Share  [Cerpen] Aku tidak sendiri... -一人じゃない...-

Discussion in 'Tulisan' started by Kannazuki_SOLA, 6 June 2017.

  1. Kannazuki_SOLA

    Kannazuki_SOLA Member

    105
    19
    93
    Introduce -はしがき-

    Bisa dibilang kisah ini cukup klasik karena terjadi di rumah...yap! meskipun terkesan klasik,inilah kisah yang Misaki alami selama bertahun-tahun di rumah kesehariannya. Kalau dipikir-pikir,kenapa penulis cerita horror (Termasuk aku) sering menjadikan rumah sebagai seting utama,karena memang benar,kisah horror sering kali bermula dari rumah atau bangunan kosong lain yang ‘dulunya’ di tinggalkan begitu saja oleh pemiliknya

    Tapi kita bukan rumah membahas tentang rumah kosong. Melainkan ‘Hitori Kakurenbo’ (Petak umpet bersama boneka hantu) Yah, siapa yang gak tahu main petak umpet? Pasti kamu tahu dong, kalau gak tahu berarti masa kecilmu kurang bahagia haha. Umumnya main petak umpet dilakukan oleh empat, lima bahkan lebih pemain. Di mana mereka bersembunyi di tempat aman setelah seeker berhitung satu sampai sepuluh, lalu si seeker mencari salah satu temannya. Bila tempat persembunyian salah satu temannya ketemu maka giliran dia yang menjadi seeker. Namun, apa jadinya kalau bermain petak umpet di lakukan malam-malam sendiri? Penasaran, kan. Duduk yang manis, ya dan selamat membaca.

    Cerita ini hanya fiksi belaka, apabila ada kesamaan nama, tempat, dan waktu semata-mata hanya kebetulan semata.

    -シノプシス-
    Sakamoto Misaki, anak perempuan kelas 5 Shougakkou (SD), baru saja pindah rumah dari Tokyo ke kampung halamannya bernama kota Hachinohe saat Misaki naik ke kelas 6, suasana di sana jelas berbeda 180 derajat dengan kota metropolitan. Alasan keluarga Sakamoto pulang kampung dan tinggal di bekas rumah neneknya adalah tidak ingin mengontrak rumah di Tokyo dengan biaya hidup sangat mahal, dan hiruk pikuk perkotaan lain yang bikin stress. Mereka ingin mencari suasana damai dan lingkungan baru yang bikin tenang bersama keluarganya.

    Nenek Misaki sudah meninggal dua tahun yang lalu karena penyakit kanker. Keluarga Sakamoto sudah memesan kepada Toyama (Adik sepupu dari Fumizuki atau papa Misaki) untuk merombak sedikit rumah peninggalan orang tuanya tersebut menjadi rumah dua lantai sebelum keluarga Sakamoto menempatinya. Keluarga Sakamoto merantau ke Tokyo untuk bekerja, dan Misaki lahir di Hachinohe lalu dibesarkan di Tokyo, setiap tahun atau libur musim dingin mereka pulang ke Aomori untuk bersilaturahmi bersama keluarga yang lain. Semenjak menempati rumah tersebut, keluarga Sakamoto merasa ada yang janggal, terutama Misaki yang paling sering merasakannya, ia menjadi pribadi yang pendiam dan tertutup, tidak seperti Misaki yang dulu saat di Tokyo yang ceria dan enerjik. Di sana Misaki sering bermain bersama Nanami (Kakak sepupunya) sampai akhirnya mereka berdua iseng memaninkan Hitori Kakurenbo (Permainan memanggil ‘mahkluk lain’) beberapa jam setelah mereka main permainan tersebut, Misaki mempunyai seorang ‘teman’ yang tak kasat mata yang ia beri nama ‘Mei’, pada awalnya Misaki merasakan gangguan-gangguan aneh, seperti bisikan, benda bergerak, perubahan suhu dan kejanggalan lainnya yang ‘mungkin’ hanya Misaki sendiri yang mengalaminya. Namun, tidak butuh waktu lama, Misaki sudah terbiasa terhadap gangguan-gangguan tersebut, dan menganggap ‘Mei’ itu sebagai sahabat gaibnya...
    Nama lain dari permainan itu adalah petak umpet. Tapi tidak seperti petak umpet biasanya, karena banyak pantangan yang harus dijalani. Salah satunya tidak boleh salah satu pemainnya memutuskan berhenti. Kalau sampai terjadi, taruhannya mungkin nyawa.

    Bergulirnya musim di Hachinohe, satu persatu anggota keluarga Sakamoto yang lain mulai menunjukan gelagat aneh semenjak menempati rumah barunya itu, membuat Misaki harus berpikir keras untuk memecahkan misteri di neneknya tersebut. Mampukah Misaki memecahkan misteri di sana? Apakah keluarga Sakamoto ada hubungunnya dengan semua misteri di rumah tersebut
    ?..[/SINOPSIS]
    PROLOG -物語-
    Misaki pindah dan menetap di rumah almarhum neneknya di kota kecil bernama Hachinohe prefektur Aomori pada musim semi tahun 2007, karena Fumizuki (Papa Misaki) di mutasi dari kantornya di Tokyo ke Aomori karena di sana sedang kekurangan tenaga. Sesampainya di sana Misaki melihat rumah almarhum neneknya yang sudah kosong selama satu tahun, setelah neneknya wafat dua tahun lalu rumah itu dibiarkan kosong begitu saja oleh saudara-saudara di sana, sebelumnya Toyama (Adik sepupu Fumizuki) dan keluarga yang menempatinya. Namun, mereka memutuskan menempati rumahnya sendiri, alasannya bila mereka menempati rumah orang tuanya sementara Toyama juga punya rumah, untuk apa menempati rumah orang tua (Kecuali anak Toyama sudah berkeluarga.) Dulunya rumah tersebut pernah disewakan menjadi home stay karena dekat dengan tempat wisata, seperti pemandian air panas Suka-yu onsen, situs Kamegaoka, hiking di gunung Suiren numa, air terjun Anmon, melihat indahnya samudera fasifik di Tappizaki dan masih banyak lagi. Hanya bertahan sekitar tiga bulan, home stay-nya bangkrut, alasannya para tamu tidak betah di sana selain tempatnya kurang nyaman mereka juga merasa sering diganggu oleh ‘Seseorang’. Entah benar atau tidak, terkadang omongan Toyama tidak meyakinkan.

    Pertama kali Misaki melihat dusun Iwaki, distrik Nakatsugaru,Misaki merasa sangat asri dan nyaman,berada jauh dari hiruk pikuk kota Tokyo dengan udara yang bersih dan sejuk,dikelilingi pepohonan bahkan terdapat danau Towada yang di kelilingi barisan perbukitan Hakkoda yang bisa dijadikan bahan untuk cuci mata kala sedang lelah melakukan rutinitas sehari-hari.

    ****
    Suatu hari, karena rasa bosan yang melanda, Misaki iseng memainkan sebuah boneka beruang miliknya, memang tidak ada yang aneh anak perempuan bermain dengan boneka. Tapi, cara ia memainkan boneka itu tidak biasa, Misaki menyebutnya “Hitori Kakurenbo” Beberapa orang menyebut permainan itu misterius atau ada kesan mistisnya. Permainan tersebut sangat aneh, Misaki menamai boneka miliknya dengan ‘Mei’ cara memainkannya (Tidak untuk ditiru, ya, Gan, atau tanggung sendiri risikonya, haha) siapkan sebuah boneka yang menyerupai mahkluk hidup, pisau, beras, gunting kuku, seuntai benang merah dengan jarum jahit, air garam dan ember.

    Suatu malam, Misaki iseng ke kamar mandi bersama Mei (Boneka beruangnya) di sana ia membelah perut Mei dengan pisau cutter untuk mengeluarkan kapas di dalamnya, ia lalu menukar isi boneka dengan beras dan potongan kukunya. Kemudian Misaki menjahit Mei dengan benang merah dan menaruhnya di kamar mandi. Jam tiga dini hari Misaki pergi ke kamar mandi (Bukan untuk buang air, kamu tahu maksudku, kan) di sana ia mengisi ember dengan air dan menaruh Mei di dalamnya. Misaki memegang Mei dan meneriakinya dengan lantang..”ATASHI GA TOMODACHI NI NARITAI! (AKU INGIN KAU MENJADI TEMANKU!) kemudian Misaki meletakan Mei dalam air, dan mematikan lampu seluruh rumah, kecuali TV...ya, Misaki sengaja menyalakan TV malam-malam bukan untuk menonton bola atau film dewasa, tapi channel bersemut (Ia menekan tombol 99 pada remot TV, yang menampilkan latar warna hitam putih secara horizontal yang bergerak-gerak seperti semut.) Kemudian Misaki menutup mata dengan kedua tangannya sambil berhitung 1 sampai 10 dengan pelan. Setelah itu ia kembali ke kamar mandi untuk meneriaki Mei. “Konnochiwa, Mei-Chan! Hajimemashite wata... (Hai, Mei! Salam kenal ak..)” belum sempat ritual aneh Misaki selesai, Yuki (Abangnya Misaki) telah memergokinya. “Oiii, nani o shiteru. Baka! (Eh, lagi ngapain. Bodoh)” Yuki memandang adiknya dengan aneh. (Yaiyalah, ngapain malam-malam teriak gak jelas, lampu di matikan dan TV dibiarkan menyala.) Yuki menghampiri Misaki dan membuang Mei ke tempat sampah. “Oi, apa-apaan ini!? Kau sudah gila, ya. Kalau ketahuan papa bisa celaka kau, dasar bodoh!” Yuki gusar melihat tingkah aneh adiknya tersebut seraya menuju tempat sampah luar untuk membuang Mei, sebenarnya Yuki sudah tahu bahwa Misaki memainkan Hitori Kakurenbo yang menurutnya adalah permainan orang sakit jiwa. “Sekarang jangan ke mana-mana. Tidur! aku kunci pintu supaya kau gak berbuat aneh lagi.” Yuki mengunci pintu kamar agar Misaki tidak berbuat aneh, Misaki hanya diam karena malu aksi bodohnya ketahuan, beruntung hanya Yuki, kalau sampai papa dan mamanya juga melihat, pagi harinya Misaki harus dibawa ke dokter psikolog untuk memeriksa kejiwaannya haha.

    Pagi hari sebelum berangkat sekolah, Misaki sempatkan melihat tempat sampah. Ternyata Mei si boneka beruang miliknya sudah tidak ada, tempat sampah kosong. Fujisaki mengatakan petugas kebersihan sudah mengangkut sampah jam 6 tadi. Misaki kesal terhadap Yuki selama seharian mereka tidak saling sapa bahka bicara.

    Memang sih hanya boneka, tapi sebenarnya permainan Hitori Kakurenbo tersebut belum selesai. Yah, bagaimana lagi sampah sudah di angkut tidak ada yang Misaki bisa perbuat selain mengiklaskannya, toh hanya permainan. Malam pertama mereka tinggal di rumah tersebut, semuanya terasa sangat normal dan bahagia,aroma cat yang belum kering,tangga yang masih dilapisi semen, debu yang menyesakkan nafas,ruang-ruang yang dipenuhi barang-barang matrial,dan pencahayaan seadanya. Saat itu,bagian belakang rumah mereka masih sawah dengan beberapa pepohonan.

