Share [Arsip][Winner Fanfic Event September 2013] A Meeting, A Parting, A New Meeting

Discussion in 'Tulisan' started by Tsuki no Hikari, 10 September 2013.

  1. Tsuki no Hikari

    Tsuki no Hikari Member

    103
    16
    76
    A Meeting, A Parting, A New Meeting

    Setamat dari SMP, mengikuti orang tua ku, aku pindah ke sebuah kota kecil di Utara. Awalnya aku merasa nyaman disana meski fasilitas yang ada tak terlalu lengkap seperti kota asalku. Namun setelah menghabiskan hari demi hari dengan bermain game dan bermalas-malasan sejak liburan dimulai, kebosanan mulai menghantuiku, dan akhirnya, pada suatu pagi yang indah, aku memutuskan untuk keluar dan menjelajahi kota ini. Aku menelusuri jalan-jalan dengan pohon-pohon rindang yang berjajar rapi, memotret beberapa pemandangan indah, dan berjalan tak tentu arah. Aku terus berjalan dan berjalan hingga akhirnya aku tiba di sebuah tempat yang luar biasa─ dengan laut yang membentang luas, dan hembusan angin yang menyapa lembut.

    Aku melihat sekeliling, mengagumi keindahan tempat ini, sampai akhirnya mataku menangkap sebuah siluet di kejauhan , siluet seorang gadis. Gadis itu berdiri tegak, menatap laut. Dia membiarkan rambut hitamnya yang panjang dibelai angin. Dan kemudian, tanpa keraguan...dia melangkah, melangkah, semuanya terjadi begitu cepat─dan saat aku sadar apa yang sedang terjadi, sebagian dari tubuh gadis itu telah tenggelam dalam air laut yang terlihat dingin.

    “Hei─apa yang...”
    Aku berlari, berteriak, berusaha mencegahnya. Gadis itu tak menoleh, aku bahkan ragu dia mendengarkanku. Tetapi sebaris kata yang diucapkannya kemudian, menepis dugaanku itu.

    “..kau berpikir aku akan bunuh diri?”

    Aku yang hampir mencapainya terpaku mendengar suara merdu itu, dan sesaat kemudian, dia berbalik dan aku mendapati sepasang mata berwarna cokelat yang menatapku dingin. Dingin─bukan karena keangkuhan, tetapi karena kesedihan. Aku yakin itu, karena meskipun tatapan itu kosong, disana masih bisa terlihat seberkas kehangatan yang samar.

    Aku menatap dalam mata cokelat itu, mencoba mencari sesuatu disana. Dan aku bisa melihatnya, semua orang bisa melihatnya, sorot mata itu...seperti sorot mata orang yang sudah menyerah.

    “W..well, semua orang akan berpikir begitu. Lagipula jika itu bukan tujuanmu, lalu apa?”

    “Aku...”

    Dia mengalihkan pandangannya lagi, lurus ke arah lautan yang membentang luas.

    “...hanya ingin membuang semua sisi lemahku, air mata yang merupakan tanda kelemahan...kuharap laut akan mengambilnya...dan membawanya ke suatu tempat yang jauh disana...agar aku bisa menjadi semakin kuat.”

    Dan kemudian, buliran-buliran bening jatuh dari matanya dan mengalir jatuh ke pipinya, sebelum akhirnya menghilang ditelan lautan yang luas. Seperti tersihir, aku─hanya bisa terpaku melihat semua itu.

    ***​

    Gadis itu masih tetap disana. Dan aku masih tetap memperhatikannya. Aku tak tahu sudah berapa lama waktu berlalu, namun aku bisa memperkirakannya. Matahari kini sudah sepenuhnya muncul, dan orang-orang mulai berdatangan. Tetapi gadis itu tetap disana, diam tak bergeming. Tiba-tiba sebuah kekuatan mendorongku untuk menghampirinya, dan menarik tangannya. Dia terlihat terkejut saat menatap wajahku dari dekat dan sebuah nama terucap dari bibirnya, aku tak bisa mendengarnya dengan jelas tetapi nama itu terdengar asing bagiku.

    “Apa kau salah mengiraku sebagai orang lain?”

    Ekspresi terkejutnya hilang digantikan oleh kekecewaan.

    “...haha...ya, betapa bodohnya aku...bukankah dia sudah tidak ada lagi disini...ha...”

    Gadis bermata cokelat itu menunduk, terlihat seperti ingin menangis, namun berusaha keras untuk menahannya. Sepertinya aku sudah bisa menduga apa yang terjadi...

    “Kau..baru saja kehilangan seseorang yang berharga bagimu?”

    “Ya..well..tidak─tidak baru saja, aku sudah berkali-kali kehilangan orang yang berharga bagiku.”

