuk tidak memberitahu siapapun. Apa Shirayukin mengatakan alasan kepergianku?”
    “Tidak. Ia tidak memberitahunya. Apa kau pun tidak ingin menjelaskannya padaku?”
    “Tuan Sheratan, kumohon. Aku tidak ingin kau salah paham. Aku hanya tidak dapat melakukannya.”
    “Aku hanya─! Maafkan aku.” Tanpa sadar aku meninggikan suaraku pada Hana.
    “Katakan, Tuan Sheratan.” Hana berdiri, berjalan beberapa langkah lalu berhenti. “Aku yang siswa teladan di sekolah atau aku yang seorang penyuka game, mana sisi diriku yang lebih kau suka?”
    “A-Apa maksudmu?”
    “Kau harus memilih salah satu. Aku tidak akan menerima pilihanmu yang memilih keduanya.”

    Hana gadis yang lembut, atau Hana gadis yang periang, mana yang harus kupilih? Meski aku terkadang berpikir bahwa kedua kepribadian itu sifat yang berbeda, bagiku Hana tetaplah Hana. Tetapi sekarang Hana memintaku untuk memilih salah satunya. Apa yang harus kujawab?

    Perasaanku? Apakah ia memintaku untuk mengungkapkannya dengan jujur? Jawaban seperti apa yang sebaiknya kuberikan? Yang mana yang seharusnya kupilih?

    “Aku menganggap bahwa kau adalah orang yang hebat. Seorang putri sekolah yang dicintai oleh semua orang. Selalu berbuat baik, selalu memberi contoh yang baik, menjadi panutan sempurna untuk semua anak di sekolah. Tetapi di balik itu, kau memiliki sifat kekanak-kanakan yang tinggi, selalu ceria, selalu memaksakan kehendakmu. Tapi karena sifat itulah, aku menjadi lebih dekat denganmu. Aku jadi lebih mengenalmu. Aku jadi memiliki keberanian untuk berusaha mendekatimu. Menurutku tidak ada yang salah dengan sifatmu dan aku akan menerima semua kelebihan dan kekuranganmu. Jika kau memintaku untuk memilih, maka…” Aku berdiri dari kursiku.

    “Aku memilih Hana yang ada dihadapanku sekarang!”

    Aku berjalan mendekati Hana. Kudekap ia dari belakang.

    “Hana, aku menyukaimu.”

    Angin berhembus kencang. Dedaunan dari pohon, maupun yang telah gugur di tanah terbang ke udara. Suhu udara semakin dingin.

    Aku merasakan getar sentakan pada tubuh Hana.

    “Kenapa… Kenapa harus begini…?” Hana menangis, tidak berusaha untuk menyembunyikan suaranya maupun air matanya. “Padahal aku sudah bertemu denganmu. Padahal aku sudah dekat denganmu. Tapi kenapa harus berakhir seperti ini?!”

    Hana membalikan tubuhnya dan membalas memelukku.

    “Maafkan aku, Sheratan. Aku tidak dapat mengabulkan harapanmu. Aku tidak dapat terus 00berada di sisimu. Aku tidak dapat membalas perasaanmu. Yang bisa kulakukan hanyalah mengecewakan dan meninggalkanmu.”
    “Kalau begitu, Hana, tinggallah bersamaku! Kumohon, Hana. Jangan pergi!”

    Hana hanya menangis, tidak membalas. Ia mengubur dalam-dalam wajahnya di dadaku.

    “Maaf, Sheratan.”

    Air mata turun membasahi pipiku.

    *-*​

    Hari sudah semakin gelap. Aku dan Hana berjalan keluar dari taman. Di dekat sepedaku, terparkir limusin yang biasa menjemput dan mengantar Hana ke sekolah. Di dekat mobil tersebut, Kak Shirayukin sedang berdiri dan mungkin menunggu kedatangan kami. Ketika ia melihat kedatangan kami, ia segera membuka pintu mobil. Hana berjalan masuk ke dalam mobil.

    “Selamat tinggal, Tuan Sheratan.”

    Aku hanya diam. Pintu mobil pun di tutup oleh Shirayukin.

    Mobil tersebut menyalahakan lampunya lalu berjalan pergi dengan cepat. Aku mendekati sepedaku dan mulai mengayuh dengan pelan menuju rumah.

    Sebelum masuk ke rumah, aku memastikan wajahku tidak tampak pucat sebelum bertemu ibuku. Aku pun membuka pintu, melepas sepatu, dan berjalan masuk.

    “Sheratan…” Sapa Ibuku dari ruang tamu yang menyadari kedatanganku.”Ada surat untukmu.”
    “Surat?”
    “Ibu taruh di kamarmu.”

