Share [Ori Fic] Earthscape

Discussion in 'Tulisan' started by Flame-kun, 19 January 2013.

  1. Flame-kun

    Flame-kun 大蛇武錬葬! Staff Member

    529
    257
    148
    ~*Cerita ini hanya fiksi belaka. Tidak ada sangkut paut dengan kejadian yang sebenarnya. Bila ada kesamaan nama orang, nama tempat, kejadian, dan lain sebagainya itu hanya kecelakaan semata :p*~

    Mungkin gw bakalan bikin banyak thread untuk arc lain, atau mungkin gw bakalan wrap it up disini.

    Either way, enjoy~

    [hr]

    [hr]


    Abad pertengahan...

    Ketika penjelajahan dunia sedang menjadi suatu trend tersendiri bersama dengan resikonya yang cukup tinggi, banyak tokoh-tokoh yang menantang dirinya untuk berdiri di puncak kejayaan. Banyak tujuan yang melatarbelakangi mereka, diantaranya dari menjajal keberanian sampai dengan pencarian harta karun.

    Kali ini kita akan mengambil satu cerita tentang dunia diatas permukaan air. Hanya mereka yang berani saja yang dapat membuka jalan ke dunia baru.

    Morgan Eve's Arc
    Conqueror of the Ocean​


    Log 1 - The Flipping Corsair
    [hr]
    Ya, dari sekian banyak cerita abad pertengahan yang ada, salah satunya adalah cerita Morgan Eve si pelaut wanita. Usia 16 tahun, tinggi 164cm, BWH 89/64/82, namun sudah menjadi kapten kapal. Karena sebelumnya ayahnya juga adalah seorang kapten kapal pada saat ia masih kecil, maka ia tahu dan memang memiliki kemampuan karena ia dibesarkan di laut. Dan setelah ayahnya meninggal maka ia melanjutkan cita-cita ayahnya untuk mengarungi tujuh samudera bersama dengan kapal yang diwariskan kepadanya, “Tempest Spectre"

    “Padahal gadis cilik itu adalah kapten kapal hantu. Tapi takut pada legenda hantu laut dan semacamnya...” ujar salah seorang awak kapal yang masih baru disana setelah menjalankan ritual untuk memberi persembahan kepada dewa laut dengan memasukkan bahan makanan kedalam tong yang dilempar ke laut. Biasanya tradisi ini dilakukan oleh sebagian pelaut agar sepanjang perjalanan kapalnya tidak terkena musibah.

    “Jangan bilang kapal ayahku kapal hantu!” Sang kapten kapal mendengarnya. “Dan aku tidak takut pada hantu!” Lanjut gadis itu kembali. Beberapa awal kapal yang mendengar percakapan itu tertawa.

    “Tentu saja. Sudah menjadi budaya turun-menurun bagi para kapten kapal ini untuk memberi persembahan,” kata salah satu tetua awak kapal disana. Sang kakek ini sekarang menjadi penasihat kepercayaan bagi kapten kapal yang masih gadis. Kakek ini adalah kakek dari keluarga ibunya, namanya Stewart Andersen.

    “Tapi bir mahal dan beberapa perhiasan? Ayolah, kalaupun ada yang mengambil, itu pasti orang lain,” anak baru itu kembali berujar.
    “Sang putri tidak bodoh, nak. Dia memberinya pemberat agar tenggelam dan tidak kembali ke permukaan, sehingga yang mengambilnya adalah dewa laut.”
    “Kalau mau kau bisa jadi pemberatnya, anggota baru!” Teriak Eve kepada anggota baru itu.
    “Ah, tidak, terima kasih. Aku lebih suka menerima sesuatu daripada memberi.”
    “Grrrrrr...” Eve menggeram tanda tidak setuju, diiringi dengan tawa anggota lainnya. Kakeknya segera menyudahi pembicaraan itu karena langit sudah mulai memerah, menandakan sore hari telah tiba dan kegelapan malam akan merajai langit setelahnya.

    “Hai, anggota baru, namamu...”
    “Panggil Harry saja cukup, tuan putri.”
    “Baiklah, ikan tuna! Sebagai hukuman karena telah mempermalukanku di depan awak lainnya, kau harus berjaga semalaman diatas sana tanpa makan dan minum!” Tunjuk Eve keatas tiang kapal yang biasanya dipakai navigator untuk melihat arah.

    “A- Apa!? Apa saya tidak salah dengar? Semalaman? Melihat bintang? Tanpa bir dan roti?”
    “Oh, jadi kamu masih lebih mau dilempar ke laut daripada dihukum begadang semalaman?”
    “E- errr, baiklah, tuan putri. Saya lebih baik begadang daripada dilempar ke laut dan jadi makanan ikan.”
    “Nah, kau mengerti sendiri, kan? Introspeksi dirimu disana. Kau sudah boleh turun ketika kau melihat matahari terbit.” Sang bajak laut wanita itu pun pergi dari hadapan Harry. Harry masih mengamati Eve dari belakang.