    Aku...tak tahu harus berkata apa..aku ingin menghiburnya dengan kata-kata yang indah, tetapi deretan kata-kata manis yang telah kupersiapkan di kepalaku buyar seketika saat aku menatap wajahnya. Tanpa kusadari─aku malah mengatakan hal yang konyol.

    ”Menangislah. “

    “Huh?”

    “Menangislah...”

    Mendengar perkataanku, bibirnya membingkai sebuah senyuman, meski hanya sesaat. Aku jadi merasa malu sekali.

    “Tidak. Aku tidak akan menangis lagi. Aku sudah berjanji pada diriku untuk menjadi gadis yang kuat.”

    Dan dengan kata-kata itu, dia berbalik dan pergi.

    ***​

    Sejak saat itu, setiap malam berganti dengan pagi aku selalu ke tempat itu, tempat dimana kami bertemu. Tetapi aku tidak bisa menemukannya. Waktu berlalu dan liburan sudah berakhir─tanpa kusadari sudah tiba waktunya untuk masuk sekolah. Aku mengenakan seragam baru ku, sebuah seragam SMA. Ibu bersikeras mengantarku tetapi aku menolaknya dengan halus, “Aku sudah dewasa, Bu...aku akan naik sepeda sendiri saja.”

    “Setidaknya biarkan Ibu mengantarmu sampai ke depan pintu pagar sekolah.”

    Aku tak bisa menolak ibu lagi, dan membiarkan ibu mengantarku dengan mobilnya. Angin pagi yang beku menerpa wajahku saat aku menapakkan kaki keluar mobil. Dan lewat di hadapanku, seorang gadis terlihat familiar─sang gadis bermata cokelat.

    “A..er...H-hei!”

    Dia berbalik sekilas, namun aku bisa melihat, kehangatan di mata cokelat nya sudah hilang sepenuhnya, tak berberkas.

    ***​

    Ternyata gadis itu sekelas denganku. Namanya cukup asing bagi telingaku, Riviera. Dia sangat dingin. Jauh lebih dingin daripada saat kami pertama bertemu. Aku berusaha menyapanya, tetapi dia tak menggubrisku. Dan dia tidak banyak bicara pada orang-orang. Saat gadis-gadis lainnya berkumpul untuk bercerita tentang banyak hal, dia hanya duduk di bangkunya dan membaca buku. Terkadang aku mendapatinya melihat jauh ke luar jendela atau menatap kosong ke arah langit, sendirian, di atap sekolah. Banyak yang menghampirinya untuk sekedar berbasa-basi, tetapi Riviera selalu mengabaikan mereka, sehingga gadis-gadis lain menganggapnya sombong dan mengucilkannya. Tetapi sepertinya dia tak peduli.

    Suatu hari aku nekad pergi ke atap sekolah. Biarlah nanti dia tak menggubrisku, melihatnya saja sudah cukup. Tak sulit menemukannya. Dia ada disana, di sebuah bangku, seperti biasa, sendirian.

    “...apakah kesendirian tidak menyakitkan bagimu?”

    Dia mendongak, mengalihkan pandangan dari bacaannya.

    “...tidak. Aku bahagia dengan kesendirianku ini. Aku sudah lelah...aku tidak ingin lagi...berpisah dengan orang yang berharga bagiku.”

    Melihat kebingungan di wajahku, dia melanjutkan, wajahnya seperti ingin menangis. “Aku tidak ingin teman. Jika aku menggubris mereka, menghabiskan waktu dengan mereka, lama kelamaan kami akan menjadi teman dan nanti akan tiba saatnya perpisahan merenggut mereka dariku. Aku tak ingin berpisah dengan temanku...dengan orang yang berharga bagiku...karena itu aku menjauh dari mereka, agar mereka tidak menjadi temanku, dan jika nanti perpisahan itu tiba, tak akan menyakitkan.”

    Semuanya kini jelas bagiku. Aku menggeleng-gelengkan kepala, sementara dia menunduk menahan tangisnya.

    “Menangislah.”

    “Tidak mau! Aku akan menjadi kuat, lebih kuat, aku sudah berjanji pada diriku...untuk tidak menangis...”

    Air mata menetes dari mata indahnya dan dia mengangkat kedua tangannya untuk menutup matanya yang basah.

    “...tapi...tak peduli berapa kali pun aku bertekad dan mengatakan pada diriku untuk tidak menangis, pada akhirnya─air mata selalu jatuh mengaliri pipiku, melawan keinginanku. Kesendirian ini...terlalu menyakitkan...tapi...aku tak ingin kehilangan apa pun lagi!”

    Aku menggenggam tangannya, berusaha menyemangatinya.

