Share [Cerpen] Kumpulan cerpen random dari Sheratan

Discussion in 'Tulisan' started by Sheratan, 30 June 2013.

  1. Sheratan

    Sheratan Parental Advisory Staff Member Uploader Donatur Event Winner VN Development Team Masa Latihan

    3.728
    738
    248
    "Andre"
    "Kalau laki-laki. Kalau wanita, dia harus bernama Dini"
    "Bagaimana kalau Dani?"
    "Dani bagus"

    Ia tersenyum. Memandangku dengan penuh ketenangan, walaupun aku tahu didalam hatinya terdapat banyak sekali keraguan.

    Apakah aku mampu melewati semua ini?
    Apakah ia akan selamat?


    Kembali, ia menggengam tanganku erat-erat. Hangat, dan kuat. Seakan mengisyaratkan bahwa ia mengetahui apa yang sedang aku pikirkan.

    "Tenang saja, ia akan selamat" jawabnya pelan penuh harapan.

    Aku hanya bisa tersenyum menatapnya. Berusaha mempercayai apa yang ia katakan, walaupun aku tahu yang sebenarnya terjadi.

    ***​
    Jika kubuka mata ini, kuingin selalu ada dirimu.
    "Mawar, bapak Andi?"

    "Hari ini adalah hari senin suster. Dan hari senin adalah hari permulaan. Biarkan mawar ini menjadi pemberi semangat di hari bahagia ini" kataku dengan penuh percaya diri pada suster penjaga.

    Suster tersebut tertawa. "Sampaikan salam saya padanya. Katakan bahwa ia memiliki salah satu suami terbaik di dunia"

    Suster tersebut memujiku sambil memberikan setangkan melati dari mejanya. Katakan juga, tetaplah bersemangat. Lanjutnya.

    Segera setelah berterima kasih, aku langsung berjalan dengan perlahan menuju 410. Melewati beberapa keluarga pasien lain yang kukenal dekat. Semua itu akibat kebiasaanku untuk mengunjunginya setiap pulang kerja di hari senin.

    Cahaya matahari sore menyambutku dengan hangat saat kubuka pintu kamar itu. Ia sedang duduk diatas tempat tidurnya, bersandar di dinding, menatap jauh keluar. Wajah pucatnya terlihat keemasan, berkilau, diterpa oleh matahari. Sesekali rambutnya yang panjang tergerai dan menari pelan seiring angin berhembus. Ditangannya, terdapat sebuah mainan.

    "Dari mana?" tanyaku sambil meletakkan mawar tersebut kedalam vas bunga.

    Ia menoleh. "Dari mana apa?" tanyanya kembali.

    "Mobil-mobilan itu, dari mana?"

    "Oh, ini" katanya sambil menatap mainan kecil tersebut. "Dari seorang gadis kecil yang tidak kukenal. Ia tadi mengunjungiku. Aku tidak tahu siapa dia, bahkan tidak tahu dari mana ia datang. Ia hanya muncul begitu saja. Dan kami berbicara banyak hal. "

    "Oh ya?" kataku sambil berjalan kehadapannya. "Kalian bicara apa saja?"

    "Banyak hal. Mulai dari hobinya, makanan kesukaan, banyak!"

    Aku meletakkan badanku disampingnya. "Lalu?"

    "Lalu... ermm... dia berkata padaku agar tetap semangat dan jangan menyerah!" katanya dengan riang.

    Aku tersenyum melihatnya. Terkadang, ia bisa terlihat sangat kuat dan dewasa. Namun juga terkadang ia mengeluarkan sisi kekanak-kanakannya dihadapanku. Sisi yang tidak banyak orang mengetahuinya.

    "Ia sangat cantik. Wajahnya putih, matanya hitam pekat. Dan sangat cerdas. Kutebak, ia berusia 5-6 tahun"

    "Darimana kau tahu ia cerdas?"

    Ia terdiam. Tersenyum kecil. "Intuisi wanita, plus insting keibuan" jawabnya renyah.

    Kami tertawa.

    "Kau akan baik-baik saja. Kita pasti bisa. Kau pasti bisa."

    Kugenggam tangannya erat-erat.

    Ia menggengam balik. Meletakkan tanganku di pipinya yang hangat. Menciumnya.

    "Jangan khawatir" katanya dengan pelan.

