Share [Ori Fic] Nath's Diary

Discussion in 'Tulisan' started by hikikomorikun, 15 May 2015.

  1. hikikomorikun

    hikikomorikun at Your service, Staff Member

    379
    242
    143
    Title :
    Nath's Diary

    Genre :
    Slice of Life, Romance, School Life

    Rated :
    +15

    Character :

    Nath, Chris, Hana, Anyu

    Sinopsis :
    Tulisan seorang pemuda introvert dalam diary tentang kebohongannya, sahabat pertamanya, dan kisah cintanya.

    note : cerita ini fiktif belaka, nama-nama yang muncul dipakai karna keterbatasan daya imajinasi penulis LOL
    =====================================================================================================
    26 June 2011
    Egoist Station

    Hei komputer! maksudku diari... Ada sedikit... yang mengganjal, disini, di otak. Hahaha lemme cerita pakai bahasa serius, bahasa rumit, sesuai EYD yang kaku, biar kesannya dapat, tentang kisah pertemanan yang tidak seharusnya aku lakukan. Kau enak, hanya duduk di kamar tanpa perlu berhubungan dengan banyak orang ga perlu ketemu kejadian seperti orang-orang ini... Sialnya ketika aku sebut 'orang-orang ini',salah satu pelakunya adalah aku, kampret ga?

    Aku melihat kejanggalan dengan orang yang sering lalu-lalang di depanku, Aku... Nathan, dan Christian yang satu lagi adalah temanku.

    Hari pertama :
    tanggal X bulan Y, kami berjumpa dalam sebuah event yang aneh pula, entah kenapa aku yang aneh menurut orang kebanyakan bertemu dengan orang yang aneh menurutku. Aku bisa mengatakan bahwa, ada orang yang level anehnya sama denganku.

    "Hai, aku Nathan."
    "Christ. Panggil aja Christ"

    Itu awalnya. Perkenalan normal, antara dua orang aneh.

    Hari kedua:
    Beberapa waktu kami kerap bertemu dan berinteraksi macam manusia normal, meski kami aneh, kami melihat seseorang bernama cinta, maksudku Hana. Ya.. aku suka Hana sama seperti Christ juga. Karena kadar aneh kami, kami menyukai beberapa macam hal yang sama. Termasuk Hana yang tidak sempurna kata dunia, dengan bagian tubuh yang tidak lengkap, dengan bicara yang gagap, dan dengan harapan baru setelah rehabilitasi dia bisa normal kembali. Aku tidak tahu ada apa sebelum Hana bertemu kami, yang jelas kami lihat, Hana adalah yang ada sekarang, orang yang bisa kami sukai bersamaan dengan keadaan normalnya sebelum keadaan supernormalnya.

    Hari ketiga:
    Aku benci Christ. Entah apa sebabnya, seorang cewek datang padaku dan menangis sambil berkata Christ tidak lagi menganggap dia wanita. Dengan otak anehku, respon pertama adalah mendengarkan dia, si cewek, dan tidak bertanya pada Christ, temanku, yang aku kenal lebih dari cewek yang datang merajuk padaku. Aku berpikir akan menemui Christ setelah ini dan bertanya langsung tentang cewek ini padanya. Lalu... aku tahu dia menembak Hana.

    Hari keempat:
    Dia, Christ, menemuiku dan kami larut dengan keanehan kami hingga Hana datang menyapa dia dan aku. Ini normal, dan... Christ mulai normal, dia tidak aneh, dia manusia wajar, dan bagiku ... dia... bukan Christ. Dia melihat Hana ... Hana adalah wanita, aku pria, dan cewek yang sebelumnya hanya orang normal yang tidak tahu apa-apa tentang kata wanita. Christ... bukan manusia... dia bayangan Hana. Hari keempat... aku membenci Hana.

    Hari kelima:
    Christ menemuiku untuk tugas kampus, dan aku lihat dia adalah Christ yang aneh. Aku pikir, aku yang mulai normal atau Christ yang berubah normal. Lalu.. kami makan di kantin hingga ada telfon dari Hana. Aku ingin membanting hp-nya. Karena itu, aku merampas dari tangan Christ sampai dia berteriak,

    "PERGI SANA!!"

    Hari kelima... aku membenci Christ, Hana dan cewek yang datang padaku.

