Share [Fanfic]Upin & Ipin: Last and Everlasting

Discussion in 'Tulisan' started by Dejiko, 7 August 2014.

  1. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    Last and Everlasting

    Disclaimer :

    Upin & Ipin ©Les' Copaque Productions
    UPIN & IPIN ©Dejiko


    Genre :

    ***

    Rated :

    T

    Character :

    Upin, Ipin, Susanti, Kakek Dalang, Ehsan, Fizi
    ========================================================================================
    Part 1 - Betrayal

    Tanggal 1 Juni, hanya beberapa minggu lagi sampai dimulainya pergantian tahun ajaran baru. Bagi kelas 1 dan 2 mungkin itulah yang sangat diperhatikan. Namun kami, para kelas 3 sudah jauh-jauh hari melakukan ujian nasional dan kelulusan kami pun sudah lama diumumkan. Tujuan kami di sini adalah untuk menghadiri acara perpisahan yang diadakan untuk kami. Acara sudah selesai tadi pagi dan sekarang kurasa sudah boleh pulang. Memang masih ada beberapa orang maupun pasangan yang ingin menghabiskan lebih banyak masa-masa terakhir mereka. Yah, kurasa itu wajar.

    Aku sendiri hanya bersandar santai di depan pagar sekolah sendirian. Aku menunggu kakakku yang katanya diundang sebentar oleh anggota OSIS. Dia memang seorang wakil ketua sebelum terakhir ia menyerahkan jabatannya sebulan lalu karena sudah kelas tiga.

    “Maaf ya, Ipin. Kau pergi saja duluan. Aku mau ke ruang OSIS dulu. Atau gimana kalau kau ikut juga?”

    “Gak usah. Kutunggu saja kau sampai selesai.”

    “Hmm… ya sudah kalau kau tidak apa-apa.”

    “Jadi enaknya kau kutunggu dimana?”

    “Terserah saja mau kau tunggu dimana.”

    “Baiklah. Kutunggu kau di kantin.”

    “Baik, aku pergi dulu.” Upin melambaikan tangan lalu berjalan ke belakang. Ipin pun juga langsung berbalik.

    “Eh, tunggu!” sahut Upin.

    “Apa?”

    “Kalau kau pergi ke kantin nanti aku harus ke belakang dong?”

    “Terus?”

    “Ya jauhlah. Habis itu kan kita langsung pulang. Kau tunggu saja aku di depan pagar biar bisa langsung pulang.”

    “Halah! Harusnya kau ngomong aja dari tadi.”

    Dan di sinilah aku sekarang.

    Akupun sebenarnya memiliki klub sepak bola tapi ketika aku pergi ke ruang klub, tidak ada siapapun. Mungkin semua anggotanya sudah pulang. Tidak apa-apa sih.

    “Hai.”

    Alun suara lembut perempuan terdengar dari belakang kepalaku. Meskipun ia tidak menyebutkan nama, tapi aku cukup yakin suara itu ditujukan padaku, maka dari itu aku langsung berbalik, melihar kearah pemilik suara tersebut.

    “Hai, Ipin.” Sahut perempuan itu lagi.

    Lihat, kan? Umumnya ini sering terjadi. Jika aku atau Upin tidak sedang berbarengan, orang-orang yang mencoba memanggil kami dari belakang tidak akan menyebut nama kami. Kenapa? Karena aku dan kakakku adalah saudara kembar. Mulai dari tinggi, wajah, maupun gaya dan panjang rambut kami sama. Tapi teman-teman yang sering bertemu dengan kami bisa melihat perbedaan kami asalkan sudah melihat bagian wajah. Bukan berarti wajah kami tidak mirip. Tapi mungkin kau akan mengerti rasanya jika punya teman yang memiliki saudara kembar.

    Tapi ada hal yang mendasar lagi. Aku suka memakai pakaian berwarna biru sedangkan Upin suka memakai pakaian berwarna kuning. Itu adalah warna favorit kami masing-masing. Kalau di kampung, orang-orang biasanya membedakan kami dengan melihat warna pakaian. Hal itu sudah kami lakukan sejak kecil hingga sekarang. Namun hal itu tidak berlaku di sekolah karena warna seragam semuanya sama.

    Ngomong-ngomong, yang memanggilku adalah Susanti. Ia adalah temanku sejak duduk di TK Mesra (Tadika Mesra). Namum perlu kalian ketahui kalau sebenarnya ia adalah murid pindahan ketika di TK Mesra. Ia berasal dari Jakarta, Ibu Kota Indonesia. Karena sudah cukup lama sepertinya ia nampak terbiasa dengan Negara kami.

    “Hai, ti.”

    “Kamu belum pulang?”

    “Ya. Aku menunggu Upin.”

    “Oh, dimana dia?” Susanti berjalan mendekatiku. Ia berdiri di dekatku yang sedang bersandar di samping pagar.

    “Katanya dia mau menemui teman-temannya di ruang OSIS. Sudah lumayan lama sih. Mungkin sebentar ia akan kembali.”

    “Oh, begitu ya.”

    “…”

    Aku dan Susanti terdiam sejenak. Susanti hanya melihat ke bawah. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Entah apa itu, tapi aku berpikir untuk mengangkat beberapa topik santai.

    “Jadi, kemana kau akan melanjutkan SMA nanti?”

    “Eh, soal itu…”

    Susanti melihat ke bawah. Wajahnya merona malu. Ekpresi yang di buatnya, ditambah wajahnya yang manis membuatku tidak ini melepaskan mataku untuk menikmati momen ini.

    “Belum memutuskan, ya?” Aku mengambil kesimpulan langsung karena jawaban yang kutunggu dari mulutnya tidak kunjung keluar.

    “I-Iya. Begitulah.”

    Kalau cuma hal seperti itu, kau tidak perlu malu. Pikirku.

    “Ipin. Aku pergi dulu ya.”

    “Sudah mau pulang? Hati-hati, ya.”

    “Eng… sebenarnya tidak. Aku mau mengambil sesuatu yang tertinggal di sekolah. Jadi aku kembali ke dalam dulu.”

    “Oh, begitu. Baiklah.”

    Susanti pun pergi. Aku terus memandanginya sampai ia masuk ke dalam sekolah.

    “Susanti cantik sekali.” Gumamku pelan.

    Ketika masih di TK aku memang belum merasakan hal ini. Tapi aku mulai merasakannya setelah kami masuk di SD yang sama. Bahkan sekarang berada di SMP yang sama. Perasaanku padanya semakin kuat dan kuakui mungkin sekarang aku mencintainya. Tapi sampai sekarang tidak pernah kuungkapkan itu. Aku mencoba bertahan untuk tidak menunjukkan sedikitpun perasaan itu. Apalagi sampai ada teman-teman yang tahu. Aku dan seluruh teman-teman dari kampung Durian Runtuh sudah berteman sangat lama dan kami sudah seperti saudara satu sama lain. Maka dari itu terkadang aku berpikir aku mungkin salah jika memiliki perasaan ini di benakku pada Susanti. Untungnya setiap bersama Susanti, aku tetap bisa menjaga reaksi dan ketenanganku. Aku berusaha keras agar tidak terlalu mencolok apalagi sampai membuat aku terlihat gugup ketika didekatnya.

    Tapi apapun yang kulakukan, aku tidak bisa menyembunyikannya dari kakak kembarku, Upin. Ia tahu kalau hingga sekarang aku menyukai Susanti. Bahkan aku sering bercerita padanya tentang segala hal mengenai Susanti. Curhat juga lumayan sering.

