Share [Fan Fic] Acacia High -series-

Discussion in 'Tulisan' started by mimong, 19 August 2013.

  1. mimong

    mimong Member

    473
    140
    123
    Sebelum melanjutkan, saya ingin menjabarkan beberapa hal penting:
    Saya kategorikan tulisan ini sebagai [Fan Fic] karena semua karakter (kecuali yang bernama Ciela Mythevine) bukanlah milik saya, melainkan milik member dari sebuah perkumpulan bernama Folle Famiglia dan forum RPAcacia of The World. Sedangkan fic yang saya tulis ini adalah sebuah omake dari setting RP yang ada, dengan kata lain berbeda setting dari yang sebenarnya (Jika yang sebenarnya setting ada di sebuah planet bernama Anagon, galaksi Andromeda dengan penghuninya adalah penyihir dan ilmuwan, saya membuat fic ini dengan setting bumi dengan kehidupan normal di SMA :) )

    Semua karakter yang saya gunakan sudah diberi ijin oleh masing-masing creator para OC (Original Character). Begitu pula dengan publikasi fic ini di Akira!
    Genre: Humor (maunya, tapi sepertinya garing haha)

    -== Acacia High (Part 1): Kehidupan Sekolah yang "Menyenangkan" ==-

    Galaksi Andromeda, terdapat sebuah planet bernama Anagon yang dihuni manusia. Disana—TUNGGU DULU! Buang draft cerita itu! karena kita akan meninggalkan galaksi Andromeda, maupun planet Anagon beserta liku-liku kehidupannya. Bagaimana kalau kita mencoba untuk normal sedikit? Kembali ke dunia dimana seharusnya manusia berada...

    Let's go to our beloved Earth! (suara terompet membahana di belakang)

    Hey, bagaimana dengan tokoh-tokoh yang sudah kita kenal sekarang? Oh tenang, mereka juga (author paksa) tinggal di bumi kita yang indah ini. Tapi kehidupan mereka tak lagi sama. Mereka akan menjalani kehidupan mereka yang baru, kehidupan normal seperti kita, para pembaca budiman. Mereka akan menjadi remaja bahagia (dan labil, tentu) dalam sebuah sekolah sekaligus asrama bernama... (suara drum) "ACACIA HIGH"!!

    Sudah dulu basa-basi yang tidak penting dan kriuk ini. Bagaimana kalau kita intip kehidupan mereka di sekolah?

    Prepare yourself!
    ===============================================

    "AYLE! ROZALIN! Kali ini kalian tidak akan lolos!" teriak seorang lelaki berambut oranye—yang sangat unik—dari ujung lorong. Di lengannya melilit sebuah ban kain berwarna merah bertuliskan Komite Disiplin.

    "Mikama-chan~ Kau tidak akan bisa menangkap kami!" Sahut lelaki berambut kuning emas dengan happi melekat menutupi seragamnya yang tampak berlari di lorong, berusaha menghindar dari si rambut oranye. "Nicchan! Ayo lebih cepat! Game center di dekat stasiun punya game baru, aku ingin segera coba!" katanya kepada teman di sebelahnya yang juga ikut berlari.

    "Hah! Tidak perlu kau bilang aku sudah tahu bodoh! Kau yang seharusnya mempercepat larimu!" kata teman si rambut emas, lelaki berambut putih yang dipanggil Nicchan—panggilan akrab untuk seseorang yang bernama Nishiki—sambil mempercepat larinya pula. "Tapi, Terra, kau tahu kan si Mika—maksudku Zion Clearest Venefic, ketua Komdis itu anggota Track Team? cepat atau lambat dia akan mengejar kita!" kata Nishiki lagi.

    Benar, jarak antara mereka dengan si Ketua Komdis tinggal 5 meter, bukan jarak yang jauh apalagi bagi seorang pelari seperti Zion. Seperti perumpamaan, sudah jatuh tertimpa tangga lalu terperosok ke selokan berbau eksotis, di depan mereka sudah ada Mr. Christ, guru killer yang sedang berpatroli di jam pelajaran, berjaga agar tidak ada siswa yang bolos. Uh-oh, Terra dan Nishiki tak akan bisa kabur kali ini.

    Mereka berhenti sejenak, mundur dan maju sama saja. Membelok? Kita tak dapat menggunakan solusi bijak itu, nak. One-way route, lorong ini hanya punya 1 jalur dan 2 ujung. Tak ada jalan bagi mereka.

    Lalu tiba-tiba sebuah benda logam yang tak jelas asal-usulnya terlempar ke depan Terra dan Nishiki. Sedetik kemudian, asap memenuhi seluruh lorong. Tunggu dulu! ini cerita di kehidupan sekolah kan? Mengapa benda seperti itu bisa muncul?

    "Hey! Apa yang—Uwaah!" Tanpa disadari, Terra ditarik oleh, mungkin, seseorang dari kebelakang. "Oi! Terra apa yang ter—" Nishiki ditarik pula dari belakang. Di tengah asap begini Terra dan Nishiki tidak dapat melihat sekitarnya. Oh tidak, mungkinkah mereka ditarik oleh Zion atau Mr. Christ?

    Beberapa waktu kemudian, asap di lorong itu perlahan menghilang. Semua perlahan semakin jelas. Namun hal aneh terjadi.

    Di lorong itu hanya ada Zion dan Mr. Christ. Terra dan Nishiki tidak ada disana.

    =========================================================

    Begitu sadar, Terra dan Nishiki sudah berada di sebuah ruangan yang sangat gelap. "Ah, Nicchan.. Kau disana?" Terra menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok temannya itu.

    "Iya, aku disini." Nishiki ternyata sudah ada di sebelahnya. Terra agak terkesiap karena dia tak dapat melihat apapun dan tiba-tiba mendengar suara temannya itu membuatnya sedikit kaget.

    "Aah.. begitu." Terra menoleh ke kanan dan ke kiri lagi, matanya sudah mulai terbiasa dengan gelap. "Hmm.. Ini dimana?". Nishiki mengangkat bahu tanda dia juga tak tahu mereka ada dimana. Oh Nishiki, di keadaan gelap begini Terra tak akan bisa melihatmu mengangkat bahu, tolong.

    Lalu suara-suara aneh mulai terdengar, berasal tepat dari depan mereka. Suara langkah kaki yang pelan, namun di saat begini menjadi menggema-gema ke seluruh ruangan. "Te, Terra! Apa itu?" Nishiki terkesiap, sontak meraih lengan happi milik Terra dan menariknya. "Oi, kau takut ya, Nicchan?" Kata Terra sambil menyeringai, walaupun seringainya itu tak akan terlalu terlihat oleh Nishiki karena gelap.