    Hari keenam:
    Aku pergi, seperti kata Christ, karena aku aneh, karena aku tidak tahu apa itu benci, aku hanya mengikuti apa yang sudah ada. Aku pergi dari Christ dari semua. Hari keenam, aku kembali ke kehidupanku. Sampai saat aku hendak menutup hari, cewek itu datang padaku dan curhat banyak, tanpa tahu apakah aku sedang normal atau sedang tidak normal. Ya, aku normal bagi dia, dan aku sedang abnormal karena baru kali itu, aku membenci orang, tapi apa ini benar sebuah perasaan benci? Ini benci, ya... orang yang aku kenal sebagai teman tetapi lebih percaya pada orang lain. Aku hampir membunuh hati cewek yang datang padaku jika saja aku tidak melihat Hana. Syukur pada Hana, aku menyelamatkan hati cewek di depanku dan syukur pada Christ, aku jadi makin membenci Hana. Syukur pada cewek ini karena aku tidak percaya lagi pada Christ. Aku menutup hari keenam... dengan kata, semoga kalian celaka dan... sebelum benar-benar aku katakan, teman sekelasku menelfon,

    "Hai, di kos gak, kalo iya segera ke RS.Sardjito, Christ opname"
    bagus... aku memang jago megutuk orang, HAHAHAHAHA, kapan giliran kedua sisanya...
    "Di kos, kenapa?"
    "Lagi sibuk yah... cuma kasi tau, gak ada yang jaga Christ di RS. Kalo mau besok datanglah"

    Aku keluar kos malam itu juga. Malam ini aku tidak tidur, tidak ke RS, hanya menunggu di tepi jalan berharap masih ada bus menuju RS, ya ... aku aneh.

    Hari ketujuh:
    Tidak ada perubahan dengan Christ, Hana, atau cewek, dan aku... Aku sendiri masih aneh. Kemudian, Christ, tanpa tahu aku yang membenci dia karna melukai perasaan cewek mendoakan dia putus dengan Hana, menangis dengan segenap tenaga karena Hana tidak ada bersama dia, saat itu, saat dia butuh. Mungkin mimpi buruk bagi dia ditunggu oleh orang yang aneh saat sakit. Aku lihat dia kerepotan mengganti bajunya dengan slang infus di tangan kanan,

    "I... ini... Nath!! darahnya naik!! Darahnya masuk selang!! Bagaimana ini!! Aku mati... aku bisa mati...!!"

    Betapa hebohnya temanku, dan dia bersamaku.

    "..."

    Aku diam sambil membantu dia mengganti baju, hingga suster yang masuk melihat kami seperti orang aneh, ya aneh... Bagaimana bisa suster bilang,'Enak yah ditunggu sama pacarnya'. Katakan bagaimana cara aku membunuh suster ini tanpa ketahuan. Hari ketujuh... Aku mendapatkan Christ lagi. Lagi?... ya... lagi! Christ lebih cocok bersamaku, bukan dengan cewek manapun. Hanya 8 jam.... dan temanku yang semalam menelfon datang dengan kindship padaku dan meledek Christ yang terbaring ketakutan melihat darah yang ada di selang infusnya. Satu kata dari Christ yang membuatku ingin mencekiknya dengan slang infus,

    "Hana... mana? Kau tidak mengajak dia??

    Aku keluar, pulang... tidak peduli lagi...
    Wahai temanku yang bodoh, bisakah kau liat aku yang di depanmu... bisakah kau liat kondisimu. Kenapa kau meliat orang lain sebegitunya! Aku berkata pada seseorang di balik sana,

    "Semoga aku yang celaka, aku ... tidak mau teman"

    Aku keluar RS dan sebuah cahaya putih cepat menutup mataku. Aku tidak ingat apapun selain Christ yang masih di ruang Bougenville no 3. Aku hanya hidup tujuh hari. Dan aku bodoh. Aku mungkin seharusnya bilang pada Christ,
    "Hai... Aku Nathan. Aku aneh, dan terimakasih kau mau jadi satu-satunya temanku dan aku malah membuangmu. Sekali saja, aku ingin kau tahu, aku ini tidak peduli, benar-benar tidak peduli pada yang lain. Entah itu pacarmu, entah itu keluargamu, entah itu orang yang sangat berarti bagimu melebihi aku yang tidak pernah kau liat sebelumnya, yang tidak akan kau sadari keberadaannya. Tapi, Keberadaanmu dan semua dirimu lebih penting dari apapun bagiku. Akan aku simpan rapi, hingga aku tidak akan menjadi beban di otakmu yang kecil yang hanya mampu memikirkan orang lain sementara membiarkan dirimu jatuh. Tapi tenang saja. Aku yang akan menolongmu, yang selalu ada untukmu kala dunia tidak melihatmu sama sekali. Datang saja padaku dengan masalahmu, aku akan mendukungmu..."

    Hei Christ...! Aku tidak menawarkan kontrak, itu hanya kata-kata yang mengganjal di hatiku yang entah kenapa aku tulis sekarang. Padahal ini hari kelima saat aku mulai merasakan kau beda. Hahaha semoga kau tidak menemukan aku pada hari ketujuh saat aku sudah menjadi abu setelah keluar dari krematorium. Aku... tidak ingin hari ketujuh berakhir seperti cerita diari ini.


