Share [Cerpen] Fur Dich

Discussion in 'Tulisan' started by Tsuki no Hikari, 3 January 2013.

  1. Tsuki no Hikari

    Tsuki no Hikari Member

    103
    16
    76
    ...apa kamu percaya pada cinta pada pandangan pertama?

    Part 1 : Die Finsternisse

    Kegelapan yang menyelimuti semesta di luar, entah kenapa, kurasa tak sekelam kegelapan yang menyelimuti hatiku.
    Kesunyian yang menyakitkan di luar, entah kenapa, kurasa tak sesakit kesunyian yang bersemayam di hatiku.
    Setiap hari, di saat malam tiba, kesendirian datang dan menertawakanku. Pikiran-pikiran menyakitkan menghampiriku.
    Hari itu, jika saja aku mengulurkan kedua tangan ini...
    Apakah aku akan dapat menggapaimu?
    Saat itu, jika saja aku mengutarakan padamu perasaan ini...
    Akankah aku menyesal seperti ini?
    Jika saja aku dapat mengulang waktu....
    Kembali ke lima tahun yang lalu, hari dimana aku bertemu denganmu, hari dimana segalanya dimulai...

    Part 2 : Der Ursprunglich

    5 tahun yang lalu...
    Setelah memenangkan sebuah turnamen, aku dipilih untuk mewakili kota ku dalam lomba catur. Dalam keraguan aku memutuskan untuk pergi. Dengan sejuta rasa takut yang menghantuiku, aku berusaha keras untuk tersenyum pada orang-orang di sekitarku, para guru dan atlet-atlet cabang olahraga lainnya. Tersenyum pada orang asing bukanlah hal yang mudah bagiku, tapi aku memutuskan untuk berubah.
    Kemudian pintu mobil terbuka dan seseorang berdiri disana, menatapku tanpa suara. Aku mengabaikannya dan kembali fokus pada buku yang kubaca. Guru pendampingnya menyuruhnya untuk segera naik, dan kemudian pergi sebentar untuk menyelesaikan suatu urusan. Anak itu naik dan tersenyum padaku. Aku mengalihkan pandanganku. Aku malu sekali jika ada orang asing tersenyum padaku. Jika memungkinkan aku ingin segera pergi dari sini.
    “Hey...” Dia menyapaku.
    “Apa!?” aku membentaknya.
    Tidak, bukan itu yang ingin kukatakan...harusnya aku tersenyum padanya dan mengucapkan ‘halo, salam kenal, bla bla bla’....
    “Namaku Wanda. Aku ikut cabang catur. Kamu...”
    Oh...ternyata dia ikut cabang yang sama denganku.
    “Tidak tahu. Jangan ganggu aku.” Aku terus memandang keluar jendela. Orang asing mencoba berbicara denganku....aku belum terbiasa dan ingin segera mengakhiri pembicaraan ini.
    “Kurasa aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu...”
    Ya ampun, apa itu? Konyol sekali.
    Aku memutuskan untuk mengabaikan orang itu, dan melirik bukuku lagi. Tapi dia terus menggangguku hingga aku tidak tahan lagi dan kembali membentaknya.
    “Bodoh...!!! Sudah kubilang jangan ganggu aku!”
    Pintu terbuka lagi dan guru pembimbingnya masuk dan duduk di sebelahnya. Setelah beberapa saat mobil pun melaju.

    Sesampainya di tempat tujuan, guru pembimbingku yang duduk di belakang bersama dengan murid-murid lain dari sekolah kami, membantu mengeluarkan barang-barang bawaan.
    Setelah selesai, beliau memimpin kami menaiki tangga penginapan. Aku sekamar dengan dua atlet perempuan dari sekolahku. Aku tidak begitu mengenal mereka dan diam saja saat mereka membicarakan berbagai hal. Aku lebih memilih tidur. Tetapi saat aku merebahkan tubuhku, mereka memanggilku dan memintaku untuk mengajari mereka catur.
    Yah...aku pun mengajari mereka, tapi bukan karena aku ingin. Aku hanya sedang tidak mempunyai hal yang lebih menarik untuk dilakukan...