    “Menjadi kuat..tidak berarti kita tak boleh meneteskan air mata. Kesedihan bukanlah kelemahan, itu adalah hal yang harus kita rasakan, dan kita alami, agar kita menjadi menjadi semakin kuat. Jadi, tidak apa-apa, menangislah, kapan pun kau ingin menangis, menangislah, lalu...seperti langit yang akan tersenyum setelah menangis, air mata mu juga, suatu saat nanti akan menjadi permata indah yang akan memberikanmu kekuatan baru, harapan baru.”

    ***​

    Sejak saat itu, aku dan Riviera menjadi sahabat dekat. Meskipun dia tidak menyadari..bahwa perasaanku padanya lebih dari itu. Ya, aku menyukainya. Aku menyukai semua hal tentang dirinya, dan suatu hari, aku memutuskan untuk mengungkapkan perasaan itu, pada sebuah petang yang hangat, dimana kami berdua berjalan bersisian, tertawa.

    “Rivie...aku ingin mengatakan sesuatu.”

    Seketika, raut wajahnya berubah. Tawanya terhenti dan dia menatapku dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

    “Aku...menyukaimu.”

    Riviera terlihat terkejut mendengar ungkapan perasaanku, dia terdiam memandangku selama beberapa saat, sebelum kemudian─

    Bulir-bulir bening jatuh dari kedua matanya yang indah.

    “A-apa aku mengatakan hal yang salah?”

    Dia menggeleng pelan, kemudian berbalik dan berlari, sebelum kemudian menghilang di kejauhan, meninggalkanku sendirian dalam kebingungan.

    Keesokan harinya aku bisa merasakan bahwa dia menghindariku. Dan itu terus berlanjut. Entah sejak kapan...sebuah dinding tebal tak terlihat berdiri diantara kami berdua dan betapa kerasnya pun aku mencoba menghancurkan dinding itu, aku tak pernah berhasil.

    Dan, tahun-tahun pun berlalu, jarak di antara kami semakin melebar, dan sebentar lagi kami akan menghadapi ujian akhir, dan kemudian, kelulusan...yang berarti...perpisahan.

    ***​

    Teman-temanku melemparkan apa pun yang bisa mereka lemparkan ke atas─toga, ijazah, kemeja putih mereka─ untuk memeriahkan kelulusan, sebagian, terutama para gadis, terlihat menangis, dan sebagian lain meloncat-loncat riang. Tetapi pikiranku tetap pada Riviera. Aku berusaha mencari Riviera, aku tidak ingin berpisah dengannya dengan cara seperti ini. Aku menanyakannya pada teman-temanku, tetapi tak ada seorang pun yang tahu.

    Aku hampir menyerah dan menggantungkan harapan terakhirku pada tempat itu─ atap sekolah dan disana─aku melihatnya, Riviera, berdiri tegak dengan rambutnya yang melambai lembut. Dia terlihat menatap langit.

    Aku menghampirinya, Riviera tidak berbalik untuk menatapku, namun dia berkata dengan pasti, “Jawaban untuk hari itu...maaf...aku melarikan diri. Aku...aku tidak tahu..aku tidak membencimu, tapi, aku juga tak bisa mengatakan bahwa aku menyukaimu...orang yang dulu kusukai, dia meninggal dalam sebuah kecelakaan, dan kalian sangat mirip. Aku melihat dirinya dalam dirimu, karena itu...”

    Aku memotongnya, “Aku mengerti, kau takut menyukaiku karena kau takut yang kau sukai adalah dia dalam diriku, bukan diriku yang sebenarnya, kau takut menyakitiku?”

    “Ya, aku tak bisa mengatakannya dengan tepat, tapi...”

    “Tidak apa, suatu saat nanti jika kita bertemu lagi, kau hanya akan melihatku.”

    Kesunyian menyelimuti kami, dan aku melanjutkan, “Aku akan melanjutkan studi ku ke luar negeri, tetapi aku berjanji, aku akan kembali. Dan jika saat itu tiba, kau hanya akan melihatku...sebagai diriku, bukan sebagai orang yang dulu pernah berharga bagimu. Aku tahu─orang itu..dia akan selalu berharga bagimu, kenangan akannya tak akan terlupakan, dan fakta bahwa kau menyukainya tak akan pernah hilang. Aku tak keberatan akan hal itu, dan aku tak peduli dengan masa lalu mu, tetapi aku, ingin kau melihatku, mulai saat ini hingga saat-saat mendatang yang akan segera menghampiri kita.

    “Aku...”

    “Tak usah takut akan perpisahan. Kita akan bertemu lagi, karena langit ini mengkoneksikan kita berdua. Jika kau merindukanku, tataplah langit, dan kau akan merasakan keberadaanku.”

    Riviera tersenyum, kehangatan dan kebahagiaan terpancar dari mata cokelatnya.

    “Aku tak keberatan lagi dengan perpisahan, karena setelah perpisahan akan ada pertemuan. Dan... aku akan menunggu saat itu, saat dimana kita akan bertemu lagi.”

    *​

    Tamat
     

Share This Page