Share Akira High Original Fiction

Discussion in 'Tulisan' started by Dejiko, 5 September 2013.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    =Chapter 1 : Prologue=


    Jarak SMA Akira dari kota lumayan jauh. Sekitar 10 sampai 20 menit jika berjalan kaki. Siswa yang jarak rumahnya ke sekolah 1 atau 2 kilometer biasanya hanya berjalan kaki. Namun yang cukup jauh biasanya datang membawa sepeda. SMA Akira tidak memperkenankan siswa mereka membawa motor atau mobil ke area sekolah. Jika ingin berangkat menggunakan kendaraan seperti motor atau mobil, harus diantar jemput oleh orangtua/wali siswa. Walaupun begitu, masih ada siswa yang suka membawa motor dan memarkirnya agak jauh dari sekolah.

    Pagi ini adalah hari pembukaan tahun ajaran baru. Artinya hari pertama masuk SMA untuk siswa SMP yang baru lulus dan mendaftar di SMA Akira. Dan juga hari pertama untuk kelas 2 dan kelas 3 yang baru memulai pelajaran mereka di kelas baru. Siswa-siswa yang telah melewati libur panjang -yang disebut golden week- akhirnya kembali menjalani kehidupan sekolah mereka. Maka tidak heran menurut survey, 60% siswa laki-laki dan 30% siswa perempuan akan menguap di perjalanan menuju sekolah khusus untuk hari ini. Di dalam gedung sekolah, di koridor lantai satu tepat di tikungan sebelah kanan tempat penyimpanan loker sepatu, siswa kelas 2 dan 3 berbondong-bondong berkumpul mengerumuni papan pengumuman. Di sana baru saja ditempel penempatan kelas yang baru.

    “Yee! Syukurlah aku bisa satu kelas sama kamu.”
    “Iya. Kita duduk sampingan ya.”
    “Supaya aku bisa nyontek ya?”
    “Kalau itu nggak deh.”
    “Hee... yah, setidaknya bantu aku kalau ada pr ya?”
    “Aku bantu. Tapi nggak pake kasih liat pr-ku.”
    “Yah~ :{”

    Di papan pengumuman itu juga terdapat penempatan kelas untuk kelas 1. Namun karena mereka baru saja masuk, mereka hanya berkumpul dan berkerumun seperti semut di halaman sekolah.

    *glek*
    “Loh. Tidak ada orang?”

    Seorang siswi masuk kedalam ruang yang cukup berbeda dari ruang kelas biasanya. Siswi tersebut bertubuh kecil dan memakai bando. Namun keliahatannya dia bukan siswa baru yang tersasar. Ruangan tersebut terdiri dari meja, kursi, lemari dokumen, papan tulis, komputer, printer, serta mesin fotokopi. Mejanya besar memanjang dan kursi-kursi berjajar di sampingnya. Kemudian ada satu lagi meja dan kursi khusus yang terletak di ujung ruangan. Di atas pintu masuk bertuliskan “Ruang OSIS”. Setelah cewek itu masuk, muncul lagi seorang cewek dari balik pintu.

    “Rie! Oh, rupanya masih ada orang”
    “Ya? Ada apa?”
    “Tolong kamu pergi ke ruang radio. Beri pengumuman untuk semua kelas 1 yang ada di lapangan untuk pergi ke ruang auditorium. Aku harus membantu OSIS lain di auditorium. Bisa kan?”
    “Baiklah. Tapi aku harus bilang apa?”
    “Hmm... sebentar. Biar aku tulis saja.”

    Cewek itu mengeluarkan pena dari saku celananya. Lalu mengambil kertas kosong dari atas meja. Setelah tidak lama menulis, ia menyerahkan kertas itu ke cewek yang bernama Rie tadi. Rie membacanya dengan seksama.

    “Tolong ya!” cewek yang meminta tolong tadi langsung beranjak menuju lemari untuk mengambil sesuatu. Rie juga langsung menuju pintu tanpa membalas kata-katanya tadi.
    “Oh, iya Rie, kau pergi dulu ke ruang guru untuk mengambil kunci ruang radionya.”
    “Aku mengerti.”

    Setelah berjalan beberapa langkah di koridor, ia melipat kertas yang ia pegang lalu menyimpannya di dalam saku rok.
    “Merepotkan sekali. Kalau tahu gini aku tidak usah datang pagi-pagi.”

    Rie masuk ke dalam ruang guru. Namun tidak ada siapapun di ruangan ini. Antara para guru sedang berada di auditorium atau memang belum datang. Terdapat tempat penggantungan kunci di dekat pintu. Diantaranya tergantung kunci ruang radio dengan sebuah kertas bergantung di pegangannya. Rie mengambil kunci tersebut lalu pergi ke ruang radio di lantai 4. Walaupun mesin radio memiliki bentuk semacam mesin yang kompleks, namun sepertinya ia tidak bermasalah dalam menghidupkannya. Bisa dibilang ia sudah seperti terbiasa melakukannya. Ia duduk di kursi dan di depan bibirnya sudah ada mic yang belum dihidupkan. Setelah batuk-batuk sedikit, ia menyalakan mic tersebut dan keluarlah suara khas yang terdengar dari seluruh penjuru sekolah. Semua orang, terutama kelas 1 yang berada di lapangan, menoleh ke arah sumber suara.

    “Perhatian untuk seluruh siswa baru kelas 1 SMA Akira, silakan menuju ruang auditorium yang terdapat di sebelah kanan area sekolah. Harap ikuti panduan dari kakak-kakak OSIS yang berada di halaman sekolah. Saya ulangi. Perhatian untuk seluruh siswa baru kelas 1 SMA Akira, silakan menuju ruang auditorium yang terdapat di sebelah kanan area sekolah. Harap ikuti panduan dari kakak-kakak OSIS yang berada di halaman sekolah. Terima kasih.”

    Sesuai pemberitahuan anggota-anggota OSIS memandu adik kelas mereka menuju ruang auditorium.

    ====break=====

    Seorang siswa laki-laki datang ke sekolah menggunakan sepeda. Rambut pirangnya yang panjang hingga pangkal leher melambai pelan karena angin dari sepeda. Ia mengendarai sepeda sambil makan roti dengan tangan kanannya. Kemudian roti yang masih sisa setengah itu ia lahap sekaligus karena ia sudah sampai di gerbang sekolah. Di dalam area sekolah, terdapat tempat parkir sepeda khusus siswa dan motor khusus guru.