    “Antusias sekali kau menatapnya,” ucap si kakek kepada Harry. “Kau tidak punya maksud tersembunyi kan di tatapan itu?”
    “A- ahahaha. Tujuan putri itu menyuruhku begadang itu untuk berkenalan dengan beberapa anggota lainnya yang jaga malam dan memahami rasi bintang, kan?”
    “Aku tidak tahu~” ucap si kakek sambil bersiul dan menaruh kedua tangannya di belakang kepala.
    “Hei...” Harry tidak puas dengan jawaban sang kakek. Namun walau begitu Harry tahu, jawaban itu bisa dipikirkannya sendiri malam ini.
    “Pokoknya lakukan saja apa yang diperintahkannya,” adalah kalimat terakhir si kakek sebelum ia kemudian pergi meninggalkan Harry kearah. Tanpa pikir panjang Harry langsung menaiki jala dan memanjat keatas menuju ke atas tiang kapal. Walaupun ini masih sore hari dan matahari masih terlihat, namun ia sudah standby diatas sana.

    -***-

    Tak terasa, lima jam telah berlalu. Harry hanya mengamati langit sejak matahari terbenam sampai bulan sabit muncul dilangit dan diikuti oleh bintang-bintang yang menghiasi langit malam sambil mengingat-ingat waktu ketika ia baru bergabung di kapal ini sebelum pelayaran dimulai. Rasa lapar yang menghantuinya hanyut kedalam indahnya langit malam ketika ia berbaring disana.

    “Aku tidak tahu kalau disini bisa senyaman ini,” ucapnya. “Biasanya kan diatas sini sempit. Tapi pengecualian untuk kapal ini. Sampai disediakan kursi juga. Sebetulnya sebesar apa sih, kapal ini?” Harry bangkit dari baringannya dan melihat kebawah. Ia memperkirakan bila kapal ini dihitung luasnya secara keseluruhan, pasti hampir menyamai pulau kecil yang dapat ditinggali.

    “Hei, anak baru, makan nih,” suasana tenang itu terpecah ketika ada salah satu awak kapal yang datang menghampirinya membawakan makanan. Harry teringat kembali akan rasa laparnya dan langsung menerimanya dengan senang hati.

    “Terima *hap* kasih *nyam nyam*,” ucap Harry sambil makan. Setelah Harry menenggak makanannya, ia bertanya “Tapi apa tidak apa-apa? Bukannya aku tidak boleh makan dan minum?”
    “Sebenarnya ini perintah langsung tuan putri, tapi jangan bilang-bilang ya. Nanti kita berdua bisa dilempar ke laut.”
    Harry tertawa kecil mendengar ucapan awak kapal itu. “Ternyata depannya aja yang kayak besi. Tahunya...”
    “Ssh. Kita sama-sama tidak tahu apapun soal ini. Mengerti?”
    Harry mengangguk, setuju dengan ucapan si awak kapal itu. “Hei, namamu siapa?” Harry bertanya kepada awak kapal yang memberikannya makanan.
    “Panggil saja aku ‘Jack si kurus’. Sudah ya, sampai besok.” Awak kapal itu turun setelah menjawab pertanyaan dari Harry. Harry pun kembali sendirian diatas tiang kapal yang lebih mirip menara daripada tiang kapal. Sekarang ia akan melewatkan malam yang panjang tanpa boleh tidur sedetik pun.

    -***-

    Jam demi jam berlalu, dan Harry pun sedang mengisi peta dengan jangka dan kompas yang ada di tempat ia berada. Sebelumnya dia memang pernah belajar soal kartografi, namun ia tidak membayangkan kalau ilmunya akan terpakai sekarang. Ia bersyukur kalau ia masih ingat apa yang diajari di sekolahnya sewaktu ia berada di timur tengah dulu. Begitu beranjak dari duduknya setelah menggambar peta, Harry sudah bisa melihat cahaya matahari di bagian kanan kapal.

    “Kapal ini memang sedang menghadap ke utara, jadi kurasa kompasku tidak rusak dan gambaranku di peta itu benar.” ucap Harry. “Tapi, tunggu. Bukannya perjalanan kita seharusnya ke barat? Dan... apa itu di kejauhan? Pulau? Kapal?” Harry segera mengambil teropong yang ada di sana. Teropong itu berbeda dengan teropong dari kapal-kapal yang pernah ia lihat sebelumnya. Karena ukuran teropong berkali-kali lipat lebih besar, dan memiliki penyangga di tengahnya. “Teropong apa ini? Besar sekali. Siapapun yang memakainya, pasti pernah memakai benda ini sebagai meriam kecil-kecilan.”

    Harry memindahkan teropong itu kearah tempat ia melihat sesuatu tadi, dan segera mengintip dari lubang teropong. Dari situ kelihatan jelas ada warna hijau berkumpul di satu tempat. Harry mengambil kesimpulan kalau itu sebuah pulau kecil.