    *
    2 menit… 3 menit… 5 menit… sejak Susanti pergi ke dalam sekolah, Upin belum juga kembali. Padahal Upin bilang tidak akan lama. Kalau tahu begini mungkin harusnya aku ikut saja supaya tidak bosan. Dan baru kusadari kalau Susanti juga belum kembali. Meskipun banyak siswa yang lalu-lalang, harusnya tidak mungkin kalau aku tidak menyadari Susanti lewat.

    “Mungkin sebaiknya kudatangi saja dia. Lama sekali.”

    Aku mencari di ruang kelas, tapi kosong. Di aula juga tinggal beberapa orang yang sedang mengobrol. Aku pergi ke kantin dan Upin juga tidak ada. Ketika aku menuju halaman belakang yang menuju lapangan olahraga, aku melihat Upin dan Susanti sedang berbicara.

    “Apa yang mereka lakukan?”

    Tidak ada siapapun di taman itu dan jarakku terlalu jauh untuk mendengar percakapan mereka. Upin dan Susanti saling berbicara dan ekspresi Susanti terlihat sedih. Entah apa itu cuma perasaanku. Tapi betapa terkejutnya aku ketika kulihat Upin dan Susanti saling berpelukan. Upin bahkan mengelus-elus ubun-ubun Susanti. Mataku melotot lebar. Aku mundur beberapa langkah kemudian berlari pergi.

    “Aku tidak percaya ini…”
    [​IMG]
    ========================================================================================
    Part 2 - Twin Conflict

    Aku terbaring di atas kasurku menghadap sebuah jendela yang temboknya berada rapat dengan kasurku. Sinar matahari langsung memancar ke arah wajahku yang sayup. Dalam keheningan ini aku hanya terdiam. Sampai akhirnya aku mendengar suara sepeda berhenti di depan rumah. Pemilik sepeda itu mengucapkan salam ketika masuk dan seperti yang kuduga, Ia membuka pintu dan masuk ke dalam kamar ini.

    “Hey, lepas dulu bajumu kalau mau langsung tidur. Kalau kusut nanti dimarahin kak Ros, lho.” Ucap Upin yang baru datang dari sekolah.

    Aku tidak membalas apa yang ia katakan. Aku hanya menggerak-gerakan tubuhku untuk mencari posisi yang nyaman. Di belakangku, kurasa ia sedang berganti pakaian. Aku mendengar langkah kakinya menjauh dan suara pintu yang bergeser. Kurasa ia hendak pergi keluar.

    “Hey, Ipin. Kamu nggak kenapa-napa, kan?”

    “Aku baik-baik saja.”

    “Hmm…”

    Langkah kakinya berlanjut dan aku tidak mendengar suaranya lagi. Aku memeluk gulingku erat lalu memejamkan mata. Aku tidak ingin mempercayai apa yang kulihat. Namun semakin aku berusaha menyangkalnya dalam benakku, semakin aku sulit untuk melupakannya. Kemudian aku jadi semakin sulit menerimanya. Dan akhirnya hal itu hanya membuat hatiku semakin sakit. Bagaimana bisa saudaraku sendiri, orang yang kupercaya selama ini, bisa—maksudku aku selalu bercerita padanya dan hanya dia yang tahu perasaanku pada Susanti. Lalu kenapa bisa ia juga menyukai Susanti?

    Ini bukan berarti aku egois. Aku tahu aku bukan pacar Susanti. Aku tidak punya hak untuk mencekal siapapun laki-laki yang berusaha mendekatinya ataupun jika ia memiliki laki-laki lain yang disuka. Kalau ternyata benar Susanti menyukai Upin, ya aku tidak masalah. Memang benar Upin itu murid yang termasuk cerdas di sekolah. Walau kami kembar, tapi nilai kami berbeda cukup jauh. Lalu jabatannya sebagai wakil ketua OSIS membuatnya dikenal di seluruh sekolah. Banyak teman-teman ataupun adik-adik kelas yang mengaguminya. Satu-satunya hal yang membuatku sedih adalah aku merasa seperti dikhianati. Kalau memang Upin suka pada Susanti, harusnya ia katakan saja padaku. Padahal aku saja bisa menceritakan rasa sukaku pada Susanti ke dia. Apa seperti itu yang namanya saudara?

    Kau salah jika berpikir dengan menyembunyikan kebenaran pahit, semua akan baik-baik saja. Karena kau tidak bisa berbohong selamanya. Maka dari itu aku memilih untuk tidak menjadi orang munafik. Itu yang ingin kukatakan pada Upin sekarang.

    Aku merasa lelah. Kupejamkan mata dan rileksasi menarikku ke sebuah alam bawah sadar.

    *

    “Ipin… Kak Ros menyuruh kita buat belanja. Yuk, pergi bareng.” Upin muncul dari balik pintu, berbicara padaku yang berada di ujung ruangan di atas kasur.

    “Baiklah.”

    “Cepat. Kutunggu di luar.”

    Upin menutup pintunya lagi. Akupun membangkitkan tubuhku dari kasur. Sinar matahari dari jendela kamarku masih nampak terik namun hangatnya sore hari dicampur angin sepoi-sepoi memberi perasaan nyaman tersendiri di kulitku. Aku mengganti pakaianku, lalu keluar mendatangi Upin.

    Kami berjalan kaki menuju pasar. Upin berjalan di depan dan aku satu meter di belakangnya. Ia terlihat sedang membaca daftar belanjaan yang diberikan Kak Ros. Sedangkan aku hanya berjalan santai, melihatinya dari belakang, namun terkadang mengamati permukaan tanah yang kupijak. Tanpa terasa kami sudah sampai di pasar. Upin berbalik lalu berjalan mendekatiku dan berputar lagi. Sekarang kami berjalan sejajar.

    “Hey, Ipin. Uang yang dikasih Kak Ros ini kelebihan, lho. Uang sisa kemaren juga masih kusimpan. Mau beli ayam goreng, tidak? Kau kan suka ayam goreng.”

    “Terserah saja.”

    Aku mempercepat langkahku dan meninggalkannya. Sebenarnya aku tidak ingin bersikap dingin padanya. Tapi pada akhirnya, ada suatu hal dalam diriku yang sulit kukendalikan. Emosiku pada Upin meluap setiap kuingat kejadian tadi siang. Melihat dirinya atau hanya mendengar suaranya saja membuat kenyataan pahit itu tergambar lebih jelas di benakku. Dan terakhir, aku memang suka ayam goreng.

    Langkahku yang cepat mengantarkanku ke dekat warung milik Mail. Ia juga teman kami dari TK Mesra. Kami berada di SD yang sama tapi tidak di SMP yang sama. Warung Mail dan Ibunya menjual ayam goreng.

    “Oy, Ipin.” Mail melambaikan tangannya padaku. “Mau beli ayam goreng, gak? Enak lho. Ibuku pakai bumbu baru buat masaknya. Pasti kamu suka. ”

    Tidak lama Upin datang. Ia melihatku berada di depan warung Mail.

    “Haha… kau memang mau makan ayam goreng, kan?”

    Aku tidak menggubris sindirannya.

    “Mau beli gak, Up? Harganya dua seringgit.”

    “Ya, kami beli dua.”

    Upin memberikan uang satu ringgit padaku.

    “Kau pilihlah ayam goreng yang kau suka. Aku akan pergi membeli pesanan yang lain.”

