Share [Fanfic]Tower of Eternity

Discussion in 'Tulisan' started by Dejiko, 10 July 2015.

  1. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    Tower of Eternity

    Genre :

    Action, Fantasy

    Rated :

    +13

    Character :
    Raze(OC), Senia, Magaleta, Peri

    ========================================================================================

    Ini adalah fanfic dari cerita game Eternal Senia, ARPG yang dibuat oleh seseorang yang terinspirasi dari game mmorpg Ragnarok. versi inggrisnya sekarang bisa di donlot gratis di steam. kalau ada yang belum tau atau belum main bisa cek thread https://oniichan.us/threads/eternal-senia.2723/
    karena saya mengambil setting setelah kejadian di game, jadi mungkin cerita ini hanya akan dimengerti oleh orang yang sudah memainkan gamenya. jikalaupun belum memainkannya, kalian tetap boleh membaca cerita ini
    ========================================================================================
    Raze terus berlari sepanjang koridor kastil. Di belakangnya, sekitar jarak 10 meter, seekor chimera mengejarnya bagai singa yang mengamuk. Chimera itu mengejar dengan berlari menggunakan keempat kakinya. Meski memiliki sayap, tetapi terbang di koridor panjang yang tidak terlalu luas ini pastinya akan merepotkan. Pada pertigaan lorong di depan Raze, muncul seekor chimera lain dari balik tikungan yang memotong koridor tersebut. Dan sekarang Raze terjebak dengan chimera di depan dan belakangnya.

    “Mereka tidak ada habis-habisnya.”

    Raze bersiap untuk bertarung. Ia telah mengarahkan pedangnya ke salah satu chimera. Kedua chimera menyerang secara bersamaan, tetapi Raze melompat tinggi ke atas dan membuat kedua chimera itu bertabrakan. Seketika Raze mencapai tanah, ia melesat menuju kedua chimera itu dan menebas mereka dengan cepat. Chimera itu mengaum kemudian hancur menjadi asap ungu.

    “Ini sudah yang kedua belas. Eh, tidak. Tiga belas. Bahkan sebelumnya, aku menemui puluhan zombie sejak datang kemari. Benar apa yang orang-orang katakan. Tempat ini sangat dipenuhi oleh monster.”

    Raze memasukan kembali pedangnya ke dalam sarung di punggungnya. Ia kembali melanjutkan perjalanan. Di ujung lorong, ia dihadapkan oleh sebuah pintu besar yang terbuat dari batu. Ia membayangkan apa yang kira-kira ada di balik pintu ini. Setelah terdiam beberapa saat, ia mendorong pintu tersebut. Baru sedikit celah terbuka dari pintu tersebut, sebuah cahaya putih sudah dapat di rasakan. Hingga akhirnya Raze membuka pintu tersebut secara penuh dan masuk ke dalamnya.

    -Prologue-​

    Namaku Raze, 18 tahun. Aku adalah ksatria muda yang berasal dari sebuah desa yang jauh dari ibukota. Saat ini, aku sedang dalam perjalananku memasuki Menara Keabadian, sebuah menara yang menyimpan kekuatan misterius, yang konon katanya dapat mengabulkan segala permohonan. Mereka menyebut kekuatan tersebut dengan nama Keabadian. Untuk mendapatkan kekuatan Keabadian, kau harus memasuki Menara Keabadian yang dijaga oleh monster-monster buas yang sangat kuat.

    Aku telah berlatih keras selama bertahun-tahun untuk menjadi prajurit yang tangguh. Dan tujuanku mendapatkan kekuatan Keabadian adalah untuk mengembalikan desaku yang sudah hancur diserang oleh iblis 3 hari yang lalu. Kudengar iblis-iblis itu datang dari dalam Menara Keabadian, sehingga tidak ada alasan bagiku untuk tidak masuk ke dalam menara ini. Jikalau aku tidak dapat mendapatkan kekuatan untuk mengembalikan desaku, aku masih bisa datang kemari untuk membalas dendam.

    Pada saat pertama aku memasuki menara ini, ada banyak monster yang menyerang dan mengepungku. Sebagian besar dari mereka adalah zombie dan prajurit tengkorak, juga monster lendir yang bisa muncul dari mana saja. Sejak pagi hingga malam aku terus bertarung sendirian menghadapi ratusan monster hingga aku sudah tidak punya tenaga lagi. Aku terduduk di lantai, bersandar pada dinding di belakangku sambil menatapi bulan purnama kuning yang cahayanya terbias oleh jendela besar di depanku. Tangan kiriku sudah tidak mampu lagi mengangkat pedang. Jika saja pada saat ini ada satu saja monster yang muncul, mungkin itulah akhir dari hidupku. Di tengah kesunyian malam, lorong yang senyap, sejenak kudengar langkah kaki kecil yang menghampiriku. Apakah itu monster? Ataukah itu seseorang? Tapi mustahil rasanya jika ada orang lain yang berada di menara ini.

    “Kau terluka. Apa kau tidak apa-apa?”

    Suara yang sangat menghangatkan, seorang wanita, penuh kepedulian, tertuju padaku. Aku menoleh ke arahnya dan ternyata ia hanya berjarak beberapa centimeter dariku. Ia berjongkok untuk melihat wajahku, yang aku yakin terlihat pucat.

    Wanita itu memiliki rambut pirang panjang sepinggang, ia memakai pakaian merah yang sepertinya adalah pakaian biarawati, lengkap dengan kalung salib menggantung di lehernya, serta topi khas seorang biarawati. Bola mata merahnya yang berkilau terkena cahaya bulan menatap wajahku dengan lembut. Ia nampak seperti wanita dewasa namun parasnya masih terlihat cantik.

    “Aku hanya sedang beristirahat. Apa yang kau lakukan di sini, Kakak Biarawati?”
    “Magaleta, itu namaku.”
    “A-Aku Raze.”
    “Raze, ya… tolong diam sebentar.”

    Magaleta mengarahkan kedua tangannya padaku. Aku merasakan kekuatan sihir merasuki tubuhku. Sebuah cahaya putih yang menghangatkan memenuhi dan menerangi tubuhku. setelah beberapa saat cahayanya pudar dan menghilang.

    “Tubuhku…. rasa sakitnya menghilang. Aku sudah bisa bergerak lagi.”
    “Sepertinya tanpa sadar kau terkena racun ketika bertarung di menara ini. Aku sudah menyembuhkannya serta mengembalikan kekuatan fisikmu.”
    “Terima kasih , Kak Magaleta! Kuharap aku bisa membalas kebaikanmu.”
    “Ah…”

    Ia nampak terkejut, namun setelah itu ia mulai tersenyum.

    “Sama-sama, Raze. Tidak masalah. Setelah ini kau harus lebih berhati-hati.”
    “Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di sini? Apa kau juga sedang berpetualang?”
    “Tidak. Aku hanya sedang berjalan-jalan. Karena bulan purnama malam ini sangat indah.”

    Berjalan-jalan? Di dalam Menara Keabadian? Apa maksudnya?

    “Raze, jika kau hendak beristirahat, kusarankan kau untuk mencari ruangan. Ada sebuah ruangan di depan sana yang bisa kau pakai. Aku permisi dulu.”

    Ia pun berjalan pelan meninggalkanku. Dalam sekejap keberadaannya menghilang ditelan bayang malam lorong ini. Tanpa sadar aku hanya membiarkannya berlalu, tidak terpikir untuk mencoba menghentikannya meski tempat ini sangat berbahaya untuk seorang perempuan berjalan-jalan, dan hal itu baru terpikirkan setelah ia pergi. Bahkan aku berpikir aku takkan bisa mengejarnya meski aku berlari ke arah ia pergi. Seolah-olah keberadaannya lenyap begitu saja.

    Pikiranku teralih pada ruangan yang ia maksud. Dan benar, aku menemukan sebuah pintu di sisi kiri lorong. Ketika kubuka, yang menyambut pandanganku adalah gentong dan gentong. Ruangan berukuran sekitar 5 kali 5 meter yang disekelilingnya dipenuhi gentong besar. Sebuah obor menjadi satu-satunya sumber penerangan ruangan ini, yang bagaikan ruang penyimpanan. Aku menutup pintu, aku dorong beberapa gentong untuk menahan pintu tersebut, jika seandainya ada monster yang menerobos masuk. Kemudian aku tidur di lantai berbahan batu gunung ruangan ini.

    -Prologue end-​

    “Ruangan apa ini?”