    “Hmm, rupanya pulau kecil. Walaupun agak melenceng dari tujuan, setidaknya aku harus segera memberi tahu hal ini,” Harry segera turun dari atas sana karena merasakan sesuatu yang janggal. Melihat belum ada awak kapal yang berjalan-jalan diatas geladak, ia segera berinisiatif untuk mencari tuan putri. Harry langsung pergi kearah ruangan kapten kapal dan membuka pintunya. Namun ia tidak melihat sang kapten kapal, hanya ruangan kosong disitu. Setelah ia teliti kembali, terdengar suara sang kapten di balik pintu dalam ruang kapten. Harry membuka pintunya, lalu-

    “Kapte- ah...”

    Didapati sang kapten sedang mandi pagi. Mereka berdua pun terkejut. Saking terkejutnya sampai mereka berdua terdiam sesaat. Spontan muka Eve langsung memerah dan panik setelah ia sadar atas apa yang terjadi.

    “#@!*#&@!()#&*!#()&!&*!)!!!!!!!!” Eve bingung mau berkata apa saking paniknya.
    “Ma, maaf, aku tidak tahu kalau-”
    “KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!”

    Si kapten cilik langsung melempari Harry dengan apapun yang bisa ia lempar. Suara derap kaki terdengar mendekat, dan akhirnya Harry ditodong pistol flintlock dan mata pedang oleh seluruh awak kapal yang datang kesana.

    “Nyalimu besar sekali, anak baru.”
    “Berani juga kau mengintip sang putri yang sedang mandi. Sudah siap menerima ganjarannya, haah!?”

    Walaupun ditodong senjata sedemikian banyaknya dan dihujani pertanyaan yang tidak kalah banyaknya, Harry tetap tenang sambil tersenyum. “Walah, walah...” ucapnya. “Tapi, apa tidak apa-apa begini?” Ucap Harry sambil menengok kearah Eve. Muka Eve yang merah padam mengambil apa yang bisa ia ambil dan mulai melemparinya kearah pintu.
    “Kalian... KELUAAAARRRRRRRR!!!!!” Teriak Eve sambil melempari para awak kapal yang menodongi Harry di depan pintunya. Seluruh awak kapal kemudian lari tergopoh-gopoh dan tentu saja Harry menutup pintunya, sebagai yang mengawali kemudian mengakhiri.

    Muka Eve masih merah padam atas apa yang terjadi. Namun ia menyadari kalau ada secarik kertas yang sengaja diselipkan di pintu. Setelah ia mengeringkan tangannya, Eve membaca kertas yang diselipkan itu.

    “Apa maksudnya ini?” Eve bingung dengan apa yang tertulis di surat itu. Sementara itu Harry...

    “Le- lepaskan! Kalian mau apa?” Teriak Harry kepada beberapa awak kapal yang memborgolnya kemudian membopongnya untuk dilemparkan ke laut.
    “Perbuatanmu sudah tidak bisa dimaafkan!”
    “Kamu harus menerima ganjarannya sesuai dengan perbuatanmu.”
    “Tu- tunggu dulu. Dengar-dengar di perairan sini banyak hiunya lho.”
    “Justru bagus, kan? Sana, silahkan mati...”
    “Waaaaaaaa!!!!!”

    Harry dilemparkan ke laut dalam keadaan diborgol. Sementara itu awak kapal lainnya tidak bisa berbicara apa-apa. Selain si kakek, Ed, yang terkejut melihat kejadian itu.
    “A- APA KALIAN TAHU APA YANG KALIAN LAKUKAN!?”
    “Kami tahu, kek,” jawab seorang awak kapal yang menjadi pelaku seraya menodongkan pistol kearah kakek itu. “Kami akan membuka jaman baru dengan kapal ini. Seharusnya kapal ini bisa lebih baik lagi dengan persenjataan sebanyak ini.”

    DOR!

    Bunyi tembakan terdengar. Beberapa awak kapal yang tadinya terdiam menyaksikan hal itu langsung meneriakkan satu kata yang sama.

    “MUTINY!!!(Pemberontakan)”

    Pertempuran pun tak dapat dihindari. Seluruh awak kapal mencabut senjatanya masing-masing. Dentuman flintlock, adu pedang, dan bunyi-bunyi keramaian pertempuran itu terdengar oleh Eve yang masih berada di dalam kamarnya.

    “I- ini...” Eve bergegas kearah geladak kapal, dan dilihatnya kapal terbagi dua. Kelompok yang menginginkan kekuasaan di kapal ini melawan kelompok yang masih setia kepada sang putri. Namun dalam pengamatannya, ada satu orang yang hilang. “Kemana Harry?” tanya Eve dalam benaknya. Salah satu awak kapal yang masih mendukungnya melihat sang putri dan segera memberi tahu apa yang terjadi.

    “Mustahil. Harry...”
    “Sepertinya dia sadar kalau ada beberapa awak kapal mau melakukan pemberontakan.”
    “...”

    Eve terdiam tanpa jawaban. Pikirannya kalut.