    Keanehan baru mulai terasa pada sore hari keesokan harinya,pada saat itu sekitarjam limasore,Misaki baru pulang sekolah dengan naik sepeda. Saat sampai di rumah, Fujisaki (Mama Misaki) menyuruh putrinya itu untuk meletakkan sepeda di belakang agar aman. Pada saat Misaki sedang meletakkan sepeda,ia mendengar bunyi“duk-duk”pada bagian belakang rumah dekat tower penampungan air. Pada saat itu Misaki berpikir mungkin Yuki sedang memukul sesuatu. Namun, karena penasaran,gadis kecil itu mencoba melihat ada siapa di belakang rumahnya, tentutidak ada siapa-siapa,bahkan di sana Misaki mengetahui bahwa ternyata ada tower air berdiri dengan kokohnya di bagian belakang rumah dekat pohon apel yang belum musim,sekilas tidak ada yang aneh namun saat Misaki mendekat, seperti ada siluet hitam bersembunyi di balik tower dan memanggil nama Misaki dengan suara seperti anak kecil, pas Misaki menghampiri bayangan dan suara itu menghilang.

    Pada saat makan malam, Misaki bertanya pada Fujisaki,tentang permainan Hitori Kakurenbo awalnya beliau tidak tahu, namun setelah Misaki menjelaskannya beliau paham. Fujisaki pernah melihat temannya main itu, menurut Fujisaki Hitori Kakurenbo adalah permainan memanggil mahkluk halus, siapa pun yang memainkannya maka harus menerima risikonya. Misaki sedikit bergidik, ia teringat pada Nanami yang mengajaknya bermain Hito Kakurenbo beberapa hari lalu, bahwa untuk mengakhiri permainan tersebut Misaki harus minum air garam, tapi jangan ditelan tahan di mulut lalu carilah boneka yang Misaki jahit pakai benang merah, karena kemungkinan boneka tersebut bisa berpindah tempat yang tak terduga. Setelah ketemu Misaki harus menyemburkan air garam pada mulutnya ke boneka tersebut lalu katakan. “Katta! (Aku menang!)” dan yang terakhir Misaki harus membakar boneka tersebut agar tidak dihantui. Permainan yang sangat aneh, tapi Nanami pernah memainkannya dia mengatakan awalnya sangat menyeramkan, dia pernah mendengar ada suara dan melihat penampakan ‘mereka’ tapi Nanami berhasil menyelesaikannya dengan baik. Misaki mulai cemas karena ia belum menyelesaikan permainan tersebut, seharusnya Misaki melakukannya saat tidak ada orang di rumah agar tidak ada yang mengganggu. Yah, namanya juga nasi telah menjadi bubur, tidak ada yang Misaki bisa lakukan, kecuali ia menjadi petugas kebersihan untuk mengorek sampah di TPA mencari si Mei yang belum tentu ketemu. Tapi, Misaki tetap berpikir positif, itu hanya permainan soal misteri yang menyelimuti Hitori Kakurenbo hanyalah mitos menurut Misaki. Ia akan tetap merahasiakannya jangan sampai orang lain tahu, cukup Misaki dan Yuki saja.

    ****
    Besoknya saat belajar di kamar, Misaki mendengar seperti ada seorang menangis dari balik lemari, ketika ia buka kosong tidak ada orang. Tiga jam kemudian, saat Misaki sedang tidur di kamar, ia mendengar seperti ada suara gaduh di bawah tempat tidurnya, saat ia nengok ke bawah tidak ada apa-apa, hanya ada sepatu sekolah miliknya saja, padahal jelas sekali seperti ada seseorang bergerak di bawahnya. Besoknya saat sarapan di kotatsu (Meja penghangat) Misaki merasakan ada seseorang memegang kakinya dengan erat, tangannya dingin sekali seperti mayat, padahal ia yakin hanya sendiri di ruangan itu, saat Misaki lihat ke dalam kotatsu.. ternyata kosong. Lalu saat di toilet sekolah Misaki mendengar seperti ada orang sedang bernyanyi di balik bilik toilet suaranya sangat jelas seperti suara Tsubaki teman sekelasnya. Antara takut dan ragu, Misaki mencoba mengetuk pintu. Namun, baru saja satu ketukan Tsubaki menyapanya. ‘’Doshitan desu ka, Misaki?(Kenapa Misaki?)’’ Misaki terkejut karena Tsubaki berdiri di belakanngnya. Jadi, kalau Tsubaki ada, terus di dalam siapa? Misaki bertanya dalam hati sembari perlahan membuka pintu toilet, ternyata kosong. Tsubaki memandang Misaki aneh. Sepanjang perjalanan pulang Misaki terus bertanya-tanya dalam benak-nya, tentangkejanggalan yang Misaki rasakan akhir-akhir ini seperti suara dan gangguan aneh lainnya, dan sejak saat itu,Misaki mulai merasa tidak sendirian.

    ****
    Sudah empat hari Sakamoto sekeluarga tinggal di rumah hampir jadi tersebut, sedikit demi sedikit, barang-barang sudah mulai dirapikan, lampu sudah dipasang, barang yang mudah pecah dikeluarkan dari kardus, bahkan lantai dua sudah bisa ditempati karena plafon sudah dipasang, kebetulan waktu itu adalah hari minggu jadi keluarga Sakamoto disibukan dengan kerja bakti bersih-bersih rumah, seperti menyapu, mengepel dan menyeka perabotan yang berdebu dengan kemoceng dan kanebo. Sudah empat hari Misaki masih penasaran dengan suara yang pernah ia dengar akhir-akhir ini.

    Malam harinya Misaki melihat ada seekor burung gagak. Ya, burung gagak! Sedang bertenggar di pohon apel halaman belakang rumah, saat itu Misaki sedang belajar untuk persiapan sekolah besok. Sangat klasik bukan? Yap, tapi itulah yang benar-benar terjadi. Burung itu tidak mau diusir, bahkan Fumizuki sampai melempar botol bekas air mineral yang beliau beli di mini market sore tadi untuk mengusir burung itu agar pergi, karena Fumizuki terusik dengan keberadaan burung hitam itu di rumah. Akhirnya burung itu terbang dan bertengger di tower air belakang rumah, Misaki dan Fumizuki membahas tentang burung itu. “Kenapa, ya, Misaki, ada burung gagak datang malam-malam begini? Ayah jadi merinding, Misaki..” Ujar Fumizuki (Papa Misaki) Sambil memandang langit malam mengarah ke tower di mana gagak tadi nangkring. “Entahlah, yah...sudahlah jangan dibahas lagi, mungkin itu hanya kebetulan, yah. Misaki mau melanjutkan menulis dulu, ya, ayah.” Ujar Misaki sambil tersenyum dengan memejamkan matanya ala karakter anime ber-genre shoujo kesukaannya. Saat itu Fumizuki memaklumi kehadiran burung tersebut, karena memang di rumah almarhum neneknya itu merupakan pedesaan jadi wajar banyak binatang yang tidak ada di kota bermunculan.

    20:05. Masih di malam yang sama, setelah menyelesaikan tugas sekolah, Misaki menemani Fujisaki (Mamanya. Oh ya, untuk panggilan papa, mama dan abang Misaki sengaja aku sebut nama asli agar enak tidak terlalu kaku bacanya haha) untuk mengambil perlengkapan alat baca-tulisnya yang terletak di kamar atas, sedangkan Fumizuki pergi keluar untuk membeli roti di mini market 24 jam, bersama dengan Yuki (Abang Misaki yang sudah kelas 8 SMP tahun pada tahun itu) Setelah mereka pulang Misaki ingin ditemani naik ke lantai dua karena Misaki masih takut kalau harus naik ke atas malam-malam sendirian, ia trauma karena mendengar suara ketokan misterius kemarin
    .

    “Payah kau Misaki, naik tangga saja tidak berani, huu!!.” Ujar Yuki sambil meremehkan Misaki. “Misaki, di Tokyo kamu, biasa-biasa saja kalau naik ke lantai dua, bahkan saat lampu rumah padam di tengah malam, kamu tidak takut.” Ujar Fumizuki sambil meraba kepala putrinya tersebut. “Bedalah, yah...rumah di Tokyo, kan, bagus dan ramai. Kalau di sini suasananya berbeda seperti ada seseorang yang mengintipku dari atas sana.” Ujar Misaki sambil menunjuk ke ujung tangga yang remang karena pencahayaan di sana hanya menggunakan lampu bohlam 8 watt. “Mama, kan di atas, Misaki. Kenapa takut, naik saja, mama saja berani di kamar sendirian.” Bujuk Fumizuki, Misaki hanya tertunduk tidak berani menoleh ke arah tangga. “Alah, dasar penakut! Ayo, yah, kita naik. Biar si Misaki kita tinggal di sini.” Ujar Yuki sambil menarik lengan Fumizuki untuk naik ke atas meninggalkan adiknya sendirian di bawah. Namun, Misaki akhirnya luluh juga, ia ikut naik ke atas menyusul mereka.

    Saat mereka menaiki anak tangga ke lima, tiba-tiba saja lampu seisi rumah padam, Misaki teriak karena seperti dugaannya pas naik tangga lampu mati. (pada saat itu masih ada masalah pada kelistrikan rumah, sehingga saklar listrik utama sering mati). Yuki pun kembali untuk mengambil senter yang di letakan di atas kulkas dan melanjutkan perjalanan ke atas dengan cahaya senter yang membelah gelapnya rumah.

    Saat mereka sampai di lantai dua dan membuka pintu kamar yang ada Fujisaki di dalamnya, sayup-sayup Misaki mendengar dengan sangat jelas ada suara langkah kaki cukup kencang sekitar 30 desibel. Apakah ayah dan abang juga dengar, ya? Misaki tidak berani bertanya langsung pada dua pria di sampingnya, takutnya Misaki dianggap aneh. Sambil mengetuk pintu Misaki terus mengamati sekitar dari mana sumber suara langkah tersebut. ternyata,suaranya berasal dari belakang mereka persis dari arah tangga yang mereka naiki, bukan dari kamar Fujisaki. Saat itu Misaki yakin Fumizuki juga mendengar suara itu, tergambar dari tatapan matanya yang tengah menyelidik, sedangkan Yuki sedang asik memainkan ponselnya. Saat itu Fumizuki mencoba tenang, agar Misaki tidak panik dengan menepuk pundak Misaki dua kali.

    Setelah mengambil barang-barang dengan tergesa-gesa, masih dalam suasana gelap karena listrik masih padam, Misaki dan Fujisaki keluar kamar sedangkan Fumizuki dan Yuki sudah turun untuk menonton film favorite-nya yang tayang tengah malam di bioskop daerah disrik Kamikita dengan naik bus. Fujusaki mencoba menutup pintu. Tidak ada keanehan memang tapi, saat Misaki mengarahkan senter ke arah Fujisaki, putrinya dibuat bingung kenapa wanita yang mengenakan piyama warna pink itu terdiam dalam posisi sedang menutup pintu seperti patung? Namun pintu belum beliau tutup masih dalam keadaan kedua tangan mengenggam gagang pintu. Misaki merasa ketakutan yang luar biasa karena belum pernah melihat ekspresi takut seperti itu, kuduk mulai merinding seperti tersiram segelas air dingin. Misaki melihat seakan-akan Fujisaki sedang berusaha sekuat tenaga menutup pintu, namun pintu itu kembali tertarik ke dalam, seakan-akan ada yang menahan pintu tersebut dari dalam kamar Fujisaki yang suatu saat akan menjadi kamar Misaki. Kemudian, Fujisaki mengatakan dengan nada memohon. “Sudahlah, sekarang izinkan kami untuk menempati rumah kami, maaf kalau kami mengganggu, tapi kami ini rumah kami sekarang..” Dan, kemudian barulah pintu geser itu bisa tertutup dengan lancar. Saat itu Fujisaki menghela napas sangat dalam dan kembali mengajak Misaki turun untuk kembali menyalakan saklar listrik di depan.