    Di balik pintu yang di buka Raze, tepat di hadapannya, ada sebuah tangga yang menjulang lurus dan tinggi ke atas. Ujung jalannya tidak terlihat. Dan yang lebih membingungkan, disekitar ruangan ini sangat hampa bagaikan di luar angkasa, lengkap dengan bintang-bintang dan debu kosmik. Bahkan tangga yang ada di depannya dapat menjulang kokoh tanpa pondasi.

    Tanpa berpikir panjang, Raze menaiki tangga panjang tersebut. Sekitar 2-3 menit, Raze mencapai ujung anak tangga. Di hadapannya terlihat sepetak lantai berukuran sekitar 2 kali 2 meter dengan ukiran lingkaran sihir beserta pentagram di atasnya. Raze berjalan menuju tengah lingkaran sihir dan lingkaran sihir tersebut bersinar, membuat Raze menghilang.
     
    Last edited: 21 July 2015
    s4skiazh likes this.
  2. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    Perlahan-lahan Raze membuka matanya. Sekejap ia mengembalikan kesadaran setelah membuka mata. Lapangan rumput di bawahnya, langit biru dan awan putih di atasnya, rimbunan pohon besar di depannya. Secara singkat ia dapat menyimpulkan kalau ia sedang berada di dalam hutan. Tetapi…

    “Ini dimana? Tempat apa ini?”

    Setelah berada di Menara Keabadian, Raze terkirim menuju hutan yang tidak ia ketahui. Tanpa membuat banyak pertanyaan, ia mulai berjalan. Di perjalanan ia menemukan bunga yang bisa berjalan dan memiliki taring untuk menggigit. Mereka semua berusahan menyerang Raze namun dengan gesit Raze dapat menghabisi mereka semua. Setelah dikalahkan, bunga-bunga tersebut berubah menjadi asap ungu.

    “Monster-monster ini… sama seperti monster yang ada di dalam menara.”

    Raze terus berjalan hingga sampai menuju jembatan untuk menyeberangi sungai. Ketika berada di tengah jembatan, ia menyadari kalau di ujung jembatan ada seorang elf yang sedang mengarahkan panah kepadanya. Anak panah melesat namun Raze dapat menghindarinya.

    ‘Kenapa dia tiba-tiba menyerangku?’ Ucap Raze dalam hati.

    Serangan tetap berlanjut, namun semua anak panah dapat ia hindari dan tangkis menggunakan sisi pedangnya.

    “Kalau begini hanya satu cara yang bisa kulakukan.”

    Raze mengepal tangan kanannya. Kepalan tangan tersebut mulai bersinar putih dipenuhi energi. Raze melakukan gerakan pukulan, menembakkan laser putih dari tangan kanannya ke arah elf tersebut. Elf tersebut terlempar dan tersungkur ke tanah. Raze menyebrangi jembatan dan berlari ke arahnya.

    “Hey, apa kau tidak apa-apa?” Ucap Raze sambil mengulurkan tangannya. Namun elf tersebut sama sekali tidak bergerak. Matanya tertutup dan ia pingsan sepenuhnya. Tidak lama kemudian tubuhnya hancur menjadi asap ungu dan membuat Raze terkejut.

    “Yang tadi itu… monster?”

    Hal itu nampaknya membuat Raze cukup terkejut. Tetapi tidak ada alasan untuk terlalu memikirkan hal tersebut.

    Raze melanjutkan perjalanannya. Sejenak ia menyadari kalau hutan ini begitu senyap. Suara kicauan burung yang saling berbalas dapat ia dengar meski sumber suaranya tidak dapat ia lihat.

    “Menurutmu apa ini bisa dimakan?”

    Raze menoleh ke arah kiri, arah yang ia yakini sebagai sumber suara yang ia dengar. Dibalik semak-semak yang ia lihat, terdengar suara seorang manusia dibaliknya. Raze mendekati semak-semak dan mengintip dari semak-semak tersebut.

    “Hmm… jamur ini tidak terlihat berbahaya. Mungkin kau bisa mencobanya.”
    “Begitu, ya.”

    Yang Raze lihat adalah, seorang gadis muda, mungkin seusianya, sedang berjongkok mengamati jamur yang ia petik. Tangannya menyentuh dagu dan bibirnya sedikit melengkung ke atas. Terlihat dari pakaian yang dikenakan gadis tersebut, ia nampak seperti seorang ksatria petualang seperti Raze. Rambut ungu panjangnya berkilau disinari matahari. Ia memakai pakaian coklat, jubah kecil sesikut, tangan dan kakinya dilapisi armor besi dan terdapat pedang di pinggangnya. Sekilas ia seperti berbicara sendiri, namun kalau dilihat baik-baik, ternyata ada seorang Peri yang bersamanya dan berbicara padanya.

    “Kita akan tahu setelah kita mencobanya.” Ucapnya sambil memasukan jamur ke dalam keranjang di sampingnya
    “Baiklah.”

    Gadis itu sudah berniat untuk pergi. Tetapi kemudian ia merasakan kejanggalan, atau mungkin ancaman. Gadis itu menoleh ke arah semak-semak tempat dimana Raze bersembunyi.

    “Peri…”
    “Iya, Senia. Aku juga merasakannya.”

    Senia mencabut pedangnya dan mengambil kuda-kuda. Raze berusahan mundur sepelan mungkin. “Apa aku ketahuan?” pikirnya. “Karena tidak bermaksud jahat, bukankah lebih baik aku menunjukkan diriku langsung?”

    Belum sempat Raze berdiri, Senia sudah melesat dengan cepat. Sangat cepat seperti lari seekor singa. Namun ternyata yang diincar Senia bukan Raze, tetapi seorang elf yang sudah siap mengarahkan anak panahnya ke arah Senia. Anak panah itu dapat ditepis dengan mudah oleh Senia kemudian dengan cepat, Senia menebas elf tersebut, membuatnya berubah menjadi asap ungu.

    “Hebat sekali. Teknik pedang macam apa itu?” Gumam Raze.

    Senia menghela nafas lalu memasukan pedangnya ke dalam sarung di pinggangnya. Ketika Senia berbalik badan, ia melihat seorang pria yang tidak ia kenal sedang berjongkok di depan semak-semak, mengamatinya dengan kebingungan.

    “K─”
    Tungg─”
    “KYAAAAAAA!!!!”

    *-*

    Mereka berdua saling duduk berhadapan. Raze duduk bersila sedangkan Senia duduk dengan melipat lututnya kebelakang. Nampaknya Raze berhasil meyakinkan Senia kalau ia bukan orang aneh atau orang yang patut dicurigai. Tapi entah bagaimana Senia masih tidak ingin untuk melakukan kontak mata dengan Raze.

    “Jadi… Senia?”
    “I-Iya.” Balasnya dengan suara pelan dan gugup.
    “Eng, apa kau tahu tempat apa ini? Apakah ini masih di dalam Menara Keabadian?”
    “Begitulah…”
    “Tempat ini adalah Hutan Peri.” Sekarang yang membalas adalah Peri kecil yang daritadi terus bersama Senia. Mungkin ia merasa akan lebih baik kalau ia yang menjelaskan. “Tempat ini masih bagian dari Menara Keabadian. Meski begitu hutan ini adalah tempat dimana kami, para peri, dan juga Senia tinggal sekarang.”
    “Oh, begitukah. Lalu apa kekuatan Keabadian berada di suatu tempat di Hutan Peri ini?”
    “Tidak. Kekuatan itu masih berada di tingkat yang lebih tinggi dari tempat ini.”
    “Jadi, masih ada tempat yang harus kulewati ya?”
    “Raze…”

    Kali ini Senia mencela pembicaraan kami. Sepertinya ada yang ingin ia sampaikan.

    “…apa kau mencari Keabadian untuk mengharapkan suatu permohonan?”

    Ya itulah tujuanku. Tapi aku tidak langsung menjawabnya. Jika dipikir-pikir, Senia juga seorang petualang dan tujuannya datang ke Menara ini pastilah sama denganku maupun dengan para petualang-petualang lainnya yang pernah kemari. Jika aku menjawabnya, apakah Senia akan menghentikanku? Tidak. Aku tidak berpikir Senia adalah orang yang jahat.

    “Iya. Ada permohonan yang sangat ingin kukabulkan.”
    “Sayang sekali, tapi Keabadian bukanlah kekuatan semacam itu.”
    “Apa?”
    “Keabadian adalah kekuatan jahat yang menelan siapapun yang menginginkan kekuatan, dan melenyapkan pikiran serta hatinya. Kemampuan untuk mengabulkan permohonan hanyalah kebohongan semata.”
    “Apakah itu benar?”
    “Iya. Itulah kenyataannya.”Peri meyakinkan Raze atas penjelasan Senia.