    Sesaat, aku ingin mengatakan bahwa ia tidak perlu melakukan hal ini. Namun kata-kata tersebut berhenti saat ia bertanya, dimana kado yang kusiapkan padanya.

    "Tunggu saja, sebentar lagi akan muncul" jawabku sambil menunjuk keatas.

    Dan benar saja, para suster tersebut melaksanakannya janjinya. Sebuah lagu pelan terdengar sayup-sayup keluar dari pengeras suara.

    "Aku meminta agar para suster mau memutarkan lagu kesukaanmu, hanya di kamar ini" jawabku pelan.

    Ia terdiam. Matanya bercahaya. Memandangku dengan penuh kebanggaan.

    "Terima kasih," jawabnya. "Mengenal dan memilikimu, adalah hal yang terindah dalam hidupku"

    Dalam kelemahan hati ini, bersamamu. Aku tegar.

    ***​

    Kutatap dalam-dalam ruangan tersebut. Mencari sesuatu. Tidak.

    Seseorang.

    Tidak lama kemudian, seorang suster muncul dari balik kaca, menggendong permata kami. Ia terlihat sangat merah dan sehat. Tangisnya sangat lantang, seakan-akan berteriak mencari dimana ibunya.

    Kemana ibunya.

    Aku tidak bisa berbuat apa-apa, selain berdiri mematung. Terdiam. Tidak dapat berkata apapun.

    Entah, apakah aku harus bahagia, atau apa.

    Yang kutahu, aku harus berterima kasih padanya. Atas apa yang telah ia berikan. Kepadaku.

    Aku berjanji akan menjaganya sepenuh hati.

    Membimbingnya, mengajarkan berbagai macam hal. Menjadikannya gadis yang berani dan penuh semangat, serta wanita yang hebat di masa yang akan datang, seperti ibunya.
     
    Last edited: 30 June 2013
    Dejiko, Etherein and MisakaMikoto like this.
  2. MisakaMikoto

    MisakaMikoto Member

    34
    2
    48
    Coba tolong dijelaskan antara part 1 ke part 2, kok kaya tiba-tiba ngelompat gitu ya ceritanye.
    apa karena emang gw-nya yang lola fufufu.

    Kalo dari tulisannya apakah sesuai dengan kaidah bla bla bla bla kayanya gak perlu di komen, mungkin gaya tulisan nirai begitu dan berhubung gw juga kurang ngerti tentang sastra.
    Tapi untuk "Hangat, dan kuat", setau gw kalo "dan" cuma memisahkan 2 kata itu gak perlu ditambah koma deh. Masalah sepele sih, cuma siapa tau ada manfaatnya :p
     
  3. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    "hangat dan kuat" dengan "hangat, dan kuat" itu beda loh. kalau pakai koma, ada jedanya. jadi bacanya "hangat/ dan kuat//". walaupun sepertinya jarang dipakai :p

    dalam sekali ceritanya... :)
     
    MisakaMikoto likes this.
  4. Sheratan

    Sheratan Parental Advisory Staff Member Uploader Donatur Event Winner VN Development Team Masa Latihan

    3.728
    738
    248
    Err...

    Itu gak loncat kok. Cuman #1 itu hanya semacam pembuka aja. Timelinennya masih sama.

    Sisanya ya seperti kata-kata deji, itu sengaja ada koma untuk jeda. Seperti:

    Aku, dia, dan mereka. --> Aku/ dia/ dan mereka.
     
  5. acchan

    acchan Member

    77
    2
    43
  6. MisakaMikoto

    MisakaMikoto Member

    34
    2
    48
    hohoho oke deh kalo begitu, baru tau saya..
    jadi pengaruhnya itu di ada jeda atau tidaknya ya..
    okeh diterima
     
  7. Rie Yukihime

    Rie Yukihime Member

    268
    58
    56
    uhm... jiwa seorang editor saya kumat. entah kenapa pengen revisi typo n beberapa kata yg 'hilang'
    tapi mungkin itu bagian dari gaya bahasa om.. :siul:
     
  8. Sheratan

    Sheratan Parental Advisory Staff Member Uploader Donatur Event Winner VN Development Team Masa Latihan

    3.728
    738
    248
    Hmm... coba di share disini.
     
  9. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    wah,,, editor. pernah nulis cerpen ya?
     