    “Biasanya sih jam segini aku sudah telat. Tapi kayaknya nggak deh. Mungkin karena hari ini tahun ajaran baru jadi masih jam bebas.”

    Ia memarkir sepedanya lalu berjalan pergi.

    “Tunggu?! Jam bebas?!” Ia menghentikan langkahnya yang baru beberapa meter sambil melanjutkan konfrensi solonya. “Berarti tidak ada pelajaran hari ini. Apa aku langsung pulang saja?” Ia menoleh kebelakang tempat ia memarkir sepedanya. “Kalau tahu gini mending aku tidak usah sekolah sekalian. Oh, iya. Aku harus tahu tempat kelas dan jadwal pelajaranku dulu. Terus... langsung pulang?” Sambil memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting, ia lanjut berjalan. Namun langkahnya terhenti lagi ketika melihat motor seorang guru yang terparkir. Ia bukan tertarik pada motor tersebut. Tetapi pada kaca spionnya. Ia menoleh-noleh sambil memandangi dirinya pada kaca kecil tersebut. Membentuk berbagai ekspresi dan menyisir rambut dengan tangan.

    “Terlihat tampan. Kau memang orangnya.”

    Kemudian ia lanjut berjalan menuju gedung sekolah. Di perjalanan menuju pintu masuk gedung utama sekolah, ia mendengar suara samar-samar yang sepertinya keluar dari sebuah microphone dan asalnya dari arah kanan area sekolah. Tepatnya dari gedung auditorium. Karena penasaran, ia pun turut pergi ke auditorium tersebut. Sesampainya di auditorium,ia membuka sedikit pintunya untuk mengintipap yang ada di dalam. Auditorium itu sangat luas. Luasnya mencapai satu gedung lapangan basket beserta bangku-bangku penontonnya. Di arah yang berlawanan dari pintu, terdapat sebuah panggung yang melekat dengan gedung beserta tirai-tirai terbuka di sebelah kiri dan kanannya. Sepertinya gedung ini sering digunakan untuk hal semacam pentas drama atau band. Yang pasti bukan hal itu yang terjadi sekarang.

    “Terima kasih untuk semua siswa yang telah mempercayakan SMA Akira sebagai pilihan untuk menyelesaikan 3 tahun pendidikan di jenjang SMU. SMA Akira adalah SMA yang memiliki fasilitas terlengkap, prestasi terbaik, nama yang paling dikenal, dukungan terbanyak dari menteri dan dinas pendidikan, serta lulusan-lulusan terbanyak yang telah melanjutkan pendidikan ke universitas -universitas ternama, baik dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu didukung juga oleh tenaga-tenaga pengajar yang telah berpengalaman di bidangnya.
    Saya bersyukur atas ketetapan hati kalian memilih SMA Akira sebagai pilihan kalian. Di sekolah ini, saya akan menjamin bahwa kalian telah mengambil pilihan terbaik dalam hidup kalian. Wajah baru adalah semangat baru. Dan dengan semangat baru maka...”

    Laki-laki itu langsung menutup pintu. Ia tidak tahan melihatnya. Ia menginjak-injak tanah berlapis semen -yang tidak ada apa-apanya- berkali-kali sambil marah-marah.

    “Apa-apaan cowok itu! Sok keren! Tunggu saja kalau aku dapat kesempatan. Akan kusiram wajahnya dengan air panas!”

    Sementara di dalam, ketua OSIS yang dimaksud masih melanjutkan pidato penyambutannya. Sebagian besar siswi tidak berkedip melihat dirinya di atas podium. Ada yang wajahnya merona dan ada yang matanya berkaca-kaca serta mulutnya menganga. Untung tidak keluar lendir apa-apa.

    Lalu tepat di luar auditorium, laki-laki berambut pirang tadi memukul dinding auditorium dengan keras. Berharap ada keributan yang akan terjadi di dalam tapi mustahil. Dindingnya tidak hancur namun tangannya langsung berwarna merah. Walaupun begitu ia tidak terlihat kesakitan. Malah seperti dia tidak merasakan apapun walau warna tangannya berkata lain. Sepertinya pukulannya cukup kuat.

    “Sudah ah. Percuma di sini terus. Mending aku masuk ke kelas. Atau ke UKS aja ya?”

    Laki-laki itu pergi ke gedung sekolah. Ia mengganti sepatunya di teras loker.Setelah mengganti sepatu, ia melihat di tikungan kanan, ada lembaran baru yang sangat banyak dan ditempel rapi pada papan pengumuman.

    'Kurasa tidak ada salahnya untuk mencari tahu.' pikirnya.

    Perlahan ia mencari dimana namanya tertera di kertas pengumuman penempatan kelas itu. Rupanya ia masuk kelas 2-B padahal kemaren ia sempat masuk kelas 1-A. Sepertinya tidak ada kekecewaan apapun dalam dirinya. Ia hanya menggaruk-garuk kepala sambil beranjak pergi, yaitu menuju ruang UKS. Sepertinya ia serius untuk tidur-tiduran di sana. Ia pun tahu pasti tidak ada pelajaran yang akan berlangsung pagi ini dan juga yakin kalau nanti pagi ini akan pulang cepat karena hari pertama masuk sekolah cuma akan diisi penyambutan. Sedangkan pelajaran sesungguhnya akan dimulai besok. Datang kemari sepertinya hanya buang-buang waktu

    =bersambung=
     
    Last edited: 19 September 2013
    TheWizard and s4skiazh like this.
  2. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    Acara penyambutan siswa baru yang berada di auditorium telah berakhir. Seluruh siswa kelas 1 yang tadi berada di dalam auditorium berjalan keluar. Tepat di luar halaman auditorium sudah bersiap para senior kelas 2 dan 3 yang mempromosikan klub mereka kepada para siswa baru. Berharap agar siswa-siswa baru tersebut segera bergabung dalam klub mereka sebelum akhirnya bergabung di klub lain. Umumnya masih terdapat klub mainstream seperti klub sepak bola, klub tenis, klub melukis, klub karya tulis, klub balap lari, dan lain-lain. Namun ada juga klub yang kurang umum seperti klub sulap, klub peneliti mahkluk halus, klub minum susu (karena minum teh udah mainstream), klub nyari teman, klub idola sekolah, dan lain-lain. Walaupun begitu mereka tetap dapat berdiri secara formal sebagai klub yang diakui sekolah selama masih mengikuti peraturan yang dibuat oleh sekolah dan pengurus OSIS mengenai pendirian klub. Mungkin itu faktor karena begitu banyak siswa yang bersekolah di SMA Akira. Sebelumnya peraturan untuk mendirikan klub yang bertujuan aneh masih belum diperbolehkan di SMA Akira sampai setahun lalu ketika pergantian ketua OSIS kemarin.