    Aku tidak berpikir kalau mereka berbohong. Selama ini aku memang heran kenapa ada banyak petualang yang pergi ke dalam Menara Keabadian namun tidak ada satupun yang berhasil membuat permohonannya terkabul.

    “Lalu, Senia, jika kau tahu hal itu mengapa kau masih berada di tempat ini? Apa kau punya tujuan lain?”
    “Aku ingin menyelamatkan orang yang kusayangi yang telah terjebak dalam Keabadian.”
    “Oh… begitu.”

    Orang yang disayangi!? Apa maksudnya pacar?

    “Kalau begitu, aku punya pertanyaan terakhir. Apa kau tahu dimana tempat para iblis? Apakah benar mereka tinggal di dalam Menara Keabadian ini?”
    “Kastil Iblis. Ya, tempat itu ada disini. Namun gerbang untuk menuju kesana masih belum terbuka.”
    “Apa kau pernah kesana, Senia?”
    “Ya, kamu berdua telah beberapa kali memasukinya.”
    “Dan kalian bertemu Raja Iblis?”
    “Tentu saja.”
    “Wow, meski perempuan, tapi kalian sangat pemberani. Tempat itu pasti sangat mengerikan dan berbahaya. Syukurlah sekarang kalian masih bisa selamat.”

    Senia dan Peri saling bertukar pandang dan nampak kebingungan. Apa aku mengucapkan sesuatu yang aneh? Tunggu! Jangan-jangan─!

    “Dalam perjalanan menuju puncak menara, kami harus melewati kastil Iblis dan membunuh Raja Iblis. Kami telah membunuhnya berkali-kali tetapi selama Keabadian masih ada di dalam menara ini, ia akan terus beregenerasi dan hidup. “

    Aku tahu Senia terlihat kuat. Tapi kalau sampai bisa membunuh Raja Iblis sendirian rasanya…

    “Memang ada perlu apa kau dengan para Iblis?” ucap Senia heran.
    “Benar juga. Aku belum menceritakannya pada kalian. Tujuan mulaku datang kemari adalah untuk memohon agar dapat menyelamatkan desaku. Beberapa hari yang lalu, desaku diserang oleh sekelompok iblis. Desaku dihancurkan, orang-orang desa dibunuh dan dimakan. Waktu itu aku sedang bertugas di ibukota dan ketika aku mendapat kabar penyerangan tersebut, yang tersisa hanya puing-puing reruntuhan dan sebagian kecil orang yang selamat terluka parah.”
    “Pada bulan purnama, para Iblis memiliki kekuatan untuk pergi ke dunia luar. Dan pada saat itulah seharusnya para pemburu Iblis meningkatkan kewaspadaan mereka.”
    “Itulah kesalahanku. Aku tidak menyangka desaku akan diserang. Dan sekarang, aku…”
    “Jika kau kemari untuk membalas dendam, sebaiknya lupakan saja. Seperti yang kukatakan tadi, di menara ini kau tidak akan bisa membunuh mereka. Mereka akan terus bangkit kembali. Yang bisa kau lakukan sekarang hanyalah mencegah agar tidak ada yang menjadi korban penyerangan di dunia luar.”

    Aku merasa diriku tidak berguna. Setelah semua usaha yang kulakukan untuk sampai kemari, akhirnya aku hanya akan kembali dengan tangan kosong.

    “Baiklah, aku mengerti. Terima kasih atas semua penjelasan kalian. Sekarang juga aku akan kembali. Walaupun sebentar, tapi aku senang bisa bertemu dengan kalian. Aku doakan semoga kau bisa bertemu dengan orang yang kau cintai itu.” Ucap Raze sambil berdiri. Kemudian ia tertawa kecil
    “T-Terima kasih.”
    “Senia! I-Itu….”

    Tiba-tiba Peri berteriak sambil menunjuk ke arah langit. Raze dan Senia melihat ke arah yang ditunjuk peri. Tanpa alasan yang jelas, sebagian permukaan langit berubah warna menjadi ungu gelap.

    “H-Hey, apa yang terjadi?!” Tanya Raze kebingungan.
    “Iblis... Mereka telah datang.” Senia menjawab dengan nada serius.
    “Senia! Desa peri! Kita harus cepat kembali.”
    “Benar.”

    Senia segera berlari pergi bersama dengan Peri yang terbang mengiringinya.

    *-*

    “Rupanya kalian masih berniat menyerang kami. Menyerahlah! Kalian tidak akan pernah berhasil.”
    “Apa kau mencoba menggertak, Ratu? Aku tahu selama ini kekuatanmu telah semakin melemah. Bahkan setelah gagal memperoleh Keabadian, kau tetap bersikeras mempertahankan makhluk-makhlukmu. Orang sepertimu, yang menolak Keabadian, tidak akan bisa mengalahkan kami, para iblis yang memperoleh Keabadian.”

    Dialog antara Raja Iblis dan Ratu Peri terjadi di depan desa peri. Masing-masing dari mereka telah siap dengan pasukan dari golongan ras mereka.

    “Kita buktikan saja.”
    “Para Iblis, Serang!”

    Iblis bersayap dan Gargoyle maju menyerang. Namun puluhan elf telah menunggu mereka dengan anak panah yang siap dilepaskan. Dengan sekali tembakan, hujan panah berhasil melenyapkan sebagian pasukan yang menyerang barusan. Serangan selanjutnya berasal dari Hantu hitam yang mampu bergerak cepat. Peri-Peri yang membawa pisau terbang ke arah hantu tersebut dan menebas mereka dengan cepat. Ketika Hantu tersebut telah ditebas, mereka meledak dan menyakiti beberapa Peri yang menyerang mereka. Drakula dan Penyihir Sabit dari pasukan Iblis ikut menyerang, namun dari tanah, muncul sebuah jamur besar yang menghentikan langkah mereka kemudian meledakan diri. Gadis Bunga dari pasukan Peri dan penyihir dari pasukan Iblis saling menyerang dengan tembakan sihir.

    Ukuran tubuh Raja Iblis dan Ratu Peri 10 kali lebih besar dari para pasukannya. Sejauh ini mereka hanya mengamati pertarungan yang terjadi di depan mereka. Namun sebenarnya Ratu Peri menunggu Raja Iblis mengambil tindakan, karena ia tahu hanya ia yang dapat melawan kekuatan Raja Iblis.

    Raja Iblis mengangkat tangannya ke atas. Kemudian lingkaran sihir muncul dari langit dan delapan meteor besar keluar dari lingkaran sihir tersebut. Ratu Peri membuat bola-bola sihir disekitarnya lalu dari bola tersebut, keluar laser yang mengarah ke arah meteor. Semua meteor berhasil dihancurkan di langit sebelum mendarat ke permukaan tanah.

    “Kau lumayan juga. Tapi ini belum seberapa.”

    Raja Iblis mengubah wujud dirinya. Wajahnya berubah menjadi seperti anjing dan sayapnya yang seperti kelelawar membentang lebar. Ia membuka mulutnya dan mengumpulkan bola energi.

    “Hati-hati! Semuanya, menghindar!” Perintah Ratu Peri pada pasukannya.

    Dari bola tersebut, laser besar ditembakan. Ratu Peri membuat penghalang dan menahan serangan laser dari Raja Iblis. Laser itu begitu kuat dan terus berusaha menembus pertahanan Ratu Peri, tapi dengan sekuat tenaga, Ratu Peri berhasil menahan laser tersebut.

    “Kau sudah kelelahan? Kalau begitu tembakanku yang selanjutnya akan menghancurkanmu dengan pasti.”

    Belum sempat Raja Iblis bersiap menembak, ia merasakan bahwa pasukan-pasukannya sedang dihabisi oleh seseorang.

    “Itu Senia!” Sambut seorang elf.
    “Senia!”
    “Seniaa!”
    “Maaf, aku terlambat.”
    “Oh, Senia. Aku sangat khawatir padamu. Syukurlah kau baik-baik saja.” Ucap Ratu Peri dengan senang.

    Senia tersenyum. Tetapi musuh telah menunggu di hadapannya. Di belakang Senia, Raze juga datang mengikuti.

    “Ma-Makhluk itu… Raja Iblis?! Besar sekali!” Ucap Raze pada dirinya sendiri.

    Senia menerjang sekumpulan Iblis di depannya. Dengan tebasan cepat, Senia membunuh mereka sekaligus. Peri yang bersama Senia pun juga ikut bertarung dengan kedua pisau di tangannya. Ia terbang dengan cepat dan menebas bagian vital para Iblis seperti leher dan kepala. Terlihat jelas kalau mereka berdua adalah orang yang berpengalaman dalam pertarungan.