  10. Rie Yukihime

    Rie Yukihime Member

    268
    58
    56
    apanya yg di share?:bad:

    haha,nggak2.. nulis mah cuma iseng2 belum bener2 ampe terbit gitu..
    klo editor waktu zaman sma. ikutan klub majalah gitu..
    sempet nyoba jadi reporter n editor :D
     
  11. Sheratan

    Sheratan Parental Advisory Staff Member Uploader Donatur Event Winner VN Development Team Masa Latihan

    3.728
    738
    248
    Itu loh, "Revisi typo dan kata yang hilang"
     
  12. Rie Yukihime

    Rie Yukihime Member

    268
    58
    56
    contohnya itu nulisnya "setangkan" harusnya "setangkai"
    lebih enak setangkai atau sekuntum yah? :)
    "Sebuah lagu pelan terdengar sayup-sayup keluar dari pengeras suara."
    ini pelan nya dalam artinya suaranya pelan atau tempo nya? karena klo emang volume, artinya ada 2 yg punya arti sama dlm 1 kalimat "pelan" & "sayup2"
    klo maksudnya tempo, mungkin "sebuah lagu perlahan mulai terdengar ..."
    tapi semua itu lebih ke diksi sih.. tergantung penulisnya ^^ karena tiap penulis punya gaya bahasa dan pemilihan kata yg beda.. yg bikin setiap tulisan berbeda 'jiwa' nya:)
     
    MisakaMikoto and Dejiko like this.
  13. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    wah, keren kk :)
     
  14. Toganteng

    Toganteng Member

    66
    15
    51
    Min bikin cerpen rabu rabu dengan tema tentakel min wakakakak
     
  15. Sheratan

    Sheratan Parental Advisory Staff Member Uploader Donatur Event Winner VN Development Team Masa Latihan

    3.728
    738
    248
    Inikah... kehidupan?

    Inikah, darah yang mengalirkannya?

    Atau semua ini hanyalah fantasi semata?

    Seperti mimpi buruk, bisakah aku terbangun?

    Dari dinginnya malam, dari suara dosa yang senantiasa teriak di telingaku. Dari semua orang yang menatapku dengan rendah.

    Apakah harus ku akhiri semuanya dalam keadaan seperti ini?

    Tanpa orang, keluarga, teman, sendirian.

    Dapatkah ku mengulang semuanya?

    Atau ku mengakhiri semua kenyataan ini, tenggelam didalam kegelapan, yang bernama kematian?

    * * *​
    Pagi hari.

    Bagi sebagian orang, dimulai dengan sarapan yang hangat dan lezat.

    Nasi putih yang nikmat, diiringi segelas teh atau kopi. Ditemani koran pagi yang masih hangat dan harum. Terkadang diiringi oleh kecupan manis dari istri tercinta, dan salam penuh kasih sayang dari anak-anak yang sangat lucu. Ada juga yang memulainya dengan potongan roti yang lembut, dengan potongan keju serta susu cokelat, raja dari segala minuman.

    Namun pagi ini, aku memulainya, sama seperti orang-orang lain yang kurang beruntung. Seperti bapak tua disana dengan baju lusuh yang sudah 3 hari tidak bergerak dari tidurnya. Mungkinkah dia sudah menemukan tempat baru yang sangat indah di mimpinya, sehingga enggan terbangun? Aku tidak tahu.

    Dan sama seperti hari-hari sebelumnya, aku memulai hari dengan menatap ke langit biru. Melihat sang penerang, bertanya padanya, apa yang ia ingin lakukan hari ini?

    Ia menjawab dengan panasnya yang menyengat.

    Aku hanya bisa tersenyum.

    Aku hanyalah seorang pria miskin.

    Yang telah kehilangan rumah, orang tua, teman, kepercayaan, harga diri.

    Segalanya.

    Aku tidak memiliki apapun lagi.

    Dan hari ini, aku mengakhirinya sama seperti hari yang lalu. Berjalan tanpa arah yang pasti, hanya mengikuti kemana angin pergi membawaku. Nasib siapa yang tahu?

    Minggu lalu, aku di tempat sampah.

    Kemarin, aku di tempat pengungsian.

    Mungkinkah hari ini, aku di restoran cepat saji?

    Ah, kehidupan. Kadang diatas, kadang dibawah.

    Cukuplah tatapan itu yang memberitahukan ku, kemana aku harus masuk.

    * * *​

    Mama, aku telah membunuhnya.

    Mama, mengapa engkau menangis?