    Egoist Station,

    Nathanael

    original published 2011 : FB/tejece



    16 July 2011
    Untitled Paper

    Suatu hari, bulan xx tahun 200x seorang anak berhasil masuk dan terdaftar secara resmi sebagai murid di SMA yang notabene favorit. Awalnya, anak itu... maksudnya aku, tidak berminat masuk SMA. Aku tidak pernah berpikir untuk kuliah, aku Nathan, 5 tahun sebelum aku kenal dengan Christ di sebuah universitas. Jauh sebelum aku hidup aneh, aku rasa... aku pernah jadi normal selama 5 bulan.

    Hari pertama:
    Angkatan baru wajib ikut inagurasi, ya termasuk aku. Tugas, aku paling malas ngerjain tugas tidak berguna yang tidak ada kaitannya dengan pelajaran. Dan dibentak...? Semua hanya teriakan macam klakson bus yang lalu di depan sekolah tiap hari. Uji fisik, aku terlalu sehat untuk ditahan di depan gerbang berjam-jam atau dijemur di bawah tiang bendera sambil hormat dan bernyanyi lagu-lagu nasional Indonesia. Intinya, aku setara mayat hidup yang ikut inagurasi tanpa tahu guna aktivitas itu selain menghapalkan ruangan-ruangan di sekolah yang luasnya hampir 1 hektar.

    Hari kedua:
    Pembagian kelas. Mau tidak mau, aku harus melakukan ini, mencari teman sebangku atau lebih tepatnya memilih kursi paling belakang agar tidak perlu ada yang duduk di sebelahku. Kelas aksel dengan jumlah siswa 30 anak, lebih sedikit dari kelas reguler yang berisi 44 anak, dan satu anak di kelas ternyata keluar tanpa alasan. Awalnya aku berpikir resign duluan ternyata aku kalah cepat sama anak yang mukanya saja belum pernah nampak di kelas. Ah... peduli, dengan jumlah ganjil sudah jelas aku tidak butuh memikirkan teman sebangku.

    Hari ketiga:
    Seleksi beasiswa. Hampir semua anak kelasku mengajukan beasiswa, aku pikir hanya aku yang tidak mengurus ternyata ada 11 anak lain tidak ikut mengurus beasiswa. Mungkin kaya atau mungkin tidak berniat kuliah sepertiku. Apapun alasannya yang jelas selama 1 bulan ini 3 hari dalam seminggu aku harus duduk berdampingan dengan seseorang. Syukur dengan ketidakramahanku, syukur karena aku jarang bicara tidak ada yang mencoba mendekat. Entah sial atau tantangan hidup, Aku datang telat saat bangku harus terisi genap, akhirnya aku duduk dengan Anya, selama satu bulan tiap tiga hari dalam seminggu. Serius, ini menyebalkan, sebelahku cewek.

    Hari keempat:
    Anya, cewek tanpa kata-kata. Setiap pagi dia datang, duduk, membuka tugas, menyiapkan buku untuk mata pelajaran selanjutnya, dan pergi ke perpus pas istirahat. Ada juga manusia seperti ini? Aku benci kelas akselerasi karena alasan yang satu ini, meski aku tidak tertarik dengan interaksi tapi aku sangat tidak tertarik dekat-dekat sama orang indivisualis, payah.

    "Na.. Nath..."

    Siang hari itu pelajaran berakhir, aku rasa satu-satunya cowok dikelas yang dia hapal namanya hanya aku. Itu kali pertama dia bicara dan panggil namaku.

    "Anya..."
    "Eh... maaf... berapa lama lagi kau keluar kelas?"

    Aku menoleh ke arahnya, dengan lirikan maut, dingin maksudnya

    "30 menit, motorku parkir paling dalam. Tunggu longgaran"

    Dia makin kecut,

    "Oh... gak tunggu di kantin saja yah..."
    "Di kantin rame, malas."
    "Oh... begitu yah..."

    Dia tidak meninggalkan kelas, beranjak dari kursi pun tidak, dan aku masih sibuk main game di hp sambil tetap duduk di kursi. Tidak peduli apa yang sedang dia pikirkan yang pasti aku malas beranjak dari posisi bersandar di kursi dengan kaki nangkring di meja.

    "... apa gak sebaiknya kau keluar"
    Ngusir??
    "Mau ketemuan sama pacar di sini yah. Ketemuan saja, pindah duduk pojok belakang sana."

    Lalu dia nangis. Anya nangis. Aku galak kah?