    “Senia, aku akan fokus menyerang Hantu dan Penyihir, juga kuusahakan menjaga bagian belakangmu. Kau bereskan sisanya sambil menuju ke Raja Iblis.”
    “Baiklah. Tapi sebaiknya aku maju sendirian. Peri jaga saja teman-teman kita yang lain.”

    Setelah berucap demikian, Senia melompat tinggi ke arah Raja Iblis. Jaraknya mereka masih agak jauh dan di depan Senia telah muncul Iblis-Iblis bersayap. Bagaikan menari di atas angin, Senia menebas dan menghabisi mereka, meskipun mereka dapat terbang sedangkan Senia hanya melompat, tapi mereka sama sekali tidak dapat menyentuh Senia. Setelah berpijak di atas tanah, Senia berlari menuju Raja Iblis sambil menghabisi Iblis-Iblis yang menghalangi jalannya. Beberapa Penyihir mencoba menyerang Senia dari jarak jauh dan sesenyap mungkin, namun bagaikan insting seekor kucing, semua itu dapat Senia hindari dengan gesit. Senia sangat tidak terhentikan.

    “Lama tidak bertemu, Senia.” Ucap Raja Iblis.

    Senia hanya diam sambil mengarahkan pedangnya.

    “Kau sangat luar biasa, Senia. Tapi sayang sekali kau menentangku. Seandainya saja kau mau ikut bersamaku, aku bisa memberimu Keabadian yang kau ingin-inginkan. Dan kenapa kau malah berpihak pada Peri?”
    “Sayang sekali, yang kuinginkan bukanlah Keabadian. Dan untuk alasan tertentu, aku sangat membencimu.”
    “Jika kau tidak menginginkan Keabadian, kenapa kau memiliki kekuatan itu di dalam dirimu?”
    “D-Diam kau!”

    Senia melompat ke arah Raja Iblis. Tangan Raja Iblis bergerak dengan cepat untuk mencakar Senia yang sedang di udara, namun Senia telah menghilang dari pandangannya. Tiba-tiba Raja Iblis merasakan serangan pada punggungnya. Ketika Raja Iblis berbalik, Senia sudah menghilang lagi. Kali ini serangan muncul pada kaki kanannya, kemudian tangan kiri, pinggang kiri, dan kedua paha. Senia bergerak sangat cepat hingga tidak terlihat arah serangannya. Raja Iblis mengeluarkan energi dari seluruh tubuhnya dan membuat Senia termundur beberapa meter. Senia kembali menyerang dari sisi kiri Raja Iblis, tapi serangan itu dapat terbaca olehnya. Tangan kiri Raja Iblis memukul dan membuat Senia terlempar jauh.

    “Senia!” Teriak Raze.

    Senia mendarat dengan keras. Ia berusaha bangkit meski serangan tadi cukup membuatnya terluka.

    “Habislah kau!”

    Raja Iblis membuka mulutnya. Ia menembakkan laser dari mulutnya tepat ke arah Senia yang terkapar di atas tanah. Tembakan laser itu cukup besar untuk menelan tubuh Senia dari pandangan sekitar. Beberapa saat kemudian serangan laser berhenti, meninggalkan bekas lubang retakan di tanah. Tetapi di tempat Senia terbaring, terdapat cangkang cahaya setengah bola yang menutupinya.

    “Kau tidak apa-apa?”
    “R-Raze?”

    Raze berhasil melindungi Senia dengan kekuatan cahayanya. Raze menurunkan tangannya dan pelindung cahaya di sekitar mereka menghilang.

    “Serangan tadi memang kuat. Tetapi kekuatan kegelapan tidak akan bisa menembus pertahanan cahaya. Senia, aku tidak meragukan kekuatanmu. Tetap bukankah sebaiknya kita bertarung bersama?”
    “Tidak. Aku berterima kasih kau telah menolongku. Tetapi sekarang aku akan mengakhirinya.”

    Senia melangkah melewati Raze. Setelah beberapa langkah, ia berhenti. Ia menundukkan kepala dan meletakan telapak tangan kirinya di tengah dada.

    “Nia, pinjamkan aku kekuatanmu.”

    Seluruh tubuh Senia dipenuhi api berwarna hitam. Api terbanyak terdapat pada pedang di tangan kanan Senia.

    “Senia, apa yang─ Kekuatan apa itu?”

    Senia mengayunkan pedangnya dan menghilangkan api disekitar tubuhnya. Tanah dibawahnya pun bergetar pada momen tersebut. Senia menghilang lalu muncul di depan Raja Iblis. Serangan tersebut dapat disadari oleh Raja Iblis, ia menyilangkan tangannya di depan wajah untuk menahan serangan apapun yang akan dilancarkan Senia. Tanpa ragu, Senia tetap menebas dan memotong kedua tangan Raja Iblis. Senia melompat lebih tinggi lagi. Dari atas, ia menebas lurus dari ujung kepala Raja Iblis hingga permukaan tanah, menyisakan bekas tebasan ungu yang besar.

    “Gyaaahhh!!!!” Raja Iblis berteriak kesakitan, kemudian meledak dan musnah.

    “Hebat. Hanya satu kali serangan?”

    Semua pasukan Iblis lari ketakutan. Di saat mereka semua telah pergi, langit perlahan-lahan kembali menjadi biru muda.

    Raze berlari mendatangi Senia. Tetapi ketika ia berada semakin dekat dengan Senia, ia merasakan sesuatu yang tidak wajar. Tubuh senia dipenuhi oleh aura hitam. Ketika Senia berbalik badan, wajahnya terlihat pucat, pandangannya kosong dan tajam. Tiba-tiba saja ia menebaskan pedangnya ke arah Raze. Pedang itu berhasil melukai tangan kiri Raze yang berusaha menepis serangan tersebut.

    “Oh, tidak!” Ratu Peri mendatangi Senia. Ia melafalkan sihir kepada tubuh Senia. Tiba-tiba saja Senia merasa kesakitan. Namun perlahan aura hitam disekitar Senia menghilang. Setelah itu Senia jatuh pingsan
     
    Last edited: 21 July 2015
  3. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    Ketika membuka mata, cahaya putih langsung menusuk ke dalam dua bola mata yang seakan baru terbangun dari tidur panjang. Warna demi warna pun perlahan terbias dan terbentuklah suatu objek. Meski memiliki ukiran yang unik, ia tahu bahwa itu adalah bagian dalam atap, atau biasa disebut langit-langit. Ia membangunkan sebagian tubuhnya, melihat-lihat sekitar, dan disadari bahwa ia tertidur di atas kursi kayu panjang di dalam ruangan ini. Jumlah kursi tersebut sangat banyak dan tersusun berbaris, membentuk dua antrian di sisi kiri dan kanan ruangan, dimana terdapat karpet merah memanjang di tengahnya hingga pintu keluar.

    Setelah pandangan memasuki dirinya, sekarang suara mulai merangsang indra pendengarannya. Sebuah alunan piano indah terdengar menggema di seluruh ruangan. Ia mengarahkan pandangannya pada asal sumber suara. Dilihatnya seorang perempuan berambut pirang panjang, mengenakan pakaian biarawati merah, sedang bermain piano di depan ruangan di dekat patung seorang dewi. Setelah beberapa saat, perempuan itu berhenti bermain lalu menoleh ke belakang.

    “Kita berjumpa lagi, Raze.”
    “Kau… Kak Magaleta?”

    Ia tertawa kecil “Kau masih mengingat namaku. Aku senang sekali.”

    Raze tidak merespon ucapan tersebut. Namun ia hanya tersenyum, menggaruk belakang kepalanya sambil memalingkan pandangan.

    “Permainan pianomu bagus sekali.”
    “Ah, terima kasih.” Magaleta melirik ke arah pianonya. “Lagu ini berjudul ‘Sisi Lain Penderitaan’. Aku menamainya demikian karena lagu ini mengingatkanku akan suatu kesedihan.”
    “Oh, begitu. Padahal lagunya sangat indah.”
    “Raze. Aku ingin meminta tolong sesuatu padamu.” Magaleta berdiri dari kursinya. Ia berjalan mendekati Raze.
    “Baiklah. Apapun itu, aku pasti akan mengusahakannya. Demi Kak Magaleta.”

    Magaleta menggenggam kedua tangan Raze, mengangkatnya setinggi dada. Magaleta menutup matanya dan sedikit menunduk. Dari kedua tangan mereka terpancar sebuah cahaya putih yang semakin lama semakin terang, bahkan menerangi seluruh ruangan menjadi putih sepenuhnya.