    “Tsk. Beginilah kalau menerima awak kapal begitu saja tanpa dicek,” ucapnya kecil. “Dikiranya hal seperti ini tidak akan terjadi...”
    “Tu- tuan putri! Gawat!” Salah seorang awak kapal menghampiri Eve dari dalam kapal. “Ruang senjata dan mesiu dikuasai belasan orang! Mereka telah membunuh beberapa awak kapal didalam!"

    Satu masalah lagi bertambah. Selama hidupnya di kapal, Eve belum pernah bertemu dengan pemberontakan kapal seperti ini. Dia hanya pernah mendengarnya saja, belum pernah melihatnya langsung. “Jadi ini yang disebut ‘siaga’ olehnya, ya...”

    “Putri, perintah anda?”
    “Tuan Putri!”
    “... habisi mereka yang menentang. Kita tunjukkan kalau nama kapal kita bukan sekedar hiasan,” ucap Eve sambil mencabut pedang berwarna hitam miliknya. “Kepada semua bawahanku! Jangan sisakan para penentang! Habisi mereka meskipun mereka teman kalian atau saudara kalian sendiri!!” Teriaknya sambil melaju kedalam medan pertempuran. Para awak kapal yang mendengar suara Eve langsung bersemangat dan mulai bertempur tanpa ragu.

    Perintah sang kapten kapal adalah mutlak. Mereka harus menaatinya apapun yang terjadi.

    The Flipping Corsair – End
     
  2. Flame-kun

    Flame-kun 大蛇武錬葬! Staff Member

    529
    257
    148
    The story of the Morgan Eve continues...
    [tab=15]With a mutiny on her ship...
    [tab=30]The ship divides into two sides; one who oppose the captain, and one who still loyal..


    Log 2 - On the Mutiny's Edge
    [hr]

    Pertempuran diatas terus terjadi. Namun hasil pertarungan sudah bisa ditebak. Pasukan yang loyal terhadap Eve memiliki semangat moral yang lebih tinggi dengan adanya sang kapten diatas. Mengetahui hal itu, Eve segera mengirim tiga awak kapalnya untuk melihat kedalam kapal. Eve akan menambahkan awak kapal yang pergi sekiranya pertempuran benar-benar selesai.

    “Conjure! Artemis! Lacrimator! Pergilah kedalam kapal!”

    “Takkan kubiarkan!” satu awak kapal yang memberontak menodongkan pistolnya kepada Eve. Namun tangannya langsung dipotong oleh Lacrimator dan segera dihabisi.

    “Siap, putri,” jawab Lacrimator agak terlambat.
    “Kamu seharusnya menjawab lebih cepat,”
    “Maaf, putri,” ucap Lacrimator seraya berangkat kedalam kapal.


    Sementara keributan berlanjut diatas, suasana dibawah sangat kontras. Sepi, seperti kuburan. Hanya ada beberapa penjaga menuju ke ruang senjata dan mesiu.

    “Memangnya penjagaan seperti ini perlu, ya?”
    “Ini rencana bos, kalau-kalau yang diatas gagal. Kita tinggal meledakkan kapal ini, kemudian kabur dengan sekoci yang sudah kita siapkan.”
    “Hoo...”
    “Ada yang datang!”

    Tiga awak kapal yang diperintah Eve maju menuju gudang mesiu. Mereka langsung disambut oleh tembakan flintlock dari depan mereka.
    “Wa- waduh, baru juga datang langsung diberondong. Sambutan yang panas sekali, saudara,” ucap Conjure sambil tertawa.
    “I- ini gila. Kamu lihat tadi sekilas sebelum mereka memberondong? Mereka mengarahkan satu meriam kesini. Sepertinya mereka masih mengangkut pelurunya dari ruang senjata,” sahut Artemis.
    “A- Apaaaaaa?! Mereka bisa merusak kapal!” Conjure terkejut atas penjelasan Artemis.
    “Maju saja yang cepat, jangan biarkan mereka melakukan hal itu!” Lacrimator langsung melesat ke depan. Bagaikan tentara yang tidak takut kepada kematian, Lacrimator menerjang seperti panah yang bisa berbelok setelah menembus lawannya. Satu demi satu lawannya ia tebas dengan pedang miliknya. Dua temannya mengikuti di belakang sambil menembaki musuh.

    Mereka bertiga bergerak cepat, tapi peluru meriam sudah diangkut. Api sudah disulut dan meriam sudah dibuka. Tinggal memasukkan peluru, menutup tutupnya, dan BOOM! Satu tiang kapal dipastikan rubuh atas kejadian ini.

    “Celaka, kita tidak akan sempat!” ucap Artemis. Walaupun Lacrimator sudah menambah kecepatannya, tapi tetap saja tidak akan sempat.

    “Hehehe, tamatlah sudah kapal ini. Menyesal kalian dalam nera- ukh!”

    Sebelum si pemberontak meneruskan kalimatnya, pipi kirinya ditendang oleh satu awak kapal yang baru saja masuk melewati jendela meriam. Setelah itu awak kapal itu langsung mengambil pedang pendek miliknya dan menebas kedua pemberontak yang akan mengoperasikan meriam itu. Kapal pun selamat dari bahaya kerusakan berat.