    23:31. Saat Misaki dan Fujisaki menunggu kepulangan Fumizuki dan Yuki suasana begitu panas padahal AC di ruangan itu dingin, Fujisaki hanya diam, bahkan alat baca dan tulis yang diambilnya tidak digunakan sama sekali, mereka tidak bisa tidur bukan karena gerah, entah mengapa rasa kantuk tidak dirasakan oleh Misaki. Anak dan Ibu itu hanya duduk terdiam di ruang keluarga sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing membuat suasana semakin mencekam.

    Begitu Fumizuki dan Yuki pulang pas jam 12 Malam dan hari berganti menjadi hari senin, Yuki langsung menuju kamarnya untuk tidur dan Misaki langsung menghampiri Fumizuki untuk menceritakan apa yang terjadi, “Pa, masa tadi pintu kamar di lantai dua mama tidak bisa menutupnya, seperti ada seseorang yang menahannya dari dalam, pa.” Misaki antusias bercerita tanpa merasa mengantuk sama sekali. Namun, Fumizuki hanya tersenyum dan Misaki melanjutkannya “Misaki sempat berpikir ada seseorang yang menyelinap ke rumah. Namun, setelah mama lihat, semua pintu benar-benar terkunci, dan benar-benar tidak ada celah untuk orang masuk ke dalam rumah.” Ujar Misaki sambil menggaruk tangannya karena digigit nyamuk. Namun Fumizuki tetap berusaha tenang dan menenangkan Misaki agar jangan berbuat yang aneh-aneh berhubung keluarga Sakamoto adalah penduduk baru di dusun tersebut.

    Hari demi hari mereka jalani tinggal di rumah tersebut yang akhirnya selesai dibangun satu bulan berikutnya, dengan beberapa gangguan seperti suara langkah kaki, suara burung gagak, dan suara kran air mengalir seperti ada orang yang menggunakan kamar mandi, namun setelah Misaki buka pintu kamar mandi itu suara air mengalir tersebut tidak terdengar lagi...tidak ada penampakan aneh dalam bentuk apapun. Sampai ada suatu benda yang menarik perhatian Misaki. Benda itu... to be continued
    Lukisan Kuda -馬絵画-
    Suatu hari sambil menonton acara kabuki di TV, Misaki dan Yuki sudah menempati kamar tidur mereka di lantai dua (Bukan di kamar kemarin malam yang pintunya tidak bisa di dorong oleh Fujisaki) dan tidak lagi sekamar bersama orang tua. Seharusnya, mereka memiliki kamar tidur sendiri-sendiri, namun Fujisaki bersikeras agar kedua anaknya tinggal di kamar yang sama,agar mereka bisa terbiasa saling berbagi dan selalu bersama,maka itu kamar tidur yang seharusnya punya Misaki,dibiarkan kosong,meskipun di dalamnya sudah diisi lengkap dengan kamar tidur,meja belajar, lemari dan radio. Jendela kamar itu berhadapan dengan tower penampungan air berada di halaman belakang rumah, jadi saat Misaki membuka jendela, ia akan melihat tower air dan pemandangan persawahan desanya. Kedua kamar itu terletak saling berhadapan. Pintu kamar kosong tersebut selalu terbuka,dimana saat kedua pintu itu terbuka,dari luar kamar Misaki dapat melihat ke dalam kamar kosong di hadapannya.

    Ada sedikit rasa parno ketika memandang kamar sebelah, di sana ada sebuah lukisan yang diletakkan di atas meja belajar. Misaki tahu betul lukisan bergambar kuda hitam sedang jalan di tanjung pinggir laut tersebut adalah pemberian teman SMA-nya Fujisaki dari Yamagata, berdasarkan cerita Fujisaki, lukisan itu merupakan hadiah ulang tahun yang diberikan oleh teman lama sekaligus mantan kekasihnya di Yamagata. Fujisaki tidak tahu apa maksud Kenichi (Teman lama Fujisaki) memberikan lukisan menyeramkan tersebut, bila lukisan itu diraba oleh tangan, maka akan berdebu padahal sudah di bersihkan sebelumnya dangan lap basah tapi tetap saja debu di permukaan lukisan itu tidak hilang-hilang, aneh. Fujisaki pernah mencium debu yang ada di lukisan itu, tenyata aroma debu pada benda itu berbeda dengan debu lain seperti aroma abu kremasi jenazah. Misaki tidak mengerti itu, tapi ia juga tidak mau percaya omongan Fujisaki, yang benar saja ada lukisan yang di taburkan abu jenazah? Gila. Entah apa maksudnya, namun setahun kemudian setelah Kenichi memberikan lukisan itu Kenichi meninggal secara misterius. Itu yang membuat kesan mistis lukisan tersebut bertambah, sebenarnya lukisan itu belum lama, bahkan Misaki, Yuki dan Fumizuki baru tahu hari itu bahwa diam-diam Fujisaki menyimpan lukisan yang selama setahun beliau simpan dan baru di keluarkan hari itu. Yang jelas,Kenichi pernah mengatakan bahwa lukisan itu sebaiknya disimpan karena dahulu ayah Kenichi percaya bahwa lukisan itu merupakan jimat untuk menjaga. Meskipun Fumizuki dan Fujisaki tidak pernah percaya akan makna ‘jimat’ tersebut,tapi karena barang peninggalan orang tua teman lama Fujisaki,ya disimpan saja. Apa maksud dari itu semua, apakah Fujisaki melupakan lukisan itu dan baru ingat sekarang? Mereka menyebut lukisan itu ‘Kuda Hitam’ karena kuda dalam lukisan itu tergambar seekor kuda bergerak dinamis dengan tatapan mata sang kuda tajam.

    Dimensi lukisan tersebut layaknya lukisan pada umumnya lebar 50 cm dan panjang sama 50 cm, tekstur dan warnanya rapi dan tidak belepotan dengan frame warna perak. Back ground sang kuda hitam pada lukisan itu seperti mendung, efek bokeh dan pencahayaan sempurna bila diamati lebih dalam itu tidak seperti lukisan, melainkan merupakan hasil potret kamera DSLR. Misaki ragu kalau itu lukisan karena bila dilihat lukisan itu nampak nyata dan bergerak, apalagi latar belakang sang kuda adalah pesisir pantai, Misaki merasakan pernah melihat pantai tersebut, tapi di mana? Baiklah, Misaki tidak peduli itu lukisan atau photo yang penting itu adalah hiasan ruangan. Di rumah baru Misaki terdapat 3 buah,namun yang berada di kamar kosong itu,sangat mencolok,karena mata sang kuda berwarna merah dan kakinya berjumlah tiga bukan empat. Entah si pelukis salah menambahkan atau hanya Misaki salah fokus, kenapa mata dan kaki sang kuda pada lukisan itu aneh dan itu menjadi nilai plus kemisteriusan lukisan tersebut.

    Kenichi, terakhir Misaki bertemu dengannya dua tahun yang lalu saat keluarga Sakamoto berziarah ke daerah Akita, saat itu Fujisaki sengaja mengajak Kenichi karena dia ingin berziarah juga ke makam para pendeta agama Shinto di sana. Kenichi itu asli Tsuruoka prefektur Yamagata memiliki kepribadian agak aneh, pria itu suka mengoleksi barang-barang mistik, seperti boneka Vodoe, peti mati lengkap dengan tulang manusia di dalamnya, boneka menyeramkan berada di setiap sudut rumahnya, bahkan interior rumah pria itu berwarna merah darah, sebelum menikah dengan Fumizuki, Fujisaki mengontrak rumah bersama Kenichi, saat itu mereka bekerja di perusahaan manufaktur. Setelah menikah mereka mulai berpisah Kenichi bekerja dan menetap di kota Sakata prefektur Yamagata dan Fujisaki merantau ke Tokyo, Fujisaki asli Tsuruoka Yamagata dan merantau ke Tokyo untuk kehidupan lebih baik, malah di Tokyo sebaliknya ternyata ibukota tidak menjamin penduduknya bahagia dan malah mendapat jodoh Fumizuki, setelah pacaran dua tahun akhirnya mereka menikah, Fumizuki asli Hachinohe prefektur Aomori. Karena biaya hidup di Tokyo besar, keluarga Sakamoto memilih kembali ke utara, alasan keluarga Sakamoto pindah ke Aomori selain mutasi Fumizuki adalah ingin hidup tenang dan bahagia bersama anggota keluarga lainnya.

    Setiap hari Misaki keluar kamar, pasti dapat melihat lukisan tersebut,hingga pada suatu hari Misaki merasa ada yang janggal. Mata sang kuda berubah menjadi hitamyang biasanya biasanya warna merah seperti kuda kesurupan,kenapa kali ini matanya menjadi normal? Misaki pun memutuskan untuk meraba mata sang kuda namun tidak berubah masih hitam khas kuda pada umumnya. Aneh, perasaan kemarin mata kudanya merah, kenapa sekarang berubah? Tidak ingin tenggelam dalam lamunan, Misaki memutuskan untuk menutup dan meninggalkan kamar kosong tersebut.

    Keesokan harinya,Misaki kembali melihat mata sang kuda itu berubah lagi, kali ini bukan warna matanya yang berubah tapi matanya terpejam...ya mata sang kuda dalam keadaan tertutup seperti sedang tidur sedangkan posisi sang kuda tidak berubah masih berjalan dengan tiga kakinya. Misaki yakin tidak ada yang memasuki kamar tersebut dan iseng menggambar mata kuda itu dengan alat tulis.

    Demi keamanan akhirnya Misaki memutuskan untuk membalikan dan menaburkan bedak di lantai kayu tepat di bawah lukisan tersebut. Sehingga,Misaki dapat mengetahui jika ada orang iseng menjahili lukisan kuda dan memasuki kamar kosong itu tanpa sepengetahuannya maka akan ketahuan setelah si pelaku menginjak butiran bedak lalu jejaknya terlihat di lantai. Kemudian,untuk meyakinkan bahwa tidak ada yang masuk ke kamar kosong tersebut,Misaki mengunci kamar,kemudian Misaki menyimpan kunci kamar sebelah beserta kunci cadangan di dalam ruang di lemari Misaki,dan ia kembali menggunci pintu kamarnya agar tidak ada yang masuk.​

    Fumizuki sempat bertanya kenapa pintu kamar kosong tersebut dikunci,Misaki menjawab sebaiknya dikunci saja daripada dibiarkan terbuka dan berdebu. Untunglah Fumizuki percaya saja ucapan anak keduanya tersebut dan orang lainnya di rumah tersebut tidak ada yang curiga dan membiarkan pintu kamar tersebut tertutup, sebenarnya kamar kosong itu diperuntungkan untuk Misaki, namun Misaki menolak dengan alasan pengap dan belum di plafon, Fumizuki mewacanakan jika kamar tersebut ingin di jadikan ruang minum teh saja dari pada tidak ada yang mau menempatinya, Misaki heran kenapa keluarga yang lain juga tidak mau menggunakan kamar itu...apakah mereka diam-diam juga sudah mengetahuinya? Atau misaki sengaja tidak diberitahukan mereka? Entahlah...
    ****
    Sepulang sekolah,Misaki bergegas mengecek kunci tersebut,dan,tentu saja,kunci tersebut masih ada di tempatnya. Lalu Misaki bergegas membuka pintu kamar kosong tersebut. Sesaat ketika Misaki membuka pintu kamar,ia merasa kamar itu terasa dingin,lebih dingin dari biasanya padahal sedang hangatnya musim semi, aneh...saat Misaki membuka pintu kamar sebelah,ia langsung terkesiap bukan main. Lukisan tersebut bukan hanya kembali dalam posisi semula,namun,mata sang kuda merah lagi dan yang tak kalah mengherankan lainnya kaki sang kuda sekarang sudah genap berjumpah empat! Sedangkan taburan bedak yang Misaki buat kemarin masih utuh tidak berubah atau tidak ada jejak di sekitarnya. Misaki kaget luar biasa, detak jantung Misaki berdegup cukup kencang, keringat dingin mulai mengucur setelah melihat pengalaman mistis tersebut.