    “Kumohon, tolong jaga Senia. Jangan biarkan ia terjebak dalam bahaya. Dan jangan biarkan ia bertemu denganku.”

    *-*

    Raze membuka mata, untuk yang kedua kalinya. Tetapi pemandangan yang ia lihat tampak berbeda. Sebuah kamar ruangan kecil yang sederhana, sebagian besar terbuat dari kayu. Di bawahnya, sebuah kasur empuk yang terbuat dari kapas yang dilapisi kain.

    Ia turun dari kasur tersebut, mengucik matanya beberapa kali, lalu menguap. Ia mengamati tangan kirinya yang dibaluti perban. Wajahnya nampak tidak begitu peduli akan luka tersebut, tetapi kenangan yang menjadi penyebabnyalah yang cukup mengganggu pikirannya.

    “Apa Senia akan baik-baik saja?”

    Dari ruangan tersebut, Raze merasakan aroma yang harum, aroma sebuah masakan. ia berjalan keluar dan tanpa waktu lama, ia melihat asal aroma tersebut. Senia sedang berjalan membawa sepiring jamur bakar.

    “H-Hai. Selamat pagi.”
    “Apa kau tidak apa-apa, Senia?”
    “Aku? Aku baik-baik saja. Bukankah seharusnya kau yang harus dikhawatirkan?”

    Senia meletakan piring yang ia bawa di atas meja. Diatas meja tersebut sudah tersedia berbagai makanan, tetapi hanya memenuhi sebagian kecil di depan satu buah kursi.

    “Aku menyiapkan makanan ini untukmu. Silakan makan.”
    “Ah, baik. Terima kasih.”

    Setelah Senia meletakan piring yang dibawanya, aku dapat melihat keseluruhan pakaian yang ia kenakan. Sebuah celemek putih berles biru yang sederhana melapisi bagian depannya. Dibalik celemek tersebut terlihat pakaian kain berwarna putih polos, menyatu dengan rok setinggi lutut. Apa itu baju tidur? Tapi bagaimanapun juga, dengan pakaian yang ia kenakan sekarang, takkan ada orang yang menyangka kalau ia adalah anak perempuan yang telah mengalahkan Raja Iblis, terror bagi ribuan rakyat di dunia.

    Raze duduk di depan kursi yang sudah di siapkan. Setelah mengucapkan doa, ia mulai mencicipi berbagai makanan yang dihidangkan, dan semuanya enak. Senia duduk di samping Raze lalu menanyakan pendapatnya.

    “Bagaimana?” Ucapnya sambil tersenyum dan memiringkan kepala
    “Enak. Ini enak sekali!”

    Ia tertawa kecil.

    Mereka terdiam sejenak. Raze tetap melanjutkan makannya sedangkan Senia, tetap duduk di sampingnya, dan sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Raze menyadari itu tapi ia tidak tahu harus berkata atau berbuat apa.

    “Raze…”
    “Ya?”

    Senia menunduk, wajahnya cemas. Sudah diduga, ia memang ingin mengatakan sesuatu. Raze menunggu hingga ia mulai berbicara.

    Tiba-tiba saja Raze teringat akan mimpinya barusan. ‘ Apakah Kak Magaleta kenal dengan Senia?’

    “Senia?”
    “Ah, i-iya?” Ucap Senia kaget. Nampaknya ia sedang melamun tadi.

    ‘Kenapa aku memotong pembicaraannya?’ Ucap Raze dalam hati.

    “Bukankah tadi kau ingin mengatakan sesuatu?”
    “Iya. Anu, Raze, aku minta maaf atas apa yang terjadi padamu. Maaf aku telah melukaimu. Padahal sebelumnya kau telah menyelamatkanku. Aku berterima kasih dan juga minta maaf.”
    “Oh, kalau yang kau maksud ini,” Raze mengangkat tangan kirinya yang dililit perban. “bahkan aku sudah tidak merasakan sakitnya. Mereka telah merawatnya dengan baik.”
    “Syukurlah.”

    Senia tersenyum lega. Dan Raze mengakui, kalau ia lebih menyukai wajah Senia jika tersenyum seperti ini.
    “Aku tahu kau tidak mungkin sengaja melukaiku. Mungkin itu karena aku yang terlalu ceroboh, tiba-tiba saja mengejutkamu dari belakang. Ditengah pertarungan seperti itu aku tidak kaget jika kau mengira aku musuh. Yah, intinya aku mengerti kok kalau semua itu hanya kecelakaan.”

    Raze mengetahui kalau itu bukan kecelakaan biasa. Tapi ia mengerti bahwa ada suatu rahasia di dalam diri Senia. Kekuatan macam apa yang sebenarnya dimiliki Senia? Hanya saja, ia tidak ingin menyakiti perasaan Senia dengan cara menanyakannya. Ia sudah menyesal dan merasa menderita, dan itu sudah cukup. Tidak perlu ada beban lagi.

    Senia pun tersenyum, kemudian ia berdiri.

    “Aku ingin berganti pakaian dulu.”
    “Oke.”

    Raze memikirkan kira-kira pakaian macam apa lagi yang akan dikenakan Senia. Makanan sudah dihabiskan, tetapi Senia masih belum muncul. Mungkin perempuan memang membutuhkan waktu lama untuk berpakaian. Namun ketika Senia muncul, yang dilihatnya adalah, pakain tempur, yang ia gunakan ketika bertarung kemarin. Lengkap dengan pedang di pinggangnya dan sebuah tas selempang kulit.

    “Kau sudah menghabiskan makananmu?”
    “Iya. Apa kau berencana pergi ke suatu tempat. Mencari bahan makanan?”

    Senia menggelengkan kepalanya.

    “Aku akan melanjutkan perjalananku menuju puncak menara.”
    “Oh, begitu. Kau ingin menyelamatkan orang yang kau cintai itu ya? Kau sangat pemberani, Senia.”
    “Itu tidak benar. Aku melakukan ini semua karena ia sangat berarti buatku. Ia adalah segalanya buatku.”

    Raze meneguk liurnya sebelum berbicara.

    “Senia, bisakah kau menceritakan padaku tentang orang yang kau maksud? Aku penasaran.”
    “Boleh saja.”

    Senia menarik kursi dan duduk di depan Raze.

    “Dia adalah orang yang telah menyelamatkanku sewaktu kecil, ketika desaku diserang oleh Iblis. Kedua orang tuaku meninggal kemudian dia mengadopsiku. Kami tinggal berdua di dalam sebuah gereja sederhana, dan aku menganggapnya seperti kakak perempuanku sendiri.”
    “Apa kakakmu itu seorang biarawati gereja atau semacamnya?”
    “Iya. Dan dia juga seorang pemburu Iblis yang hebat.”

    Raze merasa ada yang aneh. Tiba-tiba ia teringat pada Magaleta.

    “Hey, Senia. Apa jangan-jangan orang yang kau maksud… bernama Magaleta?”

    Senia sontak terkejut.

    “Benar! Apa kau mengenalnya? Apa kau pernah bertemu dia di suatu tempat?!”
    “Begini. Kau mungkin tidak mempercayainya. Aku bertemu Kak Magaleta ketika kemarin aku memasuki menara ini. Di saat itu aku bertarung melawan monster tanpa henti hingga suatu malam, aku bahkan tidak dapat menggerakan tubuhku. Untungnya, Kak Magaleta datang menyembuhkan tubuhku.”

    Senia menitikan air matanya. Ia menutup matanya, membungkam mulutnya, dan terisak menangis.

    “Tidak salah lagi. Kak Magaleta masih hidup. Syukurlah, aku senang sekali.”

    Raze tidak dapat berkata apa-apa. Tangis kebahagiaan yang terpancar dari ekspresi Senia sangatlah tulus. Senia adalah orang yang merasakan kehilangan segalanya sebanyak dua kali dan dengan kemungkinan yang sangat tipis, ia melakukan pencarian yang sangat berbahaya ini. Dunia sangat tidak adil padanya namun sekarang, ia menemukan sebuah titik terang kecil untuk bisa menyelamatkan orang yang sangat berarti baginya.

    “Sekarang ini, Kak Magaleta telah menyatu dengan Keabadian. Jadi, tidak mustahil jika ia bisa membuat dirinya berada dimanapun di dalam menara ini. Tetapi untuk bisa menyelamatkannya, aku harus pergi ke puncak menara. Kali ini, aku pasti akan menyelamatkan Kak Magaleta.”

    Senia berdiri dari kursinya.