    Aku pun bergegas menuju kamar. Kulihat sebuah amplop yang ukurannya agak besar tergeletak di meja belajarku. Isinya juga lumayan banyak, sepertinya bukan hanya selembar surat. Dan nama pengirimnya adalah Fleurishana Nala. Aku mengambil semua isi dari surat itu. Sambil duduk di atas kasur, kubaca surat pertama.

    \_________________________________________________\
    Hai Sheratan, Pams, bagaimana kabarmu? Jika kau membaca surat ini, itu artinya aku sudah tidak ada lagi di kota ini.

    Maaf ya, aku tidak bisa mengatakannya langsung padamu. Aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya langsung padamu. Bahkan untukku menulis surat ini dan mengirimkannya padamu, mungkin aku butuh semua energi keberanian yang kupunya.

    Ada beberapa hal yang ingin kujelaskan di surat ini. Yang pertama adalah kebohongan yang kubuat beberapa hari yang lalu.

    Ketika aku menyamar untuk bermain di game center. Sejujurnya itu adalah pertama kalinya aku masuk ke tempat seperti itu. Dan juga sifat itu, sebenarnya itu hanyalah sandiwara. Kau tahu, Sheratan? Sejak kecil aku memang tertarik pada drama. Jika ada tindakan atau kata-kataku yang menyakitkanmu, aku minta maaf.

    Waktu itu juga pertama kali aku makan hamburger. Apa kau masih ingat, Sheratan? Rasanya enak, tapi daging sebanyak itu pasti bisa membuatku cepat gemuk.

    Aku ingin sekali menyampaikan salam kepada Ibumu, adik-adikmu, dan teman-teman semua, tetapi aku sama sekali tidak memiliki keberanian. Padahal kau lah yang mengajariku untuk berani berbuat demi orang lain meski kita sendiri akan dapat masalah. Apa kau tahu betapa berdebarnya jantungku ketika aku bertemu denganmu lagi tetapi kau tidak menyapa? Apa kau tahu betapa bahagianya diriku ketika kau pertama kali memainkan biola untukku? Apa kau tahu betapa senangnya diriku ketika setiap hari, kau selalu datang menyapaku dan berteman denganku? Karena kaulah semua hari-hari terakhirku berada di kota ini terasa menjadi lebih berharga.

    Aku ingin menjelaskan alasanku mengapa memilih meninggalkan kota ini. Itu adalah tujuanku sejak dua tahun yang lalu, sebelum aku masuk ke Classic Academy.

    Aku memiliki adik perempuan, namanya Seis. Ia gadis yang baik, manis, dan periang. Ia tiga tahun lebih muda dariku dan karena tubuh yang lemah, ia hampir tidak pernah keluar rumah. Meskipun begitu, ia lebih tegar daripada aku dan akulah yang selalu menangis di hadapannya. Aku sangat menyanyanginya.

    Dua tahun yang lalu, kondisinya memburuk. Ia harus di rawat inap di rumah sakit. Ayahku memutuskan untuk membawanya ke Perancis. Selain pengobatan yang bagus, ia akan lebih dekat dengan tempat kerja ayahku. Dan karena itulah kami pun berpisah.
    \_________________________________________________\

    Suratnya habis. Ketika aku menggeser surat yang kubaca tersebut, di bawahnya terdapat foto Hana yang sedang memegang pundak anak perempuan lain. Anak perempuan itu sedang duduk di atas kasur, sebagian tubuhnya tertutup selimut. Ia memeluk sketchbook dan memegang pensil di tangannya. Rambutnya coklat pendek sebahu dan ia memakai kacamata. Sepertinya ini adik yang dimaksud Hana.

    Di bawah foto ini, terdapat surat yang lain.

    \_________________________________________________\
    Aku menangis, aku berpisah dengan orang yang kusayangi dan itu menyakitkan. Oleh karena itulah aku berharap untuk tidak merasakan lagi perasaan sakit yang disebut perpisahan. Tetapi sekarang, aku telah berpisah denganmu. Hatiku serasa akan pecah berkeping-keping.

    Sakit. sakit sekali, Sheratan.

    Dan yang terakhir, ada hal yang belum kuberitahu padamu, yaitu mengenai keadaanku.
    \_________________________________________________\

    Aku menggeser lagi surat yang kubaca dan aku melihat sebuah surat yang agak berbeda. Sebuah surat yang dicetak di kertas A4. Aku membuka surat tersebut dan membaca isinya. Setelah pengamatan beberapa saat, kuketahui bahwa ini adalah surat dari rumah sakit.

    Fleurishana... Nala... 20 september... Kanker... 70% organ vital... Tumor... stadium tiga... disfungsi... Kolapsi... delapan tahun... Penyaranan operasi...

    “I… I… Ini, kan…? Mustahil. Tidak, ini tidak mungkin!”