    Semenjak kejadian itu Misaki tidak berani untuk menceritakan tentang lukisan itu dengan orang tuanya,karena Fujisaki kemarin sudah berpesan untuk tidak bermain-main dengan lukisan tersebut,jangan meletakkan apa-apa di sekitar lukisan kuda itu atau apa pun, meskipun di satu sisi,Misaki tidak percaya takhayul yang melekat pada lukisan, tapi ia percaya setelah melihat dengan mata sendiri, jadi asal muasal ‘Dia’ tidak hanya dari Hitori Kakurenbo, tapi juga dari sebuah lukisan, oleh karena itu kalau ada seseorang memajang lukisan di rumahnya, usahakan jangan lukisan makhluk hidup, seperti manusia atau binatang, konon katanya makhluk gaib suka bersembunyi dari balik lukisan-lukisan tersebut.

    Saat makan malam,karena tidak tahan,Misaki menceritakan apa yang terjadi secara detail. Fujisaki sontak memarahi Misaki atas apa yang sudah putrinya lakukan.“Sudah mama bilang jangan di sentuh mata kuda pada lukisan itu! Mama memang tidak percaya, tapi kita tidak tahu kalau memang ada apa-apa dari sananya!” Ujar Fujisaki gusar sambil melempar sumpitnya ke lantai. Fumizuki dan Yuki hanya diam melihat kelakuan Fujisaki. Setelah makan malam Fujisaki langsung melihat lukisan tersebut,dan beliau menyaksikan bahwa kaki sang kuda sudah bertambah menjadi empat dengan mata terpejam. “Ini memang kesalahan mama...mama lupa memberitahumu kalau tidak boleh menyentuh mata si kuda pada lukisan ini, asal kamu tahu Misaki, lukisan ini pemberian paman Kenichi dua tahun yang lalu. Dia adalah paranormal dan suka berhungan dengan arwah orang yang sudah meninggal...lukisan ini...ini lukisan terkutuk, Misaki...” Ujar Fujisaki dengan nada pelan agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka. Misaki hanya tertunduk menyesal. “Mitos soal abu jenazah pada lukisan ini adalah benar...paman Kenichi orang psikopat, dia adalah teman mama yang paling aneh, suka sekali dunia kematian dan percaya bahwa orang meninggal bisa hidup kembali dengan cara menaburkan abu jenazah mereka pada lukisan karyanya.” Ujar Fujisaki sambil menggeleng kepalanya. “Terus kenapa mama mau saja menerima lukisan ini! Benda ini berbahaya, mama!” Ujar Misaki. “Karena mama sudah tahu kalau sebentar lagi paman Kenichi akan meninggal!” Ujar Fujisaki sambil memukul dinding kamar, dan malam itu Misaki merasa sangat bersalah,namun Fujisaki juga tidak dapat berbuat apa-apa.

    Semenjak itu,suasana kamar kosong tersebut selalu terasa aneh,pintu kembali dibiarkan terbuka,meskipun lampu tidak pernah dinyalakan, meski itu malam hari, dibiarkan gelap begitu saja.

    BiasanyaMisaki tidur di kamar dalam keadaan pintu terbuka dan menghadap langsung ke kegelapan kamar kosong yang ada lukisan kuda itu,Misaki tidak merasakan apa-apa,biasa saja. Namun semenjak kejadian lukisan tersebut,ia selalu merasa tidak nyaman,baik pada siang yang terang maupun malam yang gelap. Misaki merasa seakan-akan ada sesuatu yang sedang memerhatikan gadis itu dari dalam kamar kosong tersebut. Misaki menceritakan perasaannya dengan Fumizuki,Fujisaki dan Yuki.Namun, mereka hanya menjawab seperlunya,bahwa mungkin itu hanya perasaan Misaki saja karena telah melakukan kesalahan. Hingga akhirnya pada suatu malam,Misaki dan Yuki sedang curi-curi waktu untuk bermain nintendo,saat itu tengah malam,orang tua mereka juga sudah tidur,kakak adik itu sengaja bermain tengah malam karena mereka pada saat itu dilarang untuk bermain nintendo setelah jam sembilan malam. Saat game sedang loading,suasana sangat hening,mereka mendengar suara aneh dari luar kamar,seperti suara benda bergesekan,lebih tepatnya seperti suara seseorang sedang mencakar-cakar daun pintu. Awalnya Misaki mencoba mengabaikan,namun saat Misaki melihat ekspresi penasaran pada wajah Yuki,Misaki meletakkan gadget-nya itu,dan mengajak Yuki untuk mengecek dan setelah dicek tentu saja suara itu menghilang dengan sendirinya.


    ****

    Misaki tetap tidak pernah merasa nyaman dengan kejadian aneh semenjak mereka pindah. Anehnya, kejadian aneh tersebut lebih sering terjadi pada Misaki, bukan pada Fujisaki, Fumizuki dan Yuki. Sejauh ini kamar kosong itu tetap dibiarkan kosong tak berpenghuni. Misaki tidak pernah melihat penampakan apapun, semua gangguan yang Misaki alami hanya berupa suara-suara dan perasaan takut saja. Padahal Misaki setiap tahun pulang kampung ke Aomori. Baru tahun itu ia merasakan ada keanehan di rumah almarhum neneknya.

    Kamar tidur bawah, yang dulu merupakan tempat mereka pertama kali tidur di rumah baru itu, juga dibiarkan kosong, yang pada akhirnya diberi judul ‘kamar tidur tamu’ hanya digunakan ketika kedatangan tamu yang menginap.

    Tak terasa sudah lewat dua bulan semenjak keluarga Sakamoto menghuni rumah itu, Misaki masih sering mendengar suara aneh dari kamar tersebut seperti suara benda jatuh, suara orang bernyanyi dan suara tawa, namun saat Misaki kontrol tidak ada apa-apa. Misaki bingung apa yang terjadi. Semua kejadian-kejadian tersebut membuat Misaki berpikir terlalu berat untuk anak seusianya.

    ****

    Suatu malam, Misaki tidak mengerjakan PR-nya dengan sungguh-sungguh (jangan ditiru ya) karena pikiran anak itu terus pada rasa penasaran tentang makhluk lain yang berada di rumah mereka. Antara dua kemungkinan apakah hantu dari permainan Hitori Kakurenbo atau hantu kiriman dari lukisan kuda Kenichi? Keduanya sama saja, sama-sama membuat takut, apalagi kalau mereka berdua ada jadi semakin merepotkan.

    Misaki mencoba mencocok-cocokkan apa-apa yang terjadi. Jika memang keanehan tersebut berasal karena kecerobohannya, namun kenapa lukisan kuda tersebut juga ikut menjadi sumber masalah? Namun, jika memang lukisan tersebut tidak ada apa-apa, dari mana asal suara-suara misterius tersebut? Sebaliknya, jika memang rumah itu tidak apa-apa, kenapa Fujisaki terkadang bertingkah aneh?

    Pikiran Misaki menjadi buntu, saat itu ia masih kecil. Pikiran Misaki terlalu rumit untuk memikirkan hal-hal tersebut. Akhirnya, karena hari sudah malam, Misaki memutuskan untuk tidur, tanpa menyelesaikan PR bahasa jepangnya.

    ****

    Hari yang sangat cerah bunga sakura bermekaran di luar sana membawa sedikit ketenangan di rumah, sebentar lagi musim panas merupakan moment yang paling ditunggu-tunggu Misaki karena akan libur panjang. Yuki masih berada di bawah nonton anime dan Fumizuki pergi memancing di Sauma, Fujisaki sedang bergelut dengan bumbu-bumbu di dapaur, dan Misaki memilih untuk menetap di kamar menikmati hari minggu sambil membaca novel, sungguh pemandangan yang klasik.

    Setelah puas membaca novel Misaki duduk di meja belajar membelakangi lemari pakaian.. Suasana kamar sepi karena hanya Misaki saja di atas. Misaki merasa ada yang memerhatikannya dari belakang. Selama beberapa menit, punggungnya terasa dingin seperti ada seseorang yang bernafas dari belakangnya, Misaki memutuskan untuk tidak bergerak, sampai sayup-sayup…Misaki mendengar suara wanita tertawa dengan sangat lembut, tapi hanya sebentar. Saking kagetnya, Misaki langsung lompat dari kursi dan menghadap ke lemari. Saat itu rasanya darah dalam tubuh anak itu seakan terhenti. Pintu lemari terbuka sedikit. Menyisakan celah sempit yang menampakkan kegelapan di dalam lemari tersebut. Perasaan parno Misaki semakin menjadi-jadi ketika dari dalam lemari yang ia perhatikan itu muncul sebuah tangan pucat. Kyaaaa!! Tanpa di komando Misaki teriak sangat kencang dan berlari ke bawah sampai akhirnya terpeleset pada anak tangga terakhir dan terjatuh.

    Setelah pertunjukan horror itu selesai, Misaki menjelaskan dengan terbata-bata pada Fujisaki dan Yuki, namun, Fujisaki justru marah besar dengan putrinya, dan Yuki malah menertawakan adik perempuannya, dan mengatakan bahwa Misaki aneh
    .

    Semenjak itu Misaki merasa sedih, karena disangka berbohong dan semenjak kejadian tersebut, Fumizuki, Fujisaki dan Yuki selalu menyalahkan Misaki, karena mereka menuduh Misaki selalu berpikir yang bukan-bukan. Padahal, saat Misaki sedang tidak merasa takut pun, gangguan tersebut datang pada dengan sendirinya. Fujisaki juga memarahi Misaki berulang kali, beliau mengatakan bahwa karena sifat Misaki yang penakut, maka ia selalu merasa diganggu. Bahkan pada saat Fujisaki sampai melarang Misaki untuk ikut nonton siaran horror di TV karena mereka yakin Misaki terpengaruh acara tersebut (Oh ya, sebentar lagi channel TV lokal akan menayangkan siaran horror selama musim panas, jika ketahuan Misaki akan siap kena semprot mamanya tuh haha) Padahal, Misaki benar-benar mengalaminya, bukan karena ia ketakutan. Dan lagi, karena Misaki berulang kali tidak dipercaya dan selalu ditertawakan, sepertinya semenjak saat itulah, Misaki menjadi orang yang tertutup. Terutama kepada keluarganya sendiri. Misaki sudah terlanjur tidak dipercaya. Seolah-olah semua cerita yang ia katakan hanya omong kosong, bahkan yang awalnya hanya cerita horror yang Misaki alami, sampai akhirnya cerita mengenai keseharian Misaki pun sering dianggap gurauan belaka oleh mereka, dan semenjak itu pula, Misaki selalu menyendiri di rumah, namun akan sangat ekspresif di luar ketika sedang bersama teman-teman di sekolah. Misaki menceritakan kisah gangguan yang ia alami kepada teman-teman sekolah, dan wali kelasnya, Hotaru-Sensei.