    Seorang siswi kelas 1 baru keluar dari ruang auditorium. Ia nampak ketakutan ketika melihati jajaran dan rombongan orang berspanduk mempromosikan klub mereka.

    Mungkin itu adalah senior-senior yang dimaksud di atas. Sebagian dari mereka ada yang berteriak-teriak untuk menarik siswa baru dengan kalimat-kalimat persuasif seperti “Ayo bergabung dengan klub host!”, “DotO fans club. Ciptakan pasukan tempur terkuat.”. Tapi ada juga seseorang yang sedang menjelaskan sesuatu kepada kerumunan siswa kelas 1. Kelihatannya orang tersebut sedang menjelaskan tentang klubnya pada mereka. Klub drama di SMA Akira memang salah satu klub yang paling dikenal di antara klub yang lain. Setiap klub olahraga seperti sepak bola, basket, dan american football, menyertakan manager mereka yang cantik untuk menarik perhatian siswa laki-laki dan pemain mereka yang tampan untuk menarik perhatian siswi perempuan agar menjadi bagian dari klub mereka.

    Setidaknya itulah yang dilihat siswi kelas 1 tersebut.

    ‘Aku harus mencari klub yang pantas untukku. Itu adalah langkah pertama yang paling penting jika aku memang berniat mengubah sifatku. Masa SMA adalah masa terpenting. Aku tidak boleh menyia-nyiakannya seperti yang kulakukan di masa SD dan SMP.’

    Perempuan itu menggeleng beberapa kali dengan cepat. Membuat rambut hitamnya yang cuma sebahu berayun secepat kepalanya menggeleng.

    ‘Aku harus lupakan hal itu. Aku yang sekarang adalah aku yang baru. Yah, benar!’

    Ekspresi kepercayaan diri mulai terlihat di wajahnya. Ia mendatangi salah satu klub yang ada. Pertama adalah grup band. Ia melihati seorang pemain gitar sedang mencolokan gitar listriknya ke salon. Sepertinya dia baru saja selesai mempersiapkannya.

    ‘Musik? Yah, kurasa akan bagus kalau aku mempelajari minimal 1 instrumen. Kalau aku terus berlatih mungkin aku akan berbakat.’

    Sebuah senyum terlihat di wajahnya. Namun ekspresinya berubah ketika ia sadar kalau pemegang gitar -yang cuma menimang gitar di depan perutnya- yang sedang ia amati juga membalas menatap dirinya. Ia refleks langsung menundukkan kepala. Sepertinya ia tipe gadis yang pemalu.

    JREENG!! JENG JENG JENG...

    Si pemain gitar mulai memainkan gitarnya dan keluarlah suara keras dari salon. Cukup keras untuk mengagetkan sang perempuan yang berdiri cukup dekat dengan salon.

    “Woh, lihat! Ada pemain band!” Teriak salah satu siswa laki-laki.

    Orang-orang mulai berkumpul dan bersorak-sorak. Siswi perempuan tersebut menjadi panik dan langsung bergegas pergi tanpa tanggapan apa-apa.

    Ia mendatangi setiap klub satu demi satu. Namun semuanya tidak ada yang ia rasa cocok untuknya. Lebih tepatnya, ketika ia melihat suatu klub, ia langsung menghalusinasikan dirinya secara tidak-tidak dan membuat dirinya semakin down.

    Kerumunan orang yang mempromosikan klub mereka di halaman sekolah semakin sedikit. Mungkin karena sebagian dari mereka telah pergi karena merasa mendapat cukup siswa baru sebagai anggota klub. Sekarang siswi perempuan tadi sedang berjalan di dalam gedung sekolah. Ia berjalan mengitari koridor sambil membaca brosur SMA Akira yang ia dapatkan dari ruang auditorium tadi. Isinya sedikit berbeda dengan brosur yang ia dapatkan dari SMP tempat ia bersekolah dulu, pikirnya. Di dalam brosur yang ia pegang sekarang terdapat daftar klub yang ada di SMA Akira beserta letak ruangannya. Ia berhenti melangkah di depan sebuah pintu.

    ‘Sepertinya ini ruang klub pemain kartu. Kedengarannya mengasikan. Kuharap mereka adalah orang-orang yang menyenangkan yang bisa kuajak menghabiskan waktu bersama.’

    Ia membuka pintu yang tidak terkunci itu. Yang ia lihat di dalam adalah empat orang berpenampilan kasar bak preman sedang main kartu di atas meja. Pakaian mereka compang camping, kancingnya tak terurus, ditambah sebotol minuman besar (sepertinya minuman soda), bungkus kacang, dan banyak uang koin dan kertas berhambur di atas meja. Hawa hitam keluar menyelimuti keempat orang tersebut.

    “Hahaha! Straight! Aku menang!”
    “Aaarg! Tekor deh kalah All-In.”

    Tidak lama kemudian mereka menyadari kalau pintu baru saja terbuka. Terlebih lagi ada seseorang yang membuka pintu tersebut. Akhirnya terjadi tatapan mata antara siswi perempuan dengan 4 pria di dalam ruangan. Keheningan berlangsung selama 3 detik ditemani kicauan burung di pagi hari.

    “HAAAAA!!”
    “Haa!”

    Keempat orang itu berteriak lalu teriakan itu dibalas dengan teriakan kecil dari si perempuan. Sontak ia langsung menutup pintu. Perlahan ia melangkah mundur dari pintu dengan takut. Dari luar ia masih bisa mendengar suara-suara yang ada di dalam.

    “Kenapa pintunya bisa terbuka?!”
    “Ya karena belum dikunci.”
    “Bego. Kamu gila ya?! Kamu kira kita lagi ngapain di sini?! Gimana kalau sampai ada yang liat?!”
    “Kan sekarang masih jam bebas. Mana kusangka bakal ada yang masuk!”
    “Sudah. Bukan saatnya ributin hal itu. Cepat tangkap cewek tadi!”

    Mendengar kalimat yang terakhir membuatnya semakin takut dan panik. Bersamaan dengan terbukanya pintu dari dalam oleh seorang siswa laki-laki berkacamata, siswi perempuan itu langsung mengambil langkah cepat untuk lari. Tetapi sepertinya ia tidak kabur cukup cepat sehingga bahunya langsung tertangkap oleh laki-laki tersebut.