    Mama, aku sudah membunuhnya. Membunuh orang yang selama ini selalu menyakitimu. Selalu memukulmu dengan tangannya. Selalu menampar pipimu yang lembut itu. Selalu merusak barang yang kau beli dengan susah payah, bahkan sampai harus bersujud mencium orang yang berdasi diatas sana.

    Mama, dia sudah mati. Mengapa engkau menangisinya?

    Aku tidak tahu apa arti dari kata yang keluar dari mulutmu ma. Apakah itu?

    “Ayah”

    Apakah artinya ma?

    Biarkan kupeluk dirimu ma. Kupeluk dengan erat dan hangat. Agar segala luka yang kau miliki bisa hilang. Agar semua senyum yang biasa kulihat dapat kembali. Lupakanlah kata-kata itu ma. Hentikan lah. Jangan kau ucapkan lagi. Aku tidak dapat memahaminya.

    Karena yang ku ketahui di sekolah, kata tersebut adalah kata yang penuh tanggung jawab. Serta perhatian dan perlindungan. Kata yang identik dengan seseorang yang senang mengajariku bagaimana menghadapi hidup ini. Bukan kata yang identik dengan makian dan hinaan.

    Mama, dia sudah mati. Senanglah. Senyumlah.

    Pandanglah kehidupan yang baru ini mama. Gapailah mimpimu.

    Mama, aku akan senantiasa mendoakan mu. Berharap agar engkau dan adik-adik ku bisa tidur dengan perut yang kenyang, diatas kasur yang empuk dan nyaman. Seperti orang-orang itu. Kan ku sebut nama mu disetiap doaku. Setiap hari, tanpa terkecuali.

    Mama, hentikan tangismu.

    Aku rela membuang semua masa depanku, agar engkau dan adik-adik ku bisa keluar dari genggaman orang itu. Aku rela pergi dari rumah ini, hidup di balik jeruji besi dan tidak akan kembali, semata agar tidak ada orang yang bisa menyakitimu.

    Hentikan mama.

    Berhenti menangisinya.

    Ia tidak akan hidup kembali ma.

    Jalanilah hidup yang baru ini, walau tanpa diriku yang tidak mungkin kembali ini.

    * * *​

    Jadi, inikah kematian?

    Yang akan menjemput semua orang yang memiliki nafas di dunia ini?

    Aku tidak takut. Walau seribu kali ditembak, aku tidak takut.

    Walaupun rasa dingin itu semakin memenuhi tubuh ini.

    Aku tidak takut, karena aku telah melakukan apa yang pantas.

    Aku tidak menyesal, karena aku tidak mempunyai harta yang ditinggalkan.

    Walau aku tahu. Jauh didalam lubuk aku berharap agar semua ini tidak terjadi. Berharap tidak meninggal dalam keadaan seperti ini. Berharap tidak pernah ada di dunia ini, agar bisa terhindar dari segala kesulitan yang menjerat hidup.

    Namun Mama. Terima kasih Mama. Terima kasih atas waktu yang engkau berikan padaku.

    Dan sekali lagi, mama. Selamat tinggal.

    Titipkan salam sayangku pada mereka. Katakan, jangan tangisi diriku.

    Karena aku tahu, aku akan meninggalkan kalian, mengikuti jalan yang bapak tua itu temukan. Menuju tempat baru, yang penuh dengan kedamaian. Meninggalkan kalian dengan kejujuran. Dan biarkan Tuhan yang menyingkap kebenaran.
    * * *​

    “Siapa engkau?”

    Orang itu hanya terdiam. Berdiri dengan jubah panjangnya.

    Ia berdiri di kejauhan, memandangku dengan tatapan tajam. Ia seperti bayangan, yang selalu mengikuti ku kemanapun aku mengalihkan pandangan.

    Dan tiap detik, ia berjalan. Mendekatiku. Diiringi dengan bunyi yang sangat mengerikan. Seiringin dengan semakin gelapnya pandangan, semakin cepatlah langkahnya.

    “Siapa engkau?”

    Ia masih terdiam. Tak menjawab. Berdiri disampingku.

    * * *​

    “Miskin!”

    Begitulah panggilan ku.

    “Si miskin mana punya mainan kayak begini”

    Begitulah mereka biasa berkata padaku.