    Karena sering merasa dikucilkan di rumah sendiri, Misaki menjadi seseorang yang lebih banyak berkhayal dan menyendiri di rumah seperti pengidap hikkikomori. Misaki tidak memiliki teman di lingkungan rumahnya, jadi Misaki lebih banyak menghabiskan waktu sendiri di kamar seperti menonton anime, baca manga (Komik jepang) dan baca novel.

    Hari demi hari Misaki sudah mulai terbiasa dengan gangguan-gangguan tersebut. Misaki bisa lakukan hanyalah menepis rasa takut dan menghindari hal-hal yang memungkinkan akan terjadi gangguan. Namun, suara-suara itu tetap hadir, Misaki sempat merasa, apa mungkin anggota keluarga lain juga merasakannya? Namun mereka hanya pura-pura tidak tahu? Entahlah hanya mereka dan tuhan yang tahu.

    ****

    Hari senin, Misaki merasa lelah karena pagi tugas menumpuk dan ia tidak menyelesaikan PR menghafal kanjinya, jadi setelah pulang sekolah Misaki dihukum oleh Hotaru-Sensei membersihkan sekolah sendirian. Lalu pulangnya Misaki kesal, harus pulang sekolah dalam keadaan orang tuanya yang tidak di rumah, dan Yuki masih harus latihan kasti bersama teman sekolahnya. Beruntung Misaki tidak sendirian ada Kak Nanami di sana. Chiaki Nanami adalah kakak sepupunya Misaki, rumahnya tepat di samping rumah Misaki, Nanami duduk di kelas 11 SMA Sakuragaoka. Dengan ramah Misaki mengajak Nanami bertandang ke rumahnya, kebetulan orang tua Nanami, Ua Shige juga sedang pergi. Di teras rumah Misaki mereka berdua berbagi cerita, terutama membicarakan tentang Hitori Kakurenbo. Selama di teras, Misaki tidak merasa takut sama sekali, namun yang Misaki rasakan justru perasaan lega, seakan-akan rasa kesepian itu sudah hilang. Misaki merasa ada seseorang yang menemaninya walau belum ia sadar sebelumnya... bersambung [/ChapterOne]

    Lanjut di bawah bray.
     
    Last edited: 7 June 2017
  2. Kannazuki_SOLA

    Kannazuki_SOLA Member

    105
    19
    93
    ‘Mei’ ada di sini -‘メイちゃん’がここにある-

    Setelah cibak-cibuk di kamar mandi, Misaki memutuskan untuk beranjak ke kamar lantai dua, di sana Misaki berhenti di depan kamar (Bukan karena melupakan seseuatu) yang juga berada di depan kamar kosong tersebut, Misaki tidak tahu apa yang terjadi, ia tidak sadar melakukannya, saat Misaki hendak masuk ke kamar, Misaki mengucapkan “Hai...” sambil tersenyum dan melambaikan tangan ke arah pintu kamar kosong itu. Padahal di sana tidak ada orang selain Misaki sendiri...ya, sendiri.

    Entah makan apa Misaki tadi, kenapa tiba-tiba ia merasa lemas, kepala pusing, setelah Misaki sadar telah tersenyum dan melambaikan tangan ke arah pintu kamar sebelah yang setengah terbuka memerlihatkan kegelapannya. Misaki pusing bukan karena saya sakit. Rasa takut dan cemas bercampur menjadi satu itulah penyebabnya. Malam harinya setelah mengerjakan PR,Misaki mencoba tidur, tapi sulit. Pikiran Misaki melayang,tidak tenang seperti ada yang menjangal, hingga akhirnya,Misaki menggeser badannya ke sebelah kanan dekat jendela yang langsung menghadap ke tower air,seolah memberi ruang untuk ‘seseorang’ di atas tempat tidurnya. Setelah melakukan itu Misaki agak tenang,seakan ada yang menemaninya tidur dan malam itu pula,merupakan pengalaman pertama Misaki mengalami‘ketindihan’saat tidur.

    Meskipun kejadian itu terasa nyata,Misaki tidak pernah berpikir untuk menceritakannya kepada siapa pun termasuk kepada orang di rumah. Misaki rasa sudah cukup ia disebut-sebut aneh oleh orang rumah. Sudah saatnya Misaki memendam semuanya sendiri. Andai saja Nanami di sini, dia pasti mengerti perasaanku.

    Hari sesungguhnya baru dimulai,Misaki semakin menikmati masa-masa kesendiriannya. Misaki bahkan berbicara sendiri,meskipun tidak mendengar pertanyaan atau jawaban apapun,Misaki merasa lebih tenang setiap kali ia berbicara sendiri. Seakan-akan kekosongan yang selama ini dirasakan telah hilang. Misaki bahkan tidak tahu ini baik atau buruk (Wah bahaya ini)

    ****

    Setelah berbulan-bulan Misaki asyik di dunianya sendiri,bahkan jarang berbicara dengan orang tua rumah,sepertinya Fujisaki mulai curiga. Beliau sering kali menanyakan,kenapa Misaki lebih sering duduk termenung dan berlama-lama sendiri. Tapi Misaki hanya menjawab.“Aku lebih baik diam, dari pada bicara tidak jelas”

    Minggu pagi setelah menonton Tenki youho (Kabar cuaca) Misaki nampak sibuk memersiapkan diri, karenabesokMisaki akan menjalani ulangan ujian untuk masuk ke Chugakko (SMP) Misaki merasa gugup, karena ia merasa tidak yakin akan bisa mengerjakan ujian dengan baik. Setelah makan siang bersama keluarga,Misaki memutuskan untuk belajar,tapi,bukan di kamarnya,melainkan di kamar kosong tersebut. Ya,semenjak Misaki tidak merasa kesepian,Misaki merasa betah di kamar kosong tersebut. Seperti biasanyaMisaki berbicara sendiri seakan ada teman yang diajak berbicara. Tapi Misaki lupa,ia sedang tidak sendiri di rumah! Tanpa ia sadari Fujisaki mendengar putrinya berbicara sendiri, waduh.

    Misaki-chan, nani shiteiru no? Nanitte iu no? (Misaki lagi ngapain? Kau ngomong apa?)” Ujar Fujisaki heran seperti melihat orang gila di persimpangan jalan Matsuyama.

    I-Iya yo haha..daijoubu desu, messeji o yonde kaitai dakara www (E-Enggak kok...gak apa-apa, hanya baca pesan di ponsel haha)” Ujar Misaki sambil pura-pura membuka ponsel flip-nya.

    Tapi tentu saja Fujisaki tidak percaya. Beliau memasang wajah kasihan terhadap putrinya. Saat itu pun Misaki merasa kasihan terhadap dirinya sendiri.Fujisaki, tidak seharusnya beliau melihat Misaki seperti itu. Sejak itu Fujisaki lebih sering di rumahmenemani Misaki sebelum tidur. Misaki senang ditemani Fujisaki,tapi,perasaan adanya kehadiran‘teman’tidak hilang. Meskipun Misaki sedang bercakap dengan Fujisaki,‘Mei’itu tetap terasa hadir di tengah-tengah mereka. Tentu saja Misaki tidak mengatakannya pada Fujisaki dan orang rumah lainnya.

    Suatu hari agar putrinya mendapat teman dan lingkungan baru, Fumizuki memutuskan agar Misaki mengikuti banyak kursus supaya waktu kosong Misaki lebih terisi dengan hal yang bermamfaat dari pada diam di kamar setelah pulang sekolah,karena Fumizuki yakin, ada perubahan pada putrinya. Kegiatan tambahan Misaki bertambah, Misaki mengikuti kursus memasak dan musik, guru dipanggil ke rumah karena di sana perlengkapan kursus tersedia,sejak kecil Misaki suka piano, maka dari itu orang tua Misaki sepakat memerbolehkan Misaki kursus piano. Terkadang Misaki risih karena ‘Mei’ itu sulit dihilangkan dari bagian kehidupan Misaki setiap hari. Misaki kira ‘Mei’ itu hanya berada saat di rumah,namun lambat laun ‘Mei’ Si teman tak kasat mata Misaki juga ikut kemana pun Misaki pergi!

    ****

    Pukul 17:41. Misaki sedang menunggu Fumizuki menjemputnya di tempat kursus memasak di pusat kota Hachinohe. Setelah menunggu cukup lama,akhirnya Misaki dijemput dan ternyata Fumizuki membawa Misaki menuju rumah paman Ken atau adiknya Fumizuki di distrik Sannohe, cukup jauh memang entah apa maksud Fumizuki mengajaknya ke rumah paman Ken malam-malam begitu.

    Setibanya di rumah paman Ken,hari sudah gelap mereka menempuh perjalanan tiga puluh menit. Sebenarnya Misaki tidak begitu suka suasana di rumah paman Ken. Suasananya lembab dan pencahayaannya minim. Rumahnya cukup besar, beliau mempunyai kebun jagung dan terdapat pohon apel berdiri tepat di halaman rumahnya. Bahkan Misaki juga dulu pernah dibesarkan dari sana di rumah itu pada usia 2 tahun. Karena mereka bukan tamu, Misaki dan Fumizuki langsung membuka pintu depan yang tidak terkunci. “Oi Ken, ore-tachi ga iru yo! (Ken, kami ada di sini!)” Saat Fumizuki mengucapkan salam, mereka berdua langsung disambut hangat oleh keluarga paman Ken, seperti anak kecil pada umumnya Misaki malu bertandang ke rumah orang, padahal setiap tahun Misaki berkunjung ke sana. Setelah melepas alas kaki dan menaruh di tempat yang sudah disediakan, Misaki berhenti tepat di washitsu (Ruang keluarga) dan menatap tajam ke samping hondana (Lemari buku) dan tepat di samping hondana ada meja untuk menaruh hiasan buah-buahan, tepat di atasnya ada lukisan kuda,bukan karena takut melihat lukisan,namun gambar kudanya jelas berbeda dengan yang di rumah, di sana gambar kudanya berjumlah delapan ekor. Tidak ada yang aneh memang, sampai Misaki langsung mendekati lukisan itu,tanpa menghiraukan paman ken yang memanggil. Padahal hanya berjarak satu jengkal dari lukisan,Misaki merinding,kepalanya pusing,badan gemetar dan keringat mengucur dari pori-pori. Saat Misaki menoleh ke cermin dekat kaligrafi kanji ‘Tatakai’ (pertarungan) Secara kasat mata Misaki memang tidak melihat apa-apa,selain dirinya sendiri. Namun,Misaki takut melihat wajahnnya sendiri. Secara fisik,tidak ada yang berbeda antara pantulan dan aslinya. Tapi,aura dari pantulan itu sangat mengerikan wajah Misaki pucat seperti orang yang sudah meninggal, hiii seram... Misaki langsung baper di tempat, dan memilih diam


    Tak lama kemudian Misaki berkumpul ke ruang keluarga,bergabung dengan saudara-saudara lain. Tapi Misaki hanya diam,senyum sedikit pun tidak, padahal saudara-saudara lain sedang tertawa riang. Misaki sempat melihat Fumizuki memerhatikan tingkah putrinya,Misaki tahu ia ingin marah pada saat itu,mungkin karena sikap Misaki yang terkesan cuek. Tapi apa daya,percuma jika Misaki cerita,yang ada malah ia akan semakin dianggap aneh oleh saudaranya. Misaki tahu pada saat itu saudara-saudaranya merasa ada yang aneh dengan, saudara bontotnya tersebut,tapi untungnya mereka tidak bertanya. Misaki tidak ingin semakin banyak yang menganggapnya aneh. Tapi saat itu,perasaan itu tidak bisa disembunyikan,apa boleh buat,Misaki memang tidak bisa berbaur dengan percakapan di ruangan itu. Misaki hanya memikirkan tentang lukisan kuda tadi, kenapa setiap melihat lukisan kuda, Misaki selalu ketakutan bahkan tidak berani melihatnya. (Apalagi melihat ia kuda benaran bisa mati kutu mungkin, ya haha). Berhubung sudah tengah malam Fumizuki memutuskan untuk menginap di rumah adiknya tersebut bersama saudara lain.