    “Hey.”

    Sapaan hangat keluar dari mulut laki-laki itu. Si perempuan memutar lehernya kebelakang dengan takut. Kemudian sapaan hangat tersebut disambung dengan senyum hangat dan ajakan yang terdengar ramah.

    “Kau mau masuk ke ruang klub kami?”

    Ketika siswi masuk ke dalam ruangan tadi, semuanya nampak berubah. Pakaian 3 orang yang ada di dalam terlihat rapi, dasi terpasang lurus dibawah jas dan wajah mereka terlihat berseri-seri. Ia pun baru sadar hal serupa juga nampak pada laki-laki yang mengajaknya masuk. Bukan cuma itu saja. Ruangannya pun berubah drastis. Meja kursi yang berserakan sekarang tertata rapi dengan tatanan feng shui yang terbaik. Di atas meja semuanya bersih, kecuali meja yang berada di dekat 3 orang yang ada di dalam tersebut. Di atasnya terdapat kartu remi yang tertumpuk rapi. Botol minuman, uang, dan kacang yang tadi ada telah lenyap sama sekali.

    “Maaf ya tadi kami mengejutkanmu. Apa kau tidak apa-apa?”

    Seorang siswa laki-laki di antara mereka memulai pertanyaan. Ia berdiri dari kursinya dan mendekati perempuan tersebut. Ia melihat brosur yang dipegang perempuan itu dan langsung merebutnya. Ketika melihat sebentar, ia mulai memahami sesuatu.

    “Oh, apa kau kemari untuk bergabung dengan klub pemain kartu?”
    “Benarkah?!” Salah satu laki-laki yang duduk di dalam ruangan spontan berdiri karena terkejut.
    “Ti-tidak.”
    “Hm?!”

    Laki-laki yang mengajak bicara itu tidak terlalu mendengar kata-kata lawan bicaranya. Suaranya sangat pelan dan lembut. Di tambah ia menunduk ketika berbicara. Tapi iya yakin kalau perempuan tersebut berkata “Tidak”.

    “Anu... maaf. Aku harus pergi.”

    Tanpa pikir panjang perempuan tersebut langsung bergegas meninggalkan ruangan. Sebenarnya tidak ada alasan untuknya langsung pergi meninggalkan mereka. Namun sepertinya kegugupan dalam dadanya sudah mulai menumpuk. Ketika berlari melewati tikungan yang mengarah ke tangga atas dan halaman luar, ia menabrak perut seseorang yang muncul dari arah halaman luar alias loker sepatu. Sepertinya orang yang ia tabrak cukup tinggi.

    “Kau tidak apa-apa, nona?” Kata-katanya cukup megah. Ketika perempuan tersebut melihat orang yang ia tabrak, pertama yang ia tahu adalah seragam yang dikenakannya adalah seragam siswa laki-laki SMA Akira. Kemudian ia menaikan pandangan ke arah wajah orang tersebut. Rambutnya kribo, berkacamata hitam, dan memakai headset di lehernya. Sepertinya headset itu baru saja dipindahkan dari telinga ke lehernya. Perempuan itu ketakutan melihat penampilan laki-laki yang baru saja ia tabrak. Ia langsung berdiri tanpa menerima bantuan tangan dari laki-laki tersebut.

    “A-Aku tidak apa-apa.”
    “Berhati-hatilah ketika melangkah. Karena kalau tidak...”

    Laki-laki itu memotong kata-katanya sambil berjalan pelan melewati si perempuan yang baru terjatuh tadi.

    “... kau akan terjatuh.” Ia pun berlalu. Meninggalkan si perempuan yang terdiam tanpa menoleh kebelakang dengan mulut sedikit terbuka.

    ‘terus kalau jatuh kenapa? Masalah buat loe?’ Maaf, ini cuma kata-kata penulis. Bukan bagian cerita.

    ====break====

    Ruang klub musik sedang dipenuhi keheningan. Bukan karena kesedihan, tapi karena klub musik sedang melakukan semacam audisi kepada siswa baru yang berniat bergabung di klub mereka. Mereka melakukan hal ini bukan berarti yang dapat bermain bagus akan diterima lalu yang tidak akan ditolak. Mereka, para senior di klub musik, ingin melihat potensi yang dimiliki siswa baru tersebut. Jika mereka punya potensi berarti bagus dan jika mereka yang bergabung karena ingin belajar dari dasar juga tidak masalah. Namun penyebab utama keheningan yang terjadi sekarang adalah karena melody permainan biola yang dimainkan oleh seorang siswa baru saat ini. Semua orang terpaku dengan permainan dan musik yang ia mainkan. Setelah musik berakhir, semua yang ada di ruangan bertepuk tangan. Perempuan berambut ponytail itu tersipu malu.

    “Bagus sekali, Fleu. Sepertinya kau sudah berpengalaman.”
    “Ahaha... Tidak juga kok, kak.”
    “Klub musik kami belum punya banyak pemain biola. Syukurlah ada kamu. Baik, selanjutnya.”

    Setelah memberi pujian, seseorang yang bertindak sebagai juri utama memulai kembali pertunjukan bakatnya. Atas aba-abanya, perempuan yang dipanggil Fleu tadi kembali ke kursinya dan digantikan dengan siswi perempuan lain yang membawa recorder.

    ~Audisi pun berakhir.~

    Siswa-siswi baru berbaris menghadap ke arah barisan senior mereka di klub musik. Seorang perempuan, yang tadi bertindak sebagai juri, memberikan beberapa perhatian kepada siswa baru.

    “Selamat bergabung untuk kalian para siswa baru. untuk hari ini masih hari bebas, jadi kita bakal mulai latihan besok. Kegiatan klub diadakan setiap jam pulang sekolah. Saya ingatkan agar kalian terus berlatih secara rutin setiap hari. Tidak masalah jika itu hanya 15 menit sehari atau 30 menit sehari. Sedikit demi sedikit kemampuan kalian akan semakin terasah. Dan mulai besok silakan bagi kalian yang memiliki alat musik sendiri di rumah untuk membawanya setiap hari ke sekolah. Bagi yang belum punya boleh meminjam alat musik di ruang klub. Tapi perlu di ingat kalau alat musik di sini jumlahnya terbatas.”