    Part 3 : Du


    Hari berikutnya dilaksanakan upacara. Orang-orang di barisan sebelah dan juga orang-orang yang berbaris di belakangku tersenyum padaku dan menanyakan namaku. Tapi aku hanya cemberut saja. Mereka menyebutku sombong tapi aku tak peduli. Upacara itu harus dilakukan dengan khidmat dan sungguh-sungguh, pikirku, bukan sambil tertawa-tawa.
    Esoknya lagi, pagi-pagi sekali aku dibangunkan. Aku bergegas mandi dan makan pergi ke ruang makan penginapan. Di sana atlet-atlet lain telah berkumpul termasuk orang asing yang menggangguku kemarin.
    “Hey...” Dia menghampiriku yang sedang menyendokkan makanan.
    Karena aku diam saja dia pun melanjutkan.
    “Kita kan mewakili kota yang sama, cabang kita juga sama, harusnya kita bisa lebih akrab.”
    Tak lama kemudian guru pembimbingnya datang dan mengatakan padaku, bahwa guru pembimbingku “menitipkan” ku pada nya. Karena lokasi perlombaan kami yang sama, guru pembingku menyuruhku pergi bersama si orang asing menyebalkan dan guru pembimbingnya.
    Dengan berat hati aku ikut dengan mereka, ditemani ocehan tanpa akhir si orang asing menyebalkan sepanjang perjalanan.

    Lokasi perlombaan ....

    Ya ampun...banyak sekali orang disini...aku ingin pulang saja....
    Wanda menanyakan kenapa mukaku merah, tapi aku membentaknya.
    “Mukaku tidak merah!!!”
    Sesaat kemudian aku sadar bahwa aku sudah keterlaluan. Aku menunduk dan bergumam pelan.
    “Maaf...aku hanya sedang gugup...aku tidak bermaksud membentakmu...”
    Dia tersenyum dan hatiku menjadi lega.
    “Tapi muka ku tidak merah...itu hanya perasaanmu saja.”
    Dia tersenyum lagi dan saat aku baru saja mau duduk, panita mengumumkan nomor-nomor yang akan bertanding dan juga kursi mereka. Lawanku adalah seseorang dari kota yang terkenal hebat permainan caturnya. Hari pertama pertandingan aku kalah...

    Aku terbangun karena suara gaduh dari pintu. Wanda sedang beradu mulut dengan teman sekamarku.
    “Kenapa aku tidak boleh masuk?”
    “Karena ini kamar perempuan!”
    Aku menarik selimutku dan memutuskan untuk tidur lagi.
    “Aku hanya ingin menemui pacarku!”
    Ap........!?
    “Hey! Siapa yang pacarmu!?” Aku melempar selimutku dan melompat dari kasur, lurus menuju ke arah pintu dan membentaknya habis-habisan. Kedua temanku pun pamit untuk pergi ke ruang makan. Saat itu seseorang lewat di belakang Wanda...
    Aku terpana.
    Lelaki tampan yang bertubuh cukup tinggi untuk ukuran anak SMP itu sedang berbicara dengan temannya dan dia tersenyum saat melihatku.
    Jantungku berhenti berdetak.
    Mereka masuk ke kamar sebelah.
    Setelah beberapa saat aku bertanya dengan malu-malu pada Wanda.
    “Eh...apa kamu kenal mereka? Orang yang barusan masuk ke kamar sebelah...? Um...aku hanya bertanya saja, tidak ada maksud apa-apa. Serius.”
    “Oh, mereka wakil dari kontingen ZZ. Yang satu ikut cabang catur dan yang satu lagi tennis meja. Tadi yang ikut cabang catur ada di lokasi perlombaan lho, dia berbicara denganku lagi, masa kamu tidak melihatnya.”
    Wanda menjawab panjang lebar tanpa curiga. Aku pun lega dan menutup pintu.
    “He—y! Aku datang untuk menjemputmu makan malam.”
    “Aku sedang tidak selera makan. Kamu makan sendiri saja ya.”
    Aku melompat lagi ke kasur dan menarik selimut, menutupi wajahku yang terasa panas.
    Jatuh cinta pada pandangan pertama...
    Aku baru tahu kalau hal konyol seperti itu benar-benar ada...
    Aku tidak bisa tidur semalaman.
    Hanya karena seseorang, orang asing yang misterius.