    “Ka- kau, bukannya kau dilempar ke laut!?” Artemis keheranan melihat awak kapal yang baru saja muncul di hadapannya. Ternyata itu Harry yang telah dilempar ke laut!
    “Ceritanya nanti saja, bagaimana situasinya?”
    “Pertarungan sepertinya masih berlangsung diatas. Juga ada laporan ruang senjata dan mesiu telah dikuasai.”
    “Bosnya sepertinya disana, ayo,” Harry langsung berlari kebawah, disusul oleh ketiga temannya. Walaupun bertemu musuh yang menghadang, Harry seperti tidak menemui rintangan dalam lajunya. Ia memperlakukan musuhnya seperti target latihan; tebas sekali, lalui, tebas sekali, lalui. Terus seperti itu sampai para pemberontak didalam kapal habis. Langkah Harry terhenti ketika ia melihat pintu di ujung koridor.
    “Nah, kalau tidak salah itu ruang senjata dan mesiu, kan?” Tanya Harry.
    “Ya,” jawab Artemis.
    “Bosnya pasti disana. Melihat dia orang yang menghindari pertarungan, sepertinya dia tidak akan mengambil resiko meledakkan dirinya sendiri... mungkin.”
    “Memangnya kau tahu siapa dalang pemberontakan ini?”
    “Aku tidak kenal namanya, tapi aku ingat wajahnya. Sudah agak tua, kok. Tunggu, aku akan memeriksa pintunya.”

    Harry melangkah dengan pelan sampai ke pintu. Kemudian ia mengecek pintu, dan ternyata pintunya memang dikunci.
    “Kita tidak bisa sembarangan memakai senjata api disini. Dan, emm, siapa yang ahli memakai senjata jarak dekat disini?”
    “Lacrima,” tunjuk kedua temannya kepada Lacrimator.
    “Salam kenal,” ucap Harry. Lacrima hanya mengangguk. “Lakukanlah apa yang dapat kau lakukan. Bergeraklah setelah petunjuk dariku.”

    Harry mengambil sebuah benda kecil dari lengan bajunya. Satu pisau kecil, dan satu alat seperti kawat.
    “Jadi kau meloloskan diri dengan cara itu?”
    “Begitulah, agak sulit memang didalam air. Tapi kalau sudah terlatih, bisa kok.”

    Terdengar bunyi “klik”, tanda kunci pintu sudah berhasil dibuka. “Oke, sudah siap?”
    Setelah bertanya, Harry langsung membuka pintunya dan berlari kearah si bos diikuti oleh Lacrima. Harry mengunci gerakannya, dan Lacrima langsung menujukan pedang miliknya ke arah leher si bos pemberontak. “Nanti dulu, kalau dia dibunuh sekarang bisa gawat. Kita bawa dulu saja dia ke dek.”
    “Artemis,” panggil Lacrimator.
    “Ya,” Artemis langsung mengambil tali yang sudah ia siapkan di punggungnya dan mengikat si bos erat-erat.

    “Aku tidak sangka kau akan melakukan hal ini, South,” ucap Conjure kepada si bos. Si bos hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan Conjure.
    “Sudah, interogasinya biar dilakukan tuan putri,” ucap Harry kepada Conjure.

    [hr]

    Setelah Harry beserta ketiga awak kapal lainnya membawa si bos pemberontak ke dek, ternyata pertempuran di dek sudah berakhir.

    “Lama sekali kalian,” ucap Eve.
    “Maaf, soalnya kami mengambil barang ketinggalan di ruang mesiu,” ucap Conjure sambil mendorong jatuh South yang menjadi pemimpin pemberontakan. “Dia pemimpinnya, pastikan saja,” lanjutnya.

    Eve langsung menodongkan flintlock miliknya kearah kepala South. “Artemis, ballista,” Eve langsung menyuruh Artemis untuk mengoperasikan ballista di dekat kemudi kapal.

    “Ada tiga kesalahan yang telah kau perbuat di kapal ini,” ucap Eve. “Pertama, kau telah mengotori kapal ayahku dengan darah kotor yang tidak seharusnya,” setelah berbicara Eve menembak tempurung lutut South. “Ikan tuna! Tegakkan balok kayu di pinggir!”
    “Ikan tuna itu siap- oh, aku ya. Baik, baik!” Harry langsung bergegas ke samping kapal dan menggulung tali. Terlihat balok kayu yang biasa dipakai untuk menjatuhkan awak kapal ke laut bila awak kapal itu melakukan kesalahan yang tak bisa ditolerir.

    “Lacrimator, seret dia ke sana!” Eve menunjuk ke pinggir potongan kayu yang ditegakkan oleh Harry. Lacrimator mengangguk dan menyeret South.

