Share [Arsip][Winner Writing Event November 2013] AKIRA Monthly Event - Writing

Discussion in 'Tulisan' started by Tsuki no Hikari, 23 November 2013.

  1. Tsuki no Hikari

    Tsuki no Hikari Member

    103
    16
    76
    Bingung mau ngasih judul apa dan akhirnya pakai 'impian' orz

    IMPIAN
    Setiap orang, pasti mempunyai impian. Begitu juga denganku, dan impianku adalah...

    ***​
    Aku meletakkan pena dan mulai menatapi lembaran diary ku. Menelusuri kalimat dengan huruf-huruf ramping berukuran kecil yang tertera disana.

    Dear Diary,
    Hari ini teman baikku, Ann, kembali menyebutku sebagai orang yang tidak pandai bersyukur.
    Padahal, bukan itu.
    Bukan seperti itu...
    Bukannya aku tidak bersyukur telah terlahir sebagai seorang perempuan. Aku bersyukur. Aku bahagia. Bahagia ketika memakai gaun-gaun berenda yang indah dengan warna-warna hangat dan pita yang manis...Ketika memakai high heels dan beraneka macam sepatu-sepatu lainnya, aku bahagia.
    Ya, aku bahagia. Tetapi...
    Setiap pagi di kala aku membuka mata, aku membayangkan diriku sebagai seseorang yang berbeda. Dalam keindahan dan ketenangan sang pagi, aku berpikir untuk diriku sendiri, bahwa jika seandainya nanti aku terlahir kembali...aku ingin mengetahuinya, mengetahui...seperti apa rasanya melihat dunia dari mata seorang laki-laki, seperti apa rasanya berpikir dari perspektif seorang laki-laki, seperti apa rasanya memiliki tubuh dan suara seorang laki-laki...dan, seperti apa rasanya jatuh cinta pada seseorang sebagai seorang laki-laki. Aku ingin merasakan semuanya, sebagai diriku yang baru, diriku yang berbeda.


    ***​
    Namaku Karin dan impianku adalah menjadi seorang laki-laki. Saat aku menceritakan impianku itu pada sahabatku, Anna, dia hanya tertawa seolah itu hal yang lucu dan berkata bahwa itu bukan impian. Tetapi aku tetap bersikeras bahwa itu adalah impian.
    Masih terbayang jelas dalam ingatanku ekspresi Anna ketika ia mendengar ‘impian’ku itu.
    “Kau tidak bercanda?”
    “Ya! Aku bercanda!” , aku mencoba bersikap sarkastis.
    “Oh...sudah kuduga. Lagipula tidak mungkin kan sebuah impian aneh begitu.”
    “Memang apa yang aneh dari impianku itu?”
    “Eh jadi benar? Kau tidak bercanda? Dengarkan aku Karin, itu bukan impian.”
    “Baiklah. Jika itu bukan impian, jelaskan padaku apa itu impian.”
    “Well..ng..impian itu...sesuatu yang kau impikan, sesuatu yang kau inginkan...”
    “Aku serius menginginkan hal ini, jadi bukankah itu termasuk impian?”
    “Err..maksudku seperti seorang dokter, penyanyi, seperti itulah.”
    “Kau tak menjawab pertanyanku. Bukankah impian itu adalah hal yang diinginkan? Aku menginginkan hal ini, aku ingin menjadi seorang laki-laki!”
    Ann mengernyit sebelum sedetik kemudian tertawa terbahak.
    “Kau ini kenapa sih? Sebenarnya apa yang terjadi padamu?”
    Sesaat aku terdiam dan mencoba mengingat. Sebenarnya apa yang telah terjadi padaku? Tidak ada, aku selalu seperti ini, tidak berubah, dengan impian yang selalu sama.
    “Entahlah. Mungkin aku sudah gila.”
    “Atau mungkin kau orang yang tidak pandai bersyukur.” , dan kemudian dia tertawa, tak mempedulikan raut wajahku yang berubah masam.
    Well, aku tak bisa menyalahkannya. Kami adalah orang yang berbeda, melihat dari pandangan yang berbeda,berpikir dengan cara yang berbeda, tetapi tetap saja...itu membuatku sedikit kesal.
    ***​