    Esok harinya aku pergi ke lokasi lomba dengan mood jelek karena kurang tidur. Saat akan menandatangani absensi aku pun sadar bahwa aku lupa membawa pulpen. Ya ampun... bagaimana ini? Masa aku harus meminjamnya pada orang yang tidak kukenal? Aku melirik ke kiri dan ke kanan, mencari Wanda, tetapi kemudian, seseorang menepuk bahuku dengan lembut. Aku berbalik dan disana......
    Orang itu ada disana. Orang asing yang membuatku tidak bisa tidur semalaman.
    Dia tersenyum dan mengulurkan pulpen padaku “Perlu ini?”
    Bahkan suaranya terdengar seperti nyanyian..
    Aku terpaku memandangnya. Memandang senyumannya. Senyuman yang hangat dan ramah yang mungkin telah membuatku jatuh cinta...
    Tuhan, kumohon bekukan waktu, bekukan momen ini. Biarkan aku memandangi senyumannya lebih lama lagi.
    Tiba-tiba terdengar teriakan ‘Heyyyy.....!’ dan Wanda datang menghampiri kami. Aku bergegas menandatangani absensi dan berlari memasuki ruang pertandingan.

    Di hari kedua ini aku berhasil menang dengan mudah. Aku tersenyum dan aku yakin bahwa saat ini aku bisa melakukan apa saja dengan baik. Inikah yang dinamakan dengan kekuatan cinta? Lol
    Aku berjalan ringan menghampiri teman perempuanku yang berasal dari kota yang berbeda. Kami baru saja kenal beberapa hari, tapi aku merasa nyaman di sampingnya. Tetapi kursi sudah penuh, aku terpaksa berdiri menunggu giliran pertandingan selanjutnya sambil berbicara padanya. Saat aku melihat ke kiri, ternyata di dekatnya ada....si orang asing misterius!
    Saat itulah, si orang asing misterius bangun dari kursinya dan menyuruhku duduk. Teman perempuanku dipanggil untuk mengikuti pertandingan dan sekarang aku duduk di sampingnya.
    Aku gugup sekali dan hanya diam. Wanda, yang baru selesai bertanding, datang dan duduk di sebelahnya. Orang misterius itu menanyakan namaku namun aku tetap diam. Wanda pun membantuku menjawabkan namaku.
    Orang misterius itu mendongak dan menggumamkan namaku pelan, dan tersenyum. Aku memandangi wajahnya yang tampan dari samping. Hhhh...rasanya malam ini aku tak bisa tidur lagi.

    Malam harinya, selesai makan malam, aku yang tidak bisa tidur menunggui temanku yang sedang membeli souvenir, aku duduk sendirian sambil memandang langit dan memikirkan orang misterius yang membuatku jatuh hati itu. Orang-orang melihatku, mungkin mereka menganggapku aneh, tapi aku tidak peduli. Kemudian seorang laki-laki dengan gitar di tangannya menghampiriku. Dia menyanyikan sebuah lagu. Aku merasa malu dan takut sekali. Apa maksudnya melakukan itu? Aku berlari menghampiri temanku dan menariknya, aku memohon agar dia bersegera. Aku ingin segera pergi dari sana.

    Hari ketiga, hari terakhir perlombaan.
    Aku takut sekali besok akan tiba, karena itu berarti aku harus berpisah dengan si Tampan Misterius, julukan baruku untuk ‘orang itu’.
    Aku mengikuti pertandingan sambil memikirkan itu, dan tanpa kusadari lawan membuat langkah mematikan dan aku tidak bisa lari lagi. Aku menerima kekalahanku dengan pasrah saat lawan mengatakan ‘check mate’. Aku tidak peduli lagi, aku hanya ingin melihat si Tampan Misterius secepatnya. Aku bangkit dari kursiku dan mencari-carinya. Dia ternyata sedang bertanding. Guru pembimbing Wanda mengajakku pulang karena aku dan Wanda telah selesai bertanding.