    Upin pun segera pergi. Aku memilih dua paha ayam goreng. Setelah selesai kususul Upin di tempat pembelian sayur. Tidak terlalu lama akhirnya kami selesai berbelanja dan segera pulang. Upin membawa belanjaan lebih banyak daripada aku yang hanya membawa ayam goreng. Seperti sebelumnya, aku berjalan agak di belakang. Sesekali Upin memperlambat sedikit jalannya untuk menyajarkan denganku tapi akupun ikut memperlambat langkahku agar tetap menjauh. Kami tidak banyak berbicara sepanjang perjalanan.

    “Oi, Upin, Ipin!”

    Karena melamun aku tidak sadar sedang melewati depan rumah Kakek Dalang. Kakek Dalang memanggil kami sambil melambaikan tangan. Kami pun berjalan mendekat.

    “Kenapa, Kek?” Tanya Upin.

    “Ehsan sama Fizi sedang ada di belakang rumah buat metik rambutan. Bagaimana kalau kalian ikut mereka juga? Lumayan lah rambutan buat di bawa pulang. Bawa yang banyak untuk Kak Ros dan Nenek Uda. Belanjaannya taruh di sini saja dulu.”

    “Baiklah. Yuk, Ipin.”

    Kami meletakan belanjaan kami di teras rumah. Upin mengajakku ke halaman belakang rumah Kakek Dalang. Aku pun mengikuti. Setelah sampai di belakang, kami melihat Ehsan dan Fizi sedang memetik menggunakan galah. Ehsan hanya melihat sedangkan yang memegang galah adalah Fizi.

    “Sudah dapat banyak?” Upin langsung bertanya.

    “Eh, Upin, Ipin. Sudah lumayan, sih. Tuh, coba liat di ember.”

    Ehsan menunjuk pada Ember yang ada di sebelahnya. Ember itu sudah terisi setengah oleh rambutan. Sedangkan yang dipohon masih banyak.

    “Oy, Ehsan. Gantian dong. Dari tadi kamu makan aja.” Ucap Fizi.

    “Halah, cuma yang kecil-kecil aja kok. Lagian aku sudah tadi duluan. Kan aku yang pertama datang. Ipin, kamu pegang galahnya.”

    “Oke.”

    Aku menerima galah dari Fizi. Melihat rambutan yang berwarna merah cerah membuat bibirku kering ingin merasakan kesegarannya. Kami dari kecil memang sering memetik rambutan di tempat Kakek Dalang, terutama jika sedang musim panen. Terkadang kami datang pagi-pagi untuk memetik rambutan lalu siangnya kami jual di pinggir jalan. Kakek Dalang adalah orang yang baik. Hasil dari penjualan rambutan yang ingin kami bagi padanya tidak diterimanya. Ia berkata kalau uang itu boleh kami simpan sendiri. Itu pengalaman yang menyenangkan.

    Dalam waktu singkat, beberapa ikat rambutan pun sudah jatuh oleh ku. Jika masih hijau atau kuning tidak kupetik. Hanya yang sudah masak saja.

    “Ip, yang itu tuh ambil juga. Sepertinya enak.” Fizi menunjuk suatu arah di atas pohon. Ip adalah nama panggilanku oleh teman-teman. Nama itu kudapat ketika berada di SD. Kalau Upin biasa dipanggil Up.

    “Yang mana? Gak kelihatan dari sini.”

    “Itu lho. Sini biar kubantu.” Upin memegang galahku.

    “Tidak usah. Kau tunjukan saja!”

    “Sini aku pinjam sebentar.”

    “Lepaskan!” Aku mendorong Upin dan tanpa sengaja aku membuatnya terjatuh. Aku merasa agak bersalah. Aku ingin meminta maaf tapi mulutku susah untuk mengucapkannya.

    “Kau ini kenapa! Sejak tadi kau seperti membenciku. Kau selalu menjauhiku. Kalau kau punya masalah katakan saja!” Upin menatapku tajam.

    “Harusnya kau pikirkan sendiri perbuatanmu!”

    Setelah mendengar balasanku, Upin berdiri mendekatiku.

    “Apa salahku, hah? Aku tidak mengerti yang kau maksudkan.”

    “Tidak mengerti? Kau tidak mengerti?! Kaulah yang paling mengerti. Aku tidak percaya kalau orang sepertimu adalah saudaraku!”

    “Jangan sembarangan kau.” Upin mencengkram kerah bajuku. “Kau sadar apa yang kau katakan barusan?”

    “Ya, aku sadar. Kau melanggar janjimu sendiri!”

    “APA!”

    Upin mencoba mendorongku namun aku bertahan untuk tidak terjatuh. Kutendang perutnya dan ia termundur agak jauh. Aku memukulnya dengan batang galah tapi aku lupa kalau ujung galah tersebut adalah gunting besi pemotong yang tajam. Ujung galah tersebut mengenai wajah Upin dan membuatnya terjatuh menimpa tanah.

    “Arggh!....Aaa!” Upin merintih kesakitan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan, terutama di bagian pipi. Dari sela-sela jarinya cairan merah keluar dan melekat basah di setiap sela jari.

    “Upin!” Ehsan dan Fizi, yang tadi tidak bisa berbuat apa-apa, berlari mendekati Upin.

    “Ehsan, cepat panggil Kakek Dalang!” perintah Fizi. Dan Ehsan pun langsung berlari ke dalam rumah.

    Tanganku gemetaran dengan kencang. Bola mataku membesar. Detak jantungku berdebar tidak karuan dan begitu keras. Sangat keras sehingga mempengaruhi seluruh tubuhku, mulai dari ujung kaki hingga bahu, semuanya bergetar. Keringat dingin membasahi kening dan leherku dengan cepat. Aku menjatuhkan galah yang kupegang dan kutatap kedua telapak tanganku yang memerah dan juga bergetar.

    “Apa… yang… sudah… ku… lakukan?”
    [​IMG]
    Bersambung...
     
    Last edited: 8 August 2014
    s4skiazh likes this.
  2. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    Part 3 - Hidden Love

    “Upin.”

    “Hm?”

    “Aku nggak terlalu suka sama SMP baru kita.”

    “Hah? Kenapa?”

    “Entah cuma perasaanku aja atau apa. Anak kembar seperti dianggap aneh. Kalau di sekolah, apalagi kalau kita jalan bareng, pasti selalu diliatin orang.”

    “Bukannya dari dulu kita emang gitu? Di SD sama TK kan kita juga gitu.”

    “Memang. Kalau pas TK dan SD aku kan tidak tahu apa-apa. Tapi aku baru ngerasain malunya pas udah masuk SMP. Kamu sendiri ngerasainnya bagaimana?”

    “Hmm… jadi maksudmu kalau di sekolah kita jangan terlalu sering jalan bareng gitu?”

    “Iya. Eh, nggak sih. Nggak gitu juga. Bukan ngejauhin juga maksudku.”

    “Hahaha… kamu aneh.”

    “Punya saudara sih boleh-boleh aja. Tapi kalau kembar jadinya malah kelihatan aneh.”

    “Tidak apa-apa. Lama-lama nanti mereka juga terbiasa melihat kita.”

    “Iya, sih. Eh, Upin. Malam ini kita belajar lagi, ya.”

    “Oke. Kamu juga harus semangat belajarnya supaya bisa satu kelas sama Susanti. Kamu kan tahu sendiri kalau dia dari SD selalu 5 besar.”

    “Oyy!!” Ipin menoleh ke sekitar. “Jangan disebut dong. Nanti ada yang dengar.”

    “Iya. Sori. Tenang saja. Kamu pasti bisa kok.”