    Mendengar nada bicara Terra yang mengejeknya, Nishiki langsung melepas tarikan tangannya lalu berkata dengan sedikit meninggikan suaranya, "A, aku tidak takut bodoh!". Terra menghela napas, "Hhh.. iya.. iya."

    Suara aneh terdengar lagi dan langkah kaki itu semakin mendekat, membuat Terra kembali menoleh ke sumber suara. Hal itu juga membuat Nishiki kaget, refleks mencengkram happi Terra lebih kuat. Oh tidak, apakah yang mendekat itu adalah setitik cahaya lilin?

    Cahaya itu perlahan mendekati mereka berdua. Lalu pemandangan semakin jelas. Lilin itu dibawa oleh seseorang di balik jubah panjang yang menutupi setengah wajahnya, dia tersenyum menyeringai.

    "Kau.. siapa?" Terra mencoba untuk bertanya, lebih meyakinkan kepada dirinya sendiri bahwa yang dihadapannya adalah manusia.

    Dan lagu opening anime ini mulai mengalun, Jang! Jang! Jang! Chara cha cha cha~!! lalu judul animenya terli—hentikan lelucon garingmu itu author!

    Oke, oke, bayangkan saja demikian, biar makin greget. Ah, sudahlah.

    Sementara itu, walau terdengar samar, Nishiki menelan ludahnya. "Ka, kau manusia kan?"

    Mendengar hal itu, senyum di wajah yang hanya diterangi lilin itu memudar. Tanpa bicara apapun, dia membuka tudung jubahnya. Meskipun hanya diterangi setitik cahaya lilin, sosoknya tampak jelas.

    Seorang gadis dengan rambut twintail berwarna kuning agak oranye lah yang ada di balik jubah itu.

    Gadis itu menatap Nishiki dan Terra dengan tajam, memperhatikan setiap inci dari sosok kedua lelaki yang ada di depannya, seakan dia bisa melihat dengan sangat jelas di kala gelap.

    Nishiki menarik happi Terra, membuat temannya itu menoleh. "Oi Terra, dia.. manusia kan? Dia tidak menjawabku.". Hal itu justru membuat Terra menahan tawa. "Oi! Terra!"

    "Tentu saja, kau bisa lihat sendiri." kata Terra sambil memiringkan kepalanya ke arah gadis itu. "Bahkan dia terlalu manis untuk jadi hantu. Aku akan coba bicara dengannya." Senyum andalan Terra mengembang, lalu ia maju mendekati gadis itu.

    "Huh, terserah kau saja." Nishiki mendengus. Tapi meski begitu, dia tetap mengikuti Terra dari belakang sambil memegang happi Terra. Oh Nishiki, dia bukan hantu, apa yang kau takutkan?

    "Hai, aku tidak pernah melihatmu. Ah! yang lebih penting, apa kau yang membawa kami kesini?" Terra mulai angkat bicara. Gadis yang ada di hadapannya itu malah menatapnya semakin tajam.

    "Aaah! Jangan menatapku begitu!" kata Terra sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Kau tahu, kalau terus menatap seseorang dengan cara seperti itu, orang tidak akan menyadari betapa manisnya dirimu! Ahaha, tenang saja, aku menyadari kau gadis yang manis kok, setajam apapun kau menatapku." Hah! dasar playboy cap salmon!(?). Habis kalo cap kakap, author sudah bosan.

    Gadis itu mulai membuka mulutnya, tatapan tajamnya mulai melunak, "Aah.. benar, aku yang membawa kalian kemari." Oi, oi, ojou-san~ kau melunak karena rayuan Terra? Lalu mulut author di bekap oleh pembaca tak dikenal. Rileks! Saya author disini! Okay, Put that aside.

    "Ah, begitu. Kami sangat berterima kasih, kau menyelamatkan kami." Kata Terra dengan tersenyum lega. "Kami tak tahu harus bagaimana tadi." Katanya lagi.

    "Itu karena kau memilih jalan yang salah, Terra!" Nishiki melempar tatapan kesal ke arah Terra.

    "Hah! Kau penakut diam saja!" Balas Terra, membuat Nishiki langsung diam tiga ribu bahasa. Memangnya bahasa di dunia ada berapa, sih?

    "Ahaha, yang penting kau sudah menyelamatkan kami, kami berhutang padamu. Tentu kami akan siap membantumu kalau kau ada masalah, sebagai balas budi." Kata Terra kepada gadis itu lagi. "Namaku Terra Leonarde Rozalin, dan temanku ini Nishiki Ayle. Jadi, siapa namamu?"

    Gadis itu menjawab, "Sana, Fulmienta Sana Venefic."

    Nama gadis itu membuat mata mereka berdua sedikit melebar. Tunggu dulu, apa dia bilang?

    "Fulmienta Sana... Venefic?" Nishiki mengulang nama gadis itu, meyakinkan dirinya apakah dia salah dengar tadi?

    "Ya. Ah, tadi aku tahu ada Mr. Christ disana, kupikir kalian sedang ada dalam masalah besar. Lalu karena kulihat kakakku mengejar kalian, kupikir kalian benar-benar butuh dibantu." Kata Sana.

    "Jadi kau adik Mika—maksudku, Zion Clearest Venefic?!" Kata Terra agak terkejut. Kemudian Sana mengangguk, mengiyakan kata-kata Terra.

    "Aahh.. aha, ahahaha..." Nishiki dan Terra langsung tertawa hambar. Ternyata tetap saja kita bertemu dengan orang yang agak merepotkan hidup kita, nih, pikir mereka.

    "Be, begitu ya... Uuh.. dimana pintu keluar? Kami harus segera kembali ke kelas.." Kata Terra, sedikit berbohong.

    "Benar, kami tidak bisa berlama-lama disini." Nishiki menambahkan.

    Lalu Sana menunjukkan arah untuk keluar dari ruangan itu. Dengan cepat, Nishiki dan Terra meninggalkan Sana dari tempatnya berdiri tanpa banyak bicara lagi.

    Aah.. Kenapa aku harus bilang balas budi segala? Pikir Terra.

    ===============================================

    Zion melangkah dengan lebar, wajahnya di warnai dengan rona kesal dan marah. Bagaimana tidak? Dia gagal lagi memburu Terra dan Nishiki yang suka bolos pelajaran! Ini tidak bisa dibiarkan! Kedisiplinan di Acacia High harus tetap terjaga, orang-orang seperti itu harus diberi pelajaran!

    Ia sampai pada tujuannya, Ruang Sekretariat OSIS.

    "KAICHOU! Terra Rozalin dan Nishiki Ayle bikin ulah lagi! Kau harus lakukan sesuatu pada mereka, apalagi Rozalin itu wakilmu!" sentak Zion setelah membuka pintu dengan keras.