    Tanpa kusadari aku menghela napas, berat.
    Di dunia ini...ada hal yang tak akan bisa kau gapai, tak akan bisa terwujud, sekeras apa pun dirimu berusaha. Tetapi...apakah sekedar memimpikannya adalah hal yang salah?
    Aku menutup diary ku dan merebahkan diri, terlelap dalam mimpi.
    ***​

    Suara deringan alarm membangunkanku. Aku melakukan ritual pagiku yang biasa. Berguling-guling, mengucek mata, dan kemudian duduk sebentar di pinggir tempat tidur. Kemudian aku membuka tirai jendela dan membiarkan cahaya matahari pagi yang hangat memeluk tubuhku.
    Setelah itu, seperti biasa, aku bergerak ke arah cermin kamarku untuk tersenyum...tetapi...

    “AAAARRGGGGHHHHHH!!!!!!”
    “................”
    “................”
    Pada saat-saat seperti ini aku bersyukur tinggal sendiri. Teriakanku sungguh mengejutkan. Tetapi, yang lebih mengejutkan lagi...
    Aku memejamkan mataku, kemudian membukanya perlahan pada hitungan ke tiga dan kembali memandangi cermin.
    Ada yang berbeda pada diriku...tubuhku menjadi sangat tinggi, dengan dada yang tegap. Rambut panjangku hilang entah kemana, digantikan oleh rambut dengan potongan yang sangat pendek. Itu membuatku terlihat seperti...seorang laki-laki?
    “AAAARRGGGGHHHHHH!!!!!!”
    “................”
    ***​

    Aku masih terpaku di depan cermin sementara dua bagian dari diriku saling menyerang satu sama lain.
    “I-ini membuatku tidak nyaman...”
    “Well...bukankah ini hal yang selama ini kau impikan?”
    “A-aku tahu! Tetapi aku tidak tahu kalau rasanya akan jadi aneh seperti ini!”
    “Harusnya kau bersyukur!”
    “Sudah kubilang aku tidak tahu kalau jadinya akan seperti ini!!”
    “Arrrrrgh!”
    Aku menutup kedua telingaku dan menggeleng-gelengkan kepala. Salah satu bagian dari diriku benar. Aku harus bersyukur karena impianku telah terwujud, meskipun rasanya aneh, aku harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Mungkin sebentar lagi aku akan berubah kembali, jadi aku tidak boleh membuang-buang waktu. Banyak sekali hal yang ingin kulakukan.