    Perhatian dari siswi tersebut masih berlanjut. Tidak lama kemudian perhatiannya berakhir dan seluruh siswa diberi waktu bebas. Sebagian besar siswa baru memperhatikan ruang musik yang cukup luas itu. Peralatannya terbilang cukup lengkap dan untuk ruangannya sendiri terdapat panggung yang tidak terlalu tinggi. Panggung ini baru saja digunakan untuk audisi tadi.

    =bersambung=
     
    s4skiazh likes this.
  3. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    Para OSIS yang hadir ke sekolah hari ini berkumpul di ruang auditorium. Setelah acara penyambutan berakhir tiba saatnya untuk mereka membersihkan segala hal yang ada di auditorium. Seperti mengembalikan mic ke ruang radio, mengembalikan kursi ke gudang, dan membuang sampah-sampah yang berserakan.

    Rie membawa dua tumpuk kardus dan berjalan dengan perlahan. Seluruh pandangannya tertutup dengan kardus dan ia tidak begitu bisa memperhatikan sesuatu di depannya. Dan tanpa ia duga ia menabrak seseorang di depannya. Walaupun tidak cukup keras untuk menjatuhkan kardus-kardus, dirinya, ataupun orang yang ditabraknya.

    “Ah, maaf.” Rie langsung meminta maaf tanpa melihat apakah yangia tabrak manusia atau tembok. Tapi untunglah yang ditabrak adalah manusia sehingga tidak membuatnya terlihat bodoh.

    Tanpa berkata-kata orang tersebut langsung mengambil dua tumpuk kardus yang dibawa Rie. Dan disaat itulah Rie tahu siapa yang ada di depannya.

    “Senpai?!”
    “Biar aku saja yang membawa ini ke gudang.”
    “Tapi, Senpai pasti lelah setelah pidato dan acara-acara tadi. Setidaknya biar kami yang membersihkan ruangan ini. Senpai istirahat saja.”
    “Kulihat jumlah kalian tidak terlalu banyak.”

    Memang benar bahwa hanya separuh OSIS yang hadir ke sekolah pagi ini. Beberapa di antara mereka ada yang izin masih di luar kota dan memang tidak hadir tanpa izin.

    “Kau bantu saja teman-temanmu yang ada di sini.” Ia melanjutkan.

    Laki-laki itu langsung pergi tanpa mendengar balasan apapun dari Rie. Setelah itu seorang perempuan berambut pirang pendek memanggil Rie dari atas panggung.

    “Rie!”
    “Ada apa?” Rie membalas sambil mendekati panggung.
    “Aku mau melepas tirai itu. Kau tolong pegangi tangganya, ya?”
    “Baiklah.”

    Rie naik ke atas panggung. Perempuan tadi naik ke atas tangga berbentu segitiga itu lalu dari bawah Rie memegangi kaki tangganya.

    ====break====

    Sepasang mata terbuka, merapat beberapa kali, menciptakan pandangan kabur, hingga akhirnya terbuka dengan sempurna. Dilanjutkan dengan beberapa kali kedipan. Yang ada di ujung pandangannya adalah langit-langit yang putih dengan sebuah lampu neon. Di ruangan ini tidak hanya terdiri dari satu bola lampu. Hanya saja terdapat 1 buah di depan pandangannya. Ia mulai membangkitkan tubuhnya yang tertidur di atas kasur sambil mengeluarkan suara khas.

    “Aahh...nggg...” Ia menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.

    Ia langsung mengalihkan pandangan ke jendela luar. Jendela tersebut mengarah ke area belakang sekolah. Di sana terlihat dengan jelas sebuah lapangan sepak bola dan lintasan balap lari di sekitarnya. Lalu di sudut lain terdapat lapangan pasir untuk lompat jauh, tiang besi untuk melakukan pull-up, dan lain-lain. Area belakang sekolah memang sering dipakai untuk jam olahraga. Begitu pula dengan gym.
    Ia menyadari bahwa cuaca diluar sudah semakin cerah, ketimbang ketika ia belum tidur tadi.

    “Kau sudah bangun?”

    Muncul suara dari arah berlawan ia menoleh. Suara tersebut berasal dari seorang guru perempuan yang duduk di depan meja khusus untuk perawat. Di atas meja ia sedang menulis sesuatu. Semacam pendataan atau laporan seperti itu. Wanita itu memakai baju putih panjang yang biasanya dikenakan oleh dokter. Dan di lapisan dalam ia memakai blazer warna hitam. Blazer tersebut dengan mudah terlihat karena ia tidak mengkancing bagian tengah mantel dokternya dan hanya mengenakannya sebagai semacam jubah. Dari penampilannya ia terlihat dewasa namun sepertinya belum menikah.

    “Oh, kau datang?” Laki-laki yang duduk di atas kasur UKS itu membalas dengan kalimat pertanyaan lagi.
    “Aku cuma datang untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Setelah ini aku langsung pulang.”
    “Begitu.”

    Dilihat dari nada pembicaraan mereka, kelihatannya mereka cukup akrab. Cara mereka berbicara lebih seperti teman kenalan daripada antara guru dan murid. Dan sepertinya guru tersebut tidak keberatan dengan cara bicara muridnya ini.
    Laki-laki itu turun dari kasurnya. Ia membuka lemari kaca di ruangan tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa tabung dan gelas kosong. Ia melihat-lihat isi lemari tersebut seperti sedang mencari sesuatu.

    “Dimana kopi yang ada di sini?”
    “Sebelum liburan kemarin aku membawa semuanya ke rumah. Kalau kubiarkan di sini berbulan-bulan nanti bisa kadaluarsa.”

    Laki-laki itu menutup pintu lemari dengan kecewa. Ia berjalan menuju pintu keluar namun berhenti karena teringat sesuatu.

    “Hey, berikan aku uang. Biar kubelikan kopi yang baru.”
    “Kau mau keluar, Akashiya?”
    “Tidak. Setelah ini aku mau langsung pulang.”
    “Oh, benar juga. Kulihat hanya sedikit guru yang hadir hari ini.”

    Wanita itu membuka dompet dan memberikan beberapa lembar pada laki-laki yang dipanggilnya Akashiya.

    “Beli juga beberapa sachet kopi susu. Akhir-akhir ini aku lebih suka minum kopi susu.”
    “Aku juga lebih suka kopi susu. Mungkin akan kubeli banyak ditambah beberapa mocha.”
    “Ambil saja kembaliannya jika ada.”
    “Tanpa kau bilang pun akan kulakukan.” Setelah itu Akashiya langsung beranjak pergi.