    Aku mengelus ubun-ubun adikku. Aku senang ia mau membagi rahasianya padaku. Aku senang ketika ia bergantung padaku. Dan aku senang jika aku selalu ada untuknya. Aku senang melihat senyum polos Ipin. Tidak peduli berapa lama waktu berlalu, senyumannya tetap dapat membuatku ikut tersenyum. Bagaikan sihir yang memikatku, aku akan melakukan apapun untuk dapat tetap melihat senyum itu. Bahkan wajahnya yang merona setiap kali kugoda dia dengan nama ‘Susanti’, terlihat sangat manis. Aku menyayangi adikku, Ipin. Tapi—

    “Aku senang punya saudara sepertimu, Upin.”

    Ia menyukaiku sebagai saudara. Benar, aku adalah saudaranya. Jika itu yang Ipin inginkan, jika seperti itu pandangan Ipin padaku, maka aku akan menjadi saudara terbaik yang pernah ia miliki.

    *

    Ruangan OSIS dipenuhi oleh seluruh anggota osis mulai kelas 1 sampai kelas 3. Cemilan, minuman soda, permen, dan lain-lain, memenuhi permukaan meja yang tidak begitu besar itu. Kami merayakan acara perpisahan pribadi kami disini, khusus untuk anggota OSIS. Dan sekarang ini ketua OSIS kami sedang berpidato di depan adek-adek kelasnya.

    “…Kakak mewakili seluruh angkatan kelas 3 berterima kasih pada adek-adek yang sudah menyiapkan acara perpisahan kami dengan baik. Kakak berharap semoga di masa kepemimpinan kalian sekolah ini bisa tambah maju, tambah sukses, dan siswanya tambah banyak. Wakil ketua OSIS mau menyampaikan sesuatu?”

    “Eh… eng, tidak. Sudah cukup.” Aku menolak dengan halus. Aku memang tidak punya ide apa-apa untuk disampaikan.

    Kami bersenda gurau, berpesta, dan menikmati momen terakhir kami di sekolah ini. Seorang adik kelas perempuan yang merupakan anggota OSIS mendekati tempat dudukku. Nampaknya ia ingin mengatakan sesuatu.

    “Kak Upin. Selamat ya atas kelulusannya.”

    “Ya, terima kasih.”

    “Jadi mau lanjut ke SMA mana? Atau mau masuk SMK?”

    “Em… aku sudah memikirkannya. Mungkin aku masuk ke SMA negeri saja.”

    “Eh, saya pikir Kak Upin mau masuk ke sekolah favorit gitu. Saya dengar kakak selalu jadi juara kelas. Nilai pelajaran kak Upin pasti bagus.”

    “ Yah, habisnya sekolah favorit itu mahal. Letaknya juga jauh. Takutnya aku malah kerepotan nantinya.”

    “Kan ada program beasiswa, Kak. Apa di rumah tidak ada motor?”

    “Uang beasiswa kuberikan pada kakakku untuk mengurus biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari. Aku tidak mau membebaninya dengan masuk ke sekolah yang mahal.”

    Di rumahku hanya ada empat orang. Aku, Ipin, Kak Ros, dan Nenek Ida. Kedua orang tuaku telah meninggal ketika aku masih kecil. Walaupun yatim piatu, aku tidak pernah memperlihatkan bahwa aku adalah anak yang butuh kasih sayang lebih atau bersikap tidak wajar. Aku percaya bagaimanapun aku bisa hidup layaknya seperti anak-anak normal lainnya. Pasti Ipin pun juga berpikir demikian.

    “Kamu masuk SMA biasa supaya bisa tetap sama-sama Ipin, kan?”

    Yang berbicara barusan adalah Mei Mei. Temanku sekelasku, sama-sama anggota OSIS, dan juga sama-sama tinggal di kampung Durian Runtuh. Kami juga berada di TK dan SD yang sama. Setidaknya ada beberapa teman masa kecilku yang tidak terpisahkan dariku. Itu menyenangkan.

    “Ahaha… mungkin itu benar juga. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya kalau aku tidak menjaganya.” Balasku sambil memperlihatkan senyum yang agak kupaksakan.

    “Tidak. Tidak begitu, Upin. Aku tahu apa yang sebenarnya kau pikirkan.”

    “Eh, apa maksudmu?” Aku bertanya sambil melihati wajah Mei Mei terlihat serius. Memberi kesan ganjil tersendiri padaku.

    “Kau… Mencintai… Ipin…!! Ya, kan?” Mei Mei memeluk dirinya sendiri sambil melekuk-lekuk. Nampaknya ada fantasi buruk yang tergambar di benaknya dan itu sulit kujelaskan.

    “Hoi, Mei Mei, hentikan itu. Aku merasa tidak enak.” Aku mencoba berkomunikasi dengan Mei Mei yang terlihat sedang sibuk dengan dunia imajinasinya sendiri.

    “Kumohon hentikan, Upin. Aku merasa aneh... Tenang saja, Ipin. Aku akan membuatmu nyaman. Aku tahu kau menyukainya. *****mu yang mengeras tidak dapat berbohong padaku… Ahhn~ Yametee!!” Sambil menggeliat-geliat, Mei Mei berdialog pada dirinya sendiri, menggunakan namaku dan Ipin. Dialognya pun terdengar sangat mengerikan.

    “Ya, ampun Mei Mei. Sepertinya kau memang harus berhenti membaca komik-komik itu. Aku akan ke rumahmu nanti dan mengambil semuanya.” Yang berbicara kali ini adalah seorang perempuan yang nampaknya akrab dengan Mei Mei. Aku bertaruh orang ini mengetahui sesuatu tentang pengaruh buruk yang diderita Mei Mei.

    “Tolong, jangan lakukan itu, Ran-chan! Jangan kau rebut harta karunku, selimut malamku, dan suami-suamiku! Onegai~!”

    “Ihh… sudah. Pokoknya hentikan fantasimu itu dulu. Up, maaf ya. Dia sedang mengalami masa-masa sulit.”

    “Tidak masalah. Aku sama Mei Mei sudah berteman dari kecil, kok.”

    Mei Mei memang sudah rusak. “-_-

    “A-Aku pergi duluan, ya. Aku harus segera pulang ke rumah.” Aku pamit pada semuanya dan pulang lebih awal. Aku tidak ingin membuat Ipin menunggu telalu lama.

    Baru beberapa saat setelah aku pergi, aku berpapasan dengan Susanti. Ia terkejut bertemu denganku tiba-tiba.

    “U-Upin.”

    “Hai. Ada apa?”

    “Emm… Aku… boleh minta waktumu sebentar?”

    Susanti ingin membicarakan sesuatu padaku. Akupun ingin mendengarnya dan ia membawaku ke halaman belakang sekolah. Di belakang sekolah ini terdapat taman. Kenapa harus membawaku sejauh ini? Satu-satunya kemungkinan adalah ia ingin membicarakan sesuatu yang bersifat rahasia.

    “Jadi… Ada apa Susanti?”

    “Emm… itu…”

    Susanti membuang pandangannya ke sudut kiri bawah, diikuti wajahnya yang sedikit menunduk. Kedua tangannya dikepalkan di antara kedua pangkal kaki. Ia seperti hendak mengucapkan sesuatu yang cukup membuatnya gugup. Beruntung ia tetap berusaha agar tubuhnya tetap menghadap ke arahku. Aku tahu kalau ia adalah cewek yang sopan dan pemalu. Dan juga terkadang sedikit kekanak-kanakan. Tapi Susanti jugalah teman masa kecilku. Kalau mau ngomong sesuatu atau minta tolong ya bilang aja. Woles aja kali. Aku tidak mengerti apakah ia ingin meminta sesuatu dariku atau apa. Aku menunggu kelanjutan kalimatnya dengan tenang.