    Sore harinya...
    Teman-teman sekamarku pergi berjalan-jalan. Aku memilih untuk tidak ikut. Perasaan sedih ini terasa menyakitkan. Aku menenggelamkan diriku dalam selimut, dan terdengar ketukan di pintu. Aku membukanya dan disana berdiri Wanda...
    Aku telah jahat sekali padanya, tetapi dia masih berlaku baik padaku.
    “He—y...um...terima kasih.”
    “Untuk apa?”
    Karena telah menyukai orang sepertiku.
    “Untuk apa saja. Terserah.”
    Dia mengangguk.
    “Pertandingan sudah selesai. Aku dan guru pembimbingku akan pulang hari ini. Bagaimana denganmu? Kamu mau cepat pulang kan?”
    “Aku...akan pulang besok saja, bersama guru pembimbingku dan juga teman-teman sekolahku.”
    “Baiklah kalau begitu. Selamat tinggal, dan sampai jumpa lagi...”
    Aku tersenyum pahit dan mengangguk sambil melihat kepergiannya dari pintu kamarku. Setelah dia tak tampak lagi, aku melihat pintu kamar sebelah yang tertutup dengan perasaan campur aduk.
    Aku memutuskan untuk pergi membeli minuman ke luar, dan saat aku dalam perjalanan kembali ke kamar, si Tampan Misterius bersama temannya ada di depan kamar mereka.
    Aku menjadi gugup dan mempercepat langkah. Mereka memanggilku tapi aku tidak mempedulikannya. Aku masuk ke kamar dan menutup pintu. Aku terduduk lemas.
    “Bodoh!!!!! Uuuh.....kenapa aku tidak memanfaatkan kesempatan tadi? Seharusnya aku bisa menanyakan namanya....dan mengutarakan perasaan ini. Bodoh! Bodoh!”
    Aku memukul-mukul kepalaku, memantapkan hati dan membuka pintu, tapi mereka tidak ada disana lagi.
    “Ya sudahlah...masih ada hari esok...”
    Aku menutup pintu dan tidur.
    Esoknya, aku dibangunkan oleh temanku. Dia menyuruhku untuk segera bersiap-siap karena kami akan pulang. Aku bergegas mandi dan keluar. Ada hal yang harus kulakukan sebelum pulang.
    Aku berdiri di depan pintu kamar sebelah. Sambil bergumam dalam hati :
    ‘Ayo lakukan!’
    ‘Aku bisa melakukannya!’
    ‘Aku harus melakukannya!’
    Aku mengetuk pintu kamar itu dengan gugup, tapi tak ada jawaban. Aku mengetuk lagi dan lagi. Tetap tak ada jawaban. Aku memutuskan untuk mendorong pintu itu.
    “Eh...maaf...permisi....”
    Pintu terbuka dengan mudah, tidak terkunci. Aku terpaku. Kamar itu sudah kosong.....
    Tanpa sadar bulir-bulir hangat mengalir dari kedua mataku.

    Part 4 : Ich

    Lima tahun sudah berlalu.
    Aku berdiri di balkon sambil memikirkanmu.
    Seharusnya aku sudah melupakanmu. Tapi entah kenapa....aku tidak bisa. Aku tidak ingin melupakanmu.
    Hey...apa kamu percaya pada cinta pada pandangan pertama?
    Ya, sekarang aku percaya...
    Karena begitulah caraku jatuh cinta padamu.
    Sebuah lagu mengalun merdu dari balik tirai kamarku.
    Fur Dich...
    Untukmu...
    Lirik yang indah, yang mewakili sedikit dari perasaanku padamu. Perasaan ini begitu besar dan tak terbendung..tak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata. Aku mendongak. Langit terlihat kelam, hanya ada beberapa bintang dengan sinar redup.
    “Tak apa. Meski kita berjauhan, aku yakin, di suatu tempat di dunia ini, kamu sedang memandang langit ini juga. Langit yang mengkoneksikan kita berdua... Pertemuan pertama kita bukanlah kebetulan...dan pertemuan kedua kita bukan impian. Suatu saat nanti, aku yakin kita akan bertemu lagi. Pasti, jika kamu memang ditakdirkan untukku.”


    End​



    Catatan :
    Mohon maaf jika ada kesamaan nama, tempat, dan sebagainya.
    Saya pakai 'spoiler' karena sepertinya part 3 terlalu panjang.
     

Share This Page