    Ia berjalan di koridor sekolah. Terdengar dengan jelas suara-suara ribut yang khas dari berbagai ruangan walaupun hari ini tidak ada pelajaran. Suara itu berasal dari aktifitas klub yang diadakan di beberapa ruangan. Suara yang cukup khas terdengar adalah suara musik dari ruang musik. Tapi ada juga suara manusia yang terdengar dari ruang klub seperti klub seni lukis dan klub game. ‘Mungkin suara-suara ini yang membangunkanku.’ Pikirnya. Di tengah perjalanan ia melihat seorang anak perempuan berdiri di depan pintu. Rambutnya hitam sebahu dan wajahnya tampak membosankan (ini pemikiran Akashiya. Bukan menurut penulis). Karena agak asing, Akashiya berpikir mungkin dia anak kelas 1. Perempuan itu menatap ke dalam ruangan lewat kaca pintu.

    ‘Apa yang dilakukannya?’ Batin Akashiya. ‘Seingatku ini ruang musik, kan?’ Akashiya menoleh ke dinding ruangan. Pemikirannya itu juga didasari keluarnya suara musik berupa biola dari dalam ruangan tersebut. Walaupun samar-samar, namun suaranya masih dapat didengar dari luar jika cukup fokus.

    Karena tidak ingin mengganggu anak tersebut, Akashiya hanya lewat tanpa peduli. Ia berpikir mungkin anak di luar pintu itu ingin bergabung dengan klub musik tapi tidak punya keberanian.

    Perempuan itu sedang melihati seseorang yang ada di dalam ruangan. Orang tersebut sedang bermain biola. Rupanya dia adalah Fleu.

    ‘Ah, ruang musik. Aku ingin sekali memainkan salah satu alat musiknya. Tapi bagaimana? Di dalam sana banyak sekali orangnya. Permainan musik mereka pun bagus.’ Perempuan di luar pintu itu membatin.

    Fleu bermain dengan tenang sambil menutup matanya. Namun setelah permainannya berakhir dan membuka mata, ia langsung menyadari ada seseorang yang memperhatikannya dari luar pintu. Seketika terjadilah kontak mata antara kedua orang tersebut. Perempuan di luar pintu terkejut karena keberadaannya disadari. Ia langsung menunduk agar keberadaannya tidak ketahuan, walau sudah terlanjur. Fleu berjalan menuju pintu. Biola yang ia pegang disandarkan di atas kursi. Ia menarik pintu dengan lebar dan melihat seorang siswi perempuan merunduk di depan pintu. Karena kaget pintunya tiba-tiba terbuka, perempuan yang merunduk di depan pintu itu langsung berdiri sambil berteriak kaget.

    “Halo.” Fleu memberi sapaan pertama.
    “H-Hai.”
    “Apa yang kau lakukan?”
    “Tidak ada. Ngg... Aku cuma melihat-lihat saja.” Perempuan itu membalas dengan takut-takut.
    “Siapa namamu?”
    “Err... Saskia. Kau bisa memanggilku Saskia.”
    “Aku Fleu (read:floi). Salam kenal.” Fleu menjulurkan tangannya sebagai bentuk perkenalan. Saskia yang daritadi menundukkan wajahnya melihat uluran tangan dari Fleu dengan jelas. Sepertinya ia punya kebiasaan tidak menatap mata lawan bicaranya. Dengan takut-takut ia menerima tangan dari Fleu. Rasa gugupnya mulai meluap. Berulang kali ia mengsugestikan pikirannya kalau perempuan yang ada di depannya tidak berbahaya (what?). Fleu tetap menunggu sambil tersenyum sampai akhirnya tangannya digengam oleh Saskia.

    “Kau kelas satu, kan? Aku rasa aku melihatmu sebelumnya di ruang auditorium.” Fleu bertanya pada Saskia.
    “Benarkah?”
    “Ya. Mungkin.”

    Fleu tidak begitu ingat apakah pernah melihat Saskia atau tidak. Tapi sebenarnya Saskia ingat kalau dia pernah melihat Fleu. Maka dari itu tadi ia memperhatiannya dari luar pintu. Ketika di ruang auditorium, mereka duduk di deret kursi yang sama dan jarak antara mereka hanya satu kursi.

    “Hey, kau mau bergabung dengan klub musik, Saskia?” Fleu menggenggam tangan kanan Saskia dengan kedua tangan.
    “Eh, emm...Bagaimana ya? Aku tidak begitu tertarik dengan musik.” Saskia mencoba ngeles. Ia hanya belum siap jika harus ditawari bergabung.
    “Tidak tertarik dengan musik? Begitu ya.” Fleu mengulang kata-kata Saskia karena suaranya agak kecil.
    “T-tapi sekarang ini aku sedang mencari klub yang cocok untukku. Mungkin kalau aku berubah pikiran, aku akan coba kembali.”
    “Baiklah. Aku akan menunggumu.”Fleu melepas tangan Saskia.
    “Sampai nanti.” Saskia melambaikan telapak tangan sambil beranjak pergi.
    “Ya.”

    Fleu kembali ke dalam dan menutup pintu.

    ====break====

    Laki-laki afro, tinggi, berkacamata hitam, mengenakan headset di telinganya, sedang memainkan game portable di dalam kelas. Ia sedang duduk di kursi pojok kiri belakang yang paling dekat dengan jendela yang disebut ‘mainstream desk’ dalam dunia per-anime-an, walaupun sebenarnya ini cerita ini bukan anime tapi karya tulis. Headset yang ia pakai tidak mengeluarkan lagu, tetapi mengeluarkan suara dari game yang sedang ia mainkan. Kabel headset dicolok ke game portable tersebut. Ia sedang bermain game semacam kapal-kapalan. Dimana karakter berupa sebuah kapal luar angkasa yang menembakan peluru tanpa batas sambil menghancurkan objek-objek di depannya sambil menghindari tembakan dari objek-objek tersebut. Namun bedanya yang dimainkan bukan pesawat tetapi manusia. Lebih tepatnya wanita yang berpakaian dan berambut putih sambil membawa pet berupa harimau putih. Ia juga tidak terbang di luar angkasa tapi di atas perkotaan. Hmm... kelihatannya ini model game terbaru.
    Dengan lihai laki-laki itu memainkan game yang ia mainkan. Butir-butir peluru yang hampir memenuhi layar itu bisa dihindarinya dengan gesit. Bos pun dapat segera ia kalahkan dan stage berakhir.
    Sejenak ia melepas pandangannya dari layar monitor game. Ia memperhatikan seisi kelas. Di dalam kelas itu nampak sepi dan hanya ada dia sendiri.