    Orang-orang yang ada di ruangan itu, beberapa anggota OSIS, termasuk Ketua OSIS, langsung menoleh ke arah Zion. Zion mendekat ke arah ketua OSIS dengan langkah lebar dan cepat, lalu meneruskan omelannya, "Kalau seperti ini terus, bagaimana Acacia High nantinya?!"

    Yang ada di hadapan Zion saat ini adalah Ciela Mythevine, sang ketua OSIS. Ia hanya diam dan menatap Zion beberapa saat.

    "Hentikan tatapan stoic-mu itu dan jawab pertanyaanku!" Uh-oh, Zion mulai kehilangan kesabaran.

    Tanpa bicara apapun, Ciela mengambil boneka tangan yang berpenampilan mirip dengannya—twintail bergelombang dengan poni rata—lalu memasukkan tangannya ke boneka itu. "Kau tidak pernah bicara sebanyak itu, Zion." sebuah suara keluar, dari mulut si boneka. Eh?

    Zion menghela napas kesal dengan sangat panjang, terkesan dipaksakan. "Huh, apa kau harus berkomunikasi dengan itu? Kupikir ini merepotkan, bicara dengan suara perut begitu." kata Zion sambil menunjuk-nunjuk boneka itu.

    Sedetik kemudian, tangan boneka itu mencekik leher Zion.

    "Ba, baik! A... aku minta.. maaf! Le.. lepaskan!" Zion berusaha melepaskan cekikan si boneka, yang diluar dugaan sangat kuat. Permintaannya dikabulkan, boneka itu melepaskan cengkramannya.

    "Jangan menganggap Ciel adalah sesuatu yang merepotkan!" si boneka bergerak-gerak, seakan dia marah sekali—bahkan rasanya dia berekspresi marah. Ciel? author, kamu gak salah ketik? Nggak kok, Ciel itu nama bonekanya. Yak para pembaca budiman, silahkan ber-ooh ria! Orkestra jangkrik pun mengalun. Lupakan.

    "Hei Ciel-san, bahkan pemilikmu tidak keberatan. Lihat, dia sama sekali tidak berekspresi." Sekarang giliran Zion yang mendapat alunan orkestra jangkrik. Ciel (dan Ciela, tentu) tak bicara apapun. Hal itu membuat Zion kembali menghela napas panjang.

    "Baik, kita kembali ke topik awal." Kata Zion sambil menegakkan badannya kembali. "Kau harus lakukan sesuatu terhadap Rozalin dan Ayle!"

    Ciela menatap Zion tanpa mengubah stoic-face nya. Kemudian Ciela—lebih tepatnya Ciel si boneka—angkat bicara, "Walaupun Rozalin-san tidak pernah melalaikan tugas, kurasa aku harus melakukan sesuatu agar kau berhenti mengomel padaku, hmph."

    "Tak perlu kau katakan! Itu kewajibanmu!" rasanya otak Zion sudah dipenuhi darah mendidih, bisa jadi satu orang terbunuh kalau dia dibuat lebih marah lagi.

    Ciela beranjak dari kursi nyamannya. Tanpa banyak bicara, dia melangkah tenang keluar ruangan yang seperti gudang karena dipenuhi berkas-berkas itu. Zion hanya bisa menghela napas yang panjang dan berat.

    ===============================================

    Sementara di sisi lain, di kelas 3-F. Pelajaran sejarah, pelajaran paling santai namun membosankan yang pernah ada dalam sejarah Acacia High. Bagaimana tidak, kalau gurunya adalah seorang pria berambut gelombang berwarna hitam yang selalu malas-malasan? Kehidupannya seperti rambutnya yang mirip dengan rumput laut, bergoyang-goyang dengan santainya! (perumpamaanmu sungguh tidak bagus, author. Sudahlah, kalau protes terus, hentikan saja bacanya.)

    "Kerjakan saja buku modul halaman 120, semua sudah ada jawabannya disana, tak perlu bertanya macam-macam." kata Mr. Nero dengan nada malas, kemudian ia duduk di kursi guru dan membaca buku kecilnya dan tidak memperhatikan murid-muridnya lagi.

    Murid-murid kelas 3-F riuh-riuh-riang-gembira karena pelajaran santai, bahkan tidak bisa disebut pelajaran, sih. Tidak yakin mereka akan mengerjakan tugas dari Mr. Nero. Tapi author lebih tidak yakin lagi kalo Mr. Nero akan mengoreksi pekerjaan mereka.

    Jadi rumput laut saja kau! Lalu author ditimpuk kamus tebal oleh creator-nya Nero. (kriik)

    "Nee, Triffy-chan~" salah satu suara yang perlu kita sorot(?) di antara suara riuh kelas yang tak terkendali ini keluar dari mulut Lua L. Askew. Ia mendorong-dorong temannya yang duduk di depan bangkunya. Karena yang dipanggil tidak menyahut, Lua menendang-nendang kursi si teman yang ia panggil "Triffy-chan" tadi. Masih belum terpanggil juga, Lua mulai memainkan drum keras-keras untuk meminta perhatian. "Triffy-chan" tidak menoleh sedikitpun, membuat Lua membunyikan terompet yang bahkan lebih besar dari badannya dengan keras. Si teman tetap tak bergeming, membuat Lua kesal dan akhirnya menari salsa di depan "Triffy-chan" lalu—

    Baiklah, coret 3 kalimat terakhir yang kau baca itu, Lua tidak benar-benar melakukannya. Author mulai melucu garing.

    Triffy-chan, seseorang yang bernama lengkap Sequentia Trifoi itu, melepas earphone yang terpasang di telinganya sedari tadi. Wajahnya sedikit kesal, mungkin karena kegiatan sakralnya mendengar lagu dangdut Bang Rhamo kesukaannya diganggu.

    "Apasih, nendang-nendang kursiku?" kata Trif dengan nada yang agak ditinggikan.

    "Triffy-chan~ Aku bosan~" jawab Lua memelas.

    "Terus? Masalah gitu buat gue?" balas Trif OOC.

    "Yaah~ main sesuatu yuk! Ayo main UNO!" kata Lua sambil mengeluarkan 1 dek kartu UNO dari tasnya.

    "Bosan." kata Trif singkat.

    "Kalau... Monopoli?" kata Lua sambil mengeluarkan sekotak besar permainan monopoli dari tasnya.

    Trif menggeleng, "Aku nggak suka main monopoli."

    "....kalau dakon?" kata Lua sambil mengeluarkan alat permainan yang berbentuk panjang berbahan plastik dengan banyak cekungan di atasnya, lengkap dengan sebungkus plastik biji kopi imitasi.

    Ada yang tidak tahu dakon? Tanya mbahmu, saya males jelasin.