    Aku memang hanyalah seorang bocah miskin, dari keluarga miskin. Seragam ku hanyalah seragam pemberian orang. Yang dipakai bergantian bersama adik-adik ku.

    Tiada orang yang tertarik padaku. Tiada orang yang mau berteman denganku.

    Tapi tidak apa-apa. Aku tahu itu.

    Rezeki, Jodoh, dan Umur. Semua ditangan Tuhan.

    Tuhan bisa memberikan semuanya, juga mencabutnya sesuka dia.

    Namun guru ku selalu berkata, bahwa kita harus terus berusaha. Bekerja keras. Menuntut ilmu. Kita harus memperjuangkan hidup kita. Karena kita memiliki pilihan. Selalu ada pilihan. Maukah kita mengejarnya?

    “Rajin belajar, dan jangan lupa rajin membantu orang tua!”

    Katanya.

    “Jangan ragu untuk selalu mencari tahu”

    “Gantungkan cita-citamu setinggi langit!”

    Katanya.

    Namun, sama seperti anak-anak seusiaku, yang bernasib sama dengan ku.

    Mencari uang adalah prioritas pertama.

    Dan hidup yang keras adalah hal yang biasa.

    Tapi aku juga sama seperti kalian, yang pernah merasakan apa itu cinta. Mengejarnya. Menyenangkannya. Menghiburnya. Bahkan sampai menjadi orang lain demi dirinya.

    Walau semua itu sering berakhir dengan buruk. Ditinggalkan. Dihina. Dicampakkan. Semua karena status dan kekayaan. Tidak adakah hal baik yang tersisa untuk orang seperti ku? Bahkan cinta sekalipun?

    Tapi itu bukanlah hal yang penting lagi kan sekarang?

    Karena saat ini, aku dihadapkan pada sebuah pertanyaan, dari sosok misterius tersebut.

    Man Robbuka?”
     
  16. Sheratan

    Sheratan Parental Advisory Staff Member Uploader Donatur Event Winner VN Development Team Masa Latihan

    3.728
    738
    248
    Kereta malam.

    Tidak ada yang salah dari kereta malam. Tidak ada yang salah dalam perjalanannya. Bangku yang kosong. Lampu yang menyala temaram. Suasana sepi. Kilatan cahaya dari balik jendela.

    Tidak ada yang salah, bagi orang yang senang sepi seperti ku.

    Selain diriku terkadang ada orang lain di gerbong ini. Sesekali, anak muda lainnya duduk menyendiri, kadang berdua dengan lawan jenisnya. Sibuk memadu kasih. Ada juga orang tua yang hanya duduk memejamkan mata.

    Sesekali juga, petugas kereta berjalan bolak-balik melewati ku. Tatapan matanya tajam melirik siapa pun yang ada di sampingnya. Aku tidak peduli. Yang kuinginkan hanya tiba di Jatinegara dan melanjutkan perjalanan dengan angkot menuju ke rumah.

    Perjalanan ku yang sudah di lakukan selama lebih dari enam bulan ini, bisa dibilang melawan arus. Saat orang-orang di pagi hari berangkat mendekati Ibukota, aku menjauh ke kota hujan. Keuntungannya adalah, aku tidak perlu susah payah berdesakan dalam kereta. Tidak perlu repot menjaga tas serta berebut tempat duduk. Sayangnya, rute ini mengharuskan aku untuk transit terlebih dahulu.

    Selain itu waktu keberangkatan kereta terakhir sering kali berbeda tipis dengan kedatangan kaki ini ke stasiun, membuat drama kejar kereta yang ku benci sering terjadi. Ditambah hujan gerimis turun tanpa perkiraan menambah seru upaya menarik nafas dan menahan kesal.

    Malam ini, seperti biasa. Gerbong kosong, lampu perkampungan di luar menari-nari, bunyi sambungan yang bergetar serta sebuah ponsel menemani perjalanan pulang. Pemandangan seperti ini sangatlah cocok untuk orang yang tidak terlalu menyukai dunia sosial. Sibuk tenggelam dalam pikirannya sendiri.

    Hingga,

    Seorang gadis, naik saat kereta berhenti di stasiun, dan duduk di depanku. Dengan rambut yang terkuncir, ia meletakkan tas miliknya di samping. Mengeluarkan kacamata dari jaket merahnya, tangan kanannya membalik beberapa lembar kertas dari buku yang ada di tangan kiri. Kakinya menyilang, menggerakkan rok hitam yang mengayun anggun.