    ‘Kelihatannya pelajaran dimulai besok.’

    Dia melihat keluar jendela yang sengaja ia buka. Burung-burung berkicau dengan merdu.

    ‘Mungkin aku akan bermain dulu sebentar lalu pulang.’

    =bersambung=
     
    s4skiazh likes this.
  4. Dejiko

    Dejiko 6 years old Staff Member

    2.326
    547
    253
    Di ruang latihan klub pemanah, ada seorang perempuan yang sedang berlatih. Ruangan itu berbentuk memanjang. Jika dilihat dari pintu masuk, hanya perlu berjalan beberapa langkah dari lantai pembatas alas kaki hingga akhirnya sampai ke sebuah teras yang menghadap ke kanan. Terasnya sendiri hanya sepanjang 2 meter dengan lebar 4 meter namun halamannya mencapai hingga 15 meter. Dan halaman itulah yang dipakai anggota klub pemanah untuk berlatih. Ruangan ini dibuat dengan gaya jepang dimana para anggota sendiri mempelajari gaya pemanah ala jepang. Di sebelah kiri alias di belakang teras terdapat ruangan yang ditutupi dengan pintu geser. Ruangan itu sering dipakai untuk kegiatan teori, rapat, atau semacamnya.

    Perempuan itu memakai pakaian ala pemanah jepang. Dan di telapak tangannya ia telah memakai sarung tangan khusus untuk melindungi jari-jarinya yang lentik dari menarik anak panah. Kelihatannya perempuan itu sedang sendirian di tempat yang cukup besar itu. Ia telah mengambil ancang-ancang layaknya pemanah sambil memegang busur dan panahnya. Dengan tenang ia berkonsentrasi membidik sebuah sasaran yang ada di ujung tembok. Setelah ia lepaskan anak panahnya, anak panah itu melesat dengan cepat dan menancap di titik merah yang ada di tengah lingkaran. Setelah itu ia merilekskan tangannya sebentar.

    “Lama tidak bertemu, ya. Deji.”

    Perempuan itu berbicara sambil melihat kedepan. Dan rupanya ia tidak bicara sendiri. Seorang laki-laki memang ada di sebelah kanannya. Ia bersandar di sudut dinding gelap yang tidak terkena sinar matahari teras namun wajahnya masih terlihat. Ia melipat kedua tangannya di dada. Laki-laki yang dipanggil Deji itu ternyata adalah Ketua OSIS yang tadi berpidato dan membantu OSIS di ruang auditorium.

    “Maaf tidak mengabarimu satu bulan ini.”
    “Tidak perlu risih. Aku sudah tahu kalau kamu akan baik-baik saja.” Perempuan itu sedikit memutar tubuhnya ke arah Deji sambil berbicara padanya.
    “Apa kau selalu kemari semasa liburan?” Tanya Deji.
    “Tidak. Kenapa aku harus mengorbankan masa libur cuma untuk kemari?”
    “Cuma bertanya. Siapa tahu kamu orangnya kurang kerjaan dan suka menyelinap kemari.”
    “Apa kau bilang?” Perempuan itu merasa tersinggung. Namun ia tidak kehilangan wajah tenangnya. Ia mengelap keringat di keningnya dengan lengan baju. Bersamaan dengan itu Deji mendekati perempuan tersebut dan mengulurkan botol minuman padanya.

    “Kenapa kau datang kemari?” Perempuan itu bertanya sambil menerima botol minuman dari Deji.
    “Bukan apa-apa.”
    “Bukan apa-apa? Sekarang siapa yang kurang kerjaan di sini?” Perempuan itu menyeringai.
    “Yah, mungkin kau benar.” Deji mengalihkan wajahnya ke arah teras sambil menikmati cerahnya sinar matahari. Jari di tangan kanannya agak ia rapatkan dan diletakan tegak lurus di atas keningnya.

    “Maaf jika aku mengganggu latihanmu. Sampai jumpa, Kurumi.” Deji mengangkat tangan kirinya lalu berjalan ke arah pintu keluar.
    “Oh, kau sudah mau pergi? Kupikir kau datang kemari karena mau mengantarku pulang.” Sekali lagi perempuan yang dipanggil Kurumi itu menyeringai. Deji menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.
    “Itu cuma pemikiranmu saja.”
    “Apa otakmu sudah membusuk karena satu bulan tidak masuk sekolah? Mana mungkin kamu membelikanku minuman ini kalau kamu tidak tahu aku ada di sini.” Kurumi menggoyang-goyang botol minuman yang ia pegang. ”Tunggulah di sini. Aku berganti pakaian dulu.”

    Kurumi beranjak pergi menuju ruang belakang. Meninggalakan Deji yang masih berdiam di tempat ia berdiri. Deji duduk di teras sambil menikmati pemandangan dan langit. Ia baru menyadari kalau tubuhnya juga agak lelah setelah acara dan pekerjaan tadi.

    Setelah menunggu beberapa menit Kurumi pun muncul.

    “Terima kasih telah menunggu.”

    Ketika Deji menoleh ke arah Kurumi, ia terkejut karena Kurumi muncul bukan dengan memakai seragam sekolah. Tetapi ia mengenakan semacam gaun berwarna dominan hitam dengan les merah. Lengkap dengan kain penutup lengan dan asesoris semacam pendeng kecil di lehernya. Gaya rambutnya pun berubah dari yang tadinya memanjang kebawah dengan dua tangkai berubah menjadi twintail. Apa ini yang mereka sebut gothic?

    “Jadi kau kemari tidak memakai seragam sekolah?”
    “Aku memang tidak berniat belajar dari awal. Lebih tepatnya aku tahu kalau hari ini pelajaran belum dimulai.”
    “Siswa wajib memakai seragam sekolah ketika datang, pulang, atau berada di area sekolah selama periode pelajaran dari jam 7 pagi hingga jam 3 sore. Boleh mengganti seragam ketika jam olahraga dan kegiatan klub tetapi harus menggantinya dengan seragam sekolah kembali jika kegiatan telah berakhir.”

    Deji menyebutkan salah satu pasal peraturan sekolah mengenai tata tertib berseragam.

    “Oh, begitu. Jadi hukuman apa yang mau kau berikan padaku, Ketua OSIS?” Kurumi menyeringai.
    “Sebagai ketua OSIS aku berhak memberi sanksi padamu. Tapi karena itu kau, aku tidak ingin melakukannya.” Deji berdiri dari posisi duduknya sambil tersenyum.
    “Kau tidak harus selamanya berhutang budi padaku.”
    “Apa?”