    "..." Trif hanya memandang si dakon dengan tatapan datar.

    Sepertinya si dakon mulai merengek, meminta untuk dimainkan. 'Triffy-chaan~ main sama akuuu~ ya? ya?'
    Hei, pembaca, bukankah dakon yang berbicara itu menjijikkan?

    "...no." kata Trif singkat-datar-padat-jelas.

    KRAK!

    suara dua hati yang hancur terdengar. Satu dari Lua, yang satu lagi dari si dakon.
    ......sepertinya dakon tidak punya hati.

    "Yaah, Triffy-chan kok gitu~" kata Lua sambil guling-guling, mulai OOC.

    "...aku sedang tidak ingin bermain. Dan yang ingin kutanyakan, bagaimana semua alat permainan itu muat di tasmu yang kelewat kecil itu? Tasmu itu apa? Kantung Doraemon?" ujar Trif yang ternyata bisa kepo juga.

    "Itu tidak penting! Masalahnya sekarang aku bosan!" Lua mulai kehilangan kesabaran.

    Trif terlihat berpikir keras. Ia mengelus-elus dagunya seperti kakek-kakek.
    .... nggak, nggak, Trif tidak melakukan itu kok.

    Kemudian matanya sedikit terbuka lebih lebar, tanda kalau otaknya baru saja dapat lampu.

    "...lagipula pelajaran sejarah hampir habis. Hmm.. Apa nanti kita mampir ke sekretariat Komite Disiplin?" kata Trif menyampaikan isi otaknya.

    Mata Lua sedikit berbinar, "Waah~ ide bagus!"

    "Kita lihat, apa yang kita dapat nanti..." ujar Trif sambil menyeringai.

    "Ohoho~ apakah kita akan cukup puas nanti..? eheheh~" Lua terkekeh-kekeh seperti nenek sihir.

    Kelas 3-F diselimuti oleh aura menyeramkan, membuat seluruh anak sekelas menoleh ke sumber aura yang tak lain dan tak bukan berasal dari kedua anak absurd itu. Mereka semua hanya menatap dengan tatapan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata, sedikit berkeringat, dan perlahan menelan ludah.

    khukhukhukhukhukhukhukhukhukhukhu~

    ...ah, itu tawa author.

    ===============================================

    Ciela berada dalam pengembaraan panjang(?). Ia sedang mencari Terra Leonarde Rozalin dan Nishiki Ayle. Sudah hampir satu jam dia berputar-putar di gedung sekolah yang luasnya hampir mengalahkan hutan hujan tropis (ini hiperbola gak penting kok). Tapi ia selalu kembali ke tempat yang sama sedari tadi.

    "..ah, aku tersesat." pikirnya

    BAGAIMANA SEORANG KETUA OSIS TERSESAT DI SEKOLAHNYA SENDIRI?
    Ciela yang buta arah ini hanya berputar-putar saja. Baiklah, dengan kekuatan author yang agung ini, akan kutunjukkan jalan yang benar.

    "Waah~ seperti biasa lukisanmu bagus sekali!" terdengar suara seorang gadis dari sebuah ruangan.

    "..aah, ini biasa saja kok..." kali ini suara seorang lelaki, kedengarannya dia yang sedang dipuji si gadis.

    "Nicchin selalu merendah ya." suara gadis yang berbeda dari yang pertama.

    ...Nicchin? Nishiki?

    Ciela mendekati ruangan yang pintunya setengah terbuka itu dengan perlahan. Kepalanya melongok ke dalam. Mata emasnya menangkap 3 orang disana, 3 orang yang ia kenal.

    Ah, si gadis air… pikir Ciela menatap gadis yang sedang berdiri, gadis bernama Eryn Lanchoyr itu yang tadi memuji si lelaki. Kenapa 'gadis air'? Ciela menyebut teman sekelasnya begitu karena Eryn adalah ketua Klub Renang di Acacia High. Ciela menyebutnya begitu juga karena Eryn jadi sangat aneh di dekat air, wajahnya sudah seperti wajah para last boss yang ada di game-game, mengamuk dengan menyemprot-nyemprotkan air ke sekitarnya tanpa pandang bulu.

    Itu menurut Ciela, bukan menurut author.

    Lalu mata Ciela berpindah ke arah gadis yang duduk, "Hoh, Ann..."

    Meskipun Annasthacy Chashyme berbeda kelas dengan Ciela, ia adalah bendahara OSIS. Tentu saja Ciela mengenal Ann. Walau hubungan mereka tidak terlalu baik karena sering berdebat masalah keuangan OSIS. Repot juga kalau dua orang yang sama-sama keras kepala bekerja sama.

    Dan yang duduk di antara mereka, berhadapan langsung dengan sebuah kanvas berukuran 30x40 cm adalah target Ciela hari ini.

    Nishiki Ayle.

    Apa yang akan Ciela lakukan terhadap Nishiki nanti?

    ...
    ...lagu ending animenya sudah boleh diputar?

    BELUM! INI BELUM SELESAI!
    Jadi, penderitaan kalian membaca tulisan-tulisan yang garing ini belum berakhir! Ahahaha~

    "Ayle-san." panggil Ciela—Ciel maksud saya—yang kini berdiri 2 meter dari tempat 3 orang itu.

    "Aah.. Ciela-chan... Ada perlu?" jawab Nishiki dengan suara yang sama sekali tidak kasar, lembut, agak lemah, dan tipe-tipe suara yang dimiliki karakter yang jarang marah lainnya.

    ..tunggu.

    "Apa kau mencoba bolos hari ini?" kata Ciela to-the-point.

    "...eh? Tidak.. aku tidak pernah berniat bolos." Nishiki mengangkat tangannya setinggi dada, mengibaskan keduanya pertanda dia 'tidak melakukan yang kau tuduhkan'. Ia kaget dengan yang dikatakan Ciela.

    ...ada yang berbeda dengan laki-laki ini.

    "Lalu, bisa kau jelaskan kenapa Zion bercerita padaku bahwa ia mengejarmu, bersama Rozalin-san, yang berusaha membolos pada jam pelajaran ke 4 pagi ini?" Ciela mengutarakan analisisnya yang (sama sekali tidak) terdengar seperti detektif.

    "Roza—maksudmu Terra? Itu tidak benar! Bahkan aku tidak bertemu dengannya hari ini..." sang tertuduh memberikan pembelaan.

    ...hei, apa kepala milik lelaki bernama Nishiki ini terbentur tadi? Jangan-jangan dia terkena amnesia?

    "Hei, kenapa kau menuduh Nicchin seperti itu? Dia sudah bilang tidak bolos, kan? Nicchin tidak akan pernah bolos..." gadis berkacamata yang sedari tadi bungkam melihat adegan aneh barusan akhirnya angkat bicara.