    “Kedua, kau pengecut. Kau hanya membiarkan anak buahmu bertarung sementara kau hanya enak-enakan tidur di ruang senjata kapal. Kau sudah mengotori ruang senjata dengan keringatmu,” Eve kembali menembak tempurung lutut South. “Walaupun begitu, aku memujimu karena kau tidak berbicara apa-apa bahkan bergeming walau sudah diperlakukan seperti ini,” lanjut Eve.

    Eve mengambil pedang yang tergeletak di dek kapal, dan setelah Lacrimator menyeret South ke balok kayu itu, Eve menusukkan balok kayu itu ke paha South sampai tembus ke balok kayu itu agar South tidak kabur dengan menjatuhkan diri sebelum menerima hukuman.

    “Terakhir, yang ketiga...” Eve mengacungkan flintlocknya keatas. “Kau membuatku muak. Sekarang, pikirkanlah apa yang telah kau lakukan di alam sana.”
    Eve menembakkan flintlocknya, tanda Ballista sudah harus ditembakkan. Artemis yang mengambil keputusan pahit itu tetap menembakkan ballista itu kearah South. Satu harpun besar melesat kearah South. Harpun itu menembus tubuh South dan menghancurkan papan pijakannya. Selesai sudah nasib pemimpin pemberontakan di kapal berwarna hitam itu.

    “Tidak diinterogasi, ya. Seram... seram...” sahut Harry dengan suara kecil sambil menggelengkan kepalanya. Walaupun umurnya masih belia, namun kekejamannya sama seperti bajak laut yang ada di cerita-cerita. Mungkin, lebih. Begitu pikir Harry.

    “Ada berapa orang korban?”
    “Diperkirakan saat ini ada lima puluh enam orang dan masih terus menghitung...”
    “Didalam ada lima belas orang sampai ke dekat ruangan senjata. Aku akan membantu mengangkut,” Harry menambahkan penjelasan satu awak kapal tadi.
    “Tunggu, ikan tuna. Ikut aku, aku mau bicara.”
    “Weh?”

    Dengan keheranan, Harry pun mengikuti Eve menuju kamarnya. Eve kemudian mengunci pintu kamarnya dan menodongkan flintlock miliknya.

    “Katakan semua yang kau ketahui.”
    “Tidak ada.”
    “Apa?”
    “Saya bilang tidak ada.”
    “Jangan main-main, kau yang memberitahuku akan ada hal seperti ini.”
    “Saya hanya tahu kalau pagi ini akan terjadi pemberontakan. Karena semalam saya begadang, saya kebetulan mendengarkan percakapan beberapa awak kapal...”
    “Lalu bagaimana kau bisa masuk kemari tadi pagi?”
    “Lewat pintu. Kan tidak sopan kalau tidak lewat pintu depan.”
    “Kau... kau bukan hantu kan? Jawab!”
    “Saya manusia, kok.”
    “tapi pintu itu kukunci dan seharusnya tidak ada yang bisa membukanya karena aku memegang kuncinya!”
    “Hmmm, benar juga ya.”

    DOR! Eve menembakkan flintlocknya kearah Harry. Seharusnya orang sudah panik, namun Harry tetap bersikap tenang. Eve dibuat bingung oleh pria yang ada di hadapannya.

    “Apa kau tidak takut mati?” tanya Eve kepada Harry sambil menodongkan pistolnya ke kepala Harry.
    “Saya takut, kok.” Harry menjawab dengan nada datar.
    “Kalau begitu ceritakan, kenapa kau bisa masuk kedalam kamarku. Karena pintu itu harusnya terkunci”
    “Baiklah. hitung-hitung mungkin bisa menjawab pertanyaan yang mungkin anda lontarkan, maka akan saya ceritakan. Anda sudah tahu kalau saya pemburu harta?”
    “Belum. Dan apa hubungannya?”
    “Saya spesialis pembuka kunci. Walaupun saya terlihat mahir bertarung, tapi saya masih kalah dibandingkan teman-teman saya. Asal saya dapat tahu struktur kuncinya, maka saya bisa membuka kunci yang ada didepan mata saya. Sama seperti sewaktu saya diborgol kemudian dilemparkan kedalam laut dan waktu saya membuka kunci ruang senjata dan mesiu.”
    “Pantas kau menghilang tadi. Kupikir kau yang menjadi pemimpinnya.”
    “Masak iya saya yang baru sehari disini sudah bisa merencanakan hal seperti itu.”
    “Kita tidak tahu hal itu.”

    Kemudian mereka berdua terdiam. Harry mulai beranjak, “Kalau begitu, aku permis-“
    “Tunggu!” Eve menghentikan Harry dari langkahnya. “Namamu? Aku tidak bisa memanggilmu ikan tuna terus...”
    “Panggil ‘Harry’ saja cukup, kok. Sudah ya.”
    “Kalau kau memang begitu ingin keluar...” Eve mendorong Harry sekuat tenaga keluar dari kamarnya. “Keluar saja dari kapal ini! Jatuhlah dan jadi makanan ikan!”
    “Eeeh! Hei!” Harry hampir terpeleset dari pijakannya. Salah sedikit maka ia akan tercebur kelaut lagi.
    “Hmph!” Eve menutup pintu kamarnya dengan keras, kemudian menguncinya.
    “Beri saja rantai kalau tidak mau dibuka dengan mudah!” teriak Harry dari luar kamarnya. Teriakannya dibalas dengan gedoran dari dalam. Harry agak terperanjat, namun ia mengerti alasannya.