    Sepertinya gumaman Kurumi tidak begitu terdengar oleh Deji. Ia menyipitkan matanya sambil membentuk senyum di bibirnya ketika melihat ke arah Deji.

    “Bukan apa-apa. Ayo pergi.” Kurumi berjalan melewati Deji. Dari belakang, Deji melihat ke arah Kurumi dengan ekspresi datar. Walaupun yang ia katakan tidak terdengar jelas di telinganya, tapi seolah-olah ia paham apa yang dimaksud Kurumi tadi.

    ====break====

    Akashiya telah kembali dari perjalanannya dengan membawa beberapa renteng(?) sachet kopi. Ia kembali ke ruang UKS untuk meletakan kopi-kopi itu ke dalam lemari yang biasa dipakai untuk menyimpan sachet kopi tersebut. Namun ketika ia masuk ke dalam ruang UKS, tidak ada orang di dalam ruangan tersebut.

    “Kemana perginya orang itu?” Akashiya bergumam pada dirinya sendiri. Yang dimaksud tentu saja guru penjaga UKS yang sesaat lalu masih ada di ruangan ini.
    “Mungkin urusannya sudah selesai terus dia langsung pulang.”

    Akashiya masuk ke dalam, membuka satu-satunya lemari yang ada di ruangan itu, dan meletakan kopi yang ia bawa ke dalamnya. Ia keluar dan menutup pintu ruang UKS. Kemudian berjalan ke tempat parkir untuk mengambil sepedanya. Dari perjalanannya menuju tempat parkir, ia menyadari kalau sekolah sudah mulai sepi. Termasuk siswa-siswa yang merupakan anggota klub. Suara-suara sudah tidak terdengar dari berbagai ruangan. Sebagian besar siswa mungkin sudah pulang untuk mempersiapkan diri menghadapi hari pertama menghadapi kehidupan sekolah baru besok.

    Sambil mengendarai sepedanya, sekali lagi Akashiya melewati pagar depan sekolah yang terbuka lebar tanpa penjaga. Perjalanan pulang sekolah menggunakan sepeda memang paling nyaman karena setelah mengayuh beberapa puluh meter, turunan yang cukup panjang menanti di depannya. Turunan itu memang tidak terlalu tinggi. Kemiringannya hanya sekitar 10 derajat. Namun yang terpenting adalah tidak perlu mengayuh pegas sepeda lagi ketika melewati jalan ini dari arah sekolah. Lain cerita kalau perjalanannya menuju sekolah. Sekarang Akashiya telah berada di jalan menurun tersebut. Ia berhenti memutar pegas dan hanya fokus dengan stir sepeda. Namun betapa terkejutnya dia ketika seekor anak kucing melintasi jalan dan berdiri searah dengan posisi laju sepeda.

    “Awas!!”

    Akashiya berteriak namun anak kucing itu tidak bergeming. Akashiya memutar paksa stir sepedanya ke arah kiri dan membuatnya menikung tajam. Untungnya ia dapat menghindari menabrak anak kucing itu. Namun ia kehilangan keseimbangan dan roda depan sepedanya menyerempet trotoar sehingga membuatnya terjatuh.

    “Ahh... aduh.”

    Anak kucing tadi mendekati Akashiya yang masih merintih di tanah. Ia mendekati wajah Akashiya lalu menjilatinya.

    “Ahaha... aw aw.” Rupanya anak kucing itu menjilati pelipis Akashiya yang memerah karena terluka sehingga membuatnya sedikit merintih. “Kau tidak apa-apa, kan?” Akashiya menanyai anak kucing itu. Dalam situasinya seperti ini ia masih mengkhawatirkan keadaan si anak kucing daripada dirinya. Anak kucing itu membalas dengan suara ‘meow’ khasnya.

    “Syukurlah kalau begitu.”

    Akashiya kembali bangkit sambil membawa sepedanya. Kelihatannya sepedanya masih utuh dan masih bisa digunakan. Ia kembali melanjutkan perjalannya.

    ====break====

    “Aku pulang.”

    Rie membuka pintu rumah. Baru saja ia hendak menaiki tangga, sapaan dari seseorang di ruang tamu menghentikan langkahnya.

    “Selamat datang, Rie.”
    “Kakak?! Belum pergi kuliah?”

    Rie berjalan mendekati pintu yang mengarah ke ruang tamu.

    “Belum. Mungkin sebentar lagi.” Ia menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan waktu jam 12 kurang sepuluh menit.

    Pria yang dipanggil kakak oleh Rie sedang duduk di sofa ruang tamu sambil membaca buku. Kelihatannya ia lebih dewasa beberapa tahun dari Rie namun wajah masih terlihat muda. Tubuhnya sekitar 20 cm lebih tinggi daripada Rie. Ia menutup bukunya dan meletakannya di atas meja.

    “Emm... begitu.”

    Pria itu berdiri dari sofanya lalu berjalan menuju keluar ruang tamu.

    “Sebentar lagi aku akan pergi. Sebaiknya aku bersiap-siap.”

    Rie mundur beberapa langkah untuk membiarkan kakaknya lewat. Ketika kakaknya hendak menaiki tangga, Rie langsung memanggilnya.

    “Kakak, nanti malam mau makan apa? Nanti malam pulang, kan?”
    “Hmm... apa ya? Buat saja apapun yang kamu mau. Pasti aku makan.”
    “Tapi nanti kakak pulang, kan?”
    “Entahlah. Kalau sekarang sih aku memang tidak ada janji. Tapi akhir-akhir ini kegiatan kampus semakin merepotkan. Oh, iya. Kalau memang kau ada kesibukan dengan sekolahmu sebaiknya tidak usah memaksakan diri”
    “Hari ini masih hari bebas. Kalau besok mungkin aku juga tidak punya banyak waktu luang. Makanya hari ini aku...” Rie menunduk lesu. Kakaknya yang baru naik beberapa anak tangga kembali turun mendatangi adiknya itu.
    “Kalau begitu nanti malam buat ikan yang segar. Terus tambahkan sup juga. Nanti malam aku akan pulang, oke?”

    Rie tersenyum lebar dan ia pun mengangguk. Kemudian kakaknya membelai kepalanya dengan lembut.

    “Kau sudah semakin dewasa, Rie. Aku bangga padamu.”

    Rie terlihat senang ketika kepalanya dielus oleh kakaknya.

    =bersambung=
     
    s4skiazh likes this.
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page