    "Tapi Ann, sesuai jadwal, Zion berpatroli pada jam pelajaran ke 3-4. Tentu kau tahu tadi dia datang padaku sambil marah-marah, kan? Tidak ada alasan bagi seorang Zion untuk menyebarkan berita bohong untuk menjelekkan Ayle-san. Lagipula..." matanya menatap Nishiki kembali, "Pada waktu jam pelajaran ke-4, Ayle-san tidak ada di kelasnya, yang juga kelasku, 2-A. Benar, kan, Lanchoyr-san?"

    Yang dipanggil merasa kaget karena disuruh memberi kesaksian, "Aahh.. I-iya sih.. Nicchin tidak ada di kelas waktu itu..." Eryn memberi jawaban dengan ragu.

    "Eryn! Duuh.. Itu tidak benar, kan, Nicchin?" ujar Ann dengan wajah prihatin.

    "..."

    Sang tertuduh hanya diam saja. Terlihat sekali di wajahnya, ia sangat kebingungan. Mulutnya bungkam, tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Kedua temannya itu hanya menatapnya cemas, sedangkan ia melihat lantai yang dipijaknya dengan pandangan tak menentu. Sedangkan sang penuduh menunggu jawaban pastinya.

    -- To Be Continued --
     
    Dejiko likes this.
  2. mimong

    mimong Member

    473
    140
    123
    Belum-belum udah chapter 2 aja haha. Emang tulisan lama ini :)

    Genre: Humor
    Guyonan Garing, Author ngerusuh, Plot tidak jelas.
    -== Acacia High (Part 2): Hanya Karena Bolos ==-

    Namaku Reeve Vierchant.

    Umurku 23 tahun. Aku seorang guru Kimia di sini, di Acacia High, di sekolah yang elit, tapi aku merasakan anak-anak di dalamnya agak mencurigakan, atau itu cuma perasaanku.

    Di umurku yang masih muda, aku sudah menjadi guru. Wajahku yang tampan ini menjadi idola para murid disini, yah, walaupun mereka terlalu muda untukku. Meski begitu, guru wanita yang masih muda juga lumayan. Wanita itu memang indah dipandang~

    Wajah tampan, tubuh seksi(?), baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung(?). Aku pria sempurna!

    Tapi...

    "KENAPA AKU TIDAK MUNCUL DI CHAPTER 1 ???!!! KENAPAAAAA???!!" aku berteriak karena depresi, sepertinya aku mulai terkena virus OOC.

    "...aku tidak tahu harus memunculkanmu dimana." Author tiba-tiba muncul di sebelah Reeve yang melankolis. Perkataannya sedikit ngeles.

    "HAH?! TAPI KENAPA HANYA AKU SAJA YANG TIDAK MUNCUL? BAHKAN NERO YANG SEPERTI RUMPUT LAUT ITU SAJA MUNCUL WALAU SEBENTAR!"

    Creator-nya Nero tidak ada di sekitar sini, kan?

    Author menghela napas panjang, "Tapi kau dapat kehormatan mengobrol denganku di awal chapter ini. Kau seharusnya bangga bisa bicara denganku yang super-agung-nan-tampan ini!"

    "Tapi kau wanita!"

    "Cih, jangan buka kartu dong." Author mendecakkan lidahnya dengan kesal.

    Aku tidak pernah membenci wanita, tapi Author yang satu ini pengecualian.
    ...tuhkan, dia menghilang seperti asap.

    Baiklah, aku akan melanjutkan monologku.

    Hari ini ada murid baru yang akan menjadi penghuni kelas yang menjadi tanggung jawabku, kelas 2-B (aku adalah wali dari kelas yang sangat ricuh itu). Seharusnya aku mengenalkannya pada murid-muridku pada saat homeroom di pagi hari.

    Tapi anak itu menghilang.

    Lalu aku bermaksud mengenalkannya di jam pelajaran ke 3-4 karena saat itu aku mengajar di kelas itu.

    Tapi anak itu menghilang lagi.

    Dan lagi waktu pelajaranku, Terra Rozalin membolos lagi. Disaat yang sama adalah jadwal Zion Venefic berpatroli sebagai anggota Komite Disiplin. Bisa kutebak, mereka pasti main kejar-kejaran lagi.

    Aku hanya bisa memijit kepalaku.

    "Haaahh... Hari ini begitu aneh..."

    Besok lebih aneh mungkin, heheh, Author terkekeh-kekeh.

    Aku merasakan firasat yang amat-sangat aneh. Yah, bukan karena hanya tinggal aku sendiri yang berada di ruang guru sekarang, tapi... sepertinya ada yang tertawa.

    "...sen..sei..."

    "HIYAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!" aku berteriak begitu ada tangan menyentuh pundakku. Dingin sekali!

    "..aah, sensei tidak apa-apa?"

    Lalu aku melihat pelaku yang membuatku kaget setengah hidup itu. Aish, si murid baru.

    "Ehem," aku membetulkan posisi dudukku--dan terbatuk, padahal tenggorokanku tidak gatal. Maklum lah, gue emang keren, batuk itu keren."Kemana saja kau? Bukankah seharusnya kamu mulai belajar di kelas barumu hari ini?"

    "Maaf Sensei, ada satu kelas tak terpakai yang sepertinya punya 'penghuni' di dalamnya. Jadi aku ingin 'meneliti' disana, mungkin aku bisa mengobrol dengannya."

    Penghuni? Meneliti? MENGOBROL?! Memangnya orang biasa mengobrol dengan yang begituan?! Yah, itu tidak akan terlalu mengejutkan kalau kau melihat gadis yang ada di hadapanku sekarang. Maksudku, lihatlah jubah hitam itu! Dan apa itu yang dia bawa? Lilin?

    "Uhm... Venefic-san.. Kau sungguh berbeda dengan kakakmu. Err..."

    Mendadak aku tidak ingin berbicara lebih banyak lagi tentang dia.

    "...."

    Bagus, dia hanya menatap tajam ke arahku. Jujur saja, tidak enak.

    "Baiklah, Sana Venefic! Kau datang saja besok pagi untuk memulai pelajaranmu di sekolah ini. Aku harap kau tidak menghilang lagi seperti tadi. Kembali saja ke gedung asramamu." Kataku akhirnya.

    "...baiklah Sensei.. permisi."

    Dan gadis itu meninggalkan ruangan guru tanpa banyak bicara.

    Ngomong-ngomong soal 'penghuni' yang tadi Sana sebutkan...

    Jangan-jangan... MAKSUDNYA AUTHOR??!!

    "BUKAAAANN!!!" Author melempariku pake sendal jepit keramat merk Skiwei, yang ternyata gak kena, iyadong, gueh ngehindarin sendalnya ala matriks dengan kerennya. Lihat, Author kelihatan kesal! Ahahahah! Apalagi---

    "Sudah, Reeve. Sekarang giliran gueh."