    “Terima kasih, Raze. Kau sudah sangat banyak membantuku. Kuharap aku bisa membalas kebaikanmu suatu saat nanti. Untuk sekarang, aku harus pergi.”
    “Senia…!”

    Raze menghentikan Senia yang hendak beranjak pergi.

    “Aku… Boleh aku ikut denganmu?”
    “T-Tapi, Raze...”

    Ia ingat akan janjinya dengan Magaleta. Meski hanya dari mimpi, tapi mimpi tersebut sangatlah nyata. Dan Raze yakin bahwa itu memanglah pesan dari Kak Magaleta. Ia ingin menepati janjinya untuk melindungi Senia.

    “Maaf, Raze. Aku tidak ingin merepotkanmu lebih dari ini. Kau tidak perlu khawatir. Ini bukan pertama kalinya aku pergi ke puncak menara. Aku akan baik-baik saja. Kau sudah melihat kekuatanku, kan?”
    “Bukan begitu. Kak Magaleta juga pernah menyelamatkanku. Jadi aku pun ingin menyelamatkannya. Aku ingin bertemu dengannya dan mengucapkan rasa terima kasihku. Senia, kumohon…”
    “…Baiklah, jika itu tujuanmu.” Ucap Senia sambil tersenyum kecil.

    *-*

    Raze dan Senia berjalan cukup jauh dari desa. Senia berkata gerbang dimensinya berada di atas bukit, dan kesanalah mereka berdua pergi. Akhirnya gerbang tersebut terlihat. Sebuah lingkaran yang besar, dan bagian dalamnya tertutup oleh cahaya ungu yang membentuk partikel ilusi. Di dekat gerbang, sudah menunggu Peri dan Ratu Peri.

    “Senia, akhirnya kau datang juga. Kau juga ikut Raze?”
    “Ya, begitulah.”
    “Maaf, apa aku membuatmu menunggu lama?”
    “Tidak juga. Aku sedang bermain dengan tupai tadi.”
    “Peri, apa kau juga ikut bersama kami?”
    “Iya, tentu saja.”

    Raze pun tidak meragukan kemampuan bertarung Peri ini. Ia sudah melihatnya kemarin dan Peri ini bertarung sangat baik bersama Senia.

    “Kuucapkan selamat tinggal atas kepergianmu, Senia. Kuharap kali ini kau dapat menyelamatkan kakakmu.”
    “Terima kasih, Ratu Peri Malphiq.”
    “Oleh karena itu, sebelum kau pergi…”

    Ratu Peri menggerakkan kedua telapak tangannya di atas Senia. Ia melafalkan mantra dan tubuh Senia dipenuhi cahaya. Tidak beberapa lama kemudian cahaya itu menghilang.

    “Apa itu?” Tanya Raze.
    “Hmm… aku menganggapnya jimat keberuntungan.” Jawab Senia tersenyum.
    “Jaga diri kalian baik-baik.”
    “Ya, sampai jumpa.”
    “Dadah”

    Sosok mereka bertiga menghilang di dalam gerbang.

    Yang menyambut mereka pada pandangan pertama adalah sebuah tangga. Tangga yang sangat panjang, di dalam sebuah ruangan yang hampa bagaikan luar angkasa, lengkap dengan bintang-bintang dan planet. Mereka menaiki tangga tersebut selama 2-3 menit hingga menuju puncaknya. Di bagian atas, terdapat ukiran lingkaran sihir pada lantai berukuran 2x2 tersebut. Tanpa ditanyakan pun, mereka nampaknya tahu kalau lantai ini adalah tempat teleportasi. Mereka pun memasukinya bersama-sama.
     
    Last edited: 21 July 2015
  4. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    “Senia, apa aku boleh menanyakan sesuatu?” Tanya Raze sambil menembaki penyihir dengan serangan cahaya.
    “Apa?” Ucap Senia sambil menebas tiga prajurit tengkorak sekaligus.
    “Berapa lama kau berada di menara ini?” Iblis bersayap mendekati mereka dari langit, tetapi Raze dapat menembak mereka tanpa meleset.
    “Hmm… sekitar dua bulan.” Jawab Senia sambil bertarung melawan beberapa monster berkepala ikan.
    “Lama sekali. Apa kau juga sering menaiki menara ini?”
    “Ya. Aku mengingat semua jalan di tempat ini seperti kampung halamanku sendiri.”

    Senia membuat perumpamaan yang bagus. Itulah yang dipikirkan Raze.

    “Kekuatan cahayamu hebat juga. Bagaimana kau mempelajarinya?”
    “Ah, ini. Ibuku seorang penyihir cahaya, dan ayahku seorang ksatria. Aku rasa ini adalah kekuatan yang diturunkan dari Ibuku.”
    “Setiap kali aku melihatnya, aku selalu teringat dengan Kak Magaleta.” Ucapnya sambil tersenyum.
    “Dia memiliki kekuatan cahaya juga, ya?”

    Senia mengangguk.

    “Apa kau bisa mengajariku sihir juga?”
    “B-Bagaimana, ya? Aku tidak pernah mengajari seseorang sebelumnya.”
    “Oh, baiklah. Aku mengerti.”

    Mereka berhenti di depan sebuah jurang, dimana di seberang jalannya terlihat kastil Iblis.

    “Apa kita salah jalan?” Tanya Raze.
    “Peri, terbanglah.”
    “Oke.”

    Senia melempar Peri dengan kuat hingga menuju sisi jurang yang terdapat tuas di sebrangnya. Peri menarik tuas tersebut dan jembatan rahasia yang menyambung menuju kastil Iblis muncul. Peri pun kembali dan mereka bersama-sama memasuki kastil.

    “Hey, Senia. Aku baru saja memikirkan ini. Jika kau telah mengalahkan Raja Iblis kemarin, bukankah untuk melewati tempat ini jadi lebih mudah?” Ucap Peri.
    “Kau benar. Setelah sampai di puncak atas, harusnya kita sudah bisa memasuki area selanjutnya.”
    “Area selanjutnya? Jadi masih ada lagi setelah ini.”
    “Iya.”
    “Seperti apa tempatnya?”
    “Lantai teratas adalah gereja. Tempat itu adalah dimensi yang menjadi pecahan ingatan Kak Magaleta. Dan di sanalah ia berada.”
    Sekitar 15-20 menit, mereka sampai di tempat teratas kastil. Seperti yang diduga, tempat ini hanya berisi singgasana yang kosong. Dibelakang kursi besar tersebut, terdapat pintu keluar. Mereka berjalan memasuki pintu tersebut.

    “Tangga lagi?”
    “Ayo cepat.”

    Kali ini mereka berdua berlari menaiki tangga. Tidak butuh waktu lama sampai mereka menuju puncak ruang teleportasi.

    *-*

    “Tidak bisa. Aku telah melakukan segalanya, tapi aku tidak bisa mengangkat kutukannya.”

    Magaleta terduduk di samping kasur, tempat Senia terbaring lemah. Magaleta menangis dan nampak telah terjebak dalam keputusasaan.

    “Apa aku akan melihat kejadian ini lagi? Tidak! Tidak akan kubiarkan!”

    Magaleta berdiri, berjalan menuju pintu keluar.

    “Takkan kubiarkan aku kehilangan adikku untuk kedua kalinya. Aku pasti akan melindungi Bintang Bersinarku.”

    *-*

    “Keabadian, aku mohon padamu. Berilah aku kekuatan untuk dapat mengangkat kutukan yang berada pada tubuh Nia!”

    Makhluk yang disebut Keabadian oleh Magaleta, berbentuk seperti bola aura yang bersinar gelap. Ia mengelilingi tubuh Magaleta, kemudian Magaleta merintih kesakitan dan terduduk di lantai.

    “K-Kenapa? Apa aku juga tidak bisa mendapatkan kekuatanmu?!”

    Perlahan warna mata Magaleta berubah menjadi gelap. Sontak ia langsung menutup matanya.

    “Tidak! Aku tidak boleh… kehilangan kesadaranku. Ini semua… demi Nia…”

    Bola aura tersebut menghilang dan nampaknya telah merasuki Magaleta. Magaleta pingsan, tapi kemudian ia merangkak dengan perlahan.

    “Nia, tunggulah… aku akan segera pulang…” Magaleta muntah darah. Ia terengah-engah mengambil nafas berat, dan juga sedikit terbatuk. “…Kakak pasti… akan menyelamatkanmu.”

    Perlahan Magaleta mulai berdiri. Suara-suara maupun rintihannya mulai tidak terdengar. Ketika ia mengangkat wajahnya, terlihat ekspresi yang begitu pucat. Bola matanya berwarna hitam pekat dan terbuka lebar. Ia sudah kehilangan kesadaran dirinya.