    Aku meninggalkan surat itu di kasurku dan berlari dengan cepat keluar rumah. Kuambil sepedaku dan mulai mengayuh di kegelapan malam.

    “Hana.”

    Aku melintasi jalan kompleksku.

    “Hana…”

    Aku memasuki gang untuk menghindari jalan setapak yang macet.

    “Hana!!”

    Tanpa kusadari hujan mulai turun. Tapi tidak ada alasan untukku mempedulikannya apalagi sampai harus berhenti. Karena mengayuh terlalu cepat, sedikit sandungan pada jalan yang licin membuatku kehilangan keseimbangan dan akhirnya akupun terjatuh.

    “Arghh!”

    Aku tersungkur ke tanah. Sepedaku terlempar agak jauh dan menghantam pagar beton. Tidak ada orang disekitarku dan tidak ada yang menolongku. Aku terjatuh tepat di bawah sinar tiang lampu, merintih kesakitan.

    “Kenapa, Hana? Kenapa kita harus berpisah seperti ini? Akupun tidak mau berpisah seperti ini! Kenapa… Hana…?! HANAAAAAA!!!”

    Aku hanya bisa berteriak, memanggil nama orang yang kucintai. Sedangkan suara itu sendiri pun senyap ditelan suara hujan malam.

    Pada bagian bawah surat dari rumah sakit yang ada di kamarku, terdapat surat lain berupa kartu ucapan bertuliskan,

    “I Love You.”​
     
    Last edited: 21 September 2015
  4. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    Chapter 2.5 - Just Be No Friend (It's Time to Say Goodbye)

    #Trailer

    "Akankah ia menyapaku?"

    "Kalau tidak salah Sheratan itu..."

    "Benarkah?!"

    "Kau adalah matahariku. Tapi sekarang kau..."

    "Entahlah. Ini pertama kalinya aku tertarik pada seseorang. Apakah ini... cinta?"

    "Tidak perlu khawatir. Semua pasti akan baik-baik saja."

    "Kupikir ia hanya kesepian. Tapi semakin lama ia semakin jadi pendiam, dan berhenti untuk bicara."

    Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kukatakan?

    "Mbakem, aku ingin meminta satu hal yang hanya dapat dilakukan olehmu"
    "Tetaplah hidup demi diriku."

    "Sheratan! Itu Sheratan! Aku mendengar suaranya! Ia memanggil namaku dan aku mendengarnya sangat jelas! Aku harus pergi! Lepaskan aku!"

    .
    .
    .
    .
    .

    "Aku akan mati, bukan?"



    #Coming Soon!#​
     
  5. Sheratan

    Sheratan Parental Advisory Staff Member Uploader Donatur Event Winner VN Development Team Masa Latihan

    3.728
    738
    248
    jadi intinya hana mati gitu?
     
  6. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    nantikan saja kisah selanjutnya. kalau saya sempat tulis
     
  7. mimong

    mimong Member

    473
    140
    123
    Sebelumnya ingin bilang terima kasih sudah ikutan challenge-ku!

    Fiksi yang sangat panjang ya, khas Dejiko sekali. Betewe aku sempet berpikir ini bener kan buat #HeartBreaker Challenge, soalnya sampe dua-pertiga cerita aku gak nemu hal-hal yang bisa bikin aku nangis nantinya. Eh tahunya terakhirnya kek gitu, haduh :'(

    Dari segi pemilihan kata dan penulisan sih bagus, meski masih banyak typo. Gak apa sih, mungkin emang karena kebut kerjanya? wwww. Overall bagus kok! Hanya saja ada satu hal yang mengusikku, ini karakter Hana kenapa harus disama-persiskan dengan Um*ru di salah satu anime yang lagi rame sekarang? Ada beberapa scene yang sama persis pula. Bukan gak boleh sih, tapi rasanya akan lebih baik kalo orisinalitasnya lebih diperhatikan juga, setidaknya tidak meniru sama persis, bisa diimprovisasi dari cerita yang sudah ada. Paling tidak buat pembaca tidak sadar kalo kamu terinspirasi dari cerita lain yang sudah ada~

    Mungkin itu aja, keep writing ya ;)
     
    Dejiko likes this.
  8. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    sama-sama, kak mimong. terima kasih sudah meluangkan waktu untuk berkomentar

    syukurlah kalau cerita saya sesuai dengan tema. iya, mungkin saya mengerjakannya terburu-buru. dan mengumpulnya telat satu jam juga :(

    iya, cerita saya tidak terlalu orisinil. itu karena saya sebenarnya mau bikin parodi. ada banyak potongan cerita yang sebenarnya saya ambil dari cerita lain (Um*ru, Shi**tsu, Jb*, dll).

    saya akan lanjutkan nanti 'v')/
     

Share This Page