    Dengan begini, pekerjaan bercerita kembali kepada Author. Kriiiik....

    ================================================

    Pintu itu terbuat dari kayu yang dicat putih di seluruh permukaannya. Karena sudah cukup lama, warna putihnya sudah dinodai warna kusam kekuningan. Pintu itu sudah menyatu pada sebuah tembok di sebuah lorong gelap sejak sekolah ini dibangun puluhan tahun lalu.

    "....hen..hhh..."

    Pintu itu selalu memancarkan aura aneh, membuat yang melihatnya melihat warna lain.

    Bukan warna putih kusam.
    Namun abu-abu.

    Warna yang seakan menyadarkan kita bahwa dunia tak seperti yang kau bayangkan. Pintu itu seakan memantulkan cahaya dengan lemah, memperlihatkan garis-garis tipis seperti sayatan. Tak hanya abu-abu, terlihat sedikit warna merah disana.

    "..kumo...hh.."

    Sering terdengar jeritan di balik pintu itu. Tak jarang diwarnai dengan isak tangis.

    Penderitaan.

    Siksaan.

    Suara-suara yang mengharapkan pengampunan.

    "..hen...hentikan... HENTIKAAAN!!"

    Seperti sebuah gerbang kematian.

    "..heh? Aku baru memulai, kau sudah menjerit seperti itu?"

    Samar-samar terdengar sebuah suara seseorang berbicara. Sangat tenang, bahkan diantara suara yang tersiksa itu.

    "..uuh... Aaaahhh!!!"

    "Ara, suaramu itu sungguh mempesona, aku ingin dengar lagi!"

    Suara yang awalnya tenang itu berubah menjadi suara yang bersemangat. Setelah ia mengutarakan 1 kalimat itu, jeritan-jeritan itu berulang-ulang kembali seperti sebuah lingkaran setan yang tak pernah habis. Menjerit, dan memohon berkali-kali.

    Pintu itu adalah saksinya. Dalam kebisuan ia melihat semuanya.

    "Ahahahaha!!! Keluarkan! Keluarkan suara-suara itu! ..aah~ aku menyukainya~"

    Suara itu bersuara lagi, memperlihatkan perkembangan yang aneh. Tenang, bersemangat, lalu berubah seperti psikopat yang haus akan jeritan manusia.

    Dan pintu itu tetap berdiri kokoh.

    Pintu itu tetap memancarkan warna yang sama.

    Dibalik pintu itu, suara yang sama tetap terdengar.

    Pintu itu, pintu itu memiliki nama.
    Namanya tertulis pada sebuah papan yang menggantungkan dirinya pada dua buah paku berkarat, menancap pada dinding di sisi kanan pintu itu.

    Terdiri atas 4 kata, "Ruang Sekretriat Komite Disiplin"

    "..hhh...hh.."

    Ruangan di balik pintu itu cukup gelap. Satu-satunya sumber cahaya disana adalah sebuah lampu gantung yang memancarkan cahaya dengan lemah. Dibawah cahaya remang-remang itu terdapat sesosok makhluk dengan tulang, daging, dan kulit, terikat pada sebuah kursi kayu yang hampir lapuk.

    Manusia.

    Napasnya berat, sudah lelah berteriak terlalu lama. Kekuatannya telah disedot habis. Terlihat seragam lelaki itu berantakan, semua kancing seragamnya terbuka, memperlihatkan badannya yang kurus dan kelelahan.

    "Hah, sudah capek ya? Kau tidak seru!" suara psikopat itu seakan berubah wujud menjadi seorang gadis, yang kini berdiri menghadap manusia yang terikat itu. Terdengar sedikit kekecewaan dalam suaranya.

    "Heh, kau terlihat menikmatinya, Lua." Dibalik sosok gadis-yang-seperti-psikopat itu berdiri seorang gadis lain yang sedari tadi menyandarkan punggungnya di dinding, hanya menonton saja.

    "Tentu saja, Triffy-chan~ Kau lihat ekspresi bocah ini tadi?" kata Lua dengan nada manis namun terdengar mengerikan sambil mengangkat wajah "korbannya", "Ehehe, wajahmu manis sekali, apalagi saat berteriak~" Lua tersenyum.

    "Ano..senpai..." suara lain menyahut di sisi yang berbeda.

    "Hun? Ah, kapten Zion! Kau mau bergabung? Triffy-chan hanya melihat saja sih!" ujar Lua dengan nada jengkel.

    "...tidak, terima kasih. Hanya saja..."

    Lua melihat Zion dengan tatapan innocent.

    "KALAU MAU MENGGELITIK SAJA TIDAK PERLU SAMPAI BEGITU KAN? SAMPAI ANAK ITU DIIKAT DIKURSI, MEMATIKAN LAMPU, DAN APA-APAAN LAMPU YANG MENGGANTUNG REMANG-REMANG ITU?" Zion mulai menyemburkan amarah. Ia pun menyalakan lampu—yang asli—di ruangan itu dengan keras.

    "Ckckck, Kapten~ ini demi membangun suasana dan ketegangan. Kau tidak tahu arti penting dari ini?" Lua berkacak pinggang. "Lihat alat penyiksaku ini! Margarett benar-benar mempesona, dia bahkan punya rantai yang mengerikan!" katanya lagi dengan mengacungkan sebuah tongkat—yang ia sebut Margarett. Di pangkalnya memang tergantung rantai berwarna abu-abu kusam.

    "ITU HANYA TONGKAT DENGAN UJUNG BULU AYAM! Dan lagi, dia punya nama?! Kau bercanda!" kepala Zion mulai mendidih, lagi.

    "Zion, kau lama-lama seperti ayahku yang sedang badmood, marah-marah mulu." tiba-tiba Author muncul diantara kabut(?). "Yah, aku sedikit kasihan dengan anak yang dihukum itu, dia paling tidak tahan geli sampai berteriak begitu." Author menatap anak yang diikat di kursi itu—yang sekarang tidur kelelahan—dengan tatapan kasihan dibuat-buat.

    "...makanya, bukankah ini berlebihan?"

    Author menoleh ke arah Zion, lalu mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Zion dan menggerakkannya ke kiri dan ke kanan, "Non non non~ Zion-sama~ ini semua tentang feeling, FEEL-ING!"

    "FEELING PALA EMAKMU PEYANG! Hey, Author! Kau membuat tempat ini terkesan buruk, tahu!" Zion mengganti arah semburannya(?) ke arah Author.

    "Heh, masa? Bukannya memang seperti itu?" sekarang gantian Author yang berwajah innocent.