    “Sebenarnya… aku…”

    Tunggu!
    Aku tahu kalimat ini... Ketegangan ini... suasana ini... Karena di tahun ketiga ini aku sudah mengalaminya setidaknya empat kali. Dan bisa dibilang mungkin ini yang kelima. Jangan bilang kalau… Susanti mau menembakku? Tidak tidak! Susanti tidak boleh suka padaku. Karena Ipin suka pada Susanti. Kalau sampai Ipin melihat ini, bisa-bisa ia takkan mempercayaiku lagi. Lagi pula bagaimana bisa selama ini Susanti tiba-tiba…

    “…Menyukaimu…”

    Aku harus menolaknya. Itu sudah jelas. Tapi, kalau cuma kutolak itu tidak bisa. Susanti hanya akan tetap menyukaiku. Aku harus membuat Susanti tidak menyukaiku. Akan kutolak ia dengan kasar. ‘Hmph, apa yang kau pikirkan?! Kita ini dekat cuma karena kenal sejak kecil. Jangan berharap terlalu banyak, wanita jalang!’ semacam itu. Sebenarnya aku tidak mau menodai persahabatan kita, Susanti. Tapi, ini demi Ipin. Ipin lebih berharga dari siapapun. Jika ini yang kau minta, aku bersedia merusak persahabatan kita. Walaupun harus dengan kekerasan.

    “…Ipin.”

    Eh!?

    Susanti mengangkat wajahnya. Aku dan Susanti saling menatap mata satu sama lain. Matanya tersipu malu dan pipinya merah padam. Tapi aku hanya menatap dengan sedikit keheranan. Setelah beberapa detik tiba-tiba ia terduduk di tanah dan menghembuskan nafas hangat.

    “HUEEEEEEE!!!” Susanti merengek sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku malu banget! Kalian terlalu mirip. Aku mencoba beranggapan kalau kau adalah Ipin dan aku sedang berbicara pada Ipin. Tapi tanpa sadar sejenak kupikir kau berubah jadi Ipin!”

    “Tunggu dulu.” Aku mencubit kedua pangkal hidungku sambil menutup mata. Kepalaku agak sakit. “jadi sebenarnya yang kamu suka itu Ipin?!”

    “Oyy!!” Susanti berdiri dengan cepat lalu menoleh ke sekitar. “Jangan mengatakannya terlalu keras. Bagaimana kalau nanti ada yang dengar?” Ia melambai-lambaikan tangannya dengan cepat dan wajahnya masih merona.

    Ya ampun.

    “Maaf, mungkin aku membuatmu bingung. Tapi, benar. Aku ingin bilang padamu kalau aku suka sama Ipin.”

    “Oh, jadi sekarang kau ingin meminta bantuanku mengatakannya pada Ipin?”

    “T-Tidak. Itu tidak perlu. Maksudku, aku tidak tahu apakah tidak apa-apa kalau ia tahu aku suka padanya? Aku agak takut.”

    “Jangan khawatir. Aku yakin kalau Ipin pun—” Aku memotong kalimatku.

    “Hm?”

    “Eng… Maksudku kau kan cewek yang baik. Aku dan Ipin sudah kenal kamu sejak lama. Kurasa dengan insting saudara kembarku, Ipin juga memiliki pemikiran baik tentangmu. Ya, entahlah. Kenapa nggak coba tembak dia kayak tadi?”

    DUKK!

    Susanti menyikut pinggangku dengan keras. Rasanya luar biasa sakit hingga membuatku rebah di atas tanah.

    “J-Jangan mengatakan hal memalukan seperti itu! Dasar Upin bodoh! Aku malu banget tahu!” Susanti tersipu malu sambil menutup wajahnya lagi. “Oh, benar. Ada satu hal lagi yang perlu kukatakan padamu.”

    Ekspresi Susanti kembali serius. Sepertinya ia teringat sesuatu.

    “Upin, nampaknya aku akan… kembali ke Indonesia…”

    Angin berhembus kencang, menerpa depu dan dedaunan, dan membuat pepohonan di sekitar halaman bergoyang-goyang mengikuti arah angin yang mengeluarkan suara sedih khasnya.

    “… dan melanjutkan SMA di sana.”
    [​IMG]
    ========================================================================================
    Part 4 - Last and everlasting
    Bermula dari tempat parkir sepeda, meluncur keluar pagar sekolah, melewati bangunan dan rumah-rumah yang nampak familiar, hingga sesaat kemudian mencapai bagian sunyi yang terletak di sudut kota. Aku dan Ipin bersepeda dari sekolah menuju rumah kami di kampung durian runtuh. Sebelum memasuki daerah perkampungan, kami harus menyusuri jalan raya terlebih dahulu kemudian masuk melalui jalan aspal yang lebih kecil, menuju suatu area yang sekelilingnya masih dipenuhi oleh warna hijau aneka pepohonan. Ada satu tanjakan yang tinggi, dimana kami harus turun dari sepeda dan menggiringnya sambil berjalan kaki untuk melewatinya. Disitu kami turun dari sepeda dan berjalan menyusuri tanjakan. Ipin yang ada di belakangku berjalan lebih cepat dan kemudian kami berjalan berdampingan.

    "Hey, Upin."

    "Hm?"

    "Apa benar kau ingin melanjutkan ke SMA di tengah kota?" Ucapnya lirih.

    "Apa aku pernah berkata begitu?"

    “Tidak sih. Makanya aku tanya.”

    “Entahlah. Aku sendiri belum memutuskannya dengan baik sampai sekarang.”

    “Begitu ya.”

    “Kalau kau sendiri?”

    “Sudah jelas, kan? Aku akan sekolah di tempat Susanti akan bersekolah.”

    “Oh, benar juga. Harusnya aku tahu. Aku merasa bodoh sudah bertanya.”

    “A-Apa maksudnya itu? Ah, aku tidak peduli. Setidaknya aku sudah memutuskan tempatku. Aku sih tidak bermaksud memaksa, tapi kalau kau memang belum memutuskannya, lebih baik kau ikut aku saja.”

    “Hm… gimana ya? Tapi kalau bisa sih aku mau sekolah yang akreditasnya bagus.”

    “Tunggu, aku salah. Upin, pokoknya kau harus ikut ke sekolah yang akan kutempati nanti.”

    “Heh, kenapa?”

    “Kau bisa bersekolah dimanapun kau mau. Tapi aku cuma bisa masuk ke SMA yang standar. Dengan kata lain, kau lah yang harus ikut denganku. Dan aku juga melarangmu memilih sekolah yang mahal. Sekolah mahal itu letaknya jauh. Selain itu beasiswa yang kau dapat nanti sebaiknya diberikan pada Kak Ros untuk mengatasi keuangan rumah kita.”

    “Kau benar. Aku bahkan tidak berpikir sejauh itu. Baiklah, aku mengerti. Tapi ngomong-ngomong Susanti sekolah dimana?”

    “Hee… soal itu aku sendiri juga belum tahu. Hahaha.”

    “Hoi!”

    “T-Tenang saja. Kalau ada kesempatan nanti aku tanyakan.”

    “Huft~ ya sudah lah.”