    Karena itulah, hari ini aku memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah. Aku mengenakan baju yang ditinggalkan kakak laki-laki ku saat dia datang ke rumah ku bersama mama, dan kemudian pergi ke pusat kota. Sebagai permulaan, aku memilih untuk pergi ke toko pakaian.
    Hmm...tidak ada yang spesial di toko ini, semua bajunya bermodel sama, dan variasinya sedikit sekali, hanya jaket, kemeja dan baju kaos saja, sedangkan untuk celananya...well apakah ini perasaanku saja atau semuanya memang sama saja, hanya dengan warna yang berbeda?
    Yang membuatku senang adalah harganya yang lebih murah dibandingkan dengan gaun yang biasa kubeli.
    Aku memutuskan untuk membeli sebuah celana jins berwarna coklat dan sebuah kaos pink berlengan panjang. Tetapi...tiba-tiba aku ingat sesuatu...
    Saat ini, meskipun warna favoritku adalah pink, aku tidak bisa menggunakannya, aku tidak ingin ditertawakan dalam wujud baruku ini, meskipun setelah dipikir-pikir tidak ada yang salah dengan seorang laki-laki yang mengenakan baju pink.
    Akhirnya aku memutuskan untuk membeli sebuah kaos hitam dengan gambar tengkorak di tengahnya. Me-meskipun ini mengerikan...tetapi aku ingin sekali mencobanya.
    Hal kedua yang kulakukan adalah berjalan-jalan menikmati keramaian kota. Ada beberapa gadis yang sedang tertawa riang disana dan aku memutuskan untuk menghampiri mereka. Ini adalah hal yang sudah lama ingin kucoba...
    “H-hai! HAI!”
    Mereka terbengong-bengong menatapku dan kemudian terkikik, sebelum akhirnya meninggalkanku.
    Entah apa yang salah...dan kemudian aku sadar...ga-gayaku saat menyapa mereka tadi...sepertinya meskipun wujudku berubah sifatku masih tetap sama.
    Aku menggerakkan kakiku menuju sebuah cafe, namun sebelum aku bisa sampai disana, sebuah pintu yang terbuka secara tiba-tiba dari sisi samping mengejutkanku. Pintu dari sebuah toko permen.
    “Selamat! Anda adalah pengunjung ke-9000 untuk tahun ini! Sebagai penghargaan kami akan memberi Anda Hadiah sebanyak 9000 butir permen! Tetapi sebelum itu...”
    Dia menarik tanganku dan membawaku masuk. Semuanya terjadi begitu cepat. Aku bahkan tak sempat berkata apa-apa dan kini aku sudah berada di sebuah panggung kecil.
    “...nyanyikanlah sebuah lagu ceria agar kami semua yang berada disini bisa mengetahui betapa besarnya kebahagianmu saat ini!”
    “Eh?”
    “Yak! Silahkan. Panggung adalah milikmu~”
    ‘Err...aku cukup baik dalam menyanyi. Mungkin tidak apa-apa’ , ujarku dalam hati. Aku memilih untuk menyanyikan sebuah lagu bernada tinggi. Aku memejamkan mata dan mencoba untuk berkonsentrasi saat keyboard mulai dimainkan.
    “Aaaaaaaaa~~~ .....aaa....a?”
    Semuanya melihat ke arahku sambil tertawa.
    A-ada apa dengan suaraku? Kenapa jadi aneh dan berat seperti ini? Sama sekali tidak cocok dengan lagu yang kupilih. Apa aku sedang sakit? Dan, tiba-tiba aku teringat sesuatu...
    Aku bisa merasakan wajahku yang mulai memanas, aku kemudian melompat ke bawah panggung dan berlari ke arah pintu. Tetapi seseorang menarik bajuku dari belakang.
    “Tunggu! Well...tadi itu aksi panggung yang bagus. Lompatan yang cukup berbahaya. Ini hadiah anda.”
    Gadis di hadapanku tersenyum manis, manis sekali dan kepalan tangannya terbuka. Disana ada sebutir permen.
    “Um...9000-8999 butir, bukan karena penampilanmu buruk. Tapi karena...um, sebelumnya, maaf, aku berbohong!”
    Dia membungkuk, dan kemudian melanjutkan dengan suara pelan.
    “Pengunjung ke 9000 itu...bohong, kami hanya sedang iseng saja dan kebetulan anda lewat!”
    Aku langsung menutup wajahku. Rasanya malu sekali. Kemudian aku berlari keluar, tak peduli pada bunyi bantingan pintu yang keras. Samar-samar di belakangku masih terdengar suara, ‘maaf, maaaaf!’.
    Aku memutuskan untuk melupakan hal itu dan melakukan beberapa hal lagi dalam wujud baruku sebelum akhirnya beranjak pulang. Aku sudah lelah, aku ingin kembali ke diriku yang dulu saja, aku benar-benar tak nyaman dalam wujud ini...

    Dalam perjalanan pulang aku menyempatkan diri untuk berhenti memandang langit senja. Langit yang luas, mengingatkanku pada kemungkinan yang tak terbatas. Ternyata hal seperti ini bisa saja terjadi...Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tak tahu bagaimana caranya untuk bisa kembali ke diriku yang sebenarnya...
    Ah, lebih baik aku pulang dan tidur. Besok ketika aku terbangun, kuharap semua akan kembali normal. Dan jika memang tidak...setidaknya aku telah mendapatkan energi baru untuk memikirkan sejuta cara untuk kembali menjadi diriku yang dulu.
    Sesampainya di rumah aku langsung menuju kamarku, kemudian merebahkan diri, dan tertidur pulas.
    ***​

    Aku terbangun oleh suara gesekan tirai dan siraman cahaya mentari pagi yang menyilaukan. Aku membuka mataku dan samar-samar, melihat siluet sesosok wanita. Aku melakukan ritual pagi yang sudah menjadi kebiasaanku dan kemudian duduk di pinggir tempat tidur sambil menguap.