    Siapa dia?

    Pikirku.

    Baru kali ini kulihat.

    Ia duduk, terpaku membaca, mengabaikan eksistensi ku. Sesekali tersenyum pendek namun manis. Entah buku apa yang dia baca, tak terlihat sampulnya. Pandanganku tidak dapat teralihkan dari wajah asing itu.

    Satu, dua, kilatan lampu di luar melewati kami. Entah sudah berapa jumlahnya, aku tidak tahu. Yang kutahu sebentar lagi kami akan sampai di Manggarai.

    Ku alihkan pandangan ke layar ponsel, melihat-lihat berita yang sedang ramai. Tapi pikiranku akan dirinya tidak dapat hilang. Kucuri pandang, melihat dia menutup bukunya, mengalihkan pandangan ke atas seakan sedang berpikir sesuatu, lalu kembali membuka dan melanjutkan bacanya.

    Dalam satu curian, aku meliriknya, tepat di saat ia sedang memandangku. Kualihkan segera mataku, menahan gaya. Sinar matanya terlihat tajam. Seperti bintang di tengah kegelapan malam. Menembus pikiran.

    Manggarai, aku bangun dari tempat duduk dan keluar gerbong kereta, saat kusadari gadis itu ikut berjalan di belakang, dan berdiri di samping kanan ku menunggu kereta lainnya.

    Jatinegara kah?

    Keinginan untuk menyapa, membuka obrolan makin tinggi. Namun entah kenapa tidak ada keberanian. Aku hanya mematung, menggenggam ponsel dengan rapat-rapat, sambil sesekali berusaha melirik. Dan gagal.

    “Jatinegara mas?”

    Entah kenapa, seorang gadis mengalahkan ku dalam membuka percakapan.

    “Iya, ke sana juga?” jawabku memandang nya.

    “Iya nih, semoga masih ada keretanya” balasnya.

    Aku hanya mengangguk pelan. “Kalau tidak ada bisa tidak pulang ya” kataku diakhiri tawa.

    Ia hanya memandangku dengan senyum. Sinar matanya seperti mempermainkan kata-kataku.

    Saat kereta tiba, kupersilahkan agar dia melangkah terlebih dahulu. Dan kami kembali duduk berhadapan. Kembali pula, ia membaca buku di tangannya.

    Hanya satu stasiun, tinggal satu stasiun, mengapa kau tidak mengajaknya berkenalan?

    Pikiranku dipenuhi upaya berkenalan, merangkai kata namun tidak ada yang keluar. Keberanian ini seperti habis, hilang terbakar. Tidak ada suara dari mulut ini selama 5 menit perjalanan. Hanya ada pandangan cepat ke wajahnya. Aliran darah terasa cepat, membuat debaran hebat.

    Dan Jatinegara...

    Pintu kereta terbuka. Gadis itu menutup bukunya, mengambil tas dan meletakkan tas itu di pundak kiri. Berjalan keluar, aku hanya mengikuti dari belakang.

    Ayo ayo ayo.

    Gadis itu berjalan mendekati pintu gerbang, semakin cepat menjauh.

    Sebuah tarikan nafas dalam.

    ”Mbak,”

    Ia berhenti. Tidak menoleh.

    “Boleh kenalan?” lanjutku.

    Gila gila gila, ini edan. Sinting. Harusnya tidak seperti ini. Salah semua, hancur!

    Gadis itu masih berdiri. Memunggungi ku. Angin malam bertiup pelan, menggerakkan rok dan kemejanya secara perlahan.

    Ia membalikkan badan. Membetulkan kacamatanya.

    “Juwita” jawabnya pendek.

    Jawaban itu membuat jantung ini terasa seperti melewati beberapa degupan. Terasa seperti berhenti beberapa detik saat dia menyebutkan namanya.

    Mata kami bertemu.

    “Besok bisa bertemu lagi, atau mungkin lusa?” tanyaku tanpa tahu malu.

    Ia tertawa kecil, “Mungkin” jawabnya pendek.

    “Jatinegara ya” lanjutnya dengan suara yang terbawa angin kereta. Sambil berjalan kembali, keluar stasiun. Meninggalkan ku bermandikan keringat dan lampu stasiun.

    Saat itu bulan purnama, di stasiun Jatinegara.
     
    s4skiazh likes this.

Share This Page