    Hari kelima:
    Selama bertahun-tahun aku sekolah, baru sekali aku tahu, bahkan masuk ke rumah teman cewek. Meski awalnya gak mau mengaku, yah aku rasa dia malu kalau ada orang yang tahu, apalagi cowok yang tahu, dan sial bagi Anya cowok itu aku. Aku merasa sedikit payah jadi cowok, hn... cukup payah, e... sangat payah. Kata salah satu artikel di majalah remaja, cewek akan sangat sensitif saat datang bulan, dan... aku tidak pernah tahu kebenarannya berhubung aku tidak pernah punya teman cewek. Saat SD gak ada anak cewek yang datang bulan, saat SMP aku masuk sekolah homogen. Anggap saja takdir atau nasib sial mu, Anya. Aku kasih pinjam jaket sama dia, dan nganter dia pulang. Dengan jaminan kartu pelajar, aku boleh pinjam helm pak satpam dengan bonus gosip pacaran. Konyol, setidaknya tidak ada orang yang liat Anya nangis sambil pegangin perutnya di kelas kemarin siang. Hari kelima, Anya mengajak aku ngobrol, ke kantin, dan mengucapkan terimakasih dengan segelas es teh dan semangkuk bubur ayam.


    Hari keenam:
    Masa rebutan beasiswa kelar juga, tapi tidak dengan Anya, kami tetap duduk sebelahan. hm... dia mengajari aku banyak soal pelajaran Kimia dan menjadi pendengar yang baik untuk penjelasan-penjelasanku tentang Bahasa Inggris, dalam istilah Biologi dapat dikategorikan dalam Mutualisme, dan aku rasa itu yang aku tahu, tidak akan bertahan berapa lama hingga relasi ini berubah jadi Komensalisme. Semester I selesai beberapa minggu lagi meski simbiosis di ekosostem kelas ini terus berlanjut, tapi aku mulai kehilangan bagian itu. Dia, Anya bilang,

    " Menyenangkan bersamamu."

    Dia bohong! Mana mungkin menyenangkan bersamaku. Kau berkata setelah aku menundukan kepala dan memasang muka baru, yang kau suka topengku. Satu bulan pertama kau, bahkan isi kelas tidak tahu siapa dan apa aku, selain absen 21, Nathanael Joseph Anas Rahael, yang selalu duduk di belakang sendirian. Kita sama-sama tidak saling mengenal jika tidak ada topeng ini, hey Anya.

    Hari ketujuh:
    Aku pindah SMA, ayahku pindah kerja. Dan aku hidup sebagai orang normal di mata dunia yang resign dari kelas X-A meninggalkan topeng itu untuk Anya. Hari-hari di SMA yang hambar, atau aku yang bodoh ? Entahlah. Aku tidak tahu masa depan, aku tidak mengira aku hanya punya waktu 6 tahun sampai aku hancur. Jika aku tahu, jika aku lebih jago berbohong, aku bisa hidup 6 tahun sebagai Nath yang menarik hati banyak orang, banyak wanita, banyak simpati dan aku makin banyak membohongi mereka. Aku lebih memilih 1 tahun mengenal orang gila bernama Christ yang bisa membunuhku kapan saja.

    Menulis kenangan seperti ini membuatku seratus kali tampak sangat bodoh. Pasti ... meratapi nasib dan menyesal, kata orang. Btw hari ini Inagurasi hari pertama untuk angkatan baru, dan dua smester yang lalu di hari yang sama seperti ini aku bertemu Christ. Tadi pagi di hall, aku lihat ada dua maba yang sama-sama dihukum karena tidak membawa barang yang jadi tugas harian. Aku ingat kaos kaki bau, tugas kami tahun lalu, dengan kompak kami menjawab,

    "Aku tidak tahu kaos kaki ini bau atau tidak, silakan saja kakak cium kalau tidak percaya"

    kami melepaskan sepatu dan mengangkat kaki ke arah seorang senior yang memeriksa tugas kami. Hahahaha dan kami dihukum mengepel jalan. Hey, Christ, apa kau ingat tugas lainnya? Aku tidak lupa sama parfum jengkol, dan ide kita tidak gosok gigi lalu buka mulut di depan senior.


    Untitled Paper

    Natanael,

    original published : FB/tejece
     
    Dejiko likes this.
  2. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    saya agak kaget waktu liat ship antara Christ x Hana. tapi karena ternyata ini tulisan tahun 2011 jadi saya maafkan.
     
  3. hikikomorikun

    hikikomorikun at Your service, Staff Member

    379
    242
    143
    aaaai dont steal your official golden pairing lah:rofl:
     
  4. Arte

    Arte Staff Member

    644
    450
    168
  5. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    chris...
    wahahaha
     

Share This Page