    “Masih saja seperti biasa. Haha...”
    “Ngghh..?”
    “Cepat bangun, atau kau akan terlambat ke sekolah. Semester baru akan segera dimulai.”
    “...ah!”
    Kali ini mataku telah terbuka sepenuhnya. Aku meraih jam weker ku. Oh. Masih banyak waktu.
    “Ma? Kapan mama datang? Dan siapa yang membukakan pintu?
    “Tadi malam. Huh? Karin? Sepertinya kau masih mengantuk. Mama kan punya kunci cadangan.”
    “Oh...itu benar.”
    “Cepat cuci muka, mandi, dan kemudian sarapan.”
    “Mmm...aku mau tidur sebentar lagi..Ma..AH!”
    Sepertinya Mama terkejut. Aku juga terkejut oleh suaraku sendiri. Tetapi tidak ada waktu untuk itu. Ada hal yang lebih penting, hal yang harus kupastikan. Aku bergegas menuju cermin dan...
    “............”
    “...........................”
    “Oh, syukurlah! Aku sudah kembali seperti semula!”
    Mama menatapku heran.
    “Ada apa?”
    Aku tersenyum sambil menggeleng. Kebahagiaan yang meluap membuatku menjadi tak bisa berkata-kata.
    “Kau bermimpi buruk?”
    Aku tidak menjawab. Mimpi itu...tidak sepenuhnya buruk. Setidaknya aku belajar banyak hal.
    “...oh, mungkinkah...oh! Jerawatmu sudah sembuh?”
    “Eh? Um..ya, Ma! Aku sangat senang!”
    “Mama mengerti, jerawat itu bisa menjadi sangat menyebalkan.”
    “Hu-uh, benar. Aku akan mandi dulu, ma!”
    “Ya, dan jangan terlalu lama atau kau akan terlambat...”
    “Baik!”
    Selesai mandi aku mengenakan gaun pink kesayanganku dan turun untuk sarapan. Disana kakak laki-laki ku sedang membaca koran sambil menyeruput segelas teh. Aku mengambil setangkup roti dan mengolesinya dengan selai stroberi kesukaanku sebelum kemudian duduk di samping kakakku.
    “Oh? Karin. Kau terlihat sangat ceria hari ini.”
    “Ya!”
    “Jangan makan terlalu cepat...masih ada waktu kan? Kau tidak akan terlambat.”
    Aku menghabiskan roti ku dan mengambil segelas susu.
    “Ah...aku baru ingat, kemarin aku membeli sebuah kemeja, tetapi ternyata kekecilan. Jadi sudah kuputuskan, kau boleh memakainya Karin. Kuhadiahkan untukmu. Kau pasti mau, haha.”
    “Hm..Tidak!”
    Aku bangun dari meja dan mengambil tas ku.
    “Terima kasih kak, tapi aku menolak.”
    “Kau menolak? Ini sangat tidak terduga. Kupikir kau akan senang.”
    “Aku lebih suka gaun, kak.”
    ‘Dan aku sudah tidak mengimpikan menjadi seorang laki-laki lagi. Seperti ini sudah sangat menyenangkan.’ ,ujarku dalam hati.
    “........?”
    “Aku pergi dulu kak! Jangan memakan puding coklat ku yang di kulkas, ok?”
    Aku mengecup pipi kakakku dan berlari menuju pintu.
    Diluar, aku bisa mencium harum semerbak bunga-bunga. Aku mendongakkan kepalaku. Dan disana aku bisa melihatnya, langit yang membentang luas. Mengingatkanku pada kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas.
    Mulai saat ini, akan kutemukan impian baru! Ah, tidak─ aku...sudah menemukannya. Aku memandangi beberapa siswa TK yang sedang berjalan menuju sekolah mereka sambil bernyanyi riang. Aku menyusul mereka dan ikut bernyanyi. Mereka terlihat bahagia, dan aku juga merasa bahagia. Dan mulai saat ini telah kuputuskan, impian baruku adalah membuat orang-orang menjadi bahagia. Dan mungkin aku bisa melakukannya dengan bernyanyi...

    ***​
    Tamat
     
    s4skiazh and Dejiko like this.

Share This Page