    *-*

    “Raze… Hey, Raze!”
    “Ah, ada apa?!”
    “Aku memanggilmu berkali-kali tapi kau diam saja. Apa kau melamun?”
    “Eng… berapa lama aku melamun?”
    “Hmm… 10 detik.”

    Raze berpikir ilusi apa yang dilihatnya tadi. Apakah itu ingatan dari Magaleta?

    “Hey… tempat ini─”

    Ruangan tempat mereka berada adalah ruang utama sebuah gereja. Dan tempat yang sangat persis seperti yang ada di mimpi Raze, dimana ketika itu ia bertemu Magaleta.

    “Ini adalah rumahku. Atau bisa kubilang sebuah tempat yang interiornya persis dengan gereja tempat aku dan Kak Magaleta tinggal.”

    Piano di ruangan itu bermain sendiri. Dan lagu yang dimainkannya adalah “Sisi Lain dari Penderitaan”. Keheningan memenuhi ruangan tersebut. Entah bagaimana, Raze mengetahui kalau lagu ini berarti sangat dalam bagi Senia.

    “S-Senia…” Raze memanggil dengan nada kecil
    “Ayo kita jalan.” Ucapnya sambil melangkah pergi tanpa berbalik.
    “Senia, lihat! Titik jalur tempat ini masih berfungsi.” Ucap Peri sambil menunjuk pada sebuah patung dewi. Senia dan Raze berlari mendekati patung tersebut.
    “Kau benar. Kita bisa menggunakannya.”
    “Apa yang kalian maksud?” Tanya Raze yang tidak begitu mengerti.

    Senia dan Peri saling berbalas pandang. Sepertinya wajar jika Raze tidak tahu.

    “Dengan Titik Jalur, kita bisa berpindah tempat ke patung dewi lain yang ada di tempat ini. Dengan begitu kita akan lebih cepat sampai ke tempat Kak Magaleta.”
    “O..Oh, begitu. Praktis juga.”

    Senia meletakan tangan kirinya pada patung dewi kemudian menggunakan tangan kanannya untuk memegang tangan kiri Raze. Ruangan di sekitar mereka yang mulanya adalah ruang utama gereja, berubah menjadi sebuah ruangan yang agak kecil dan agak kosong.

    “Apa kita sudah berpindah?”
    “Tentu saja.”
    “Aku malah merasa kalau ruangannya yang berganti.”
    “Raze, disana.” Senia menunjuk pintu di ujung ruangan. “Dibalik pintu itu, disana lah tempat Kak Magaleta berada.”
    “Benarkah? Kalau begitu tunggu apa lagi? Kita harus bergegas.”
    “Tunggu dulu!” Raze baru berjalan beberapa langkah, Senia menghentikannya dengan panggilannya. “Ada yang ingin kutanyakan padamu.” Sambungnya.
    “Apa?”
    “Ketika kau pertama kali bertemu Kak Magaleta, wujud seperti apa yang ia gunakan untuk muncul di hadapanmu?”
    “Seperti apa? Dia seperti manusia, seperti kita. Rambutnya pirang dan memakai pakaian merah. Dia juga sangat baik karena telah menolongku. Memangnya ada apa?” Tanya Raze penasaran
    “Tidak. Aku hanya ingin memberitahumu kalau, mungkin Kak Magaleta yang akan kita temui kali ini adalah seseorang dengan wujud yang berbeda .”
    “A-Apa maksudmu?”

    Senia menarik nafas dalam untuk menenangkan diri.

    “Aku sebelumnya pernah datang kesini dan gagal menyelamatkan Kak Magaleta. Setelah itu aku datang lagi dan kemudian gagal lagi. Berulang kali aku gagal menyelamatkan Kak Magaleta. Aku bertanya kepada diriku sendiri bagaimana caraku agar dapat menyelamatkan Kak Magaleta? Kenapa aku tidak bisa menyelamatkannya? Mungkin jawabannya adalah karena aku lemah.”

    Senia menarik pedangnya.

    “Maka dari itu aku berniat untuk tidak akan gagal lagi. Kali ini, aku pasti akan bisa menyelamatkan Kak Magaleta.”
    “Jangan-jangan…”

    Samar-samar ingatan Raze dimana ia melihat Magaleta yang dirasuki Keabadian mulai muncul. Ia pun menyadari bahwa di dalam sana, mungkin saja mereka akan bertarung melawan Magaleta untuk membebaskan ia dari kutukannya.

    “Tapi Senia, jika hanya bertarung saja, kita bisa melukai Kak Magaleta. Kau pasti punya rencana, kan?”
    “Iya. Aku tahu bagaimana cara mengangkat Keabadian dari tubuhnya. ” Ucap Senia tersenyum.

    Raze pun juga mencabut pedangnya kemudian mereka berdua masuk.

    Di dalam ruangan ini, dipenuhi kegelapan. Tidak gelap namun setiap sudut ruangannya bagaikan berada di dimensi lain. Dan di ujung ruangan, terlihat Magaleta sedang berdiri dengan matanya yang pucat.

    “Oh, kalian datang. Nia, apa yang kau inginkan? Bukankah aku pernah berkata padamu untuk tidak datang kemari lagi?”
    “Kak Magaleta. Kumohon, kembalilah bersamaku. Ayo kita pulang bersama dan menjalani kehidupan kita seperti biasa.”
    “Itu mustahil.”
    “Kenapa?!”
    “Aku sudah menjadi satu dengan Keabadian. Dan hanya menara inilah tempatku bisa tinggal. Ini adalah bayaran untuk diriku, seorang kakak yang gagal menyelamatkan adiknya.”
    “Itu tidak benar! Kau adalah kakak terbaikku. Aku tidak pernah berpikir seperti itu!”
    “Tidak. Karena dirikulah kau menjadi menderita.”
    “Jadi apapun yang kukatakan, kau tetap akan berada disini?”
    “Benar. Itu keputusanku.”
    “Kalau begitu aku tidak punya pilihan lain...”

    Senia meletakan telapak tangan kirinya di dadanya.

    “Nia, pinjamkan aku kekuatanmu.”

    Senia melesat dengan cepat ke arah Magaleta. Ia menebas lurus, tetapi ujung pedangnya terhalang sebuah sihir pelindung di sekitar tubuh Magaleta. Senia mundur beberapa langkah, namun tiba-tiba pilar cahaya muncul dari bawah kaki Senia. Senia berhasil menghindar, namun jubahnya terkena cahaya tersebut dan memberi kerusakan seperti bekas terbakar. Pilar tersebut kembali muncul dimanapun Senia berlari, tapi semuanya dapat dihindari oleh Senia. Pada satu kesempatan, Senia menyerang Magaleta dari belakang, tetapi tiba-tiba sebuah kristal kuning besar muncul di depan Senia. Tebasan Senia menghancurkan kristal tersebut tetapi ia gagal menyerang Magaleta. Magaleta memunculkan 4 kristal besar seperti tadi, dan mengarahkannya untuk menjepit Senia.

    “Gah!” Senia merintih karena terjepit.

    Sebuah pilar cahaya hendak muncul di bawah Senia. Dengan sekuat tenaga, Senia memutar tubuhnya dan menghancurkan kristal yang mengelilinginya. Sekali lagi ia berhasil menghindar dari pilar cahaya. Magaleta mengulurkan tangannya. Beberapa bola cahaya muncul mengitarinya dan dari bola tersebut, laser-laser ditembakan ke arah Senia yang sedang terengah-engah.

    “Awas!”

    Raze melindungi Senia dengan pelindung cahayanya. Pelindung tersebut berhasil menahan setiap tembakan Magaleta. Dan setelah tembakan terakhir, pelindung tersebut hancur.

    “Kekuatan sihirnya berada di level yang tinggi.”

    Senia kembali berlari. Ia menghilang dan langsung menyerang Magaleta dari sisi kanan. Magaleta membuat pedang cahaya di tangan kanannya dan menangkis serang Senia. Senia terus menyerang membabi buta dengan cepat dari segala arah, namun Magaleta dapat menepisnya dengan membuat dua pedang cahaya di kedua tangannya. Bola-bola cahaya juga terus menembaki Senia, namun laser tersebut tidak dapat mengimbangi kecepatan Senia.

    Raze hanya dapat melihati mereka. Bukan karena tidak ingin membantu, tetapi karena ia sadar kalau pertarungan ini tidak dapat ia ikuti karena kedua belah pihak bertarung dalam kecepatan dan kekuatan yang jauh diatas levelnya. Jika ia ikut campur, mungkin ia akan langsung terbunuh oleh Magaleta atau menghalangi pergerakan Senia.