    ****

    Esok pagi hari,setibanya di Iwaki setelah pulang dari rumah paman Ken,badan Misaki demam tinggi, kepala pusing, rasanya lemas tidak berdaya. Perasaan Misaki dicampur aduk menjadi satu. Ia bertanya-tanya kenapa ini harus terjadi padaku. Apa lebih baik aku mati? Ya. Saat itu Misaki masih berumur 12 tahun tahun,dan cobaan itu terlalu berat untuknya. Karena ia tahu,demamnya bukan demam seperti biasanya. Ada kegelisahan yang sangat mendalam yang Misaki derita.

    Malam harinya,Misaki tidak bisa tidur, ia sedang sakit,dan takut, lagi-lagi,saat tidur,Misaki terganggu oleh suara-suara mencakar di pintu. Karena penasaran,akhirnya Misaki beranikan menoleh ke pintu dan suara itu hilang, sangat absurd,mungkin tadi hanya perasaannya. Dari lubang kecil bulat pada pintu, Misaki tidak melihat ada cahaya,Misaki mengira,mungkin lampu di koridor lantai dua sengaja padamkan oleh Yuki. Lalu Misaki kembali melanjutkan tidurnya. Misaki mencoba menenangkan diri, mencoba mengingat-ingat masa lalu yang indah,atau kejadian lucu untuk melupakan perasaan aneh yang menyelimutinya.Saat Misaki hendak membalikkan badan,ia sadar, bahwa dari ventilasi kaca diatas pintu kamarnya,cahaya menyinari dengan terang, sontak Misaki kembali melihat ke lubang kecil pada pintunya, tetap masih tidak ada cahaya yang menyinari, gelap. Seakan-akan ada yang berdiri di balik pintu dan menutupi celah masuknya cahaya, otomatis kuduk Misaki merinding kembali. Untuk memastikan keadaan Misaki bicara. “Mei-Chan doa o tatenaide, haiterashai, kowakunai yo. (Mei,jangan di depan pintu,masuk saja sini aku tidak takut, kok.)” Ujar Misaki dan sangat jelas sekali di depan mata,bayangan hitam itu hilang, cahaya kembali masuk di celah. Jika memang tadi ada makhluk lain yang berdiri di depan pintu dan sekarang ‘dia’ menghilang dari sana,Misaki harap ‘dia’ tidak masuk ke kamar karena ucapannya tadi.

    Misaki tertegun dan melamun sambil menatap kipas angin, jika sebelumnya Misaki hanya mendengar suara,kali ini,ia melihatnya walau samar-samar, terlihat jelas ‘Mei’ itu menghilang,meskipun Misaki tidak tahu rupa nya. Mungkin lebih baik jika Misaki tidak tahu rupanya sekalian. Dan Misaki memutuskan kembali tidur.

    Saat sedang memejamkan mata berusaha masuk ke dunia mimpi,Misaki mendengar ada suara hembusan napas di sampingnya, sangat jelasada yang bernafas di belakang, Misaki tidak bisa merasakan hembusan udara,tapi suara itu sangat jelas, sepertinya badan Misaki seakan kaku, mungkin juga darah tidak mengalir, air mata mulai mengalir sedikit ,karena rasa takut yang mendera. Misaki ingin berteriak,tapi tidak bisa, ia hanya berharap itu hanya mimpi, mimpi buruk tepatnya.

    Karena tidak tahan Misaki akhirnya mengeluarkan suara. “Maaf ya,ini tempat tidur aku,Mei jangan ganggu aku ya aku tidak suka.”Misaki berusaha memelankan suara agar penghuni rumah yang lain tidak terganggu. Tak lama kemudianpunggung Misaki terasa dingin, leher terasa kaku,sangat menyakitkan,bahkan rasa sakit itu terus menjalar ke ubun-ubun, mungkinkah itu tanda kehadiran ‘Mei’itu di kamar Misaki?

    I-Itai..itai! Onegai yamete, Mei-chan, onegai ne. (Aduh sakit! Tolong hentikan Mei, aku mohon, ya)” Ujar Misaki lirih. Percaya atau tidak,setelah Misaki mengatakan kata-kata tersebut,rasa sakit itu hilang,dan demam mulai reda. Beberapa menit kemudian,Misaki kembali mendengar orang bernafas,tapi kali ini dari dalam lemari yang beberapa hari lalu muncul sebuah tangan yang membuatnya lari terbirit-birit. Karena tidak tahan akhirnya Misaki memilih tidur di kamar bawah bersama Yuki.


    Sejak kejadian nafas malam itu,Misaki yakin bahwa memang ada makhluk lain yang menemaninya, walau tidak terlihat. Misaki mulai bisa menerima keberadaan ‘Mei’ tersebut, meskipun cukup sulit. Misaki mencoba bersosialisasi dengan orang-orang sekitar dimulai dari keluarga Chiaki (tetangga sebelah atau sepupunnya) dantidak lagi menjadi orang pendiam dan penyendiri,meskipun kesan‘aneh’itu sudah melekat pada beberapa orang yang Misaki kenal baik di sekolah, tempat les dan di dusun. Tentu saja karena Misaki terlalu sering menceritakan kejadian-kejadian mistis yang menimpanya, bahkan ia tidak ragu berbicara sendiri di tempat umum, karena terkadang kehadiran ‘Mei’ tidak bisa diduga, kadang dari benda jatuh, suara misterius dan suara nafas, itu semua sudah menjadi bagian hidup Misaki.

    ****

    Satu tahun sudah keluarga Sakamoto tinggal di Iwaki, Misaki sudah terbiasa oleh ‘Mei’yang tidak terlihat, mahkluk itu bisa melihat Misaki namun sebaliknya Misaki tidak.

    Ada sebuah lagu yang Misaki suka, judulnya‘Life’by YUI(yang suka anime pasti kenal lagu itu) Misaki sering menyanyikan lagu itu saat bosan atau saat tidak ada kegiatan. Pernah suatu hari piano Misaki rusak, teknisinya mengatakan harus membawanya ke service center di Ibaraki, dari sanalah Misaki mulai merasa sedih, karena tanpa piano itu Misaki tidak bisa latihan piano lagi, guru piano Misaki menyarankan agar berlatih di tempat kursus, namun Misaki menolaknya, karena di sana teman-temannya tidak baik, akhirnya guru piano Misaki menunda jadwal kursus sampai piano Misaki selesai diperbaiki. Setibanya di rumah setelah kursus memasak Misaki agak sedih, iatidak ikut bergabung makan malam bersama,tapi langsung ke kamar atas, di sana Misaki tiduransambil mencoba menghilangkan rasa sedih dengan main tetris di ponsel-nya. Saat sedang termenung,Misaki mendengar suara orang bersenandung,menyanyikan lagu‘Life’ by YUI kesukaannya, Misaki senang mendengar lagu itu,ia pikir itu suara Yuki di koridor lantai dua, Misaki pun ikut bersenandung menyanyikan lagu itu,sambil beranjak dari kasur untuk keluar. Saat keluar dari kamarnya,Misaki terkejut ketika suara senandung itu hilang dan meninggalkan kesunyian malam. Tentu saja Misaki takut bukan main,tapi apa daya,tidak ada gunanya ia teriak ketakutan kalau ujung-ujungnya akan dianggap aneh oleh orang rumah. Ketika Misaki kembali masuk ke kamar, baru saja ia menutup pintu,senandung itu terdengar lagi, karena kesal dengan sepontan Misaki membuka pintu kamarnya lagi, bukan...Ternyata,suara senandung itu berasal dari kamar kosong itu! Misaki mulai parno dan gemetaran. Karena penasaran Misaki memberanikan diri membuka pintu kamar sebelahnya. Tapi, tanpa sadar ketika Misaki menoleh ke arah tangga, ternyata Fumizuki sedang duduk di tangga sambil menonton tingkah aneh putrinya tersebut. Dan saat itu juga suara senandung itu sudah lenyap. Tak lama kemudian Fumizuki menghampiri Misaki sambil tersenyum. “Jangan dibuka,tapi jangan ketakutan ya,papa juga dengar,makanya papa naik.” Ujar Fumizuki sambil menyentuh pintu kamar kosong tersebut. “Maksud papa?” Misaki heran. “Jangan khawatir, tidak apa-apa, Misaki tidur saja, jangan ganggu ‘dia’.” Apa! Lagi-lagi Misaki dibuat bingung dengan perkataan Fumizuki. Sempat ada jeda sebelum Misaki melanjutkan. “Jadi papa dengar, trus, apakah yang lain juga dengar?” Ujar gadis berponi rapi tersebut. “haha, hanya papa dan mama yang tahu ke anehan di kamar ini, kecuali Yuki, sebenarnya papa dan mama merahasiakannya, ternyata Misaki lebih pintar dari abangnya, ya” Ujar Fumizuki sambil meremas rambut pendek Misaki. Misaki hanya diam sampai Fumizuki melanjutkan. “Iya, sebenarnya abang belum sadar dari keanehan rumah ini.” Ujar Fumizuki yang sepertinya sudah Misaki tahu maksudnya.

    “Misaki, jangan bilang sama mama atau abangmu,.” Ujar Fumuzuki saat mereka turun ke bawah “Kenapa, pa?” tanya Misaki. “Pokoknya jangan, nanti akan panjang.” Ucap Fumizuki dengan nada rendah agar tidak ada yang dengar selain Misaki. Misaki mengangguk paham. Syukurlah papa ternyata bisa mengerti perasaanku.. kalau papa mendengar suara itu. Tapi kenapa mama dan abang tidak?Misaki bingung, ia berasumsi mungkin saja‘Mei’menyanyikan lagu itu untuk menghibur Misaki yang sedang sedih,dan itu lagu kesukaannya. Ketika di ruang makan menikmati hidangan makan malam seadanya,Misaki merasa ada yang memerhatikannya dari tangga, tapi,Misaki abaikan saja,dan cuek sambil melahap okonomiyaki buatan Fujisaki.


    Saat menjelang tidur malamnya,Misaki sedang tiduran, dan Yuki sedang main nintendo. Saat itu pula,suara senandung itu kembali terdengar. Misaki mencoba melihat Yuki,tapi Yuki tidak bergeming. Padahal saat itu Misaki rasa suara senandung itu cukup keras untuk mengalihkan perhatian orang yang sedang main nintendo. Beberapa detik kemudian,papa membuka pintu kamar. Beliau tidak benar-benar masuk ke kamar,hanya menampakkan wajahnya sambil menunjukkan wajah lucu ciri khasnya,yang selalu lucu bagi anak-anaknya. Saat itu Misaki tertawa keras,karena candaan itu memang selalu berhasil untuk Misaki,terutama saat itu ia juga masih tergolong anak-anak. Sedangkan saat itu Yuki hanya tersenyum,mungkin bagi pemuda itu candaan itu sudah basi karena dia lebih tua.