    -*-

    Dari balik pintu, aku melihat Upin yang terbaring lemah di atas kasur, di dalam kamar gelap diterangi cahaya bulan malam. Sebagian wajahnya ditutupi perban dan pembalut luka dan sedalam apapun aku berpikir, aku takkan tahu betapa sakitnya luka yang diderita Upin. Yang aku sadari hanyalah betapa bodohnya diriku.

    Perlahan kututup pintu kamar kemudian aku pergi ke teras depan rumah. Aku duduk berpangku lutut di tangga teras, merenungkan apa yang telah terjadi.

    “Rupanya kau di sini.” Terdengar suara Kak Ros menyapaku dari belakang pintu.

    “Kak Ros.”

    Ia duduk di sampingku, dengan posisi bertopang lutut yang tidak jauh berbeda denganku.

    “Aku mendengar apa yang terjadi dari Ehsan dan Fizi. Apa benar begitu kejadiannya? Kau yang melakukannya?”

    Aku menangguk pelan. “Ya. Aku yang melakukannya.” Aku memalingkan sedikit wajahku dari Kak Ros.

    “Aku percaya kau tidak mungkin melakukan itu tanpa alasan yang jelas. Ataukah itu cuma kecelakaan? Kalau bisa aku ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi.”

    Aku hanya diam. Bukan karena aku ingin mengabaikannya. Tetapi aku sungguh tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan tersebut. Berkelahi karena Susanti? Tidak mungkin kukatakan itu.

    “Apa kau membenci kakakmu Upin?”

    “T-Tidak.”

    “Ya, aku percaya itu.”

    Kak Ros memberi jeda pada kalimatnya.

    “Ayah dan Ibu telah pergi ketika kalian masih sangat kecil. Dan kemudian aku dan Nenek lah yang merawat kalian di rumah ini. Nenek sudah sangat tua dan letih sehingga tidak dapat mengurus terlalu banyak hal. Jadi aku harus siap berjuang sendirian. Aku tidak berpikir kalau aku dapat merawat kalian dengan baik atau tidak. Tapi aku berpikir kalau aku harus bisa. Karena kalian adalah titipan dari Ayah dan Ibu. Meskipun banyak saat ketika aku memarahi kalian dengan keras, tapi ada kalanya aku berpikir memarahi kalian bukanlah pilihan yang tepat. Ada saatnya dimana aku harus membina sikap kalian. Dan ada saatnya aku harus memahami perasaan kalian. Itulah yang kupelajari selama merawat kalian hingga sekarang.”

    Kak Ros mengatakan hal tersebut sambil menatap langit. Perlahan aku mulai melirikan wajahku ke arahnya.

    “Dan pastinya aku akan repot kalau kalian hidup dalam pertengkaran.”

    “Kak Ros…”

    “Hm?”

    “Apa Upin akan memaafkanku?”

    “Seingatku ini bukan pertama kalinya kalian bertengkar. Tapi setiap kali bertengkar, kalian akan kembali berbaikan. Ya, aku yakin kali ini Upin akan memaafkanmu.”

    Aku tersenyum gembira. Kemudian aku dan Kak Ros saling berpelukan.

    “Terima kasih, Kak Ros.”

    -*-

    Suasana sudah semakin terang dan hangat. Sinar putih mentari pagi mulai menyelimuti dunia melalui garis cakrawala dan mengembalikan suhu dingin fajar kembali ke derajat yang lebih stabil. Aku yang duduk di ruang tamu memutuskan untuk mengintip lagi isi kamar.

    Perlahan kubuka pintu lalu aku menatap ke arah sudut ruangan. Upin telah bangun. Ia duduk di atas kasur sambil menatap keluar jendela. Sebagian tubuhnya, mulai paha sampai kaki, masih tertutup selimut. Menyadari kehadiranku, ia mengarahkan pandangannya ke arah pintu masuk kamar.

    “Oh, Ipin.”

    Aku berjalan mendekati dirinya. Setiap langkah yang kuambil dipenuhi kegugupan, kecemasan, dan tekad yang kuat secara bersamaan untuk meminta maaf.

    “U-Upin! Aku minta maaf. Maafkan aku karena telah melukaimu!” Aku menundukkan sedikit tubuh dan kepalaku.

    “Aku telah banyak memikirkannya…” Upin memalingkan wajahnya keluar jendela.

    “Upin! Aku tidak masalah jika kau menyimpan dendam padaku. Jika kau ingin membalas memukulku, lakukanlah sebanyak apapun yang kau mau. Tapi kumohon maafkan aku. Aku tidak ingin mengakhiri ikatan persaudaraan kita.”

    Upin terdiam sebentar kemudian dia mendeham.

    “Ehem… Aku memang telah memikirkan banyak hal, tapi aku tidak pernah berpikir untuk mengakhiri persaudaraan kita.”

    Upin memutar kembali pandangannya ke arahku. Aku sebisa mungkin tidak berubah dari posisi merundukku.

    “Aku merasa kemarin kau agak menjauhiku. Dimulai ketika kau malah pulang sendirian ke rumah dari sekolah. Padahal ketika di sekolah tidak terjadi apa-apa pada kita. Aku benar-benar tidak tahu apa yang sudah kulakukan padamu. Bisakah kau menceritakannya?”

    Aku mengangkat kepalaku untuk membahas hal tersebut.

    “Aku… Ketika di sekolah, di halaman belakang, aku melihatmu bersama Susanti. Dan kalian saling berpelukan. Sebenarnya Upin, apakah kau—“

    “T-T-T-T-Tidak Tidak Tidak!! Aku ingat sekarang! Yang kau lihat itu tidak benar, Ipin. Aku sama sekali tidak ada apa-apa dengan Susanti dan tidak sama sekali melakukan apa-apa dengan Susanti. Itu semua hanya salah paham!”

    Upin merapatkan punggungnya ke jendela sambil menggoyang-goyangkan kedua tangannya dengan cepat.

    “Hee… kenapa dengan reaksi hiperaktif itu? Kau jadi terlihat mencurigakan.” Aku menyipitkan mataku.

    “Aku minta maaf Ipin!” Upin sujud di atas kasur. “Sebenarnya pada saat itu Susanti sedang menangis. Jadi sebagai teman, aku hanya ingin menghiburnya.”

    “J-J-Jangan begitu Upin! Akulah yang salah karena mencurigaimu. Aku merasa malu sudah marah kepadamu karena salah paham. Huee…”

    Aku tidak dapat membendung tangisku. Bukan hanya karena telah jahat kepada Upin atas kesalahpahaman, tapi juga karena aku tidak menyangka bahwa ia benar-benar akan memaafkanku, bahkan kembali meminta maaf padaku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika hubunganku dengan Upin harus berakhir gara-gara ini.

    Aku memeluk tubuh Upin sambil menangis di atasnya.

    ‘Wah, adikku ini manis sekali. Kalau sudah begini, kakak mana yang tidak akan memaafkannya?’ pikir Upin, dan tentu saja tidak diketahui Ipin.

    “Oh, iya. Ngomong-ngomong kenapa pada saat itu Susanti menangis?” Aku mengangkat kepalaku dan mengadah ke arah wajah Upin.

    “Heh… AAH Iya! Aku harus memberitahumu sesuatu yang penting.”

    Sebenarnya Upin telah berpikir untuk menceritakan tentang kepergian Susanti sejak tadi pagi. Tapi kejadian barusan mengacaukan ingatannya.

    -*-

    “Hah! Susanti akan pergi?! Kenapa dia hanya mengatakannya padamu? Dan kenapa kau tidak memberitahukannya padaku sejak awal?!”