    Senia berhasil menggores tangan kiri Magaleta. Kemudian serangan balasan dilancarkan ke arah wajah Senia. Pipi Senia tergores pedang cahaya dan juga menggores rambutnya. Senia melompat mundur dan mengambil ancang-ancang.

    Magaleta menghilang, Senia melihat ke seluruh arah namun ia tidak dapat menemukannya. Tiba-tiba Senia ditebas dari belakang oleh Magaleta. Pakaian belakang Senia robek dan membentuk luka tebasan. Senia melompat untuk membuat jarak antara dirinya dengan Magaleta. Ia menyadari kalau tubuh Magaleta dipenuhi oleh asap ungu. Magaleta mengulurkan tangannya ke arah Senia. Tiba-tiba saja Senia merasa lemah. Asap ungu mengalir dari tubuh Senia ke dalam tubuh Magaleta.

    “Bahkan hanya dengan berada di dalam menara ini, Keabadian di dalam dirimu dapat meningkat. Aku takkan membiarkannya.“ Ucap Magaleta.

    Senia menancapkan pedangnya ke atas tanah dan menjadikan gagangnya pegangan. Sekejap tubuh Senia ditutupi oleh bola hitam pekat. Bola tersebut kemudian pecah dan memperlihatkan Senia dengan aura hitam yang lebih banyak daripada Magaleta. Luka di pipi dan punggung Senia tertutup. Ia melesat dengan cepat ke arah Magaleta. Sebuah kristal besar muncul menghalangi Senia, tapi kristal itu dapat dihancurkan dengan mudah olehnya. Senia kembali menebas, dan serangan itu ditangkis dengan kedua pedang cahaya Magaleta. Namun pedang cahaya itupun hancur terkena pedang Senia. Magaleta terkena tebasan diagonal pada tubuhnya. Serangannya masih berlanjut dengan tusukan lurus ke dalam perut Magaleta. Pedang Senia menembus hingga ujungnya muncul pada punggung Magaleta. Senia menendang mundur Magaleta untuk melepaskan pedangnya. Magaleta tergeletak di atas lantai, darahnya mulai terlihat menggenang di bawahnya.

    [​IMG]
    “Senia, sudah cukup! Apa kau hendak membunuhnya?!”
    “Aku menghindari agar tidak menusuk organ vitalnya. Kalau diobati, dia masih bisa selamat. Tapi sebelum itu ada yang harus kulakukan.”
    Senia mengulurkan tangannya. Ia menarik kekuatan Magaleta ke dalam tubuhnya.

    “T-Tidak! Nia, hentikan! Jangan lakukan ini.”
    “…”
    “Aku mohon padamu. Biarkan aku yang menanggung semua ini. Jangan kau libatkan dirimu!”
    “Maafkan aku, Kak. Tetapi aku hanya ingin mengabulkan permohonanku, permohonan yang aku dan Nia sangat inginkan.”

    Senia menghisap begitu banyak kekuatan Magaleta. Ia merasa pandangannya semakin kabur.

    “Yang kami inginkan adalah… agar kau dapat hidup bahagia.”
    “Bagaimana bisa aku hidup bahagia jika tanpa kalian?!”
    “Itu tidak benar. Kami akan selalu mengawasi dimanapun Kakak berada. Kami akan selalu hidup di dalam hatimu. Jadi, jalanilah kehidupan yang bahagia demi kami.”
    “Mana bisa aku melakukan hal sekejam itu!”

    Air mata Magaleta mulai mengalir turun. Namun Senia hanya tersenyum lembut sambil tetap menghisap kekuatan Magaleta.

    “Raze! Tolong hentikan Nia!” Teriak Magaleta pada Raze. “Jangan biarkan ia membunuh dirinya sendiri!!”

    Raze sontak terkejut mendengar kalimat tersebut. Tetapi benar, ia melihat Senia mengarahkan ujung pedangnya ke arah lehernya sendiri.

    “Aku tahu, kau menginginkan tubuhku, bukan? Sekarang kau telah mendapatkannya. Tapi sayang sekali, keberadaanmu adalah sesuatu yang paling ingin kusingkirkan di dunia ini. Aku akhirnya paham kalau aku memiliki kekuatan untuk mengunci Keabadian di dalam tubuhku. Jika aku mati bersama kekuatanmu, maka kau tidak akan mengganggu siapapun lagi.” Senia berbicara pada dirinya sendiri. Ia telah siap untuk menusuk lehernya.

    “Apa yang kau lakukan!” Raze membuang jauh pedang Senia dari tangannya. Setelah itu ia pun memegang kedua lengan Senia. “Apa ini cara mengangkat kutukan yang kau maksud?!”
    “Lepaskan! Aku tidak punya waktu banyak sampai ia mengambil alih tubuhku!!”
    “Aku tidak peduli! Aku hanya tidak ingin kau mati dengan cara ini. Pasti masih ada cara lain.”

    Senia menyikut perut Raze dan membuatnya terlempar agak jauh. Senia berlari ke arah pedangnya, tetapi Magaleta memegangi kakinya dan membuat Senia terjatuh. Magaleta melompat ke atas Senia dan menekan kedua bahu Senia. Kontak fisik yang ia lakukan membuat kekuatan pada tubuh Senia mengalir ke tubuhnya.

    “Maaf, Nia. Tapi aku tidak bisa mengabulkan permohonan kalian. Kau juga adalah sumber kehidupanku. Tanpa kau, aku mungkin sudah lama jatuh dalam keputusasaan. Jadi kumohon, biarkan aku yang menanggung penderitaan ini.”

    Darahnya jatuh ke perut Senia. Air matanya jatuh ke pipi Senia.

    “Kenapa…? Kenapa… ini semua harus terjadi.” Senia mulai mengalirkan air matanya ke arah pelipisnya.

    Magaleta memeluk erat Senia. Tubuh Senia diselimuti cahaya. Ia tidak bisa menggerakan tubuhnya. Sementara itu, Magaleta terus menghisap Keabadian dari tubuh Senia.

    “Nia, selamat tinggal. Aku menyayangimu.”
    “Tidak!!”

    Seluruh ruangan langsung dipenuhi cahaya, berubah menjadi sangat terang dan menyilaukan.

    “Jalanilah kehidupan yang menyenangkan.”

    Kalimat itu tidak terdengar seperti diucapkan dari mulut seseorang. Tetapi seperti gema yang berasal dari seluruh sudut ruangan. Ketika cahaya semakin redup, terlihat bahwa Senia dan Raze berada di dalam hutan.

    “Bukankah ini, diluar Menara Keabadian?” Ucap Raze sambil mengamati keadaan sekitar.
    “Oh, Tidak!” Senia bangkit dan berlari ke arah Menara Keabadian. Menara tersebut semakin lama semakin redup.

    “Tidak tidak tidak tidak tidak!! Kumohon, jangan menghilang! Kak Magaleta! Jangan tinggalkan aku!”

    Sayangnya sebelum Senia mencapainya, menara tersebut sudah hilang sepenuhnya. Senia terduduk di atas tanah dan menangis keras sambil memanggil nama Magaleta.

    *-*

    Pada akhirnya, aku tidak dapat mencapai tujuanku. Kabar mengenai menghilangnya Menara Keabadian menyebar dengan cepat. Hal itu membuat penduduk disekitar gembira karena mereka akhirnya terbebas dari serangan Iblis dari Menara Keabadian. Meskipun masih ada beberapa Iblis yang hidup di dunia ini, tetapi jumlah mereka sangat terbatas dibandingkan yang muncul dari Menara Keabadian.

    Hanya saja, tidak semua orang berbahagia atas hilangnya menara tersebut.

    Tidak ada yang tahu apa penyebab menara tersebut bisa hilang, juga siapa yang melakukannya. Bahkan tidak ada yang tahu latar belakang mengenai bagaimana menara tersebut bisa menghilang.

    Mungkin hanya aku yang mengetahui cerita tentang kakak beradik perempuan yang saling menyayangi namun harus saling menyakiti hanya karena mereka ingin saudaranya dapat hidup dengan damai. Ketika kau memiliki perasaan untuk menyayangi seseorang, kau pun akan memiliki kemampuan untuk menyakitinya. Mereka berdua tidak bersalah, takdir lah yang begitu kejam pada mereka. Pada akhirnya, semua ditentukan dari keinginan siapa yang paling kuat.

    -fin-​
     
    Last edited: 21 July 2015

Share This Page