    "SAMA SEKALI BERBEDA! Lihat kalimat deskriptifmu itu! Apa maksudmu 'pintu itu seakan memantulkan cahaya dengan lemah, memperlihatkan garis-garis tipis seperti sayatan'? Memangnya itu jeruji besi penjara? Lalu, 'seperti sebuah gerbang kematian'??! Itu terlalu berlebihan! Dan lagi..." Zion menarik nafas panjang, bersiap berteriak lagi.

    "PINTU RUANGAN INI TIDAK DICAT PUTIH, TAPI HIJAU TERANG!"

    "....."

    ..bahkan jangkrik pun tidak mau mengadakan konser.

    "...jadi, Lua, mau kau apakan lagi anak itu?" Author mengalihkan pandangannya ke arah Lua.

    Aku dikacangin! Zion mengumpat-ngumpat dalam hati.

    "Hunn~ Sudah ah, biar saja. Dia sudah seperti itu jadi tidak menyenangkan lagi. Kapten~ kau tidak punya korban lain untukku~?" Lua memohon kepada Zion dengan mata berkilat-kilat.

    "Anak itu yang terakhir. Kau sudah menghukum semua para pelanggar peraturan hari ini...ah." Tiba-tiba Zion teringat sesuatu. "..belum, tinggal dua orang."

    "Hoh! Siapakah dua anak kucing nakal itu? Biar Lua-sama ini yang menghukum mereka! Siapa? Siapa?" Lua bersemangat layaknya gadis kecil yang mendapat mainan baru.

    "Terra Leonarde Rozalin dan Nishiki Ayle." Jawab Zion tegas, mungkin sedikit marah karena menyebut mereka berdua.

    Lua melebarkan matanya, bukan karena terkejut, namun justru karena bersemangat.

    "Hooo!!! Kohai manisku yang satu itu! Dan suamimu itu bikin masalah lagi ya, Triffy-chan!" Lua toel-toel Trif dengan wajah kucing(?)

    "Ap--?! TERRA BUKAN SUAMIKU!" Trif yang sedari tenang menaikkan nada suaranya.

    "Oh, kalau bukan berarti pacar?" gantian Author yang menggoda Trif.

    "BUKAN! Kenapa kalian malah menggodaku, hah?!"

    Apakah Trif sedang blushing?

    "Maa~ maa~ daripada menggoda Triffy-chan terus, bagaimana kalau kita mulai berburu dua kohai manis kita? :3 Kau tentu ikut kan, Triffy-chan?" sepertinya Lua memikirkan sesuatu yang absurd. Ah, bukankah selalu begitu?

    "..heh..." Trif diam sejenak, "TENTU SAJA! BOCAH TENGIK RAMBUT MERAK ITU HARUS DIBERI PELAJARAN!!!" kata Trif berapi-api dengan meninju-ninju telapak tangannya sendiri. Dia serius ingin memberi pelajaran kepada Terra, tidak, mungkin lebih ingin menghajarnya sekuat tenaga.

    Oh, Trif, kurasa burung merak tidak menggambarkan rambut Terra. Yah, Author sedang kehabisan majas simile sih.

    "Bagaimana denganmu, kapten?"

    "Huh! Tentu saja! Mereka membuatku kesal!" Zion juga mempersiapkan tinjunya.

    "Kalau begitu aku juga ikut."

    "NGAPAIN KAMU IKUT AUTHOR?! KAMU NGETIK SAJA, SANA!"

    "Ish~ Suka suka ane dong! Yang ngetik ane juga! Ane rajanya disini! Lagipula ane mau ketemu Terra!"

    "..ngapain?"

    "KARENA AKU FANS BERAT TERRA!!! KYAAAAAAA!!!!! \xD/" Author mulai fangirling ditempat. 3 orang disana cuma bisa cengo, 1 orang tetap tidur nyenyak(?), dan orang-orang yang sedang membaca tulisan ini mulai deathglare ke Author.

    ...yaudah, yaudah! Ganti scene! Ganti scene!

    Pokoknya mereka bertiga berangkat mencari Nishiki sama Terra. Titik.

    ==================================================================

    Rooftop. Atap, maksud ane. Yah, sama ajalah.

    Terlihat sesosok manusia disana. Rambut emas. Happi berwarna biru gelap itu setia menutupi seragamnya yang berantakan. Ia menatap ke arah langit luas yang berwarna secerah matanya itu.

    Seperti pangeran.

    Dia duduk dengan tenang di atas bantal duduk berwarna ungu. Tangannya memegang sebuah cawan teh, isinya masih mengeluarkan uap hangat.

    "Aah~ Teh yang disajikan dalam cawan porselen memang yang terbaik~ hohoho~"

    ...saya gak salah ketik kan?
    Gak yakin itu Terra, atau Pak Tanaka dari komik serial "Babu Ireng".

    "Tidak sopan! Aku ini pangeran Terra!"

    ...oh, dia dengar toh.

    "Nicchan lama juga ya..." Terra menghela napas perlahan. "Katanya dia ingin ke toilet, lama sekali. Ah, jangan-jangan..."

    Raut wajah Terra berubah menjadi kekhawatiran. Hei, apa kau berpikir terjadi hal yang buruk pada Nicchan?

    "...dia sembelit?"

    ITU YANG KAU KHAWATIRKAN??

    "Aah... Bagaimana ini? Katanya pagi ini perutnya sedang tidak enak aku malah memberinya teh teh dan teh mungkin saja perutnya jadi tambah buruk setelah minum banyak teh lalu dia jadi susah buang air bagaimana ini bagaimana ini bagaimana ini doushiyo doushiyo doushiyo~~???"

    CUKUP TERRA! VIRUS OOC-MU SUDAH SANGAT KETERLALUAN! Dan apa-apaan "doushiyo doushiyo" itu? Aku membayangkan kamu seperti om-om banci Taman Lawang! (tapi ganteng haha *plak*)

    "Baiklah Nicchan! Aku akan menyelamatkanmu!" Terra beranjak dari tempatnya dan berlari untuk mencari Nicchan.

    ...aah, dia pergi.

    Dia itu pangeran Terra, Pak Tanaka, atau Pahlawan kebenaran?

    ================================================================

    "Jadi, bisa kau jelaskan, Ayle-san?"

    Ciela masih berdiri 2 meter dari tersangka Nishiki Ayle. Ann dan Eryn menatap Nishiki dengan cemas. Sang tersangka masih menatap lantai, semakin bingung dengan keadaan yang memojokkannya itu.

    "..i..itu... Entahlah, Ciela-chan... Aku tidak ingat."

    'Aku tidak ingat' tentu bukan jawaban yang tepat untuk ini.