    Semenjak kejadian senandung itu,Fumizuki berubah. Misaki dan Fumizuki lebih sering menghabiskan waktu berdua. Karena beliau seorang tenaga medis,beliau tidak punya jam kerja yang tetap, sebentar-bentar ada panggilan pasien, jika ada waktu longgar beliau habiskan dengan minum sake bareng rekan kerjanya sampai malam. Tapi semenjak senandung itu,beliau lebih banyak menyediakan waktu untuk Misaki, ia senang sekali,Misaki jadi lebih terbuka ke Fumizuki tentang gangguan-gangguan misterius yang terjadi. Tapi,tentu saja,itu Misaki ceritakan saat mereka berdua di rumah saja. Misaki belum mengerti kenapa hanya Fumizuki yang mengerti keadaannya. Tak apalah yang penting,Misaki senang karena ada tempatnya untuk mencurahkan isi hatinya, Fumizuki menjadi orang paling nyaman bagi Misaki untuk berbagi cerita.

    Tiga bulan kemudian saat Misaki sudah menginjak SMP kelas 7, Misaki kehilangan kartu memori ponselnya. Aneh, padahal memori eksternal ponsel Misaki tertutup rapat di dalam kesing ponselnya, Misaki tidak habis pikir mengapa kartu micro SD yang nota bene aman karena berada di dalam ponsel bisa menghilang? Kartunya memang tidak penting, tapi isi di dalamnya sangat berharga, seperti file musik, video, pesan penting dan photo dokumentasi liburan bersama teman sekolahnya dulu waktu berlibur di Sapporo ada di dalam sana. Misaki disibukan dengan mencari kartu itu di seantero rumah, semua kamar (termasuk kamar kosong itu) celah-celah rumah, pokoknya semua tempat di rumah di bantu oleh Yuki masih tidak ketemu dengan benda kecil itu. Misaki tidak keliru, ia tahu betul bahwa memori ponsel itu hilang di rumah hari itu, seingat Misaki kemarin malam setelah mengerjakan PR kartu memori itu masih menempel di ponsel, tapi kenapa setelah bangun tidur menghilang? Sampai Misaki rela tidak masuk sekolah karena benda tersebut. Pusing tujuh keliling itulah yang dirasakan Misaki semua tempat sudah digeledah tapi nihil, Misaki memutuskan menghentikan pencarian dan harus mengisi ulang memori ponsel dengan kartu memori baru.

    Untuk menghibur putrinya, Fumizukimengajak Misaki pergi makan di luar bersama rekan kerjanya (bukan untuk minum sake karena Misaki belum 20 tahun) Fumizuki mengajak Misaki ke sebuah restoran Korea di dekat pelabuhan Hachinohe, Misaki memesan Naengmyeon kesukaan Misaki dan Fumizuki memesan Kimchi. Di sana Fumizuki kelihatan sangat akrab dengan dua rekan kerjanya, Misaki hanya diam sambil menikmati dinginnya kota Hachinohe sambil mengemil gimbab. Misaki tahu, Fumizuki sebelumnya punya janji dengan dua rekannya itu,tapi bukan di restoran Korea,mungkin karena demi menghibur Misaki yang suka masakan negeri gingseng tersebut,beliau mengganti tempat nongkrongnya di restoran Korea.

    ****

    Setibanya di rumah setelah kenyang makan malam korean food (Atau istilah kekiniannya K-Food)Fumizuki langsung ngacir ke kamar mandi dan Misaki beranjak ke kamar atas. Lagi-lagi,dari kamar kosong itu,ada suara. Ya, ‘Mei’ rupanya sedang menyambut Misaki. Tapi, suaranya bukan bersenandung. Melainkan suara seperti merintih kesakitan. Karena terdengar menyedihkan Misaki melanggar janji ke ayah untuk tidak mengganggu di kamar itu. Misaki mengambil kunci kamar kosong itu, karena ia mempunyai duplikatnya. Cekrek...sregggg! Misaki memberanikan diri untuk membuka pintu itu.

    Pintu sudah terbuka, lampu dinyalakan,tentu saja suara rintih menyedihkan itu sudah tidak terdengar. Kamar itu kosong dan berdebu, sarang laba-laba menempel di sudut ruangan membuat suasana semakin tidak nyaman. Pandangan Misaki langsung tertuju pada lukisan kuda hitam di atas kasur, seperti biasanya mata dan kaki kuda itu berubah lagi, kali ini matanya normal hitam, tapi kakinya...kenapa hanya ada dua? Misaki tidak menghiraukan lukisan itu, percuma kalau dipikirkan hanya akan membuatnya semakin steres. Ia memutuskan untuk berbaring di tempat tidur saja. tidak bisa tidur. sudah satu jam Misaki memejamkan mata, namun, tidak bisa, seperti ada seseorang. Untuk mencari rasa kantuk Misaki iseng membuka ponselnya untuk main game. Lagi-lagi, bukan sulap bukan sihir, keanehan yang lain muncul...tidak sangka, mata Misaki melotot ke arah layar ponsel, memastikan apa yang ia lihat, berkali-kali Misaki mengucek mata... ternyata kartu memori ponselnya sudah terpasang di tempatnya! Setelah itu ia cek ada nada pemberitahuan back up data. Antara senang karena memori ponselnya kembali, dan takut karena bagaimana kartu itu bisa terpasang di ponselnya, Misaki hanya bisa geleng kepala dan melihat sekeliling, barulah ia menemukan kejanggalan. Ada sesuatu di kolong tempat tidur. Misaki memberanikan diri menengok ke bawah sambil menelan ludah dengan bermandikan keringat, tidak kuat, sekarang Misaki mencoba memejamkan mata dan tangannya berputar-putar di bawah agar ia tidak melihat apa yang tidak ingin dilihat... Jlap! Benar saja, ada sesuatu di bawah kasur. Misaki penasaran apa yang ia ambil di bawah, dia membuka mata...ternyata...sesuatuitu terlihat jelas. Ya,benda itu adalah ponsel Misaki!

    Tunggu dulu, bukannya ia sedang memegangnya? Misaki membalik-balikan ponsel yang ia temukan di kolong kasur dan menengok ke tangan satunya untuk memastikan apa yang ia genggem tadi...ternyata itu adalah pisau! Sontak Misaki berteriak namun tidak bisa, padahal ia yakin sudah membuka mulut lebar-lebar dan mengeluarkan suara, suaranya seperti hilang. Saking kesalnya Misaki melempar pisau itu ke lantai dan melihat ponselnya dalam keadaan mati, ya ampun, mimpi apa ia tadi malam. Semalaman Misaki tidak bisa tidur, ia nampak shock atas kejadian tadi, sampai akhirnya ia tertidur dengan sendirinya.

    Pagi harinya Misaki memutuskan untuk mengambil pisau yang ia lemparkan beberapa jam lalu itu, tangannya gemetar,jantung berdegup kencang, Misaki melihat pisau itu dengan seksama, tapi tidak mendapat petunjuk apapun,hanya kekosongan dan rasa takut. Sebenarnya itu adalah sesuatu yang bisa menjadi barang bukti bahwa memang ada‘Mei’di rumahnya. Entah itu dari Hitori Kakurenbo,atau dari lukisan kuda di atasnya. Tapi,Misaki belum siap untuk dianggap semakin aneh. Pada akhirnya,Misaki menyimpan pisau itu di lemari yang ada di kamar kosong itu. Ternyata isi lemari itu sudah penuh,di dalamnya tersimpan baju atau busana keluarga sakamoto yang lama, seperti perlengkapan bayi Misaki dan Yuki, seragam sekolah orang tuanya, baju Misaki masa balita, dan yukata ukuran SS milik Misaki dulu semuanya masih tersimpan apik di dalam, alasan orang tua Misaki tidak membuang pakaian lama karena sayang saja, pakaian itu mempunyai sejuta kenangan, aneh memang untuk apa mereka masih menyimpan pakaian lama, memenuhi tempat dan yang jelas bikin kumuh. Karena tidak ada tempat akhirnya Misaki menyimpan pisau itu di lemari kamarnya.

    Misaki kembali ke kamar, mencoba berpikir kenapa bisa ponsel berubah menjadi pisau?dan kenapa ponsel miliknya bisa ada di kolong tempat tidur dalam keadaan mati? Seingatnya, ia selalu memasukan ponsel di saku celananya. Ahh sudahlah, pusing..pikiran Misaki buntu,ia tidak mendapat petunjuk. Misaki memutuskan untuk tidak memikirkannya,sebaiknya menikmati waktu bersantai dan bermain karena saat itu suasana sedang menyambut liburan musim panas 2008
    .

    ****
    Liburan musim panas yang membosankan, keluarga Sakamoto berencana untuk pergi berlibur,tapi mungkin karena alasan tertentu,mereka membatalkannya. Karena tidak ada kerjaan,Misaki iseng melihat-lihat album foto liburan mereka saat ke kota Himeji prefektur Hyogo,dua tahun lalu. Menyenangkan sekali mengingat masa-masa itu. Fumizuki mengajak berlibur ke Himeji (Saat itu keluarga Sakamoto masih di Tokyo) karena ingin memerkenalkan Misaki dengan keluarga besar Kujoukeluarga besar keturunan langsung dari klan Fujiwara yang merupakan klan bangsawan pada zaman Kamakura,serta berkunjung ke makam makam leluhur. Foto demi foto dan halaman album Misaki buka. Misaki teringatada beberapa kejadian aneh yang terjadi keluarga Sakamoto liburan di sana. Tentu saja,saat Misaki belum merasakan kehadiran ‘Mei’. Saat itu mereka pergi mengunjungi kerabat,pergi ke kuil Shoshazan. Di pekarangan kuil,ada seorang Miko (Pendeta Shinto wanita) Miko itu membawa mereka ke

    gapura yang berjajar panjang sampai ke bawah tangga, karena kuil itu berada di tempat tinggi, jadi harus naik tangga untuk mengaksesnya. Tiba-tiba dari bawah tepatnya di hutan sekitar kuil, Misaki mendengar suara perempuan berteriak. Misaki tidak berpikir negatif mungkin saja itu suara gadis ketakutan melihat serangga. Untukmemastikan Misaki turun untuk menemukan sumber suara tersebut,Misaki tidak sendiri, ia ditemani Yuki yang sedang melempar koin di kotak kuil. Belum sempat adek abang itu turun, seorang kakek tua yang menggunakan yukata wajah biru dongker berdiri di hadapan mereka, kakaek itu terlihat ramah, lalu beliau menghampiri Yuki, danberbincang sedikit, lalu beliau menghampiri Fumizuki, Misaki heran kenapa ia tidak dihampirinya? Padahal ia dekat dengan Yuki, sedangkan Fumizuki berada tujuh langkah dari mereka. Misaki tidak tahu mereka berdua sedang bicara apa, samar-samar Misaki melihat Fumizuki memberikan selembar uang 500 yen pada kakek tua itu, mungkin beliau seorang pendeta atau pengurus kuil tersebut. Setelah itu beliau menghampiri Misaki, ada perasaan gelisah saat beliau berdiri dihadapan Misaki.“Kamu punya keistimewaan, Nak.”Ujar beliau sambil menepuk pundak Misaki dan melewatinya. Misaki bingung mau menjawab apa. Sebenarnya Misaki tidak peduli dengan kakek itu, ia masih fokus dengan suara teriakan wanita tadi. Misaki mengalihkan pandangan dari kakek itu dan berlari ke bawah bersama Yuki. Nampak Fumizuki curiga pada anak-anaknya itu, sementara Fujisaki bersama adiknya berkunjung ke onsen (Pemandian air panas)

    Lagi saat mereka sudah tiba di bawah, suara teriakan gadis itu lenyap...Yuki mendengar jelas suara itu dari hutan tempat mereka berdiri tepat di dekat sumur tua, karena penasaran Yuki bertanya pada petugas kebersihan perihal suara teriakan tersebut. Kata petugas kebersihan, memang sering terdengar suara teriakan di sekitar sana, konon suara itu dari sumur tua yang berada di samping mereka. Misaki tertawa ketika sudah mengetahuinya, ternyata hantu penunggu sumur tua, dan mereka pamit untuk kembali ke rombongan, dan dari sanalah keanehan mulai terasa di tubuh Misaki, kepala ia pusing kembali.