    Ipin berdiri dari tempat duduknya karena kaget.

    “Sudah kubilang, kan? Ia memintaku untuk tidak menceritakannya pada siapapun, terutama padamu. “

    “T-Terus yang kau bilang, dia suka padaku… itu benar?” O///O

    “Y-Ya. Itu benar. Aku yakin ia mengatakan itu.” O///O

    “Ahaha… bagaimana, ya? Aku jadi tidak enak. Tapi dia malah pergi.”

    Upin berdiri dan memegang kedua pundakku dengan keras.

    “Belum. Kau masih punya kesempatan. Ia masih disini. Sekarang kau harus membuat keputusanmu dengan cepat.”

    “Tentu saja. Sudah jelas, kan? Aku akan menyampaikan perasaanku.”

    “Bagus. Susanti berkata ia akan pergi hari ini dan penerbangannya ke Indonesia dijadwalkan pukul 08.40 pagi.”

    Mereka berdua bersamaan melirik jam dinding yang menunjukkan waktu pukul 08.00.

    “Sisa 40 menit lagi!!”

    “Ayo cepat kau bergegas. Tidak ada waktu lagi!”

    Aku berlari keluar, mengambil sepedaku, dan—

    “Tunggu!”

    “Ada apa lagi, Upin?”

    “Kau berniat pergi ke bandara dengan sepeda?”

    “I-Iya.”

    “Takkan sempat. Ayo ikuti aku.” Meski masih dipenuhi perban, Upin tetap bersikeras membawa sepedanya dan dari belakang aku mengikutinya.

    Upin mengantarku ke rumah jarjit. Di depan rumahnya, kami sudah langsung bertemu dengan Jarjit.

    “Jit, kami butuh motormu!.”

    Upin menjelaskan semuanya dengan cepat. Dan setelah itu, Jarjit membawaku menggunakan motornya.

    “Aku tidak tahu kalau Susanti pulang hari ini. Tenang saja, aku akan mengantarmu ke bandara dengan cepat.”

    “Tolong ya, Jarjit.”

    Sepeda motor itu benar-benar melesat dengan cepat. Dalam waktu singkat kami telah keluar dari kampung dan sudah hampir masuk ke dalam kota.

    08.15

    “Susanti. Kau tidak ketinggalan Sesuatu, kan?”

    “Tidak, bu.” Jawab Susanti dengan gelisah melihat pintu luar bandara. Kemudian Susanti dan keluarganya melewati loket pengecekan dan berada di ruang tunggu.

    08.25

    Ipin berlari menuju bandara namun ia kebingungan karena begitu banyak orang.

    “Hoi, Ipin!” Jarjit kembali mendatangi Ipin setelah memarkir motornya.

    “Aduh, bagaimana aku bisa menemukan Susanti di tengah kerumunan orang ini?”

    Ponsel Ipin berbunyi. Terlihat di layar, yang menelponnya adalah Upin.

    “Ipin, apa kau sudah ada di sana?”

    “Aku baru saja tiba. Tapi aku tidak tahu bagaimana harus mencari Susanti di bandara luas ini. Bagaimana ini, Upin?!”

    “Tenanglah. Aku yakin ia masih ada di sana. Kalau sudah pukul segini, mungkin ia sudah berada di ruang tunggu. Apa ada jalan untukmu masuk ke bagian dalam bandara?”

    “Entahlah. Kami akan mencarinya.”

    “Baiklah. Aku sebentar lagi akan sampai di sana.”

    “Apa? kau juga kemari?!”

    Sambungan telepon ditutup oleh Upin. Sebenarnya Ipin mengkhawatirkan keadaan Upin yang masih terluka. Tetapi ia sadar kalau ia tidak punya banyak waktu lagi.

    “Jarjit, coba kau cari jalan pintas lain untuk bisa masuk ke dalam. Aku akan coba masuk ke dalam dan mencari Susanti.”

    “Oke.”

    08.30

    Sebuah pemberitahuan bahwa pesawat maskapai Elang Airlines, rute internasional Malaysia – Indonesia akan segera berangkat. Ipin yang berada di dalam loket pun mendengar suara yang berasal dari ruang tunggu tersebut.

    “Gawat!”

    Ipin berlari keluar teras bandara. Di sana ia bertemu Upin yang sedang terengah-engah.

    “Kau belum bertemu dengan Susanti?” Ucap Upin.

    “Belum. Dan sebentar lagi pesawatnya akan terbang.”

    Ponsel Ipin berbunyi lagi. Kali ini SMS dari Jarjit.

    “Aku menemukan jalan pintas untuk masuk lapangan udara. Teruslah pergi ke sisi kiri bandara.” Itu isi pesan yang dikirim Jarjit

    Dengan segera Upin dan Ipin bergegas berlari mendatangi Jarjit.

    08.35

    “Jadi di sini?”

    Mereka bertiga berdiri di depan pagar beton yang tingginya sekitar lima meter.

    “Kalau memanjat takkan bisa. Tapi kalau berpijak dengan itu mungkin bisa.”

    Jarjit menunjuk pada mobil pengangkut yang bersandar merapat dengan pagar. Tinggi mobil itu sekitar setengah tinggi pagar.

    “Di balik pagar ini adalah lapangan terbuka. Kalau sudah melewati itu, sisanya tinggal berlari hingga menuju lapangan udara.”

    “Ini sudah cukup. Terima kasih, Jarjit.” Ucap Upin.

    Upin dan Ipin memanjat mobil pengangkut itu. Tentu saja tubuh mereka yang kalah tinggi dari pagar masih tidak bisa menggapai ujung pagar meskipun mengangkat tangan. Tetapi mereka berdua tidak terlihat ragu.

    “Berhati-hatilah, teman-teman.”

    “Oke.” Jawab Ipin.

    Ipin melepas sandal yang ia pakai dan menyangkutkannya di tangan. Sedangkan Upin melakukan sedikit perenggangan tangan.

    “Kau tahu, Ipin. Aku selalu merasa senang ketika kita melakukan berbagai hal gila bersama. Meskipun harus melakukan tindakan jahil skala nasional seperti ini, aku merasa bergairah.”

    “Tentu saja. Hidup kita telah dipenuhi petualangan, bahkan sejak kita masih kecil.” Ipin membalas sambil melakukan perenggangan kaki.

    “Tapi kita selalu dapat melalui semua itu.”

    “Karena kita selalu bersama.”

    Upin mengambil kuda-kuda, menyatukan jari-jari tangannya dan meluruskan tangannya menghadap bawah. Kedua telapak tangannya membentuk sebuah pijakan. Sedangkan Ipin mengambil ancang-ancang berlari, dan panjang mobil pengangkut itu tidak lebih dari empat meter.

    “1… 2… 3…!” Ipin berlari ke arah Upin. Ia menjadikan tangan Upin sebagai pijakan lompat kaki kanannya.

    “Kejarlah dia. Nyatakan perasaan cintamu, Ipin.” Kalimat itu diucapkannya dengan pelan ketika Ipin berpijak pada tangannya. Dan Ipin mendengar kalimat tersebut.

    Dengan sekuat tenaga Upin mengangkat tangannya dan membuat Ipin terbang tinggi di udara. Yang menunggu Ipin selanjutnya adalah tanah semen yang tidak empuk sama sekali. Namun ia dapat mendarat dengan aman. Diiringi bunyi agak keras dan sedikit kepulan asap debu.

    “Larilah, Ipin!”

    “Serahkan padaku.”