    "Memang, menjadi kapten kapal itu berat. Apalagi kalau ternyata ada yang meremehkan karena masih belia," pikir Harry dalam benaknya.

    "Nak..." suara parau memanggilnya.
    "Oh, paman rupanya..."
    "Mungkin ia masih terkejut melihat pemandangan tadi. Kuharap kau memakluminya..."

    Stewart meminta kerendahan hati Harry. Harry tersenyum, kemudian berkata "Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, kakek tidak terluka?"
    "Hmph, luka gores seperti ini saja sih, kecil."
    "Hoooh" sahut Harry sembari mengangguk. "Oh iya, sebentar lagi kita seharusnya melihat pulau. Kira-kira kita akan mendarat disana tidak ya..."

    On the Mutiny's Edge - End
     
  3. Flame-kun

    Flame-kun 大蛇武錬葬! Staff Member

    529
    257
    148
    Trouble within the ship has been resolved...
    [tab=15]Crews gathering the remains to be dumped into the sea...
    [tab=30]Thus, bodies tied with ropes for they not return to avenge.


    Log 3 - The Aftermath
    [hr]

    Menghela nafas, Harry kemudian turut membantu membersihkan kapal dari sisa-sisa pemberontakan tadi. Mayat-mayat dikumpulkan terlebih dahulu di dek bersama dengan sampah-sampah sisa pertempuran.

    “Banyak juga ya,” gumam Harry sembari melihat mayat-mayat yang dideretkan.
    “Hampir setengah awak kapal. Kalau begini tenaga kerja di kapal kita bisa turun,” ucap seorang awak kapal di sebelahnya yang mendengar gumaman Harry.
    “Yaah, apa boleh buat. Tidak ada yang bisa menduga hal seperti ini untuk terjadi,” Harry berusaha menghibur lawan bicaranya dari suasana kelam diatas kapal.
    “Tidak, sebenarnya hal ini sudah terjadi dari beberapa waktu lalu. Ketika kau belum kemari, tentunya.”
    “Hoo...” Harry hanya bisa mengangguk karena tidak tahu latar belakang dari kejadian ini.
    “Padahal, melihat Putri yang bekerja keras menggantikan posisi ayahnya aku kagum. Tapi... TAPI-“

    “Meratapi yang sudah terjadi itu tidak baik, nak.”
    Ucap seorang tua yang terduduk di belakang mereka. Nafasnya tersengal-sengal. Pundak kanannya mengalirkan darah, ternyata bekas terkena peluru tembakan pertama aba-aba dimulainya pemberontakan.

    “Uwaah, kakek. Kenapa tidak segera ditangani?” Harry kaget melihat si kakek tidak segera merawat lukanya.
    “Tidak ada dokter di kapal ini. Aku hanya bisa menahan sakitnya saja.”
    “Tidak bisa begitu. Oi, tolong ambilkan perban atau kain bersama dengan arak. Kalau ada, yang keras,” Harry memerintahkan awak kapal yang tadi mengobrol dengannya. Setelah mengangguk, awak kapal itu langsung bergegas masuk kedalam kapal.

    “Tunggu, ya. Kakek akan kuberi pertolongan pertama.”
    “Terima kasih...”

    Harry kemudian duduk di sebelah kakek itu, sambil mengamati mayat-mayat yang diikat dengan tali kemudian dilemparkan ke laut.

    “Jangan bertanya kenapa,” ucap kakek itu. “Eve percaya bila mayat yang dibuang ke laut tidak diikat, maka mayatnya akan berenang mengarungi lautan mengejar kapal bekas dimana ia berada,” lanjutnya.

    Harry tertawa kecil, kemudian berkata “jangan bicara dulu, kek. Nanti tambah parah...”

    Harry melanjutkan untuk mengamati. Lalu tiba-tiba ia teringat hal yang ia lihat dini hari lalu. “Oh iya, sejak tadi pagi sauh kapal ini belum diangkat, kan?” Harry bertanya kepada diri sendiri. Lalu ia segera bangkit dan berlari untuk melihat keadaan sauh. Ketika ia melihat sauh masih berada di bawah lautan, ia bernafas lega. “Untunglah, setidaknya kita bisa mendarat di pulau terdekat.” Harry kemudian kembali ke tempatnya semula.

    Setelahnya datang awak kapal yang membawakan perban dan arak atas petunjuk Harry. Lalu Harry meminta dua atau tiga awak kapal untuk membantunya.