    Menjelang hari terakhir berlibur di Himeji,Sakamoto sekeluarga menyempatkan diri mengunjungi istana Himejidengan naik bus, sebenarnya mereka ingin naik taksi, berhubung rombongan Sakamoto ada enam orang jadi mereka memutuskan untuk naik bus dari pada naik dua taksi yang ongkosnya jelas lebih mahal. Saat perjalanan pulang, Fumizuki bertemu dengan kakek tua yang ada di kuil Shoshazan itu lagi, kakek itu menyarankan mereka kalau ada nenek yang menjajakan dagangannya jangan di beli, antara percaya atau tidak Fumizuki mengangguk saja dan setelah beliau menengok kakek tua tadi sudah menghilang. Misaki juga melihat Fumizuki mendengar omongan kakek tadi, namun setelah Misaki menoleh beliau sudah menghilang. Tak lama kemudian,ketika mereka berada di trotoar sekitar istana Himeji,Yuki beberapa kali melihat nenek-nenek berjualan. Tapi nenek itu kadang muncul,kadang hilang. Fumuzuki sudah berpesan,jika ada yang tiba-tiba muncul,menawarkan dagangan,atau menemukan benda aneh,jangan dihiraukan, mungkinkah sosok nenek tadi adalah arwah penunggu istana Himeji? Apakah nenek itu juga ada hubungannya dengan sumur tua di kuil Shoshazan? Benar, bangunan kuno minyimpan segudang misteri yang sulit dipecahkan.

    ****

    Akhirnya album itu Misaki tutup. Rasanya,mengingat perkataan kakek tua itu,seperti ada korelasinya dengan apa yang terjadi dengan Misaki saat ini. Karena,kakek tua itu hanya menghampiri Misaki, Yuki dan Fumizuki. Sayang Fujisaki tidak berada di sana saat itu, entah mengapa kakek tua itu mengenal mereka, bahkan saat mereka pulang, satu pertanyaan masih menjadi tanda tanya besar Misaki, siapa kakek itu, apakah beliau mengenal keluarga Sakamoto? Terus apa maksud perkataannya ‘kamu punya keistimewaan, Nak’? Mungkinkah Fumizuki sudah mengetahui itu akan terjadi?Apakah beliau sesungguhnya mengalami hal yang sama?Ah,biar waktu yang menjawab. Jika ada kesempatan,Misaki akan menanyakan hal itu pada Fumizuki.

    Minggu pagi yang cerah, Fumizuki mengajak Misaki ke kota Hirosaki, tidak untuk menemui seorang paranormal abang ipar paman Ken. Sepanjang perjalanan menggunakan mobil Fumizuki, mereka berdua saling bercerita dan bertanya. Itu kesempatan bagus Misaki untuk curhat masalah ‘Mei’ (Boneka beruang Misaki) yang ada di kehidupan Misaki selama tinggal di Iwaki. Awalnya,Fumizuki tidak menjawab apapun,beliau hanya fokus mengendarai mobil, sepertinya beliau sedang memikirkan sesuatu. Misaki dengan sabar menunggu jawaban dari Fumizuki, cukup lama Misaki menunggu,hingga akhirnya Fumizuki menyampaikan sesuatu yang tidak pernah Misaki bayangkan sebelumnya. Pria berkaos biru itu mengatakan bahwa paman Abe adalah seorang pendeta paling di segani di distrik Hirakawa, paman Abe merupakan suku Ainu, terkadang beliau mengucapkan bahasa Ainu saat membaca mantra atau saat berkomunikasi dengan Yurei (Arwah)Keluarga Sousuke sudah terbiasa dengan hal-hal berbau mistis. Bahkan,di masa mudanya,paman Ken seringkali kesurupan tiap kali ada acara-acara adat, setelah disembuhkan paman Abe Sousuke, paman Ken sembuh. Lalu Fumizuki, beliau waktu masa SMA-nya juga sering merasakan gangguan-gangguan yang mirip dengan Misaki alami saat beliau bermain permainan Daruma-San (Jangan ditiru di rumah karena permainan ini berbahaya) Setelah bermain itu Fumizuki selalu ‘diawasi’seperti Misaki, karena selalu diawasi oleh ‘mereka’ pernah beberapa kali Fumizuki nyaris mati, seperti hampir tertabrak mobil, sering menemui ular, dan beberapa kali mencoba menggoreskan benda tajam pada tubuhnya seakan ada seorang yang menyuruhnya, dari sanalah beliau berkunjung ke paman Abe untuk mengusir ‘mereka’ dari tubuh paman, dan hasilnya walaupun ‘mereka’ sudah pergi, tapi efek yang beliau rasakan belum hilang sampai sekarang, seperti bisa melihat dan merasakan kehadiran ‘mereka’ di sekitarnya, termasuk di diri Misaki. Fumizuki mengatakan bahwa ‘mereka’ tidak akan masuk dalam kehidupan Misaki, jika ‘mereka’ tidak dipanggil. Misaki diam dan berusaha mentelaah omongan Fumizuki, apa yang papa rasakan memang sama denganku, tapi aku tidak bisa mengakhiri permainan ini setelah menemukan boneka beruang yang bernama Mei di tempat sampah.. Apa mungkin arwah yang pernah masuk dalam tubuh papa sekarang masuk ke dalam tubuhku? Setelah menjelaskan,Fumizuki hanya diam dan Misaki pun diam sambil memikirkan sesuatu,tidak berani untuk menanyakan lebih lanjut, karena Misaki melihat Fumizuki kesulitan dalam menjelaskan, seolah-olah tidak seharusnya beliau menceritakan itu.

    Di satu sisi,Misaki seakan mendapat petunjuk tentang apa yang terjadi. Tapi,sesungguhnyaperkataan Fumizuki yang misterius, membuat rasa penasaran Misaki semakin besar. Karena,informasi dari beliau serasa“tanggung”tapi Misaki belum berani untuk menanyakan lebih jauh. Mungkin benar yang beliau katakan,waktu akan menjawab semuanya,lambat laun Misaki akan tahu.

    Sesampainya di distrik Hirakawa kota Hirosaki, mereka kecewa karena paman Abe sedang tidak ada di rumah, beliau sedang pergi ke Aizu dari kemarin malam. Kata istri paman Abe. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Hachinohe, dan kembali lagi ke Hirosaki setelah Fumizuki menghubungi Abe, setelah istrinya memberikan nomor ponsel suaminya tersebut. Sepanjang perjalanan pulang Fumizuki mengomentari pamandangan indah di sepanjang perjalanan tidak membicarakan hal-hal mistis lagi.

    ****
    Kamu masih ingat gempa Tohoku tahun 2008? Walaupun pusat gempa terjadi bagian selatan Iwate, tapi getarannya tersa hingga Hachinohe, lho. Saat itu Misaki sedang terlelap tidur karena sekolah mulai jam 9 pagi. Sekitar jam 7 Misaki dibangunkan dengan teriakan dari Fujisaki. Misaki dan Yukidalam kondisi setengah sadar,terbangun dan langsung bergegas keluar kamar sambil mulutnya terbuka lebar melepaskan kantuk,kepala Misaki terasa pusing. Misaki sempat berpikir mungkin ia pusing karena berpikir terlalu berat semalaman, ternyata pagi itu gempa. Sekitar jam 08.30 hari sabtu 14 Juni 2008,gempa melanda Tohoku,dan gempanya terasa sampai wilayah Aomori.

    Saat bergegas keluar rumah,Misaki sempat melihat ke arah lukisan kuda yang berada di ruang kosong, keganjilan lain muncul, kini mata sang kuda merah dan jumlah kakinya empat, tapi kuda itu nampak seperti diam tidak bergerak, lalu Misaki melihat semua isi lemari di kamar kosong itu berantakan,gempa turut meruntuhkan susunan benda-benda di dalam lemari itu. Begitu suasana sudah kembali normal,Fujisaki langsung menyuruh Misaki dan Yuki bersih-bersih dan memutuskan untuk tidak masuk sekolah, setelah itu Fujisaki menghubungi kerabat dan saudara di Yamagata, mereka baik-baik saja karena tidak termasuk wilayah zona gempa, keadaan sebaliknya menimpa paman Ken, beliau sedang di kota Miyako karena ada urusan pekerjaan. Paman Ken tewas saat salah satu pondasi rumah penginapannya menimpa paman Ken, nampak raut wajah Fumizuki berkaca-kaca. Minggu depan keluarga Sakamoto akan ke Sannohe untuk melayat keluarga Shousuke.

    Dalam keadaan terburu-buru,di saat yang lain sedang sibuk masing-masing,Misaki justru menyempatkan diri melihat isi lemari di kamar kosong itu, saat mengobrak-abrik isi lemari,tanpa sengaja,Misaki menemukan suatu kejanggalan, ada sebuah boneka kappa ukuran kecil, letaknya di dalam lemari letaknya di tingkat paling atas. Misaki tidak pernah melihat boneka tersebut, mungkin hadiah atau souvenir Fujisaki dari seseorang. Sekilas tidak ada yang aneh dengan boneka kappa mitologi jepang tersebut, tapi kenapa Misaki merasakan ada aura mistis pada boneka itu. Misaki jadi parno melihatnya. Beberapa detik kemudian boneka kappa tersebut terasa panas, sontak Misaki melemparnya ke bawah hingga jatuh karena heran kenapa benda itu bisa panas seperti memegang nasi hangat. Misaki kembali mengambil boneka itu dan memerhatikannya dengan seksama, ternyata mata sang kappa berubah menjadi merah..kenapa bisa begitu? Apa maksud Fujisaki menyimpan benda aneh dan tidak jelas tersebu. Misaki baru pertama kali melihatnya, sepertinya Fujisaki sengaja menyembunyikannya. Hmm, pantas Misaki sudah menduga semenjak pindah ke Hachinohe Fujisaki terlihat janggal seperti ada hal yang beliau sembunyikan. Dari mulai lukisan kuda,kamar kosong lantai dua,dan sekarang boneka kappa? Misaki bergegas memasukan boneka kappa dan meletakannya di tempat semula di rak atas lemari.

    Hari berikutnya pasca gempa aktifitas Misaki padat. Selain sibuk sekolah dan dua bidang kursus,Misaki juga sibuk mencari-cari tahu tentang misteri di balik kedua orang tuanya, Fujisaki dan Fumizuki, mereka berdua seperti menyimpan sebuah misteri yang sulit diungkap dan berusaha mencocokannya dengan apa yang terjadi dengan Misaki. Suatu hari Misaki memberanikan diri rela menghabiskan banyak waktu di ruang komputer sekolah untuk mencari tahu lebih banyak artikel tentang cara berkomunikasi dengan sosok gaib atau sejenisnya. Misaki tidak begitu percaya dengan sosok hantu seperti, Kuchisake Onna,Zashiki Warashi, Sadako dkk.Karena Misaki tetap yakin, bagaimana pun bentuknya, ‘mereka’ dari kalangan Yurei (Arwah) yang menyerupai sosok-sosok yang ditakuti manusia,kemudian manusia menamai sosok-sosok itu. Perlahan tapi pasti,Misaki mulai mendapati beberapa kecocokan dari cerita mengenai arwah gentayangan,cerita Fumizuki,dan pengalaman Misaki sendiri... to be continued
     

Share This Page