    Mata emas Ciela menatap Nishiki dengan tajam, tidak puas dengan jawaban tak pasti itu. Melihat tatapan Ciela, Nishiki langsung menambahkan, "Be-benar! Aku berkata jujur! Aku sendiri juga tidak yakin!"

    "...." Ciela--maupun Ciel--tak menjawab apapun.

    "Ah ya! Aku ikut homeroom pagi ini sampai jam pelajaran pertama dan kedua, kan? Ya kan, Eryn?" Nishiki menoleh ke arah Eryn.

    "...ah, benar! Nicchin ada di kelas sampai pelajaran kedua!" Eryn membenarkan perkataan Nishiki.

    "Itu tidak membuktikan apapun." Ciela menutup matanya sejenak, "Kau keluar kelas di akhir pelajaran kedua, kan?"

    "Aku ke toilet!"

    "Lalu kenapa kau tidak kembali setelah itu?"

    "...." Nishiki terdiam untuk beberapa saat, cukup lama. "...disitu masalahnya. Aku ingat pergi ke toilet. Namun saat aku keluar dari toilet, hari sudah mulai sore. Aku kembali ke kelas, hanya tertinggal tasku saja..."

    Ciela menatap Nishiki seakan berkata, jangan mengada-ada.

    "Itu benar! Aku tidak tahu apa yang terjadi! Aku berada di toilet saat akhir pelajaran jam kedua, dan tiba-tiba saja... tiba-tiba sudah pulang sekolah... uuh..." Nishiki mengusap dahinya pelan.

    "Nicchin..." Ann menatap Nishiki dengan penuh khawatir. Memang perkataan Nishiki kurang masuk akal, tapi ia percaya bahwa Nishiki berkata jujur. "Hey, Ciela! Aku yakin yang dikatakan Nicchin itu benar!" Ann berusaha membela Nishiki.

    "Tapi tetap saja omongannya itu tidak masuk a--"

    BRAAAAKKK!!!

    Sebuah suara mengejutkan orang-orang yang berada dalam ruangan seni itu. Suara pintu dibanting dengan cukup keras sontak membuat mereka menoleh.

    Dan yang muncul setelah itu ada sosok Terra Rozalin.

    "AH! Kau disini rupanya!" Terra berlari ke arah Nishiki kemudian menarik tangannya, "Ikut aku!"

    "Eh? Terra?" Nishiki yang kebingungan dibuat lebih bingung lagi karena tiba-tiba Terra menarik tangannya keluar ruangan itu.

    "Eh? Tunggu, Nicchin! Terra!"

    "Apa yang terjadi, sih?"

    "..."

    Ketiga orang itu ikut mengejar Terra dan Nishiki yang berlari meninggalkan mereka.

    "HOOIII!! KALIAN BERDUA BERHENTI!!" ternyata Zion juga ikut mengejar Terra dan Nishiki.

    "Yuuuuu~~~ Kalian para kucing nakal jangan kabur!"

    "SPAAARKYYYY!!!!! Kemari kau!" (siapa Sparky? Ah, itu panggilan sayang Trif ke Terra hehe)

    Terra dan Nishiki masih jauh di depan, berusaha tidak tertangkap sekelompok orang yang mengejar mereka. "Cih, aku tidak keberatan dikejar Tia, tapi kenapa dia di pihak Mikama-chan?! Kita benar-benar dalam bahaya, Nicchan!" Nishiki hanya menatap Terra dengan tatapan bingung. (Siapa lagi Tia? Itu panggilan sayang Terra le Trif ciee ciee)

    "...? Ah, kurasa kau bukan Nicchan, tapi Nicchin ya..." Terra menggumam. Kemudian dibalas 'eh?' oleh Nishiki. "Ah, bukan apa-apa. Tambah kecepatanmu Nicchin! Kita tidak boleh tertangkap!!"

    "HIYEEE!!!! Apa yang terjadi sebenarnya?? Terra!!"

    "Kohai-kohai ku yang manis~ Datanglah pada Lua-sama!"

    "Ayle! Rozalin! Kalian tak akan lolos lagi!"

    "SPARKY!!"

    "Duuh, ada apa sih ini?"

    "Nicchin! Berhenti, Nicchin!"

    "...jadi seperti ini perasaan seekor anjing gembala?"

    CIELA! OTAKMU KERACUNAN APA??

    Sekelompok bocah itu berlarian memutari sekolah, ke gedung barat, gedung selatan, gedung timur, gedung utara, kantin, lapangan basket, lapangan voli, lapangan bulu tangkis, lapangan sepak bola....

    Tunggu! Jangan ngaco, deh!

    "Aah~ Murid-muridmu memang selalu bersemangat ya."

    "Benar, murid-muridku harus selalu bersemangat~ ohohoho~"

    Dua sosok memperhatikan sekelompok anak yang berlarian itu dari atap sekolah. Mereka menyeruput segelas teh hangat, yang dicurigai milik Terra yang ditinggal tadi. Dan dua sosok itu adalah sosok yang tak terduga ada disana.

    "Ahaha, kau jadi ingat masa mudamu pak tua?"

    "Jangan panggil aku pak tua!" Salah satu sosok itu menatap tajam ke arah teman minum tehnya. "Ahaha!! tapi kau benar-benar menghiburku, nak! Aku tunggu chapter selanjutnya ya, Author."

    "Tentu saja, Pak Kepala Sekolah! Aku akan berusaha untuk itu, ohohohoho~" Author ketawa nista.

    ..lalu kubuat sekolah ini menjadi lebih chaos lagi...khukhukhukhu...

    -- Akankah ada Part 3 dari Acacia High? --

    Endingnya maksa sih
    Semoga kalian terhibur, hehe. Saya gak terlalu berharap banyak dari chapter yang ini....
    Saya nulis seenak jidat sih.
     
    Last edited: 19 August 2013
    fleurderou and SallyLavBB like this.
  3. fleurderou

    fleurderou User

    5
    3
    8
    aku masih menunggu lanjutannya, mong 8'DDD //dor
     
  4. mimong

    mimong Member

    473
    140
    123
    hauuu iyah x'D takada inspirasi sampai sekarang oh noooo
     
  5. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    For refrence. I get some character

    [​IMG]
    [​IMG]
    [​IMG]
    [​IMG]
    [​IMG]
    [​IMG]
    [​IMG]
    [​IMG]
    [​IMG]
    [​IMG]

    kalau ada karakter yang belum terdaftar, berarti saya nggak nemu.

    kok tiba2 kepikiran bikin Akira High -series- ya?? :sneaky:
     
  6. SallyLavBB

    SallyLavBB Member

    28
    10
    18
    auuh... aku seneng ada yg niat nyari chara design.ny ;u; <<padahal g' ikut membantu
    aku tunggu lanjutanny mi~ OwO)/
     

Share This Page