    “Mungkin ini akan sangat sakit sekali. Jadi tolong tahan, ya.”
    “Tidak di dalam ruangan saja?”
    “Lebih baik diluar karena pencahayaannya cukup bagus. Lagipula ini bukan sesuatu yang bisa ditunda. Bersiaplah, kek.”

    Harry membuka botol arak itu dan menyiramkannya ke luka si kakek. Namun ajaibnya si kakek itu tidak meronta. “Sudah mati rasa, ya. Walah...” gumam Harry dalam pikirannya. Setelah itu Harry mengambil sesuatu dari saku rompinya. Sebuah pisau kecil dan alat penjepit telah siap ditangan Harry.

    “Itu?” Satu awak kapal yang membantunya bertanya.
    “Aku akan mengeluarkan pelurunya. Tolong siramkan arak ini ke perban.” Harry langsung memulai proses pengobatannya. Si kakek meronta sedikit setelah Harry mencoba untuk mengeluarkan pelurunya.
    “Oh, maaf. Ini pasti sakit. Jadi tolong lemaskan badan kakek.”
    “Ya...” jawab si kakek sambil meringis. Setelahnya Harry mencoba untuk mengeluarkan pelurunya dengan penjepit dan... berhasil.

    “Yak, untunglah satu kali coba bisa berhasil. Biasanya ini sulit dikeluarkan. Dewi Fortuna sepertinya melihat perjuangan keras kakek melawan rasa sakit itu.”

    Si kakek berdengus sambil tersenyum. Lalu Harry bersama dengan orang-orang disana membopong si kakek ke ruangannya. Siang itu semua awak kapal sangat sibuk...

    semua, kecuali satu. Eve berbaring tengkurap di kasurnya sambil membenamkan muka di bantal. Pikirannya kalut atas pemberontakan yang terjadi barusan. Ia mulai bertanya-tanya apakah ia pantas untuk menjadi kapten kapal seperti ayahnya. Karena hal ini baru saja terjadi pertama kalinya semenjak Eve lahir.

    “Aku yang lahir dan besar di kapal ini bisa-bisanya mendapat kejadian seperti ini...”

    Kalimat itu terus terngiang di kepala Eve. Eve bingung akan langkah selanjutnya dan dirinya...

    -***-

    Sore hari telah tiba, ditandai oleh matahari yang semakin condong ke barat. Dikabarkan keadaan sang kakek sekarang sudah membaik. Kapal sekarang sedang menuju pulau kecil yang ditemukan Harry beberapa waktu lalu atas petunjuk Harry. Eve masih berada di kamarnya (yang mungkin ia tidur pulas setelah berpikir keras)

    “Aku tidak tahu kau ternyata bisa pengobatan,” ucap Conjure kepada Harry.
    “Ah, yang begini sih siapa saja juga bisa kok kalau pernah melihatnya.”

    “Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa kakek,” ucap suara di belakang Harry. Begitu Harry berbalik, ia melihat seorang wanita yang perawakannya cukup tinggi. Kulitnya berwarna hitam karenta terbakar sinar matahari. Harry agak bingung karena ia tidak pernah melihat seorang wanita di kapal ini selain Eve sebelumnya. Lantas Harry bertanya setelah terdiam sesaat. ”Maaf, kamu siapa?”
    “Wah! Dia Lacrima, tahu! Lacrima! Tadi kan kamu kerja bareng dia! Gimana sih!” teriak Conjure kepada Harry.
    “Oh, jadi dia? Kukira Lacrima itu laki-laki. Habis tadi diam saja sih.”
    “Maaf, saya tidak biasanya berbicara dengan orang yang baru saya kenal.”
    “Permohonan maaf diterima,” jawab Harry sambil mengangguk. “Salam kenal, sekali lagi.”

    Setelah berjabat tangan dengan Lacrima, Harry bersin.
    “Ah, betul juga. Semenjak jatuh ke laut tadi aku belum ganti baju. Aku permisi sebentar...” Harry langsung menuju kedalam kapal lalu masuk kedalam kamarnya. Setelah mendapatkan pakaian ganti yang pas, Harry melepas bajunya. Luka bekas tembakan, luka gores, dan luka-luka lainnya yang sudah lama tertoreh dalam jumlah yang cukup banyak di tubuh Harry. Sebenarnya kehidupan seperti apa yang pernah ia jalani selama ini?

    Belum selesai Harry ganti baju, terdengar ketukan dari pintu kamarnya bersama dengan suara yang ia kenal.

    “Kau di dalam kan?” tanya Eve dari balik daun pintu.
    “Ya, ya, sabar. Aku sedang ganti baju.”
    “Kudengar kau merawat kakekku,” Eve kembali berbicara.
    “Ah, ya. Soal itu-“
    “Terima kasih.”

    Langkah kaki yang terdengar menandakan Eve langsung pergi setelah mengucapkan terima kasih. Harry tersenyum mendengar ucapan Eve barusan. Kemudian sebelum ia keluar dari kamarnya, ia mengambil buku catatan kecil dari tasnya yang ia bawa, lalu menulis:


    The Aftermath - End
     

Share This Page