    Ipin kembali memakai sandalnya kemudian berlari. Jarak yang harus ia tempuh masih sekitar seratus meter sampai ia tiba di pesawat terdekat.

    ‘Dari kejadian yang kualami beberapa hari terakhir ini, aku belajar banyak hal. Pada awalnya aku berpikir selama aku bisa bertemu dengan Susanti, dan melihat senyum wajahnya, tidak apa-apa. Aku merasa aku puas dengan semua itu. Tidak masalah apakah ia tahu aku menyukainya atau tidak. Namun kemudian tepat di depan mataku, sebentar lagi Susanti akan pergi. Berpikir aku takkan pernah bertemu dengannya lagi dan melihat wajahnya lagi, pastinya aku merasa frustasi. Apakah tidak apa-apa jika aku membiarkan dia pergi tanpa ia mengetahui perasaanku?’

    “Apa Ipin akan berhasil, ya?” Jarjit bertanya agak gelisah.

    “Berhasil atau tidak, kita hanya dapat menunggu.” Balas Upin sambil duduk di atas mobil pengangkut. “Dan saranku, sebaiknya kau segera kembali, Jit.”

    “Memangnya kenapa?”

    “Kau tahu tidak kalau menyelinap ke dalam bandara adalah perbuatan ilegal? Kalau Ipin sudah pasti akan tertangkap. Akupun juga akan menyerahkan diriku. Tapi kalau kau masih bisa kabur sekarang juga. Kami berterima kasih atas bantuanmu sekaligus minta maaf karena telah melibatkanmu. Kau tidak harus terlibat sampai sejauh ini.”

    “Ah, benar juga. K-Kalau begitu aku pergi duluan, ya.” Jarjit pergi dengan perasaan takut.

    “Hati-hati.” Upin membalas dengan senyum.

    ‘Aku yang biasa mungkin akan tetap bersembunyi di dalam zona amanku. Takkan mau melakukan segala hal melelahkan seperti ini. Aku adalah orang yang merasa nyaman di dalam ketidakpastian. Namun hal itu berubah ketika aku tahu bahwa Susanti selama ini juga menyimpan perasaannya padaku. Aku kembali berpikir apakah selama ini Susanti pun merasakan hal yang sama sepertiku? Apakah selama ini ia merasa tertekan di dalam ketidakpastian sama sepertiku? Seandainya aku memiliki kesempatan, aku ingin berkata bahwa ia akan baik-baik saja. Karena akupun selama ini juga menyukainya. Disaat itulah aku sadar, cinta akan lebih baik jika kau mengungkapkannya.’

    ‘Mungkin inilah yang disebut penyesalan. Tetapi karena sudah sampai sejauh ini aku menolak untuk kembali. Menyesal hanya untuk pecundang. Pemenang adalah mereka yang berjuang hingga akhir.’

    Pesawat Elang yang hendak berangkat sudah terlihat. Ipin mempercepat larinya mendekati pesawat tersebut. Sebagian besar penumpang sudah berada di dalam pesawat.

    “Susanti. Kau duduklah duluan. Ibu dan Ayah akan menaruh barang di bagasi atas.”

    Susanti duduk merapat di dekat jendela. Ia memalingkan wajahnya ke arah luar jendela. Di luar jendela ia melihat sesosok laki-laki berlari di lapangan udara. Ia mencoba memandang lebih jelas ke arah laki-laki tersebut.

    “Jangan-jangan, itu…”

    Ipin merasa yakin dengan pesawat yang di datanginya. Pesawat maskapai Elang yang sebentar lagi akan berangkat. Ia semakin mendekati pesawat tersebut.

    ‘I-Itu Susanti? Di dalam pesawat sana, tidak salah lagi. Tetapi apa yang harus kukatakan? Apa dia akan mendengar suaraku? Argh! Sudah sejauh ini, jangan di sia-siakan!’

    Suara mesin pesawat semakin keras dan perlahan-lahan ia mulai bergerak. Aku sadar bahwa waktuku sudah tidak banyak.

    “CEPATLAH KEMBALI! AKU AKAN MENUNGGUMU, SUSANTIII!!!!” Aku berteriak sekeras mungkin dan lapangan udara yang luas membuat suaraku bergema sangat keras.

    Aku terengah-engah dan keringatku bercucuran begitu banyak. Tidak lama kemudian pandanganku menemukan Susanti dari balik kaca pesawat. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan dan matanya terlihat berkaca-kaca. Sampai akhirnya kecepatan pesawat memisahkan kami.

    “Kau berhasil. Ipin…” Ucap Upin yang masih duduk santai di atas mobil. Setelah itu ia melompat turun.

    -*-

    ‘Inilah cerita masa remajaku. Cerita cinta yang dipenuhi petualangan, misteri, dan… keringat? Setelah kejadian itu aku di datangi oleh beberapa satpam. Yah, tentu saja aku langsung panik. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Yang kutahu sudah saatnya aku untuk lari. Aku berlari ke dalam bandara. Di tengah kerumunan aku dapat kabur dari mereka dengan cepat. Sampai aku tiba di depan teras bandara, Upin telah siap menungguku… dengan sepeda?’

    “Ayo cepat naik!”

    Aku langsung menaiki pijakan sepeda yang ada di ban belakang sepeda Upin. Seketika Sepeda itu langsung melesat cepat.

    “Hey, apa kau tidak apa-apa mengendarai sepeda dengan wajah penuh perban begitu?”

    “Kau sudah melakukan tugasmu di dalam sana. Kini saatnya giliranku untuk beraksi. Hahaha…”

    “Hahaha…”

    Dan hari itu menjadi hari yang tidak terlupakan.
    [​IMG]
    Ichirun & Zerorin - Sagakure.net

    =Fin=
     
    Last edited: 17 January 2015
    s4skiazh likes this.
  3. Sheratan

    Sheratan Parental Advisory Staff Member Uploader Donatur Event Winner VN Development Team Masa Latihan

    3.728
    738
    248
    Liat apa ene dibawah sana sampai mukanya begini?

    Wogh

    Jadi NTR gini

    faak lah ene wakakakak

    btw logat melayunya gak ada ene si upin sama ipin ah elaaah

    we want more, we want more!
     
  4. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    saya tidak bisa bahasa melayu. mungkin kakak mau menerjemahkannya ke bahasa melayu :D

    cerita part 2 akan lebih gelap. siapkan kokoro anda

    because I want to ruin your childhood :p
     
  5. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    part 2 udah jadi bray. cek atas :p
     
  6. EsFadhaa

    EsFadhaa Member

    165
    26
    63
  7. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    kasih tau muhatir nih.... :p
     
  8. EsFadhaa

    EsFadhaa Member

    165
    26
    63
    bakampret. ane kasih tau igor dah
     
  9. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    silakan saja. saya sama igor gak ada apa-apa kok :p
     
  10. EsFadhaa

    EsFadhaa Member

    165
    26
    63
    dasar tsun tsu . ane ama muhatir-kun.senpai/san ga ada apa apa -,- :p
     
  11. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    update part - 3

    sori klo updatenya kelewat lama :v
     
  12. EsFadhaa

    EsFadhaa Member

    165
    26
    63
  13. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    liat ke atas
     
  14. s4skiazh

    s4skiazh kembali! Staff Member

    231
    180
    136
    :m_amazed:

    Susanti~!! Susanti kembali ke Indonesia. Selamat datang! :m_joy:

    Mei-mei, sejak kapan Mei-mei jadi fujo? :love:

    salah emot

    Ditunggu kisah-kisah selanjutnya, Kak :ok:
     
  15. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253

Share This Page